MasukPukul delapan pagi, lobi River Regional Hospital terasa lebih gerah dari biasanya. Hazel melangkah menuju selasar rumah sakit dengan dagu terangkat dan ekspresi yang sulit dibaca.
Di sepanjang koridor, rungunya menangkap bisik-bisik dari para perawat yang menyebut nama Hexa. Jelas pembicaraan itu mengarah ke skandalnya semalam. “Iya, Benar. Video ini sempat beredar, dan tidak sampai satu jam, video itu terhapus.” “Benar. Aku sempat menyimpan tangkapan layarnya. Itu memang wajah Tuan Muda Hexa.” “Ssssst. Sudah, jangan membicarakan anak pemilik rumah sakit tempat kita bekerja. Salah bicara sedikit saja, kita akan habis. Kita masih butuh pekerjaan ini. Cukup, jangan bahas skandal beliau, bubar sekarang!” Hazel tidak butuh melihat layar itu untuk tahu video apa yang sedang mereka tonton. Ia sendiri yang memilih sudut kamera—hanya mengekspos wajah Hexa, sementara dirinya tetap menjadi bayangan tanpa wajah dalam rekaman itu. Ada kepuasan yang menggelitik di dadanya melihat reputasi Hexa mulai terbakar, tepat seperti rencananya. Sebagai residen bedah digestif tahun kedua di sini, Hazel sudah terlatih mengabaikan distraksi. Baginya, keriuhan tentang skandal Hexa tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang menyenangkan, semerdu bunyi monitor jantung yang stabil. Delapan jam kemudian, Hazel baru keluar dari ruang operasi setelah membantu prosedur laparotomi yang melelahkan bersama beberapa dokter senior. Sambil melepas masker bedahnya, ia menyeka peluh di kening, namun tatapannya tetap setajam mata pisau bedah. Kepuasannya hari ini lengkap lantaran ia sukses di ruang operasi, sekaligus sukses menghancurkan hidup seseorang. Namun, langkahnya menuju ruang residen terhenti. Sosok Denzel Rush—ayahnya—berdiri menghalangi jalan. Pria itu tampak asing dan mengganggu. “Ikut Papa!” titah Denzel tanpa basa-basi, langsung berbalik dengan asumsi Hazel akan mengekor seperti anak kecil yang patuh. Hazel tidak bergerak satu inci pun. Ia menatap punggung pria itu dengan kekosongan yang absolut, seolah Denzel hanyalah benda mati yang menghalangi jalannya. “Saya sedang dalam jam dinas, Tuan Rush,” sahut Hazel datar, suaranya memotong udara steril di koridor. “Saya tidak punya waktu luang untuk meladeni urusan di luar medis, apalagi tamu tanpa janji temu.” Rahang Denzel mengeras mendengar sebutan formal itu. Sembari mengepalkan tangan di samping tubuh, ia berbalik badan, lalu menatap putri kandungnya dengan mata yang berkilat tajam. “Jaga sopan santunmu, Hazel! Papa datang ke sini tidak untuk berdebat!” Hazel justru membalasnya dengan senyum miring yang tipis. Ia menatap Denzel dari ujung sepatu hingga ujung kepala dengan pandangan meremehkan, seolah sedang menginspeksi pasien yang tidak diinginkannya. Hazel mengamati sekitar sebelum berkata, “Lalu untuk apa? Meminta saya mengasihani putri tiri kesayangan Anda karena tunangannya baru saja tidur dengan saya semalam?” “Hazel! Jaga bicaramu atau Papa—” Belum selesai Denzel membentak, Hazel sudah memotong ucapannya. Hazel bentangkan fakta bahwa pria yang ada di hadapannya ini telah menelantarkannya sejak belasan tahun lalu. Bahkan secara tidak langsung, mama tiri dan adik tirinya itu membuatnya tidak betah di rumah yang ia tempati. “Seingat saya, Anda tidak peduli apakah saya hidup atau mati selama belasan tahun ini. Jadi, jangan berlagak seolah Anda punya hak untuk memerintah saya sekarang, Tuan Rush.” Denzel tersentak. Meski setiap kata yang dilontarkan Hazel adalah kebenaran yang pahit, namun egonya menolak untuk tunduk. Baginya, Hazel-lah yang nekat pergi dari rumah, ia tak pernah merasa mengusir. Denzel melangkah maju, memangkas jarak hingga Hazel bisa mencium aroma parfum mahal yang selalu ia benci. Mata Denzel yang sebiru samudera menatap Hazel dengan ancaman nyata. “Papa tahu kau punya waktu istirahat tiga puluh menit sekarang—sebelum jam kerjamu dimulai lagi. Ikut Papa, atau Papa akan membuat keributan tepat di depan kantormu yang akan menghancurkan karirmu dalam sekejap. Kau jelas tahu siapa pemilik rumah sakit ini, Hazel. Dia pria berkuasa. Kau psti sangat sadar kalau kau baru saja menyinggungnya dengan skandal bodoh yang kau buat semalam. Jadi, ikut Papa sekarang untuk membahas ini. Tidak da penolakan.” Hazel mengepalkan tangan di dalam saku jubah putihnya. Urat-urat halus di punggung tangannya menegang, dan ia bisa merasakan denyut nadi di ujung jarinya yang bergetar karena emosi yang tertahan. Karir ini adalah satu-satunya hal yang ia bangun dengan darah dan air mata, tanpa bantuan satu sen pun dari pria di depannya. Ia tidak boleh kehilangan ini. Belum saatnya. Hazel menarik napas panjang, membiarkan udara antiseptik rumah sakit menenangkan sarafnya. “Waktu Anda hanya lima belas menit.” Mata birunya kini menatap Denzel tanpa emosi, dingin layaknya mayat di ruang otopsi. “Lebih dari itu, saya akan pergi.” **** Hazel melangkah masuk ke ruang private sebuah restoran Jepang yang terletak tepat di depan rumah sakit dengan ekspresi datar. Namun, langkahnya sempat tertahan saat melihat siapa saja yang di ruang private tersebut. Di sana ada Jenna—adik tirinya—matanya sembab, bersandar pada bahu ibunya—Emma. Di sudut lain, Hexa duduk dengan wajah kaku di samping kedua orang tuanya—Elon dan Gracia—yang tampak tidak senang dengan kedatangannya. Jenna yang sejak tadi sangat menunggu kedatangan Hazel, mendadak bangkit. Ia telah mendengar semua penjelasan Hexa dimana Hazel ingin menjebak Hexa dan bahkan berniat hamil setelahnya. Matanya yang sembab kini berkilat penuh amarah. Tanpa aba-aba, ia melangkah lebar menghampiri Hazel dan melayangkan tamparan keras dua kali. Suara tamparan itu bergema tajam di ruangan yang seketika hening. Kepala Hazel terlempar ke samping kanan dan kiri, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit pucatnya. Namun, Hazel hanya diam, tidak membalas meski ia mampu. Sebab, ini adalah bagian dari rencananya. “Kau gila, Hazel!” teriak Jenna, suaranya melengking pecah. “Hexa milikku! Dia calon suamiku! Beraninya kau memiliki ambisi menjijikkan untuk hamil anaknya!” Denzel, Emma, dan Hexa hanya terpaku. Sedangkan Elon dan Gracia adalah yang paling terguncang. Mereka berdua saling berpandangan dengan sisa keterkejutan yang nyata. Di mata Elon dan Gracia, Jenna adalah sosok gadis yang santun nan lembut. Melihatnya melakukan kekerasan fisik seperti itu, terasa seperti melihat orang asing yang merasuki tubuh calon menantu mereka. Gracia mengerutkan kening, ia secara spontan melangkah maju untuk menengahi agar Jenna tidak bertindak impulsif. “Jenna, hentikan. Kenapa kau ... kasar sekali? Walau bagaimanapun, dia itu saudaramu.” Suara Jenna yang sempat menggelegar seketika menciut. Menyadari tatapan penuh tanya dari calon ibu mertuanya, ia segera memasang wajah terluka dan mendekati Gracia untuk mencari pembelaan. “Ma, tolong jangan belain dia! Jenna mohon! Dia itu ... Mama lihat sendiri, dia ingin merebut Hexa dariku. Dia sengaja … tidur dengan Hexa saat dia dalam masa subur! Wajar, ‘kan, kalau aku marah? Aku hanya tidak ingin kehilangan Hexa, Ma. Bagaimana pun, kami saling mencintai!” Hexa langsung berdiri di samping Jenna, memeluknya sembari memberikan dukungan penuh. “Jenna benar, Ma. Mama jangan tertipu dengan sikap dingin Hazel yang seolah tidak bersalah itu. Wajar kalau Jenna marah. Seperti yang dijelaskan tadi pagi, tindakan Hazel sudah sangat keterlaluan!” Gracia menatap putranya lekat. “Tapi, kau menodai Hazel. Kau juga salah, Hexa! Kita semua sudah mengecek CCTV di bar itu. Kalau kau tidak mendekatinya, kesalhan seperti ini tidak akan terjadi!” Hexa sadar bilamana ia salah. Tapi, ia tidak mau dpojokkan. Ia tetap membela diri. “Ma, please berhenti simpati pada Hazel! Hazel itu rubah yang licik!” Kemudian, Hexa kembali menuturkan agar perhatian mamanya itu tak terlalu condong pada Hazel. “Sekarang begini saja. Bayangkan kalau Mama ada di posisi Jenna! Papa dijebak wanita lain yang berambisi menggeser posisi Mama sebagai istri sah, apa Mama akan diam saja? Kurasa, sikap Jenna memang sudah sepantasnya, Ma.” Gracia terdiam sejenak, matanya beralih antara Jenna yang emosional dan Hexa yang tampak frustasi. Sebagai seorang wanita, ia paham mengapa Jenna begitu murka, namun nuraninya menolak untuk melimpahkan seluruh kesalahan pada Hazel. Akhirnya, Gracia menghela napas. Ia mendekati Jenna, mengusap bahu calon menantunya seraya menenangkan, “Ya sudah, jangan diperpanjang.” Tatapan Gracia yang semula lembut, kini berubah sedikit tajam ketika menatap Hazel. Terjadi ketegangan sejenak sebelum ia memanggil, “Hazel?” “Ya, Nyonya River?” “Bisa bicara berdua?”“Apa selama belasan tahun ini, ibu Hazel sengaja dicekoki obat-obatan tertentu secara konstan bukan untuk menyembuhkan, melainkan justru untuk mengikis, merusak, dan memanipulasi memorinya?”Enrico mengangguk, menduga sama seperti bosnya. “Mungkin iya. Tapi, kita belum tahu pasti. Aku sedang menyelidiki, siapa pemasok obat itu.”Hexa hanya mengangguk tanpa repot-repot menimpali. Ia tahu—terlalu tahu jika obat penekan saraf atau psikotropika dosis tertentu bisa dengan mudah membuat seseorang kebingungan, kehilangan orientasi waktu, bahkan melupakan jati diri mereka yang sebenarnya.Itulah alasan mengapa wanita itu tidak pernah mencoba melarikan diri atau mencari jalan pulang. Dia tidak tahu siapa dirinya, dan dia terus dibuat bergantung pada obat-obatan yang diklaim ‘menyembuhkannya’, padahal benda itulah yang menjadi penjara tak kasat mata bagi otaknya.Hexa melepas satu earphone-nya, menatap Enrico dengan pandangan yang mendadak sedingin es.“Kalau pria itu ditugaskan menjaga ibunya
“Menemukan benang merah?” Hazel menggigit bibir bawahnya. Ia agak sangsi melakukan hal itu mengingat hubungannya dengan sang ayah tidak pernah cukup dekat. Terlebih lagi, jika ia tiba-tiba datang mendekat dan sang ayah menaruh curiga lalu bertanya ada apa, situasinya pasti akan menjadi sangat rumit. Rencana mereka bisa gagal total sebelum dimulai. Melihat Hazel terdiam cukup lama dengan guratan ragu di wajahnya, Hexa melangkah mendekat. Ia menangkup kedua bahu istrinya, mencoba memberikan keyakinan seraya memaparkan analisisnya. “Ada hal yang janggal dari sikap papamu selama puluhan tahun ini. Bagaimana bisa dia begitu mudah percaya bahwa ibumu telah tewas di jurang tanpa adanya jasad yang jelas?” papar Hexa dipenuhi logika. Jemarinya yang kokoh menggenggam telapak tangan sang istri lebih erat, seolah sedang menyalurkan keyakinan dan kekuatan melalui gestur singkat itu. “Kita harus tahu apakah dia sekadar korban manipulasi Emma, atau justru dia tahu sesuatu yang selama ini disemb
“Jika Denzel tidak pernah berniat mencari atau mempertanyakan kematian istrinya yang janggal ... apakah itu artinya dia terlibat dalam tragedi pembunuhan itu itu?”Mata Hexa menatap kosong ke arah dinding. Spekulasi itu terasa mengerikan. Apakah Denzel sengaja membiarkan istrinya dikurung oleh Emma? Ataukah pria itu adalah bagian dari rencana besar untuk melenyapkan sosok ibu Hazel dari silsilah keluarga demi kepentingan tertentu?Hexa mengeratkan pelukannya pada Hazel. Ia tidak berani menyuarakan kecurigaannya sekarang. Hazel sudah cukup hancur mengetahui ibunya disekap; mengetahui bahwa ayahnya sendiri mungkin adalah dalangnya bisa membuat kewarasan istrinya benar-benar hilang.Ia harus menyelidikinya sendiri. Sebelum mereka melancarkan operasi penyelamatan, ia harus memastikan siapa lawan dan siapa kawan, termasuk pria yang selama ini dipanggil Hazel sebagai Ayah.Setelah tangisnya sedikit mereda, Hazel tiba-tiba melepaskan diri dari dekapan Hexa dengan gerakan menyentak. Napasnya
“Bukalah!”“Apa ini?” Hazel menatap beberapa amplop dengan logo rumah sakit yang disodorkan Hexa ke atas bantal di pangkuannya. Fokusnya yang semula tertuju pada buku referensi tesis seketika buyar.“Aku sudah menyuruh anak buah Enrico mengambil hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit. Semua hasilnya masih tersegel. Lihatlah sendiri,” jelas Hexa dengan suara rendah, mencoba memberikan ruang bagi istrinya untuk memproses keadaan.Hazel menatap Hexa cukup lama—terlalu lama hingga membuat suaminya itu kembali bertanya.“Apa yang membuatmu tidak langsung membukanya?”“Aku hanya takut hasilnya tidak sesuai ekspektasi,” bisik Hazel seraya menunduk.Ia menyingkirkan amplop-amplop itu dari pangkuannya dengan gerakan pelan, seolah benda-benda itu bisa meledak kapan saja. Tatapannya kini melayang jauh ke arah pemandangan di luar jendela kamar.Langit di luar tampak mendung, seirama dengan keresahan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. “Selama ini aku hidup dengan keyakinan bahwa Mama sudah
“Kalau ibuku benar-benar masih hidup dan berhasil kita selamatkan, apa kau mau menerimanya—maksudku, menampungnya di rumahmu?”“Hah?” Hexa tertegun sejenak. Pertanyaan itu cukup mengejutkan. Ia belum memikirkan sejauh itu karena fokusnya masih pada hasil tes DNA yang belum pasti.Iya kalau hasilnya cocok, kalau tidak, lantas bagaimana? Ia pasti akan kelimpungan menenangkan Hazel yang bersedih.“Kenapa? Kau keberatan?” Hazel mencecar saat melihat keraguan di wajah suaminya. “Kalau kau keberatan dia tinggal di kediaman River, bisakah kau memberikan satu rumah lagi untukku?”Hexa mengernyit, masih diam karena otaknya sedang menimbang berbagai risiko keamanan dan birokrasi keluarga besar mereka.Melihat respons Hexa yang pasif, Hazel merasa dirinya terlalu menuntut. Ia pun sadar diri, lalu menundukkan wajahnya dengan gurat kecewa yang jelas.“Ya sudah kalau kau keberatan. Aku akan menyewa rumah sendiri untuk Mama nanti. Pasti beliau sangat senang jika bisa tinggal bersamaku lagi.”Hexa m
“Lalu, aku harus bagaimana?”Suara Hazel serak, isak tangis yang sejak tadi ditahannya mulai terdengar memilukan. Pertahanan kedokterannya runtuh seketika saat dihadapkan pada kemungkinan bahwa ibunya masih bernapas di suatu tempat.Hexa tak tega melihat kehancuran itu. Mengabaikan nyeri di perutnya, ia segera berdiri dan menarik kepala Hazel ke dalam dekapannya, menyandarkannya erat pada pinggangnya. Tangan Hexa mengusap rambut Hazel, mencoba menyalurkan kekuatan.“Tunggu satu minggu. Setelah hasil tes DNA keluar … maka kita lakukan operasi penyelamatan. Kau setuju?” bisik Hexa menenangkan.Hazel mengangguk di balik tangisnya, air matanya membasahi telapak tangan Hexa. Sambil mengusap wajahnya yang sembap, ia mendongak dengan tatapan menuntut. “Kalau begitu, apa kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga?”Hexa tercengang. “Sekarang juga?”“Ya. Kalau Enrico sudah memegang sampel rambut wanita itu, bukankah tes
“Kurasa... skandal kita semalam sudah menyebar, Pak Jaksa terhormat,” ucap Hazel santai. Hexa menahan napas, hanya sepersekian detik sebelum ia menyeru kencang, terbata-bata penuh keterkejutan, “What? Kau gila? Kau menyebarkan … video kita yang …” Hazel mengangguk tipis seolah mengonfirmasi ucap
“I–itu darah perawan atau ... hanya pewarna makanan?” Ada amarah, tapi ada juga secercah rasa memiliki yang egois. Asumsi liar yang membakar mulai berkecamuk di benak Hexa. Hexa mulai bertanya-tanya. Benarkah ia pria pertama untuk Hazel malam tadi? Atau … Hazel justru sudah tidak perawan dan nod
“Sialan! Jadi, kau menjebakku, Hazel?!” Sebuah bantal berukuran besar melayang kasar, menghantam kepala Hazel sebelum jatuh tak berdaya ke atas pangkuannya. Hazel tidak bergeming. Ia tetap duduk bersandar dengan tenang, seolah kemarahan pria di sampingnya hanyalah angin lalu. Pria itu—Hexa Cas
Cahaya neon fuchsia dan biru kobalt berpendar liar mengikuti dentuman bass yang menggetarkan tulang rusuk. Aroma alkohol mahal, cerutu, dan parfum bercampur menjadi satu, menyengat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus liar. Di tengah hiruk-pikuk manusia yang kehilangan







