LOGINSang ayah baru meninggal tapi, Sasa harus menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarga. Membiayai kebutuhan ibu dan saudara tirinya. Sasa memilih kabur, takdir mempertemukannya dengan Ryan—pria yang menawarkan jalan keluar melalui sebuah ikatan pernikahan sementara. Tanpa cinta, tanpa keterikatan, hanya sebuah kesepakatan dingin demi saling menguntungkan kepentingan masing-masing. Namun, satu malam yang melampaui batas perjanjian meruntuhkan segalanya. Sebuah benih kehidupan terlanjur tumbuh, menghadirkan tanggung jawab yang lebih besar di luar kontrak mereka. *** “Ca... apa kamu tahu bidan atau dokter yang bisa untuk aborsi?” Kalimat itu meluncur begitu saja, dingin dan penuh luka. Caca yang tadinya sedang menyiapkan segelas air, menjatuhkan gelas itu ke lantai. Pecahannya berhamburan, tak lebih hancur dari hati Sasa saat itu. “Sa... lo ngomong apa?” Caca mematung, menatap Sasa dengan ngeri. Sasa mendongak, matanya kosong namun air matanya terus mengalir. “Aku tidak mau bayi ini, Ca. Aku tidak mau dia ada. Aku... aku tidak kuat lagi.” Ia meremas perutnya, memohon pada dunia agar rasa sakit ini berhenti.
View More"Kamu lihat, kondisi rumah sekarang!"
"Ayahmu sudah meninggal. Biaya kebutuhan rumah ini banyak, cicilan ini-itu, dan terutama biaya sekolah Raka, semuanya sekarang jadi tanggung jawab kamu." Sasa mengangkat kepalanya terkejut. Ia menatap Ratih, ibu tirinya. "Aku juga mau jual ladang ayahmu. Jadi aku butuh tanda tanganmu," "Maksud Ibu apa? tanggung jawab, tanda tangan?" "Enggak usah pura-pura bodoh deh kamu! Dengar, kamu harus tanda tangan persetujuan jual ladang ayahmu. Dasar, laki-laki tua tidak guna. Sampai mati pun dia tetap pilih kasih." "Enggak mau." "Sasa, jangan buat aku main kasar sama kamu ya!" Sasa tidak perduli ancama Ratih. "Aku juga enggak mau biayai kalian. Aku kan cuma anak yang sudah kalian buang dari dulu, harus ngekost di luar. Aku punya kehidupan sendiri." "Kehidupan apa?" Ratih mendengus sinis. Ia melipat tangan di dada dengan angkuh. "Aku tahu kamu sudah kerja. Kamu punya gaji tetap setiap bulan. Ayahmu mengirimmu ke kota, disekolahkan sampe sarjana dan udah kerjakan?" "Dari dulu dia selalu pilih kasih," kesal Ratih membayangkan Sasa kuliah UN di Jakarta sedangkan Nabila, anak bawaannya hanya kuliah swasta di kampung. "Jadi Sebagai anak pertama, sudah sepatutnya kamu menggantikan posisi ayahmu menafkahi keluarga ini. Jangan jadi anak durhaka yang lepas tangan setelah ayahmu meninggal!" lanjut Ratih. Sasa menatap Raka. Pemuda jangkung itu masih SMA kelas XI. Raka membalas tatapan Sasa cuek. "Ibu sadar enggak sih ngomong apa?" Sasa tak kuasa lagi menahan gejolak di dalam dadanya. "Baru seminggu Ayah pergi, yang Ibu pikirkan cuma uang? Jual ladang, biaya rumah, biaya hidup, dan sekolah Raka?" "Iyalah. Terus mau kamu aku mikir apa?" Ratih membentak. " Kamu tahu Raka itu masih sekolah! SPP-nya nunggak tiga bulan sejak ayahmu sakit, uang praktiknya belum dibayar, dan sebentar lagi dia harus ikut ujian yang biayanya jutaan!" "Kalau bukan kamu kakaknya yang bayar, mau jadi apa dia? Putus sekolah dan jadi pengangguran? Kamu lulus kuliah jadi Raka juga harus sampe lulus kuliah juga," seru Ratih. "Sasa..., Raka itu anak laki-laki tunggal ayahmu. Hanya dia penerus keturunan ayahmu. jadi kau harus memperlakukan dia dengan baik." "Aku akan baik sama orang yang baik samaku," jawab Sasa pelan. Nabila, anak kandung Ratih sebelum menikah dengan ayah Sasa, berdiri di samping sang ibu dengan angkuh. "Iya, Mbak. Pelit banget jadi kakak. Mentang-mentang sudah tinggal mandiri di kota, jadi lupa sama keluarga di rumah." "Gaji Mbak kan besar, jadi mana mungkin enggak cukup buat bayar uang sekolah Raka dan bantu kebutuhan rumah," ketus Nabila tanpa rasa bersalah. Mendengar ucapan Nabila, darah Sasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Kepalan tangan di sisi tubuhnya bergetar. Nabila sendiri sudah bekerja sebagai bidan. Ia memiliki penghasilan setiap bulan dari puskesmas desa. Namun, gadis itu justru ikut membebankan semua tanggung jawab hanya pada Sasa. "Lalu kamu?" tanya Sasa dengan suara yang dikit bergetar. Ia menatap Ratih, Nabila, dan Raka bergantian. Air mata panas telah menggenang di pelupuk matanya yang memerah. "Nabila itu sudah bekerja. dia bidan! Dia punya gaji juga sendiri setiap bulan! Kenapa dia tidak ikut menanggung rumah ini. Kenapa hanya aku? Selama ini kalian eggak peduli sama aku, giliran ayah pergi semua beban jatuh sama aku." "Dan Raka... dia anak kandungmu, Bu! tanggung jawabmu. Kenapa aku yang harus membiayai kebutuhan sekolahnya? gaji pansiun ayahkan masih ada." Plak! Tamparan keras di pipi kiri Sasa yang menimbulkan rasa panas dan perih. Sensasi itu langsung membuat seluruh wajahnya, memerah. Nabila senyum puas melihat Sasa seperti itu. Ratih menarik tangannya kembali. Dada wanita paruh baya itu naik-turun karena emosi. "Anak kurang ajar!" Ratih marah. Jari telunjuknya tepat di muka Sasa. "Berani-beraninya kau mengaturku." "Nabila itu gajinya kecil dan itu untuk dirinya sendiri! Sedangkan Raka masih tanggung jawab ayahmu, jadi tanggung jawabmu sekarang!" "Kalau bukan kamu, siapa lagi yang bisa diandalkan di keluarga ini, hah?" bentak Ratih lagi. Sasa memegang pipinya yang berdenyut sakit. Rasa perih fisik itu tidak sebanding dengan kekecewaan di dalam hatinya. Selama ini ia memilih diam saat diperlakukan buruk bekalang ayahnya dan manis depan ayqhnya bukan berarti bodoh. Ia hanya berusaha menghormati sang ayah. Namun, kematian ayahnya rupanya menjadi tiket emas bagi Ratih dan anak-anaknya untuk memperbudak dirinya, bahkan mulai main fisik. "Kalian benar-benar tidak punya hati," bisik Sasa parau. Air matanya tumpah membasahi pipinya yang lebam. Sasa menatap Raka yang masih duduk tanpa rasa bersalah. Pandangannya kemudian beralih pada Ratih yang berdiri dengan napas memburu. "Ayah baru seminggu dikubur, tapi kalian sudah memperlakukanku seperti ini." "Sudah kuperingatkan tadi, jangan sampai aku main kasar, kau ngeyel, " seru Ratih. "Jangan banyak drama, Mbak Sasa!" sergah Raka dengan suara ngebass yang terdengar menyebalkan. Ia bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Sasa dengan postur mengintimidasi. "Pokoknya aku enggak mau tahu. Minggu depan uang SPP-ku harus sudah beres tanpa alasan." "Kalau enggak, kau bakal aku jelek-jelekkan di depan seluruh warga kampung juga aku viralin di Tok-tok," ancam Raka tanpa beban. "Biar semua orang tahu kalau kamu anak yang menelantarkan ibu dan adikmu sendiri!" bisik Raka penuh intimidasi. Sasa menatap Raka tajam. Tidak ada rasa takut di matanya. Ancaman murahan itu justru semakin memperjelas betapa busuknya isi rumah ini. Hatinya yang dari dulu terluka kini berubah menjadi batu karang yang kokoh. Sasa menatap Ratih lekat-lekat tanpa berkedip. Tatapan itu membuat wanita paruh baya itu sedikit merasa ciut. "Dengar baik-baik," ucap Sasa dengan suara rendah. Ucapan dingin itu membuat Ratih dan anak-anaknya tertegun sejenak. Suasana ruang tamu mendadak sunyi mencekam. "Anda bukan ibuku. Raka adalah anak kandungmu," ucap Sasa mempertegas status hubungan mereka. "Urus anakmu sendiri dengan tanganmu. Jangan pernah berharap hasil keringatku masuk ke rumah ini." "Aku tidak akan membayar satu rupiah pun untuk kalian!" tandas Sasa dengan suara tegas. "Aku juga enggak akan setuju atau tanda tangan apapun itu...," "Kamu!" teriak Ratih murka. Wanita itu hilang kendali dan bersiap melayangkan tamparan untuk kedua kalinya ke wajah Sasa.“Apa Anda sudah gila?!” suara Sasa menggema di ruangan kerja ber-AC dingin itu. “Saya ini karyawan baru, Pak! Kita baru kenal kemarin malam, dan sekarang Bapak menyuruh saya jadi pengantin pengganti? Ini gila. Saya menolak mentah-mentah!”Ryan tidak terkejut. Pria itu justru melangkah santai kembali ke balik mejanya, menyandarkan punggung dengan raut wajah setenang telaga.“Penolakan ditolak, Sasa,” ujar Ryan datar. “Kau pikir kau punya posisi untuk menolak?”“Tentu saja punya! Ini soal hidup saya!” tegas Sasa, dadanya naik turun menahan amarah. “Bapak tidak bisa menyalahgunakan wewenang hanya karena Bapak bos di sini!”Ryan menyunggingkan senyum tipis. Ia menarik sebuah dokumen tebal dari laci dan membukanya santai.“Mari kita bicara realita, Sasa Kirana,” potong Ryan tenang. “Kau karyawan kontrak dengan masa percobaan tiga bulan. Dalam klausul kontrak kerjamu, perusahaan berhak memutus hubungan kerja sewaktu-waktu jika karyawan dianggap tidak bisa bekerja sama."Sasa membela
Mobil Ryan berhenti di halaman rumahnya. Pria itu melangkah masuk dan merasa aneh tadi memeriksa CCTV melalui tabnya. Ia melihat Sasa masih berada di area dapur, berjalan canggung mengenakan jubah mandi tebal sebelum akhirnya menghilang ke dalam kamar lantai dua.Namun pagi ini, saat Ryan menginjakkan kaki di ruang utama, suasana rumah itu hening mencekam. Tidak ada aroma masakan, tidak ada denting cangkir, dan yang paling mencurigakan, tidak ada sosok wanita keras kepala itu.“Sasa?” panggil Ryan, suaranya memantul di dinding marmer yang dingin.Hening. Ryan melangkah cepat menaiki tangga jati menuju lantai dua. Pintu kamar ujung—tempat Sasa menginap—terbuka sedikit. Ia mendorong pintu tersebut dan mendapati ruangan sudah tertata rapi. Ranjang king size yang semalam berantakan kini kembali mulus tanpa kerutan, seolah tak pernah ditiduri. Di atas meja nakas, tergeletak sebuah kertas catatan kecil bergaris yang diindih oleh kunci rumah.Ryan memungut kertas itu dan membaca tulisan
Paginya atmosfer di ruang tamu keluarga Ryan mendadak mencekam. Tasya duduk tegak di sofa kulit, menatap Pak Bagas dan Bu Rina—orang tua Ryan—dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia memikirkan apakah Ryan sudah cerita kejadian di apartemen. Tapi melihat ekspresi mereka sepertinya tidak. Mereka masih tetap ramah padanya. Di atas meja, beberapa brosur katering dan contoh undangan sudah tersebar rapi.“Ma, Pa, menurut Tasya lebih baik tanggal pernikahannya di percepat minggu depan,” ujar Tasya tanpa ragu. Tangannya menggenggam jemari Bu Rina erat. “Persiapan kita sudah delapan puluh persen. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda.”Bu Rina saling pandang dengan suaminya, menyiratkan keraguan. “Tapi Tasya, bukankah kesepakatan awal kita adalah akhir bulan? Ryan juga sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru di kantor.”“Ryan bisa membagi waktu, Ma,” potong Tasya cepat, nadanya mulai terdengar menuntut. “Tasya hanya tidak ingin ada spekulasi liar di luar sana. Lagipula, semakin cepa
Ryan terkejut dengan ucapan Sasa, wajahnya menegang. “Aku enggak mikir gitu,” ucapnya membela diri. Sasa hanya senyum tipis, lalu kembali melanjutkan suapan mienya. Merasa tidak enak hati, Ryan mencoba menjelaskan lagi. “Aku serius, Sasa. Aku menawarkan bantuan murni karena ingin menolong.” “Terima kasih, tapi tidak perlu sih,” jawab Sasa tanpa mengalihkan pandangannya. Ego Ryan mendadak tersentil. Kesal karena niat baiknya ditolak, ia memilih menyudahi makannya. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang canggung, hingga Sasa selesai dan bersiap untuk pergi. Meski gengsinya tersisa sedikit, Ryan tetap bersuara saat melihat Sasa beranjak. “Kau yakin benar-benar tidak butuh bantuan?” Sasa menatap Ryan tajam, menyunggingkan senyum sinis yang tidak menyiratkan kebencian. “Sorry, aku tidak membisakan menerima bantuan dari pria asing.” Sasa melambaikan tangan. “Bye!” Ryan hanya terdiam di tempatnya, menatap punggung Sasa yang perlahan menjauh keluar dari resto
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews