Home / Romansa / Ah! Mantap, Sayang / 5. DISIDANG KELUARGA

Share

5. DISIDANG KELUARGA

Author: NONA_DELANIE
last update publish date: 2026-01-28 09:30:02

Pukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca.

Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu mengarah ke skandalnya semalam.

“Iya, Benar. Video ini sempat beredar, dan tidak sampai satu jam, video itu terhapus.”

“Benar. Aku sempat menyimpan tangkapan layarnya. Itu memang wajah Tuan Muda Hexa.”

“Ssssst. Sudah, jangan membicarakan anak pemilik rumah sakit tempat kita bekerja. Salah bicara sedikit saja, kita akan habis. Kita masih butuh pekerjaan ini. Cukup, jangan bahas skandal beliau, bubar sekarang!”

Hazel tidak butuh melihat layar itu untuk tahu video apa yang sedang mereka tonton. Ia sendiri yang memilih sudut kamera—hanya mengekspos wajah Hexa, sementara dirinya tetap menjadi bayangan tanpa wajah dalam rekaman itu.

Ada kepuasan yang menggelitik di dadanya melihat reputasi Hexa mulai terbakar, tepat seperti rencananya.

Sebagai residen bedah digestif tahun kedua di sini, Hazel sudah terlatih mengabaikan distraksi. Baginya, keriuhan tentang skandal Hexa tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang menyenangkan, semerdu bunyi monitor jantung yang stabil.

Delapan jam kemudian, Hazel baru keluar dari ruang operasi setelah membantu prosedur laparotomi yang melelahkan bersama beberapa dokter senior.

Sambil melepas masker bedahnya, ia menyeka peluh di kening, namun tatapannya tetap setajam mata pisau bedah. Kepuasannya hari ini lengkap lantaran ia sukses di ruang operasi, sekaligus sukses menghancurkan hidup seseorang.

Namun, langkahnya menuju ruang residen terhenti. Sosok Denzel Rush—ayahnya—berdiri menghalangi jalan. Pria itu tampak asing dan mengganggu.

“Ikut Papa!” titah Denzel tanpa basa-basi, langsung berbalik dengan asumsi Hazel akan mengekor seperti anak kecil yang patuh.

Hazel tidak bergerak satu inci pun. Ia menatap punggung pria itu dengan kekosongan yang absolut, seolah Denzel hanyalah benda mati yang menghalangi jalannya.

“Saya sedang dalam jam dinas, Tuan Rush,” sahut Hazel datar, suaranya memotong udara steril di koridor. “Saya tidak punya waktu luang untuk meladeni urusan di luar medis, apalagi tamu tanpa janji temu.”

Rahang Denzel mengeras mendengar sebutan formal itu. Sembari mengepalkan tangan di samping tubuh, ia berbalik badan, lalu menatap putri kandungnya dengan mata yang berkilat tajam. “Jaga sopan santunmu, Hazel! Papa datang ke sini tidak untuk berdebat!”

Hazel justru membalasnya dengan senyum miring yang tipis. Ia menatap Denzel dari ujung sepatu hingga ujung kepala dengan pandangan meremehkan, seolah sedang menginspeksi pasien yang tidak diinginkannya.

Hazel mengamati sekitar sebelum berkata, “Lalu untuk apa? Meminta saya mengasihani putri tiri kesayangan Anda karena tunangannya baru saja tidur dengan saya semalam?”

“Hazel! Jaga bicaramu atau Papa—” Belum selesai Denzel membentak, Hazel sudah memotong ucapannya.

Hazel bentangkan fakta bahwa pria yang ada di hadapannya ini telah menelantarkannya sejak belasan tahun lalu. Bahkan secara tidak langsung, mama tiri dan adik tirinya itu membuatnya tidak betah di rumah yang ia tempati.

“Seingat saya, Anda tidak peduli apakah saya hidup atau mati selama belasan tahun ini. Jadi, jangan berlagak seolah Anda punya hak untuk memerintah saya sekarang, Tuan Rush.”

Denzel tersentak. Meski setiap kata yang dilontarkan Hazel adalah kebenaran yang pahit, namun egonya menolak untuk tunduk. Baginya, Hazel-lah yang nekat pergi dari rumah, ia tak pernah merasa mengusir.

Denzel melangkah maju, memangkas jarak hingga Hazel bisa mencium aroma parfum mahal yang selalu ia benci.

Mata Denzel yang sebiru samudera menatap Hazel dengan ancaman nyata. “Papa tahu kau punya waktu istirahat tiga puluh menit sekarang—sebelum jam kerjamu dimulai lagi. Ikut Papa, atau Papa akan membuat keributan tepat di depan kantormu yang akan menghancurkan karirmu dalam sekejap. Kau jelas tahu siapa pemilik rumah sakit ini, Hazel. Dia pria berkuasa. Kau psti sangat sadar kalau kau baru saja menyinggungnya dengan skandal bodoh yang kau buat semalam. Jadi, ikut Papa sekarang untuk membahas ini. Tidak da penolakan.”

Hazel mengepalkan tangan di dalam saku jubah putihnya. Urat-urat halus di punggung tangannya menegang, dan ia bisa merasakan denyut nadi di ujung jarinya yang bergetar karena emosi yang tertahan.

Karir ini adalah satu-satunya hal yang ia bangun dengan darah dan air mata, tanpa bantuan satu sen pun dari pria di depannya. Ia tidak boleh kehilangan ini. Belum saatnya.

Hazel menarik napas panjang, membiarkan udara antiseptik rumah sakit menenangkan sarafnya. “Waktu Anda hanya lima belas menit.” Mata birunya kini menatap Denzel tanpa emosi, dingin layaknya mayat di ruang otopsi. “Lebih dari itu, saya akan pergi.”

****

Hazel melangkah masuk ke ruang private sebuah restoran Jepang yang terletak tepat di depan rumah sakit dengan ekspresi datar. Namun, langkahnya sempat tertahan saat melihat siapa saja yang di ruang private tersebut.

Di sana ada Jenna—adik tirinya—matanya sembab, bersandar pada bahu ibunya—Emma.

Di sudut lain, Hexa duduk dengan wajah kaku di samping kedua orang tuanya—Elon dan Gracia—yang tampak tidak senang dengan kedatangannya.

Jenna yang sejak tadi sangat menunggu kedatangan Hazel, mendadak bangkit. Ia telah mendengar semua penjelasan Hexa dimana Hazel ingin menjebak Hexa dan bahkan berniat hamil setelahnya. Matanya yang sembab kini berkilat penuh amarah. Tanpa aba-aba, ia melangkah lebar menghampiri Hazel dan melayangkan tamparan keras dua kali.

Suara tamparan itu bergema tajam di ruangan yang seketika hening.

Kepala Hazel terlempar ke samping kanan dan kiri, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit pucatnya.

Namun, Hazel hanya diam, tidak membalas meski ia mampu. Sebab, ini adalah bagian dari rencananya.

“Kau gila, Hazel!” teriak Jenna, suaranya melengking pecah. “Hexa milikku! Dia calon suamiku! Beraninya kau memiliki ambisi menjijikkan untuk hamil anaknya!”

Denzel, Emma, dan Hexa hanya terpaku. Sedangkan Elon dan Gracia adalah yang paling terguncang. Mereka berdua saling berpandangan dengan sisa keterkejutan yang nyata.

Di mata Elon dan Gracia, Jenna adalah sosok gadis yang santun nan lembut. Melihatnya melakukan kekerasan fisik seperti itu, terasa seperti melihat orang asing yang merasuki tubuh calon menantu mereka.

Gracia mengerutkan kening, ia secara spontan melangkah maju untuk menengahi agar Jenna tidak bertindak impulsif. “Jenna, hentikan. Kenapa kau ... kasar sekali? Walau bagaimanapun, dia itu saudaramu.”

Suara Jenna yang sempat menggelegar seketika menciut. Menyadari tatapan penuh tanya dari calon ibu mertuanya, ia segera memasang wajah terluka dan mendekati Gracia untuk mencari pembelaan.

“Ma, tolong jangan belain dia! Jenna mohon! Dia itu ... Mama lihat sendiri, dia ingin merebut Hexa dariku. Dia sengaja … tidur dengan Hexa saat dia dalam masa subur! Wajar, ‘kan, kalau aku marah? Aku hanya tidak ingin kehilangan Hexa, Ma. Bagaimana pun, kami saling mencintai!”

Hexa langsung berdiri di samping Jenna, memeluknya sembari memberikan dukungan penuh. “Jenna benar, Ma. Mama jangan tertipu dengan sikap dingin Hazel yang seolah tidak bersalah itu. Wajar kalau Jenna marah. Seperti yang dijelaskan tadi pagi, tindakan Hazel sudah sangat keterlaluan!”

Gracia menatap putranya lekat. “Tapi, kau menodai Hazel. Kau juga salah, Hexa! Kita semua sudah mengecek CCTV di bar itu. Kalau kau tidak mendekatinya, kesalhan seperti ini tidak akan terjadi!”

Hexa sadar bilamana ia salah. Tapi, ia tidak mau dpojokkan. Ia tetap membela diri.

“Ma, please berhenti simpati pada Hazel! Hazel itu rubah yang licik!” Kemudian, Hexa kembali menuturkan agar perhatian mamanya itu tak terlalu condong pada Hazel. “Sekarang begini saja. Bayangkan kalau Mama ada di posisi Jenna! Papa dijebak wanita lain yang berambisi menggeser posisi Mama sebagai istri sah, apa Mama akan diam saja? Kurasa, sikap Jenna memang sudah sepantasnya, Ma.”

Gracia terdiam sejenak, matanya beralih antara Jenna yang emosional dan Hexa yang tampak frustasi. Sebagai seorang wanita, ia paham mengapa Jenna begitu murka, namun nuraninya menolak untuk melimpahkan seluruh kesalahan pada Hazel.

Akhirnya, Gracia menghela napas. Ia mendekati Jenna, mengusap bahu calon menantunya seraya menenangkan, “Ya sudah, jangan diperpanjang.”

Tatapan Gracia yang semula lembut, kini berubah sedikit tajam ketika menatap Hazel. Terjadi ketegangan sejenak sebelum ia memanggil, “Hazel?”

“Ya, Nyonya River?”

“Bisa bicara berdua?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ah! Mantap, Sayang   109. JAKSA MESUM 21+

    “Oh iya. Bagaimana keadaan bayi kita? Dia tidak merepotkan mu, ‘kan?”“Tidak!”“Apa dia sudah menendang?” tanya Hexa dengan suara rendah yang dalam.“Iya. Dia baru saja bilang padaku kalau dia ingin sekali menendang Daddy-nya yang menyebalkan ini. Dia bahkan membisikkan pesan agar aku mewakilinya menendangmu,” balas Hazel ketus, meski ia tidak menepis tangan Hexa dari perutnya. “Bagaimana? Mau direalisasikan sekarang tendangannya? Dia bilang padaku, ingin menendang tepat ke arah dua bijimu!”Hexa menelan ludah. Benarkah Hazel sekejam dan setega itu padanya?Hexa menghela napas panjang, benar-benar merasa buntu. Ia menatap langit-langit kamar VVIP itu dengan pasrah. Sejak tadi ia sudah mengerahkan segala kemampuan diplomasinya sebagai jaksa, mencoba membujuk dan meminta maaf, namun Hazel tetap saja memasang benteng tinggi dengan sikap ketusnya.“Kalau bayi kita benar-benar menendangku nanti, tolong katakan padanya kalau

  • Ah! Mantap, Sayang   108. KEJAM DAN TEGA

    “Berhenti menatapku seperti itu. Kau terlihat menakutkan, seolah-olah sedang ingin mencabut nyawaku saat ini juga.” Hazel menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Hexa dengan sorot mata yang masih menyimpan sisa-sisa amarah dan luka. “Seperti apa?” Hexa sadar sepenuhnya bahwa ia sedang berada di posisi yang sangat sulit. Membantah hanya akan memperkeruh suasana. Dengan suara yang dilembutkan, ia akhirnya menyerah. “Aku minta maaf, Hazel.” “Tidak penting meminta maaf sekarang,” balas Hazel dingin, tangannya sibuk menyiapkan perban baru. “Semuanya sudah terjadi.” “Oke, aku tahu kau marah. Aku—” “Aku tidak marah. Siapa yang marah?” Hazel menjawab ketus tanpa sedikit pun menoleh ke arah Hexa. Hexa meringis pelan, bukan hanya karena luka di perutnya yang terasa berdenyut, tapi juga karena cara Hazel memasangkan perban anti-air yang baru. Gerakannya sang

  • Ah! Mantap, Sayang   107. AMARAH DAN LUKA

    “Jadi, ini yang kamu sembunyikan dariku?”Hazel langsung merangsek masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, langkahnya mendadak membeku. Napasnya tercekat melihat pemandangan di depannya ketika Hexa sedang setengah terbaring di ranjang rumah sakit, bertelanjang dada dengan lilitan perban tebal yang menutupi area perutnya.Wajah suaminya yang biasanya terlihat perkasa, kini nampak pucat di bawah benderang lampu ruang perawatan. Hazel merasakan dunianya seolah runtuh melihat kondisi pria yang baru saja ia cintai, ternyata jauh dari kata ‘baik-baik saja’.Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti ruang VVIP itu. Kejutan besar terpahat jelas di wajah semua orang. Baik Enrico, Elon, dan Gracia seolah membatu di posisi masing-masing, menatap Hazel yang berdiri gemetar di ambang pintu dengan napas memburu.Pandangan Elon beralih tajam ke arah Hexa, sebuah isyarat tanpa suara yang menuntut putranya untuk segera membereskan situasi yang pecah di luar rencana ini.Hexa mengembuskan napas

  • Ah! Mantap, Sayang   106. MENCARI TAHU

    Derap langkah Hazel yang mondar mandir di ruang tamu, menyelimuti ketegangan di kediaman river malam itu. Hazel tak mau berhenti. Gracia, sang mertua, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ma, kenapa Hexa belum pulang? Apa ... terjadi sesuatu dengannya? Perasaanku benar-benar tidak enak,” bisik Hazel parau, kedua tangannya saling meremas dengan gelisah.Gracia memaksakan senyum, mencoba tetap tenang meski hatinya sendiri bergejolak. “Semoga Hexa baik-baik saja. Dia pria yang tangguh, kau tahu itu. Jangan terlalu khawatir.”Kalimat itu sudah diucapkan Gracia berulang kali sejak senja tadi, namun nyatanya tak pernah benar-benar mampu menenangkan badai di hati Hazel. Kecemasan itu terus menghimpit dadanya hingga larut malam, sampai akhirnya Gracia harus mengantarnya kembali ke kamar di lantai atas agar ia mau beristirahat.Namun, tidur adalah hal mustahil bagi Hazel. Hingga fajar menyingsing dan pagi menyapa, sosok Hexa tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Harap

  • Ah! Mantap, Sayang   105. TITIK TERANG

    Hexa terbangun tidak lama setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang hening dan steril. Aroma antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya yang perlahan pulih. Dengan gerakan pelan dan rintihan tertahan, ia menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, mencoba mencari posisi nyaman sebelum menatap lurus ke arah Elon, sang ayah, yang duduk di sisi ranjang. “Papa tidak memberitahu Hazel tentang keadaanku, ‘kan?” tanya Hexa, suaranya masih serak dan lemah. Elon menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara lega dan ketegasan. “Tentu saja tidak. Dia tidak akan tahu apa pun. Papa sudah memastikan semua laporan di rumah tetap tenang.” Hexa mengangguk pelan, merasa sedikit lega. Ia melirik ke bawah, merasakan lilitan perban yang tebal di balik pakaian rumah sakitnya. Anehnya, ia belum merasakan perih yang menghujam, mungkin karena pengaruh obat bius pasca operasi yang masih bekerja kuat di dalam aliran darahnya. Tak lama kemudian, Elon berdiri. “Ist

  • Ah! Mantap, Sayang   104. MENYUSUN ULANG STRATEGI

    Elon tiba di atap rumah sakit dengan helikopter pribadinya setelah mengudara selama 17 menit. Tanpa membuang waktu, ia segera diarahkan ke ruang pengambilan darah. Sebagai pemilik golongan darah yang sama langkanya dengan putranya, Elon memberikan satu kantong darahnya dengan cepat, lalu bergegas menuju lorong ruang operasi dengan langkah lebar yang sarat kewibawaan.Enrico segera berdiri menyambut kedatangan pria kuat itu. “Tuan River, selamat datang,” sapanya dengan nada rendah penuh hormat.Elon hanya menyambut sapaan itu dengan kedipan singkat, wajahnya kaku menahan emosi. Tanpa basa-basi, ia langsung menghujamkan pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hexa bisa mengalami kecelakaan sehebat itu?”“Ceritanya panjang, Tuan,” jawab Enrico. Ia kemudian menuturkan semuanya dengan gamblang, mulai dari awal pengejaran di Rute 56 hingga ledakan yang hampir merenggut nyawa Hexa. Di akhir kalimat, Enrico menyatakan dugaannya bersam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status