Share

Kata Cinta

Author: Dita SY
last update Last Updated: 2026-01-03 11:39:11

Suara desahan Prams yang berat dan kasar menggema di seluruh kamar, menembus keheningan yang dingin oleh AC yang menyala kencang.

Elina tersenyum manis, menatap sosok pria di atasnya dengan mata setengah terpejam, dada berdebar tak menentu.

"Euhmm! Ssttt! Tuan." Ia mengigit bibir, menikmati sentuhan nakal tangan sang Mafia di dadanya yang bulat dan kenyal.

Tubuh Prams yang tinggi, berotot dan berkilat keringat itu mengungkungnya dengan kekuatan yang membuat Elina seakan terperangkap dalam pusaran gelora.

Keringat mereka bercampur, menetes di punggung dan lengan Elina, membasahi kain sprei yang licin.

"Ughh!" Mata Elina terpejam rapat. Suara desahan lembut terus keluar dari mulut yang sulit dikendalikan.

Prams tersenyum mesum, "Kau merindukannya, bukan?"

Elina membuka mata, "Apa Tuan tidak rindu?" Ia membalik pertanyaan, membuat wajah Prams memerah seperti udang rebus.

Tidak mungkin seorang Prams mengakui perasaannya. Prams tidak pernah bisa luluh oleh wanita, pikirnya.

Namun, kenya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Enak Mas Dokter   Janji?

    Saat pintu kamar dibuka, Intan bersiap mengarahkan senjata ke depan. Namun yang ia lihat ...."Selamat malam Nona. Anda belum tidur?" Seorang Pelayan wanita melangkah mendekati tempat tidur, di mana Intan sedang duduk. Melihat yang masuk bukan Prams, buru-buru Intan merapikan pakaian, menyembunyikan senjata di balik pinggang. Lalu, dengan wajah gugup, panik, Intan menjawab, "A-aku belum mengantuk." Suaranya terdengar bergetar. Ia mengigit bibir, menahan getaran dagu. Matanya berlarian, mengitari ruang kamar, dan berhenti ke arah pintu yang terbuka. "Apa Anda ingin makan sesuatu Nona?" Pelayan itu berdiri di depan Intan, setelah memastikan Intan meminum obat yang ia letakan di atas meja. "Aku sudah kenyang," jawab Intan, masih terdengar gugup. "J-jam berapa sekarang?" Pelayan itu menoleh, menatap jam dinding di samping. "Jam sebelas malam Nona. Apa Anda ingin melakukan sesuatu? Atau Anda sedang merasakan sesuatu?" Intan menggeleng. Ia menelan ludah keras sambil menggenggam tanga

  • Ah! Enak Mas Dokter   Bersiap Melenyapkan

    "Baik kalau memang Anda mau menjemput Intan, nanti saya akan meminta Polisi Hong Kong untuk membantu agar rencana kalian berjalan lancar," ucap Adrian di ujung sambungan telepon. "Katakan pada Intan untuk berhati-hati, jangan sampai dia yang dihabisi oleh Prams. Dia harus bersikap tenang, agar tidak dicurigai," balas Dirga. "Kalau soal itu saya sudah meminta Nila mengatakannya. Nanti saya akan bicara langsung dengan Intan.""Hmm." Reflek Dirga menganggukkan kepala. "Jadi kapan kira-kira Intan akan menjalankan rencana itu?""Secepatnya Dok. Saat ini Intan sedang menunggu kepulangan Prams.""Memangnya Intan tinggal di rumah laki-laki itu?""Iya, dia mengatakan dia dibawa oleh Prams, setelah Prams membunuh ibunya."Dirga mengerutkan kening. "Membunuh ibunya? Darimana Intan tahu kalau Prams membunuh ibunya?" "Intan tidak sengaja mendengar percakapan Prams dengan salah satu tangan kanan Bandar itu. Dan dia juga mendengar rencana Prams setelah anak di dalam kandungannya lahir. Prams hany

  • Ah! Enak Mas Dokter   Membunuh Prams

    Amerika~Dokter Yohanes melangkah masuk ke ruang operasi yang dingin dan steril, udara berhembus pelan dari ventilasi di atas langit-langit.Lampu-lampu operasi yang terang menyilaukan menyorot meja bedah yang sudah tertata rapi dengan alat-alat bedah berkilau dan tertutup kain steril berwarna hijau.Wajahnya tampak serius, alisnya berkerut tipis saat menatap setiap sudut ruangan. Dengan gerakan cekatan, ia memeriksa kondisi alat-alat, scalpel, klem, jarum, serta tabung-tabung oksigen yang tersusun sempurna.Tangannya yang sudah terbiasa bekerja di bawah tekanan menyentuh monitor jantung dan oksimeter, memastikan semua alat berfungsi tanpa cela.Napasnya teratur, tapi ada ketegangan yang merayap di dada, menandakan betapa penting operasi ini.Sambil menyesuaikan masker dan pelindung wajah, ia mengangguk pelan pada Perawat yang berdiri di samping, memberi isyarat bahwa ruang sudah siap dan waktu operasi segera dimulai."Katakan pada keluarga pasien kecil kita, operasi ketiga akan dimul

  • Ah! Enak Mas Dokter   Kata Cinta

    Suara desahan Prams yang berat dan kasar menggema di seluruh kamar, menembus keheningan yang dingin oleh AC yang menyala kencang.Elina tersenyum manis, menatap sosok pria di atasnya dengan mata setengah terpejam, dada berdebar tak menentu."Euhmm! Ssttt! Tuan." Ia mengigit bibir, menikmati sentuhan nakal tangan sang Mafia di dadanya yang bulat dan kenyal.Tubuh Prams yang tinggi, berotot dan berkilat keringat itu mengungkungnya dengan kekuatan yang membuat Elina seakan terperangkap dalam pusaran gelora.Keringat mereka bercampur, menetes di punggung dan lengan Elina, membasahi kain sprei yang licin."Ughh!" Mata Elina terpejam rapat. Suara desahan lembut terus keluar dari mulut yang sulit dikendalikan. Prams tersenyum mesum, "Kau merindukannya, bukan?" Elina membuka mata, "Apa Tuan tidak rindu?" Ia membalik pertanyaan, membuat wajah Prams memerah seperti udang rebus.Tidak mungkin seorang Prams mengakui perasaannya. Prams tidak pernah bisa luluh oleh wanita, pikirnya. Namun, kenya

  • Ah! Enak Mas Dokter   Jawaban Elina

    Prams menatap Elina lekat. Mencoba menyelami perasaan wanita itu saat ini. Apa mungkin masih ada cinta untuknya di hati Elina? Atau sudah berganti laki-laki lain? Namun, saat mengingat kecupan tadi. Ia yakin cinta Elina padanya belum padam. Masih membara seperti dulu. "Katakan! Apa kau sudah menikah?" Prams mengulang kembali pertanyaannya. Ada harapan yang ia gantungkan setinggi langit.'Katakan Honey!' bisik Prams dalam hati sambil terus menatap Elina.Wanita di depannya menarik napas panjang. Membuka mulut perlahan lalu menjawab, "Saya belum pernah menikah Tuan."Deg! Senyuman merekah di wajah Prams setelah mendengar jawaban Elina tentang statusnya itu. "Kau tidak sedang berbohong?" Tatapan Prams semakin lekat.Elina mengerutkan kening. "Kalau saya menjawab saya sudah menikah, apa Tuan akan pergi dan menyerah? Apa Tuan akan berubah pikiran dan tidak mau menjadi Ayah yang baik untuk Edgar?"Prams tersenyum kecil, melepas genggaman tangannya lalu melangkah mendekati Elina. "Kau t

  • Ah! Enak Mas Dokter   Ungkapan Hati Elina

    Elina merapatkan bibir. Kedua mata membulat sempurna, terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.Mendengar pengakuan Elina, Prams mendongak. Senyuman sinis terukir di wajah yang basah terkena air liur. "Jadi benar .... " Ia berdiri dan menatap Elina dengan sorot mata tajam. Melihat ibunya ditatap seperti itu, Edgar semakin emosi. Bocah empat tahun itu melangkah mendekati Prams. Namun, dengan cepat Wylan menggendongnya. "Lepas! Lepaskan aku!" Edgar memberontak, tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari pelukan Wylan. "Jangan nakal Tuan Muda. Kamu harus tahu, yang kamu ludahi itu Ayah kandungmu. Dia Daddymu."Mata Edgar melotot. Suara napasnya memburu dengan dada kembang kempis tak karuan. "Aku mau tulun! Lepaskan aku!" Ia masih berusaha memberontak dari dekapan Wylan."Paman tidak akan menyakitimu, Nak. Paman dan Daddy datang ke sini untuk membawamu dan Ibumu pergi dari rumah kecil ini. Kamu akan tinggal di Istana. Paham?" "Aku tidak mau! Lepaskan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status