Home / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 6. MENGGIRING SEKUTU

Share

6. MENGGIRING SEKUTU

Author: NONA_DELANIE
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-19 18:40:17
Tatapan Gracia yang semula lembut kini menajam saat beralih pada Hazel. Keheningan yang menyesakkan sempat menyelimuti ruangan sebelum ia akhirnya bersuara, “Hazel?”

Hazel, yang baru saja dipanggil segera menegakkan dagunya, membalas tatapan itu tanpa emosi sedikit pun. “Ya, Nyonya River?”

“Bisa kita bicara berdua?”

Permintaan itu seketika memicu gelombang keterkejutan di ruangan tersebut. Semua orang membelalak tak percaya.

Denzel, yang takut Gracia akan berpihak pada Hazel, segera mer
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ah! Mantap, Sayang   110. MENYANGKAL KENYATAAN PAHIT

    “Aku rindu bercinta denganmu, Hazel.”Hazel memutar bola mata malas, meski rona merah di pipinya tak bisa berbohong. Ia mendorong bahu Hexa dengan hati-hati agar suaminya itu segera masuk ke dalam kamar dan berhenti membualkan hal yang tidak pantas di depan para pelayan.Sejam lalu—setelah dirawat selama seminggu penuh, Hexa memang diperbolehkan pulang. Tak menunggu lama, mereka sampai di rumah.Begitu Hexa duduk bersandar di atas ranjang king size mereka, Hazel tidak memberikan celah sedikit pun. Ia berdiri di depan suaminya, melipat tangan di dada dengan tatapan menginterogasi. “Kau tahu siapa yang mencelakaimu?”“Hm,” gumam Hexa singkat. Ia mengabaikan rasa nyeri di perutnya demi menarik tangan Hazel, merengkuh pinggang istrinya agar duduk menempel di sisinya. “Jangan khawatir, aku akan mengurus semuanya.”“Aku ingin tahu siapa dia, cepat katakan,” tuntut Hazel, matanya mencari kejujuran di balik netra gelap Hexa.“Kau tidak perlu tahu. Cukup pikirkan kesehatanmu, kandunganmu, dan

  • Ah! Mantap, Sayang   109. JAKSA MESUM 21+

    “Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau

  • Ah! Mantap, Sayang   108. KEJAM DAN TEGA

    “Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat menakutkan, seolah-olah sedang ingin mencabut nyawaku saat ini juga.” Hazel menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Hexa dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa amarah dan luka. “Seperti apa?” Hexa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di posisi yang sangat sulit. Membantah hanya akan memperkeruh suasana. Dengan suara yang dilembutkan, ia akhirnya menyerah. “Aku minta maaf, Hazel.” “Tidak penting meminta maaf sekarang,” balas Hazel dingin, tangannya sibuk menyiapkan perban baru. “Semuanya sudah terjadi.” “Oke, aku tahu kau marah. Aku—” “Aku tidak marah. Siapa yang marah?” Hazel menjawab ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hexa. Hexa meringis pelan, bukan hanya karena luka di perutnya yang terasa berdenyut, tapi juga karena cara Hazel memasangkan perban anti-air yang baru. Gerakannya sang

  • Ah! Mantap, Sayang   107. AMARAH DAN LUKA

    “Jadi, ini yang kamu sembunyikan dariku?”Hazel langsung merangsek masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, langkahnya mendadak membeku. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya ketika Hexa sedang setengah terbaring di ranjang rumah sakit, bertelanjang dada dengan lilitan perban tebal yang menutupi area perutnya.Wajah suaminya yang biasanya terlihat perkasa, kini nampak pucat di bawah benderang lampu ruang perawatan. Hazel merasakan dunianya seolah runtuh melihat kondisi pria yang baru saja ia cintai, ternyata jauh dari kata ‘baik-baik saja’.Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruang VVIP itu. Kejutan besar terpahat jelas di wajah semua orang. Baik Enrico, Elon, dan Gracia seolah membatu di posisi masing-masing, menatap Hazel yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan napas memburu.Pandangan Elon beralih tajam ke arah Hexa, sebuah isyarat tanpa suara yang menuntut putranya untuk segera membereskan situasi yang pecah di luar rencana ini.Hexa mengembuskan napas

  • Ah! Mantap, Sayang   106. MENCARI TAHU

    Derap langkah Hazel yang mondar mandir di ruang tamu, menyelimuti ketegangan di kediaman river malam itu. Hazel tak mau berhenti. Gracia, sang mertua, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ma, kenapa Hexa belum pulang? Apa ... terjadi sesuatu dengannya? Perasaanku benar-benar tidak enak,” bisik Hazel parau, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah.Gracia memaksakan senyum, mencoba tetap tenang meski hatinya sendiri bergejolak. “Semoga Hexa baik-baik saja. Dia pria yang tangguh, kau tahu itu. Jangan terlalu khawatir.”Kalimat itu sudah diucapkan Gracia berulang kali sejak senja tadi, namun nyatanya tak pernah benar-benar mampu menenangkan badai di hati Hazel. Kecemasan itu terus menghimpit dadanya hingga larut malam, sampai akhirnya Gracia harus mengantarnya kembali ke kamar di lantai atas agar ia mau beristirahat.Namun, tidur adalah hal mustahil bagi Hazel. Hingga fajar menyingsing dan pagi menyapa, sosok Hexa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Harap

  • Ah! Mantap, Sayang   105. TITIK TERANG

    Hexa terbangun tidak lama setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang hening dan steril. Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya yang perlahan pulih. Dengan gerakan pelan dan rintihan tertahan, ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi nyaman sebelum menatap lurus ke arah Elon, sang ayah, yang duduk di sisi ranjang. “Papa tidak memberitahu Hazel tentang keadaanku, ‘kan?” tanya Hexa, suaranya masih serak dan lemah. Elon menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan ketegasan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan tahu apa pun. Papa sudah memastikan semua laporan di rumah tetap tenang.” Hexa mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Ia melirik ke bawah, merasakan lilitan perban yang tebal di balik pakaian rumah sakitnya. Anehnya, ia belum merasakan perih yang menghujam, mungkin karena pengaruh obat bius pasca operasi yang masih bekerja kuat di dalam aliran darahnya. Tak lama kemudian, Elon berdiri. “Ist

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status