分享

BAB. 195

last update publish date: 2026-05-26 11:30:22

​“Ayo, Celine... katakan. Sebut satu panggilan yang pantas untuk pria yang sudah resmi jadi suamimu ini,” desak Aldean. Nada suaranya masih tetap sama, serak-serak seksi yang memabukkan.

​Tubuh Celine meremang hebat. Jantungnya berdegup semakin ekstrem, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Hingga akhirnya, Celine memutuskan menyerah kalah pada dominasi suaminya.

​Dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat lambat, Celine melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh Aldean, me
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 196

    Tautan bibir mereka terus menyatu, dan kali ini ritmenya berubah. Bukan lagi pagutan penuh tuntutan cemburu, melainkan sebuah ritme yang melambat, begitu dalam, dan sarat akan pemujaan yang tulus.​“Heemm... Sayang...” Aldean menggeram rendah di tengah pagutan mereka, merasa seluruh jiwanya ditarik masuk oleh kepasrahan manis istri kecilnya.​Jemari kekarnya yang semula mengunci tangan Celine, kini perlahan bergerak turun. Meraba rahang, mengusap leher jenjang sang istri yang meremang hebat, hingga mendarat di pinggang ramping wanita itu, meremasnya pelan penuh kelembutan yang posesif.​“Nggghhh... Mas...” Celine melenguh lirih di sela ciuman mereka. Sentuhan Aldean malam ini benar-benar menghantarkan gelombang arus listrik yang membuat seluruh persendian Celine mati rasa.​Dalam remang cahaya lampu tidur, Aldean perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Napasnya memburu berat, menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu Celine yang tampak berkaca-kaca karena gairah. Pria itu menyungging

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 195

    ​“Ayo, Celine... katakan. Sebut satu panggilan yang pantas untuk pria yang sudah resmi jadi suamimu ini,” desak Aldean. Nada suaranya masih tetap sama, serak-serak seksi yang memabukkan.​Tubuh Celine meremang hebat. Jantungnya berdegup semakin ekstrem, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Hingga akhirnya, Celine memutuskan menyerah kalah pada dominasi suaminya.​Dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat lambat, Celine melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh Aldean, menarik pria itu sedikit menunduk hingga jarak di antara wajah mereka benar-benar terkikis habis.​“Memangnya Om minta dipanggil apa? Honey kayak kemarin?”​Aldean menggeleng tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Celine. “Nggak mau... kali ini, aku mau yang lain.”Celine terdiam sejenak, mengkerutkan hidungnya samar. “Mmm... apa, ya?”​Ia berpikir beberapa saat, memutar otak mencari panggilan yang paling pas untuk menjinakkan pria di atasnya ini, hingga akhirnya ia menemukan satu sebutan yang c

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 194

    Celine belum sempat menyelesaikan kalimat protesnya saat tiba-tiba Aldean sudah menunduk dan mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir ranum Celine. Bukan kecupan menuntut yang kasar, melainkan pagutan lembut yang sarat akan perasaan posesif dan rasa lega karena wanita ini akhirnya kembali ke pelukannya. ​Celine terbelalak, tangannya refleks mencengkeram kerah kemeja Aldean karena kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli. Begitu tautan bibir mereka terlepas, Aldean tidak menjauhkan wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Celine yang kini sedikit basah oleh saliva, sementara matanya menatap intens kelopak mata Celine yang bergetar. ​“Itu baru uang mukanya,” bisik Aldean dengan suara yang makin dalam, sukses membuat bulu kuduk Celine meremang hebat. “Hukuman aslinya... temani aku begadang malam ini. Jangan harap kamu bisa tidur cepat, Sayang.” Celine belum sempat mencerna arti kata ‘begadang’ dari ucapan suaminya saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang ke udara.

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 193

    Sebuah kehangatan tiba-tiba menyergap punggung tegap Aldean dari belakang. Dua lengan mungil Celine melingkar erat di sekitar pinggang kokoh suaminya. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di punggung lebar sang suami, mencengkeram kemeja hitam Aldean hingga berkerut.​Aldean tersentak, langkahnya terkunci. Jantungnya berdesir hebat.​“Om... maaf,” cicit Celine dari balik punggung Aldean, suaranya meredam namun terdengar sangat tulus. “Maaf karena aku udah salah paham, maaf karena aku nggak tahu jalan pikiran Om yang sebenarnya... dan maaf juga karena tadi udah buat Om cemas sampai hampir gila.”​Mendengar kalimat terakhir Celine, sudut bibir Aldean langsung tersungging membentuk seringai tampan. Perasaan kesal, cemas, dan cemburu yang sempat menguasainya sebelumnya menguap seketika, tergantikan oleh letupan rasa gemas yang membuncah di dadanya.​Aldean perlahan melepaskan pelukan tangan Celine di pinggangnya, lalu memutar tubuhnya untuk kembali menghadap sang istri. Tanpa aba-aba, ia me

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 192

    Aldean tersentak. Amarah posesifnya mendadak runtuh, digantikan oleh kilat rasa bersalah yang teramat pekat di matanya. Ia tahu ia egois. Ia tahu ia telah menorehkan luka baru di hati istri kecilnya ini.Pria itu menatap Celine yang menunduk dengan bahu yang bergetar pelan karena menahan tangis. Menghela napas dalam-dalam, Aldean memutuskan untuk menurunkan seluruh egonya. Ia kembali merapatkan tubuhnya, memangkas jarak hingga dada bidangnya menempel pada tubuh Celine.Jemari kekar Aldean yang hangat bergerak lembut, menyentuh pipi lalu ke dagu Celine dan mendongakkannya perlahan, memaksa sepasang mata indah yang basah itu menatapnya kembali.“Iya, aku salah karena sudah membuatmu terluka soal masalah itu. Aku minta maaf, Cel,” bisik Aldean. Suaranya kini berubah drastis, menjadi serak, lembut, dan sarat akan penyesalan.Aldean membawa kedua tangannya untuk membingkai wajah cantik Celine, mengusap sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari. Mode merajuk kekanak-kanakannya runtuh t

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 191

    Bip.Suara smart lock berbunyi pendek, disusul pintu unit apartemen yang terbuka lebar. Begitu melangkah masuk, Celine langsung melepaskan cengkeraman Aldean dari pergelangan tangannya dengan sentakan kasar.​Debuman pintu yang ditutup rapat oleh Aldean di belakangnya seolah memutus seluruh sisa kebisingan dari luar. Seketika, keheningan yang mencekam langsung menyergap ruang tengah apartemen yang luas, tapi terasa begitu sempit karena atmosfer tegang sekaligus intim di antara mereka.Celine membalikkan tubuhnya, berjalan beberapa langkah lalu melempar tas kecilnya ke atas sofa dengan kasar.Dada perempuan bertubuh mungil itu naik turun menahan pasokan oksigen yang mendadak terasa menipis. Amarah, kekecewaan, dan rasa sesak yang ia telan bulat-bulat sejak pertengkaran mereka tadi sore di kantor—soal Aldean yang memintanya mengalah demi menjaga perasaan Kayra—kini kembali mendidih ke permukaan.​“Maksud Om Dean tadi di taman apa, sih?!” sembur Celine seketika, membalikkan badan menghad

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status