LOGIN"Zahid Group telah menyerahkan pembangunan The Zahid Heritage Towers kepada Naratama Group. Papa akan memberikan tanggung jawab proyek itu padamu, Karala… tapi dengan satu syarat." Karala Naratama tahu betul arti tawaran itu. Proyek bernilai fantastis tersebut adalah pembuktian bahwa ia lebih pantas menjadi pewaris Naratama Group dibanding abang tirinya. Dan seperti yang sudah Karala duga, harga yang harus dibayarnya tak pernah murah. Perjodohan. Bukan dengan Jeremy Zahid, CEO Zahid Group yang berstatus sudah menikah dan yang selama ini diam-diam menjadi kekasihnya melainkan dengan Damian Zahid, anak sulung keluarga Zahid sekaligus wakil menteri yang aktif. Di balik perjodohan, cinta yang terlarang dan kekuasaan, siapa yang akhirnya akan kalah oleh perasaan?
View MoreBallroom Smith Hotel yang megah dan mewah telah dipenuhi oleh orang-orang dari kalangan atas yang datang untuk menghadiri acara anniversary 30 tahun dari salah satu pasangan konglomerat dan juga pemilik perusahaan raksasa di bidang properti dan investasi yang bernama Zahid Group.
Suasana terlihat meriah dan menyenangkan, apa lagi saat ini di depan semua tamu undangan telah berdiri dengan gagah dan rupawan yaitu putra pertama dan juga merupakan CEO Zahid Group yang bernama Jeremy Zahid. Mengenakan setelan formal berwarna hitam, lelaki berperawakan tinggi dan besar itu berdiri dengan di temani oleh istrinya yang juga tak kalah menawan dan merupakan seorang model ternama di Indonesia. ".... Tiga puluh tahun pernikahan yang terus berjalan. Sebagai anak pertama, saya telah tumbuh menyaksikan dua orang yang saling mencintai hampir seumur hidupnya. Keduanya membangun keluarga dengan rasa percaya dan mengasihi satu sama lain. Seperti Zahid Group yang juga terus tumbuh besar seperti sekarang, semuanya tentu saja tidak lepas dari sebuah pengorbanan, kegagalan dan juga keberanian untuk terus berdiri kokoh seperti cinta keduanya yang semakin hari semakin membesar. Dan jujur saja, itu adalah kebanggaan yang tidak selalu bisa saya ungkapkan." Jemy tersenyum tipis sambil memperhatikan semua orang yang menatapnya satu persatu. Tangannya yang besar terlihat memeluk pinggang istrinya dengan begitu mesra. "Dibalik nama besar yang hari ini kita kenal, tentu saja ada dua orang yang selalu mengajarkan saya apa arti tanggung jawab, keteguhan dan bagaimana menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia. Terima kasih untuk mama dan papa tercinta karena telah menjadi fondasi bagi keluarga ini dan juga bagi Zahid Group. Happy 30th wedding anniversary. May your journey together continue to remind us what commitment truly means." Semua orang mengangkat gelas di tangannya dan ikut tersenyum dengan apa yang baru saja di sampaikan oleh salah satu pewaris yang paling potensial itu. Disusul tepuk tangan yang terdengar bersamaan, mengiringi langkah kaki Jemy yang kembali berbaur dengan semua orang. "Yang tadi keren sekali." Bisik Andira Zahid dengan mesra pada telinga suaminya. Perempuan cantik yang mengenakan gaun berwarna hitam yang senada itu tersenyum lebar. Menjadi istri seorang Zahid tentu saja membuatnya sangat bangga. Jeremy melirik istrinya penuh arti. Pujian manis itu membuatnya menyeringai. Lelaki itu tahu tatapan semua orang belum berpaling pada mereka berdua. "Seperti itulah kita dimasa depan." Andira tersenyum semakin lebar lalu kembali berjalan dengan kepala yang tegak untuk menuju kedua mertuanya yang sedang menetap ke arah mereka. Tatapan kagum orang-orang padanya membuatnya senang bukan main. "Ucapan yang manis sekali. Terima kasih, sayang." Mama Jeremy yang bernama Mahiya menatap putra sulungnya dengan senyum penuh kebanggaan. Di sisi perempuan sosialita itu berdiri putra sulungnya yang bernama Damian Zahid dan juga sosok yang dikenal publik sebagai salah satu seorang wakil menteri yang sedang aktif. "Sama-sama, Ma." Jawab Jemy. "Doaku malam ini benar-benar tulus untuk kalian." Mahiya mengangguk puas. Dalam hati dia mengaminkan doa anak-anaknya yang selalu tulus. Saat suara host kembali menggema melanjutkan acara, Jeremy juga kembali duduk di tempatnya. Matanya yang sekelam malam langsung tertuju pada kursi sebelah yang tidak jauh darinya. Senyum kecilnya terbit saat melihat satu objek yang sejak tadi mencuri perhatian. Saat bintang tamu yang merupakan seorang diva ternama menyanyikan sebuah lagu di panggung, beberapa kolega terlihat berjalan mendekat. Semua orang saling mengulurkan tangan, menyampaikan ucapan selamat pada kedua orang tuanya. Jeremy ikut membalas dengan senyum yang ramah hingga percakapan ringan tentang proyek, kerja sama dan rencana ke depan mengalir begitu saja. "The Zahid Heritage Towers akan menjadi proyek paling menguntungkan antara Zahid dan Naratama. Saya sudah tidak sabar mengembangkan sebuah sebuah kawasan hunian vertikal yang benar-benar selektif dan menjual kemewahan tetapi juga membangun reputasi dan nilai jangka panjang." Hartanto Naratama berdiri di depan Jeremy dan Rudi Zahid dengan senyum kebanggaan. Salah satu konglomerat pemilik Naratama Group itu datang dengan ditemani oleh sang istri dan kedua anaknya. "Tentu saja, Pak Hartanto. Saya yakin sekali dengan pengalaman dan kapabilitas Naratama, proyek ini akan menjadi tolok ukur baru di kawasan regional." Rudi Zahid tersenyum lebar sambil melirik perempuan muda yang ada di depannya penuh arti. "Benar sekali, Pak Rudi. Naratama akan membuat The Zahid Heritage Towers menjadi standar baru untuk residential developments yang menggabungkan eksklusivitas, keamanan dan strategic value bagi para investor dan para penghuninya. Proyek ini adalah flagship portfolio kedua keluarga yang akan memperkuat posisi kita di pasar bisnis." Percakapan itu terus berlanjut hingga tak ada satu pun yang menyadari bagaimana Jeremy dengan perlahan menggeser tangannya agar bisa bersentuhan dengan jari-jari lentik milik perempuan cantik yang memakai gaun merah backless dan sedang berdiri di sebelahnya. Jeremy menegakan kepalanya saat sentuhan itu menciptakan sengatan yang hangat dan menyenangkan. Di tambah aroma parfum yang paling memabukkan dan membuatnya tercandu, lelaki itu diam-diam menelan ludah karena berusaha menahan diri. "Oh, iya. Baru-baru ini saya juga mendengar begitu banyak pujian yang ditujukan untuk anak perempuan anda, Pak Hartanto." Tidak hanya Rudi, kini semua orang menatap sosok yang dimaksud oleh orang nomor satu di Zahid Group itu, yang langsung tersenyum anggun begitu namanya di sebut. "Karala Naratama. Saya dengar kamu berhasil mendapatkan proyek pembangunan galeri seni dari Jeep Kools, sang pelukis terkenal. Hebat sekali!" Karala mengangguk perlahan. Pujian yang sama juga dia dengar beberapa kali dari semua orang. Sudah jelas pencapaian itu sangat mengesankan melihat bagaimana persaingannya yang sangat ketat. "Terima kasih atas pujiannya, Pak Rudi. Saya merasa tersanjung sekali." Ujar Karala dengan sopan. Jari-jarinya terasa di tekan dengan lembut oleh lelaki yang berdiri di sebelahnya. "Pasti menyenangkan sekali mempunyai seorang anak perempuan cantik yang sangat berbakat dan juga cerdas." Rudi Zahid kemudian melirik Damian yang juga sedang menatap Karala. Senyumnya semakin lebar. "Benarkan, Pak Hartanto?" Hartanto mengangguk. "Seperti yang di harapkan, Pak Rudi. Keberhasilan Karala dalam memenangkan tender pembangunan galeri Jeep Kools, menunjukkan kemampuannya mengatur manajemen proyek yang matang serta pemahaman yang mendalam terhadap standard praktik terbaik industri konstruksi. Hasil ini memang mencerminkan kualitas dan integritas yang saya harapkan dari calon pewaris Naratama Group." Karala menegakkan kepalanya saat merasakan kalau sang ibu tiri dan abangnya menatapnya dengan tajam. Pujian ayahnya jelas membuat kedua orang itu tidak suka dan kepanasan. "Semua itu pastinya tidak lepas dari didikan anda, Pak. Bukankah mentor terbaik adalah orang tua sendiri." Bersamaan tawa Hartanto yang menggema karena ucapan Rudi, Karala perlahan menggeser tubuhnya kebelakang. Kini punggungnya yang polos terasa di sentuh dengan lembut oleh jari-jari besar, hingga menimbulkan sensasi geli namun penuh intimidasi. Perempuan itu tahu siapa yang telah melakukannya sejak tadi dan apa artinya. "Mohon maaf sebelumnya tapi saya permisi sebentar pamit ke kamar kecil." Dengan sopan, Karala kemudian memohon ijin dan segera melangkahkan kaki menjauh, melewati orang-orang untuk menuju pintu keluar ballroom. Beberapa tatapan penuh kekaguman dari para lelaki yang hadir mengiringi kepergian perempuan itu hingga menghilang dari pandangan. Tak lama kemudian, suara ponsel Jeremy berbunyi. Lelaki besar tinggi itu segera meraih saku celananya untuk melihat siapa yang sedang menelpon. "Aku angkat telepon dulu. Penting." Bisik Jemy pada sang istri yang segera mengangguk. Bahkan lelaki itu tidak menunggu Andira untuk menjawab karena lebih dulu melangkah keluar. Suara musik masih terus menggema, bersamaan dengan langkah-langkah kaki yang begitu cepat menuju salah satu kamar hotel yang masih berada di lantai yang sama. "Klik!" Saat pintu kamar terbuka, Jeremy langsung menyeringai. Terlihat sosok perempuan seksi yang sedang duduk di sofa dan menunggunya dengan pandangan menggoda di dalam kamar. Semuanya membuat lelaki itu langsung kehilangan kendali. Karala Naratama, dengan kaki terlipat yang menunjukkan siluet pahanya yang putih mulus sedang menatap Jemy dengan pandangan menggoda. Mencuri kesempatan di tengah kesibukan semua orang, benar-benar membuat adrenalin keduanya berpacu dengan cepat. Rasanya semakin menyenangkan dan membuat mereka ketagihan. *"Kalau begitu tanggal pernikahan Dipta dan Indah akhirnya sudah ditentukan." Sudut bibir Hartanto Naratama terangkat saat menatap Idris Lesmana yang merupakan calon besannya. Kedua lelaki yang seumuran itu duduk saling berhadapan. "Saya harap dua bulan dari sekarang semua persiapan pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar." Idris menganggukkan kepalanya tanda setuju. Senyum lelaki itu juga tidak kalah lebar. Setelah sekian lama, mereka benar-benar akan menjadi satu keluarga. "Saya juga senang sekali. Akhirnya kita mencapai kesepakatan, Pak Hartanto. Sosok Pradipta yang dewasa dan pekerja keras sudah cukup matang untuk memimpin rumah tangganya sendiri. Hal seperti itulah yang dibutuhkan anak saya, Anita yang terkadang masih memiliki sisi yang kekanak-kanakan." Saat namanya di sebut, Anita yang duduk di samping ibunya langsung memajukan bibirnya dengan manja. Meski nampak kesal, nyatanya mata perempuan itu terlihat berbinar. "Aku mau manjanya di lamain-lamain dari sekarang. Soal
Sebuah Mercy berwarna putih baru saja memasuki gerbang besar dan berhenti di carport milik rumah utama keluarga Naratama. Tak lama kemudian, siluet tubuh perempuan cantik yang mengendarainya dan tak lain adalah Karala, keluar dari dalam mobil. Karala yang memakai dress berwarna hitam dan baru saja pulang dari makam itu terlihat melangkah menuju pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Namun saat seorang security yang sedang berjaga berjalan mendekatinya, perempuan itu memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu. "Selamat sore, Bu. Ini ada dua paket yang datang untuk Bu Kara." Security yang bername tag Ismail tersenyum sopan pada sang nyonya rumah sambil menyerahkan sebuah buket bunga berukuran sedang dan undangan di tangannya. "Sore. Siapa yang nganterin, Pak?" Karala mengerutkan kening dengan heran. Biasanya beberapa paket miliknya akan di kirim langsung menuju alamat apartemennya. "Dikirim sama ojol, Bu. Sebenarnya dari pagi paketnya sampai tapi saya keep di pos sesuai permintaan
Jeremy meneguk winenya lalu meletakkan gelasnya di atas pahanya. Pandangan mata lelaki itu tertuju pada tubuh telanjang sang istri yang baru saja keluar dari walk in closet yang ada di kamar mereka. Andira Zahid memang telah kembali ke Indonesia setelah melakukan perjalanan bisnis dari Jerman beberapa waktu yang lalu. "Kami semua menghabiskan waktu di Seepromenade di Tegernsee setelah semua acaranya selesai." Sejak tadi Andira terus menceritakan dengan ringan apa yang telah terjadi di Jerman dan merupakan bagian kecil dari agendanya. Kakinya yang jenjang melangkah mendekati Jeremy yang juga sedang duduk di sofa dan memandanginya. "That's a nice place. Mungkin kita bisa pergi berdua di sana, Mas. Another honeymoon." Jeremy tersenyum saat Andira menundukkan tubuhnya ke lantai yang beralaskan karpet wool-silk mahal dan tepat berada di antara kedua kakinya. "Pasti kalian bersenang-senang sekali." "Just partying." Andira balas tersenyum. Kedua tangannya memegangi paha Jeremy lal
Waktu masih pagi, ketika Karala yang sedang memakai setelan olahraga terlihat sedang berlari dengan kecepatan stabil di atas treadmill di sebuah gym langganannya yang berada di pusat kota. Tubuhnya yang ramping nampak berkilau oleh keringat. Ekspresi perempuan cantik itu juga nampak benar-benar fokus meski nyatanya pikiran Karala justru sedang berkelana ke suatu tempat. "Insya Allah mbak dan yang lainnya akan berangkat ke Surabaya, Kar. Maaf ya tapi mungkin demi kebaikan semuanya yang pengen suasana baru." Ingatannya kembali pada kejadian semalam. Setelah memutuskan tidak bisa datang pada janji makan siang bersama Damian, Karala justru memilih menemui seseorang yang sangat penting, yang memanggilnya dengan nama orang lain. Dan dari pertemuan itu, bahkan dia harus mendengar sebuah keputusan yang sejujurnya tidak terlalu membuatnya senang. "Haaah ..." Menghela nafas, Karala mengurangi kecepatan lalu mengusap ujung matanya. Kalau sudah begini, mereka akan semakin jauh dan jarang be






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews