LOGIN“Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai.
Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucapan Hexa yang terpotong. “Cek saja laman internet. Aku juga sudah mengirimkan video panas kita pada Jenna,” ujarnya dengan nada seringan kapas, seolah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa. Usai membuat Hexa sesak napas, Hazel makin senang. Ia terkekeh pelan, “Kau tahu? Pasti kejadian ini sudah menjadi api di keluargamu, maupun keluarga Rush. Dan coba tebak, apa reaksi Jenna kalau tahu kekasihnya yang tampan ini … tidur dengan calon kakak ipar tirinya? Pasti dia sangat marah.” Telinga Hexa telah berdenging, makin panas saat ia membentak, “Cukup, Hazel!” “Jadi, bersiaplah membatalkan pernikahanmu dengan adik tiriku itu.” Hazel menarik diri perlahan. Ia memperhatikan bagaimana wajah Hexa berubah warna menjadi merah padam yang mengerikan. Gurat vena di pelipis pria itu terlihat berdenyut kencang, menonjol di bawah kulitnya yang pucat. Otot-otot di rahangnya mengunci begitu rapat hingga terdengar bunyi gemeletuk gigi yang tertahan. “Karena apa?” Hazel tersenyum miring. Ekspresi Hexa saat ini sangat sesuai dengan ekpektasinya. Melihat Hexa kian marah, ia semakin puas. “Karena tadi malam, aku tepat berada di puncak masa suburku. Benihmu yang sangat unggul itu pasti sudah berenang membuahi sel telur di rahimku. Dan akan kupastikan, sebulan lagi kau akan menyandang gelar sebagai ‘ayah’. Bersiaplah untuk bertanggung jawab padaku.” “H–hamil? Hanya satu kali melakukannya? Itu mustahil, Hazel! Kau jangan mengada-ada!” Saat membentak, suara Hexa terdengar parau dan tidak stabil. Urat-urat nadi di lehernya menonjol keluar seiring dengan napasnya yang menderu pendek-pendek. Tangannya yang terkepal di samping tubuh gemetar hebat. Bukan karena dingin, tapi karena luapan adrenalin yang tak memiliki jalan keluar. Tak pernah percaya kalau sekali melakukannya bisa hamil, Hexa makin emosi. “Jangan coba-coba menjebakku, Hazel! Jangan-jangan, saat kau memang sudah hamil saat ini, huh? Lalu, kau menyeretku dalam masalahmu karena kekasihmu yang menghamilimu tidak mau bertanggung jawab?” Darah Hexa terasa mendidih, menciptakan sensasi panas yang membakar hingga ke belakang matanya. Pengakuan Hazel membuat dunianya jungkir balik. Bagaimana tidak? Satu bulan lagi ia seharusnya mengucap janji suci. Dua tahun cintanya dengan Jenna hancur lebur dalam semalam—dihancurkan oleh wanita di depannya yang kini tampak seperti iblis berwajah malaikat. Hazel tak bergeming. Ia hanya memberikan keterangan sembari menunjuk pojok ruangan. “Kalau kau tidak percaya, kau bisa mengecek rekaman video panas kita semalam apakah kau yang pertama untukku atau tidak. Dan di atas sana ….” Hazel menjeda kalimatnya saat Hexa menoleh ke sudut yang ia maksud. “Ada kamera tersembunyi. Nanti kukirimkan padamu rekaman video itu secara utuh. Agar kau bisa menilai apakah ucapanku benar adanya atau tidak.” “Shit! Apa kau penggali emas? Kau menjebakku agar bisa mengandung anakku dan masuk ke keluargaku, ‘kan? Kau ingin mengangkat derajatmu dengan cara kotor ini?” ucap Hexa. Suaranya bergetar di antara amarah dan keputusasaan. Vena di dahinya tampak berdenyut-denyut, seirama dengan detak jantungnya yang kini terpacu hingga ke batas maksimal. Dengan gerakan santai yang nyaris tanpa suara, Hazel mematikan rokoknya ke asbak. Ia bangkit, merapikan coat hitam yang membalut lekuk tubuhnya dengan sangat presisi. Sepasang mata biru cerahnya menatap Hexa—dingin, kosong, tak tersentuh. “Kurang lebih begitu,” jawab Hazel tanpa beban sedikit pun, seolah ia baru saja membenarkan pertanyaan tentang cuaca. Hexa kembali menuding wajah Hazel, rahangnya mengeras hingga otot-otot di sekitar telinganya menegang. “Menjijikkan! Jangan harap aku akan membiarkan itu terjadi! Aku tidak akan membiarkanmu hamil.” Hazel tidak marah. Ia justru mengulas senyum tipis yang tampak begitu menyebalkan di mata Hexa. Sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak di samping pria itu, lalu menepuk pundak kiri Hexa dengan gerakan pelan yang terasa seperti sedang memberikan tanda kemenangan. “Dan kau tidak akan pernah bisa menyentuhku dengan niatan licikmu itu setelah ini, Pak Jaksa,” bisiknya tepat di samping wajah Hexa yang kaku. “Oke … aku pergi dulu. Ada jadwal di rumah sakit siang nanti, aku tidak boleh terlambat. Sampai jumpa satu bulan lagi, dan kau pasti akan sangat bahagia mendengar kabar kehamilanku. Aku jamin itu, ... Daddy Hexa.”“Kekalahan dan kehancuranmu telah dimulai, Jenna. Kau telah merebut kebahagiaanku. Dan sekarang giliranku membalas semua itu Satu persatu kebahagiaan yang kau miliki akan kurebut, seperti apa yang kau dan ibumu lakukan pada kehidupanku.”Hazel melangkah keluar dari restoran di seberang rumah sakit dengan ritme kaki yang santai. Ia berjalan pelan, membiarkan angin menyapu wajahnya sementara matanya menatap gedung putih yang menjulang di depannya.“Mulai dari Hexa dan kedua orang tuanya, lalu … semua fasilitas yang kau miliki. Akan kusingkirkan satu persatu batu yang menghalangi kebahagiaanku. Aku pastikan itu!”Ia mendongakkan dagu dengan bangga. Setelah bertahun-tahun ia mematangkan rencana ini di dalam ruang gelap hatinya—sembari mengubur rasa sakit dan dendam dalam-dalam, akhirnya ia bisa mengeksekusi segalanya tepat pada waktunya. Kehancuran Jenna bukan lagi sekadar angan, melainkan kenyataan yang baru saja ia mulai dengan sangat manis.Setibanya di IGD, Hazel langsung disambut o
“Kalau begitu, saya permisi, Nyonya.”Hazel membungkuk dengan gestur hormat yang sangat terukur setelah bertutur kata selembut sutra. Lima menit lalu, ia baru saja menyerahkan hasil tes urine yang diminta Gracia di toilet pojok ruangan itu. Setelah melihat bukti akurat di hadapannya—bahwa Hazel memang berada di puncak masa subur dan fakta medis bahwa ia masih suci saat Hexa menyentuhnya—Gracia hanya bisa mengangguk pelan. Ada binar penuh pertimbangan di mata wanita paruh baya itu saat ia membiarkan Hazel kembali pada jadwal dinasnya di rumah sakit.Sedangkan Hazel merasa lega. Begitu mendapatkan izin dari wanita yang ia bidik menjadi ibu mertuanya itu, ia segera berbalik dan melangkah keluar. Namun, baru satu langkah ia melewati ambang pintu keluar, serangan mendadak menghantam wajahnya bertubi-tubi, pun mendapat makian keras dari saudari tirinya.Plak! Plak!Dua tamparan keras mendarat di pipi Hazel hingga kepalanya tertoreh ke samping. Jenna berdiri di depannya dengan napas memb
Tatapan Gracia yang semula lembut kini menajam saat beralih pada Hazel. Keheningan yang menyesakkan sempat menyelimuti ruangan sebelum ia akhirnya bersuara, “Hazel?”Hazel, yang baru saja dipanggil segera menegakkan dagunya, membalas tatapan itu tanpa emosi sedikit pun. “Ya, Nyonya River?”“Bisa kita bicara berdua?”Permintaan itu seketika memicu gelombang keterkejutan di ruangan tersebut. Semua orang membelalak tak percaya. Denzel, yang takut Gracia akan berpihak pada Hazel, segera merangsek maju. Ia menghampiri calon besannya dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan. Sambil berkata, Denzel mencegah, “Apa yang akan kalian bicarakan? Nyonya River, saya mohon jangan biarkan Hazel memengaruhi Anda. Dia sudah jelas bersalah karena telah menjebak Hexa secara licik di klub malam tadi. Dia juga mempermalukan keluarga Anda. Jangan sampai kata-katanya membuat Anda justru putar haluan membelanya.”Gracia terdiam, matanya menatap Denzel dengan kilat tak percaya. Ia memperhatikan bagaiman
Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca. Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu mengarah ke skandalnya semalam. “Iya, Benar. Video ini sempat beredar, dan tidak sampai satu jam, video itu terhapus.” “Benar. Aku sempat menyimpan tangkapan layarnya. Itu memang wajah Tuan Muda Hexa.” “Ssssst. Sudah, jangan membicarakan anak pemilik rumah sakit tempat kita bekerja. Salah bicara sedikit saja, kita akan habis. Kita masih butuh pekerjaan ini. Cukup, jangan bahas skandal beliau, bubar sekarang!” Hazel tidak butuh melihat layar itu untuk tahu video apa yang sedang mereka tonton. Ia sendiri yang memilih sudut kamera—hanya mengekspos wajah Hexa, sementara dirinya tetap menjadi bayangan tanpa wajah dalam rekaman itu. Ada kepuasan yang menggelitik di dadanya melihat rep
“Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucapan Hexa yang terpotong. “Cek saja laman internet. Aku juga sudah mengirimkan video panas kita pada Jenna,” ujarnya dengan nada seringan kapas, seolah apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa. Usai membuat Hexa sesak napas, Hazel makin senang. Ia terkekeh pelan, “Kau tahu? Pasti kejadian ini sudah menjadi api di keluargamu, maupun keluarga Rush. Dan coba tebak, apa reaksi Jenna kalau tahu kekasihnya yang tampan ini … tidur dengan calon kakak ipar tirinya? Pasti dia sangat marah.” Telinga Hexa telah berdenging, makin panas saat ia membentak, “Cukup, Hazel!” “Jadi, bersiaplah membatalkan pernikahanmu dengan adik tiriku itu.” Hazel menarik diri perlahan. Ia memperhatikan bagaimana wajah Hexa
“I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?”Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan noda darah di sprei hanyalah manipulasi agar ia bersimpati pada wanita itu? Saat Hexa sibuk dengan isi pikirannya, Hazel justru telah duduk dengan dagu mendongak—angkuh, di sofa tunggal, tepat di hadapan Hexa. Dengan gerakan anggun, Hazel menyilangkan kaki, mempertontonkan paha dan betis mulusnya sambil menyesap rokok. “Pembicaraan apa yang ingin kau bahas, Tuan Jaksa?” tanyanya datar, disusul dengan asap rokok tipis yang keluar dari bibirnya. Wanita itu terlihat sangat provokatif. Kendali diri Hexa yang biasanya sekokoh karang di ruang sidang, runtuh seketika. Ia berdiri menyentak sembari menunjuk-nunjuk wajah Hazel. “Sialan, jangan berlagak bodoh! Kau menjebakku, Hazel. Aku ingin kau bertan







