LOGINAldean masih berdiri di tempatnya. Tatapannya yang semula tertuju pada Kayra perlahan bergeser ke arah Amira.Hening menyelimuti ruangan.Tak ada yang berani bersuara, bahkan napas pun terdengar terlalu keras di ruangan itu. Amira menyambut tatapan Aldean dengan tenang. Bibirnya tersungging tipis, seolah tidak ada yang perlu ia khawatirkan.Ia tetap yakin, tetap merasa aman. Karena menurutnya tak ada seorang pun selain dirinya dan Celine yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah waktu itu. Dan Celine juga tidak memiliki bukti apa pun.Pikiran itu membuat Amira merasa menang.Sekarang, tatapannya pada Aldean berubah lebih lembut, seolah ia adalah korban di tengah semua ini.“Mas Aldean…” ucapnya lirih, tapi terukur. Ekspresinya seolah-olah dibuat rapuh. Tanpa rasa malu, ia masih terus bersandiwara. “Aku nggak mau masalah ini jadi lebih besar.”Ia menunduk sedikit.“Tapi di sini… Celine memang bersalah. Dia yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepadaku.”
Dalam sekejap suasana berubah. Tawa mengejek terhenti. Bisik-bisik cemoohan lenyap. Beberapa staf yang tadi masih tersenyum sinis langsung membeku di tempat. Perlahan, satu per satu dari mereka menoleh ke arah pintu. Dan detik itu juga, wajah mereka berubah pucat. Aldean melangkah masuk lebih jauh. Pelan dan terukur. Tak. Tak. Tak. Suara langkahnya menggema di ruangan yang sunyi. Setiap langkah terasa menekan, seolah-olah menginjak harga diri semua orang yang tadi berani menghina Celine. Ia berhenti. Tatapannya menyapu ruangan, satu per satu, tanpa terburu-buru. Namun cukup untuk membuat semua orang menunduk, tak berani menatap balik. “T-Tuan Aldean…” Seorang staf berbisik nyaris tak terdengar. Kepalanya tertunduk hormat. Vita refleks berdiri tegak di tempatnya. Tubuhnya menegang. “Selamat siang, Tuan…” sapanya dengan sopan, namun suaranya terdengar gugup. Tak ada yang berani bergerak lagi. Tak ada yang berani mengeluarkan suara. Semua orang seperti tertangkap bas
Kayra berjalan cepat ke arah Celine. Tatapannya tajam.“Jangan panggil aku seperti itu!”Suara Kayra menggema di seluruh ruangan. Semua staf langsung saling pandang.Vita menatap Celine dengan bingung. “Ada apa ini?”Kayra berhenti tepat di depan Celine. Tatapannya penuh kemarahan.“Jadi selama ini kamu yang sudah menyakiti Mamaku?”Celine mengerutkan dahi.“Apa maksudmu, Kay?”Kayra tertawa sinis.“Apa kamu beneran mau pura-pura nggak tahu, Celine?!”Celine benar-benar tidak mengerti.“Kay, aku nggak paham—”“Jangan pura-pura!”Suara Kayra meninggi. Ia menunjuk langsung ke wajah Celine.“Kamu yang membuat Mamaku jadi cacat seperti ini?!”Seluruh ruangan langsung gempar.Vita membelalak. “Apa?!”Beberapa staf mulai berbisik satu sama lain. Celine sendiri terlihat benar-benar terkejut.“Kay… apa yang kamu omongin?” tanya bingung.Kayra menatap Celine dengan mata penuh amarah.“Berhenti berpura-pura!”Ia menunjuk ke arah ibunya. “Kamu pikir aku tidak tahu? Mamaku cacat seperti ini gara-
Amira menatap lurus ke mata putrinya.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan, “Orang itu adalah… sahabatmu sendiri, Nak.”Kayra membeku.“…Apa?”Amira tetap menatap putrinya tanpa berkedip.“Celine.”Mata Kayra langsung membesar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.“Ma… apa Mama serius?”Namun sebelum Amira sempat menjawab, tiba-tiba terdengar tawa pendek dari arah meja kerja.Aldean.Pria itu terkekeh pelan. Bukan tawa keras, hanya satu hembusan tawa singkat yang terdengar begitu dingin di ruangan yang penuh ketegangan itu. Kayra langsung menoleh tajam.“Papa ketawa?”Aldean bersandar santai di kursinya. Tatapannya datar, hampir malas.“Menarik saja,” jawabnya ringan.Kayra semakin emosi.“Menarik?” ulangnya tak percaya. “Pa, Mama baru saja bilang Celine yang bertanggung jawab atas semua ini!”Aldean hanya mengangkat alis tipis.“Lalu?”Jawaban santai dari ayahnya itu justru membuat Kayra semakin marah.“Papa masih membela dia?” desaknya.Ald
Sementara itu, di ruang kerja Aldean, suasana terasa jauh lebih tegang.Kayra berdiri di depan meja kerja besar itu, menatap ayahnya dengan emosi yang sulit ia sembunyikan. “Papa sadar, kan? Celine itu sahabat aku,” ucap Kayra dengan suara cukup keras. Aldean tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri tenang di balik meja kerjanya, menatap putrinya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Papa sadar, Kay,” jawabnya pelan. “Kalau sadar, kenapa Papa masih melanjutkan hubungan itu?” desak Kayra. “Papa nggak mikir gimana perasaan aku? Gimana perasaan Mama?” Aldean tetap diam di tempatnya. Tak ada gerakan yang menunjukkan ia tersinggung atau marah. Justru ketenangannya itu yang membuat Kayra semakin kesal.“Papa,” lanjut Kayra, suaranya mulai bergetar, “aku datang ke sini bukan buat ribut. Aku cuma mau Papa berhenti.”Aldean mengangkat alis tipis.“Berhenti?”“Ya. Putusin Celine.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Kayra. “Dan kembali ke Mama.”Sunyi menyelimuti ruangan. Kayra
Beberapa detik berlalu, dan Amira masih terdiam.Evan akhirnya berdehem pelan, lalu bertanya, “Nyonya… Anda baik-baik saja?”Kesadaran Amira kembali seketika. Ia tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa.“Ya, Van. Aku baik-baik saja. Memangnya menurutmu bagaimana?”“Ah—maaf, Nyonya.” Evan sedikit menundukkan kepala. “Saya hanya melihat wajah Anda agak pucat. Saya khawatir Anda merasa tidak enak badan.”Amira kembali tersenyum tipis.“Oh iya, Nyonya,” lanjut Evan dengan nada tetap tenang. “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi.”Amira terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara.“Begini ya, Van. Kadang masa lalu tidak selalu selesai dengan baik.”Evan tidak menyela. Ia hanya menunggu. Sementara Amira, menyandarkan punggungnya sedikit pada kursi roda.“Dia pernah menjadi rekan bisnis lama. Ada urusan yang tidak berjalan sesuai keinginannya.” Ia mengangkat bahu kecil. “Beberapa orang terlalu lama menyimpan sakit hati.”Nada bicaranya ringan. Hampir seperti sedang membicarakan sesu
Air hangat mengalir pelan dari shower.Celine berdiri memunggungi Aldean, tubuhnya masih terasa lemas, napasnya belum sepenuhnya stabil. Aldean membasahi telapak tangannya dengan sabun, lalu membersihkan tubuh Celine dengan sabar, tanpa tergesa, tanpa sisa gairah. Hanya kelembutan dan perhatian.“M
Kapal itu terus melaju membelah gelapnya laut malam. Angin asin menerpa wajah Surya, tapi tak mampu meredam kegelisahan di dadanya. Pikirannya dipenuhi oleh Aldean, Maya, dan rahasia-rahasia yang kini mulai runtuh satu per satu. Tak lama kemudian, siluet sebuah pulau muncul dari balik kabut tipis.
Surya kembali melirik jam tangannya. Sudah lebih dari satu jam dari waktu yang dijanjikan, tapi Aldean belum juga datang.Rahang Surya mengeras saat matanya menyapu meja makan di depannya. Hidangan mahal yang ia pesan hampir tak tersentuh, sementara anggur yang dibuka khusus untuk malam ini hanya b
Sorot mata Aldean langsung mengeras.“Katakan.”Evan menarik napas dalam, seolah menyiapkan diri untuk menjatuhkan sesuatu yang berat.“Anak buah sudah dapat titik terang soal kematian Nyonya Sinta, Tuan,” ucapnya tanpa basa-basi.Aldean terdiam.Beberapa detik berlalu sebelum ia bersandar perlahan







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)