Share

Bab 26: Dara

Author: Goresan Hara
last update publish date: 2026-10-17 17:47:14

Hari keempat puluh

Dara Kusuma bukan tipe orang yang gampang melepaskan pertanyaan.

Kalau ada satu hal yang perlu dipahami soal gadis berambut lurus sebahu yang selalu duduk dua kursi dari Mecca setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul delapan pagi, itu dia tidak akan berhenti sebelum puas tahu. Dara bukan sekadar kepo dia terbiasa mencari kebenaran. Jurusan jurnalistiknya membuat dia menerapkan pola pikir investigatif ke mana pun dia pergi, termasuk ke kehidupan teman-temannya.

Dan jaket abu-abu ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 53: Yang Dimasak Papa

    Hari keseratus delapan.Mecca sampai di rumah jam tujuh pagi satu setengah jam sebelum Reyhan dijadwalkan datang. Dia sengaja datang lebih awal karena dua alasan: pertama, supaya dia ada di sana waktu Papa mulai panik, dan kedua, karena dia mau duduk dulu di dapur itu sebelum semuanya berubah jadi panggung.Tapi dapurnya sudah berubah jadi berantakan sebelum dia datang.Papa menyalakan kompor dan membiarkan wajan terlalu lama, sampai asapnya mengepul menutupi lampu. Di meja ada tiga kantong belanja, isinya sayuran yang separuh sudah dibuang. Di lantai ada panci yang tumpah, airnya belum kering sepenuhnya.Mama berdiri di dekat pintu, tangan di pinggang. Wajahnya seperti orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang nggak akan dia percaya kalau nggak dilihat sendiri."Papa udah bangun jam empat," kata Mama langsung. "Siap-siap, belanja, terus masak. Tanya mau masak apa, dia jawab kayak anak kecil yang lagi ngambek.""Mau masak apa, Pa?" tanya Mecca."Gulai tongkol." Papa menjawab tanpa

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 52: Foto di Dinding

    Hari keseratus dua.Mecca nggak menelepon dia pagi itu. Dia nunggu sampai jam empat sore waktu yang nggak terlalu pas, waktu yang dipilih orang kalau mau ngobrol tanpa ada yang sempat nyiapin jawaban duluan.Pesan yang dikirim cuma delapan kata:Aku ada di kos. Ada yang mau aku tunjukin.Reyhan datang dua puluh menit kemudian. Dan Mecca sadar satu hal soal lelaki ini: baju yang dia pakai buat ketemu orang penting dan baju yang dia pakai buat datang ke sini, bedanya bisa kelihatan dari sepuluh meter. Kali ini cuma kemeja, nggak pakai jas, nggak ada jam tangan, nggak bawa map.Mecca sudah naruh bingkai foto itu di meja depan, menghadap ke pintu.Dia nggak langsung cerita. Nggak ada penjelasan panjang lebar, nggak ada pembukaan."Aku cuma mau kamu tahu aku nemu ini," katanya pelan. "Aku nggak nanya apa-apa kok."Reyhan melangkah mendekat. Nunduk melihat ke bawah.Dan untuk pertama kalinya, Mecca melihat lelaki ini benar-benar berhenti bernapas.Bukan kaget orang yang kaget masih bisa ber

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 51: Kopi di Meja Makan

    Hari keseratus satu.Dia datang jam sembilan pagi, sendirian.Tidak ada asisten, tidak ada pengawal, tidak ada mobil hitam yang diparkir berhadapan seperti yang biasanya bikin tetangga buru-buru kunci gerbang. Cuma satu mobil tua yang terawat bersih, dan seorang bapak yang turun dari kursi belakang dengan bantuan sopirnya saja. Di tangannya ada kotak kue yang pasti dibeli di kota sebelum masuk ke gang ini.Mecca sudah di rumah sejak jam enam pagi. Dia tidak mau baru pulang dan langsung berpapasan di depan pagar.Mama tidak menyiapkan apa pun yang berlebihan. Tidak ada nampan penuh camilan, tidak ada piring cantik. Cuma kopi padahal sudah lewat jam sembilan, dan semua tahu di rumah ini kopi bukan minum pagi-pagi begini.Foto lama di ruang tamu sudah dibalik menghadap tembok. Bersih, tak berdebu. Seperti sesuatu yang sengaja disimpan agar tak perlu dilihat siapa pun lagi.Mecca baru paham sekarang kenapa malam itu Papa membaliknya. Bukan untuk menyembunyikan orang di foto itu.Tapi untu

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 50: Balasan

    Hari kesembilan puluh delapan.Yang pertama kasih tahu Mecca soal balasan itu bukan Reyhan, dan bukan juga Papa.Pukul satu siang, nomor dari kantor hukum itu muncul di layar ponselnya. Bukan kurir lagi; kali ini ada suara pria yang bicara dengan nada yang sudah dihafal betul kaku, rapi, seolah setiap kata sudah dipilihkan sebelumnya. Dia memperkenalkan diri sebagai bagian dari tim administrasi, lalu membacakan satu kalimat dari kertas yang kemarin malam baru saja berpindah tangan."Kami sudah membacanya. Ada satu bagian yang menurut kami perlu dikonfirmasi dulu."Mecca duduk di tangga belakang gedung jurusannya tempat yang sepi, jarang dilewati siapa pun."Bagian mana?""Bagian yang bunyinya begini: kalau ada yang mau bicara soal saya, bicaralah langsung ke saya." Suara itu berhenti sebentar, dan Mecca tahu dia bukan sedang mencari kata-kata dia sedang memutuskan nada bicara yang pas. "Apakah itu bisa kami artikan sebagai ketersediaan untuk berbicara langsung, tanpa surat-menyurat la

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 49: Dua Lelaki di Dapur

    Hari kesembilan puluh tujuh, pukul sembilan lewat seperempat malam.Dapur itu kecil. Bertiga di dalamnya bikin Mecca merasa dia cuma berdiri di antara dua dunia yang sedang bicara tanpa kata-kata.Reyhan berdiri di ambang pintu, map kertasnya masih di tangan. Dia nggak melangkah masuk lebih jauh sampai dipersilakan. Dan waktu Papa cuma diam, dia tetap berdiri nggak bersandar, nggak gelisah."Boleh saya taruh tas ini di kursi dulu, Pak?""Taruh."Reyhan meletakkannya pelan. Seolah dia sadar, kertas tipis bisa lebih berat dari batu.Tak lama, Mama datang membawa segelas air. Ditaruhnya di meja, di tempat yang kosong bukan di depan Reyhan, bukan di depan Papa. Lalu dia mundur ke ruang tengah dan berdiri di sana, di tempat yang agak gelap. Mecca tahu Mama nggak pergi benar-benar. Dia cuma memberi ruang, sambil tetap mendengar semuanya.Papa belum menyuruh Reyhan duduk.Mecca juga diam. Tiga menit penuh. Dia sudah memutuskan sejak tadi: malam ini, dia nggak akan bicara duluan.Papa yang ak

  • Menikah dengan Om CEO   Bab 48: Namanya

    Hari kesembilan puluh tujuh.Surat somasi itu harus dijawab sebelum jam sepuluh malam. Tapi pagi itu Mecca cuma membacanya berulang-ulang, dari atas sampai bawah, seolah hurufnya akan berubah kalau dibaca cukup lama. Nama di halaman ketiga itu tetap asing.Naya masuk ke kamar kos sambil bawa dua gelas kopi dan satu roti yang sudah digigit sedikit. Dia duduk di lantai, buka laptopnya."Kalau perjanjian itu dibuat tahun 2011, nggak mungkin cuma ada potongan begini," kata Naya. "Harus ada nama lengkap, alamat, dan saksi. Sisanya pasti ada di suatu tempat.""Di mana?""Bisa di notaris, di pengadilan, atau di rumah orang yang namanya tertulis di situ." Naya menunjuk layar. "Coba cari namanya di internet dulu."Mecca mengetik nama itu. Yang muncul: mantan pemain sepak bola, seorang penceramah, dan pemilik usaha kecil. Semua nama yang sama, tapi bukan orang yang dia cari."Nama ini terlalu umum," kata Mecca.Dia tambahkan satu kata lagi di kolom pencarian: Pradipta.Hasilnya cuma dua. Yang p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status