แชร์

BAB. 198

ผู้เขียน: Wisha Berliani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-27 23:59:17

Lima menit berlalu, dan Aldean masih saja memanjakan pusat kehangatan Celine dengan ritme yang semakin intens dan menuntut, menolak memberikan ampun pada pertahanan istri kecilnya yang sudah di ujung tanduk.

​Hingga beberapa detik kemudian...

​“Aaahhh... Mas... aku sampai—nggghhh!”

​Celine mendesah hebat seiring dengan tubuh mungilnya yang bergetar hebat di atas kasur. Gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat datang menghantamnya bertubi-tubi, membawa seluruh kesadarannya melambung tinggi. Cel
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 198

    Lima menit berlalu, dan Aldean masih saja memanjakan pusat kehangatan Celine dengan ritme yang semakin intens dan menuntut, menolak memberikan ampun pada pertahanan istri kecilnya yang sudah di ujung tanduk.​Hingga beberapa detik kemudian...​“Aaahhh... Mas... aku sampai—nggghhh!”​Celine mendesah hebat seiring dengan tubuh mungilnya yang bergetar hebat di atas kasur. Gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat datang menghantamnya bertubi-tubi, membawa seluruh kesadarannya melambung tinggi. Celine mendapatkan pelepasan pertamanya malam itu, sepenuhnya takluk hanya dalam permainan jemari Aldean yang begitu memabukkan.​Aldean tersenyum tipis, sebuah seringai tampan penuh kepuasan yang teramat pekat. Ia perlahan menghentikan gerakan tangannya dan perlahan menariknya keluar, lalu dia bergerak merangkak naik untuk mengecup kening Celine yang kini mulai dihiasi bulir-bulir peluh halus.​Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu istrinya yang masih bergerak gelisah mencari fokus, m

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 197

    Bak bayi yang sedang haus, Aldean menjelajahi bantalan kenyal itu. Ia mengecup pucuk dada bagian kanan Celine dengan lembut sebelum akhirnya melumatnya dalam-dalam. Lidahnya menari lincah, memutar dan sesekali menyesap area sensitif itu dengan ritme yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.​“A-ahhh... Mas Cuami... pelan-pelan,” rintih Celine lirih. Tubuhnya refleks membusung ke atas saat merasakan sapuan lidah hangat dan hisapan kuat mulut suaminya.Aldean sama sekali tidak menghiraukan protes itu. Sisa rasa cemburu bercampur kekhawatiran yang membakar dadanya malam ini seolah tumpah menjadi gairah yang begitu pekat.Mulutnya melumat penuh pemujaan pada pucuk merah jambu yang sudah mengeras sempurna, sementara telapak tangan kanannya yang besar bergerak aktif meremas gundukan indah Celine yang satunya dengan ritme yang dalam—merasakan tekstur kenyal dan kehangatan istrinya yang begitu penuh dalam genggamannya.Aldean benar-benar memuja setiap inci keindahan Celine.“Maaas... enng

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 196

    Tautan bibir mereka terus menyatu, dan kali ini ritmenya berubah. Bukan lagi pagutan penuh tuntutan cemburu, melainkan sebuah ritme yang melambat, begitu dalam, dan sarat akan pemujaan yang tulus.​“Heemm... Sayang...” Aldean menggeram rendah di tengah pagutan mereka, merasa seluruh jiwanya ditarik masuk oleh kepasrahan manis istri kecilnya.​Jemari kekarnya yang semula mengunci tangan Celine, kini perlahan bergerak turun. Meraba rahang, mengusap leher jenjang sang istri yang meremang hebat, hingga mendarat di pinggang ramping wanita itu, meremasnya pelan penuh kelembutan yang posesif.​“Nggghhh... Mas...” Celine melenguh lirih di sela ciuman mereka. Sentuhan Aldean malam ini benar-benar menghantarkan gelombang arus listrik yang membuat seluruh persendian Celine mati rasa.​Dalam remang cahaya lampu tidur, Aldean perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Napasnya memburu berat, menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu Celine yang tampak berkaca-kaca karena gairah. Pria itu menyungging

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 195

    ​“Ayo, Celine... katakan. Sebut satu panggilan yang pantas untuk pria yang sudah resmi jadi suamimu ini,” desak Aldean. Nada suaranya masih tetap sama, serak-serak seksi yang memabukkan.​Tubuh Celine meremang hebat. Jantungnya berdegup semakin ekstrem, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Hingga akhirnya, Celine memutuskan menyerah kalah pada dominasi suaminya.​Dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat lambat, Celine melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh Aldean, menarik pria itu sedikit menunduk hingga jarak di antara wajah mereka benar-benar terkikis habis.​“Memangnya Om minta dipanggil apa? Honey kayak kemarin?”​Aldean menggeleng tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Celine. “Nggak mau... kali ini, aku mau yang lain.”Celine terdiam sejenak, mengkerutkan hidungnya samar. “Mmm... apa, ya?”​Ia berpikir beberapa saat, memutar otak mencari panggilan yang paling pas untuk menjinakkan pria di atasnya ini, hingga akhirnya ia menemukan satu sebutan yang c

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 194

    Celine belum sempat menyelesaikan kalimat protesnya saat tiba-tiba Aldean sudah menunduk dan mendaratkan kecupan singkat namun dalam di bibir ranum Celine. Bukan kecupan menuntut yang kasar, melainkan pagutan lembut yang sarat akan perasaan posesif dan rasa lega karena wanita ini akhirnya kembali ke pelukannya. ​Celine terbelalak, tangannya refleks mencengkeram kerah kemeja Aldean karena kakinya mendadak terasa lemas seperti jeli. Begitu tautan bibir mereka terlepas, Aldean tidak menjauhkan wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Celine yang kini sedikit basah oleh saliva, sementara matanya menatap intens kelopak mata Celine yang bergetar. ​“Itu baru uang mukanya,” bisik Aldean dengan suara yang makin dalam, sukses membuat bulu kuduk Celine meremang hebat. “Hukuman aslinya... temani aku begadang malam ini. Jangan harap kamu bisa tidur cepat, Sayang.” Celine belum sempat mencerna arti kata ‘begadang’ dari ucapan suaminya saat tiba-tiba tubuhnya terasa melayang ke udara.

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 193

    Sebuah kehangatan tiba-tiba menyergap punggung tegap Aldean dari belakang. Dua lengan mungil Celine melingkar erat di sekitar pinggang kokoh suaminya. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di punggung lebar sang suami, mencengkeram kemeja hitam Aldean hingga berkerut.​Aldean tersentak, langkahnya terkunci. Jantungnya berdesir hebat.​“Om... maaf,” cicit Celine dari balik punggung Aldean, suaranya meredam namun terdengar sangat tulus. “Maaf karena aku udah salah paham, maaf karena aku nggak tahu jalan pikiran Om yang sebenarnya... dan maaf juga karena tadi udah buat Om cemas sampai hampir gila.”​Mendengar kalimat terakhir Celine, sudut bibir Aldean langsung tersungging membentuk seringai tampan. Perasaan kesal, cemas, dan cemburu yang sempat menguasainya sebelumnya menguap seketika, tergantikan oleh letupan rasa gemas yang membuncah di dadanya.​Aldean perlahan melepaskan pelukan tangan Celine di pinggangnya, lalu memutar tubuhnya untuk kembali menghadap sang istri. Tanpa aba-aba, ia me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status