LOGINNamun, belum sempat Celine melayangkan protes atau sekadar memohon ampun, Aldean sudah lebih dulu membalik posisi tubuh mereka dan kembali menuntun istri kecilnya untuk tenggelam ke dalam ritme gempuran yang tiada ampun.Sang singa benar-benar menguras habis seluruh sisa kewarasan Celine malam itu.Baru menjelang fajar berganti, Aldean akhirnya benar-benar mengakhiri percintaan panas mereka. Pria matang itu benar-benar merealisasikan ancamannya tanpa ampun, membiarkan Celine tenggelam dalam kelelahan yang luar biasa setelah “dihukum” habis-habisan sepanjang malam.Begitu seluruh damba itu tuntas, barulah Aldean mendekap erat tubuh lemas istrinya di balik selimut tebal, membawa mereka berdua terlelap bersama dalam keheningan pagi itu.Ketika matahari sudah merangkak agak tinggi, mendekati waktu siang, Aldean menjadi orang pertama yang membuka mata.Sinar matahari yang menyelinap dari celah gorden menerangi kamar mereka, memperlihatkan pemandangan indah di hadapannya. Celine masih tert
Tubuh Celine bergelinjang hebat, merasakan kenikmatan luar biasa yang sulit diungkapkan. Ia mengerang merdu saat lubangnya dipenuhi oleh milik suaminya, pria itu menggempurnya dengan begitu nikmat, jari jemarinya pun ikut bekerja—menggesek halus daging kecil seukuran kacang di bagian atasnya.Atmosfer di dalam kamar itu semakin panas dan memabukkan. Celine sepenuhnya berada di ambang batas kesadarannya, pasrah dalam dominasi mutlak sang suami yang terus memanjakannya tanpa henti.“Oh, Mas... Mas Cuami...” lenguh Celine pecah, suaranya terdengar serak-seksi di antara keheningan malam.“Hmm? Apa, Sayang? Suka?” bisik Aldean dengan suara bariton yang terengah, terdengar begitu dalam dan memikat.“Iya... Mas... suka banget,” cicit Celine dengan sisa tenaga yang ia miliki, tak lagi bisa menyembunyikan betapa ia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Aldean.Aldean menyeringai puas, sebuah ekspresi ketampanan yang teramat berbahaya.Sebelum membawa Celine melangkah lebih jauh, ia menun
Lima menit berlalu, dan Aldean masih saja memanjakan pusat kehangatan Celine dengan ritme yang semakin intens dan menuntut, menolak memberikan ampun pada pertahanan istri kecilnya yang sudah di ujung tanduk.Hingga beberapa detik kemudian...“Aaahhh... Mas... aku sampai—nggghhh!”Celine mendesah hebat seiring dengan tubuh mungilnya yang bergetar hebat di atas kasur. Gelombang kenikmatan yang teramat dahsyat datang menghantamnya bertubi-tubi, membawa seluruh kesadarannya melambung tinggi. Celine mendapatkan pelepasan pertamanya malam itu, sepenuhnya takluk hanya dalam permainan jemari Aldean yang begitu memabukkan.Aldean tersenyum tipis, sebuah seringai tampan penuh kepuasan yang teramat pekat. Ia perlahan menghentikan gerakan tangannya dan perlahan menariknya keluar, lalu dia bergerak merangkak naik untuk mengecup kening Celine yang kini mulai dihiasi bulir-bulir peluh halus.Pria itu menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu istrinya yang masih bergerak gelisah mencari fokus, m
Bak bayi yang sedang haus, Aldean menjelajahi bantalan kenyal itu. Ia mengecup pucuk dada bagian kanan Celine dengan lembut sebelum akhirnya melumatnya dalam-dalam. Lidahnya menari lincah, memutar dan sesekali menyesap area sensitif itu dengan ritme yang semakin lama semakin dalam dan menuntut.“A-ahhh... Mas Cuami... pelan-pelan,” rintih Celine lirih. Tubuhnya refleks membusung ke atas saat merasakan sapuan lidah hangat dan hisapan kuat mulut suaminya.Aldean sama sekali tidak menghiraukan protes itu. Sisa rasa cemburu bercampur kekhawatiran yang membakar dadanya malam ini seolah tumpah menjadi gairah yang begitu pekat.Mulutnya melumat penuh pemujaan pada pucuk merah jambu yang sudah mengeras sempurna, sementara telapak tangan kanannya yang besar bergerak aktif meremas gundukan indah Celine yang satunya dengan ritme yang dalam—merasakan tekstur kenyal dan kehangatan istrinya yang begitu penuh dalam genggamannya.Aldean benar-benar memuja setiap inci keindahan Celine.“Maaas... enng
Tautan bibir mereka terus menyatu, dan kali ini ritmenya berubah. Bukan lagi pagutan penuh tuntutan cemburu, melainkan sebuah ritme yang melambat, begitu dalam, dan sarat akan pemujaan yang tulus.“Heemm... Sayang...” Aldean menggeram rendah di tengah pagutan mereka, merasa seluruh jiwanya ditarik masuk oleh kepasrahan manis istri kecilnya.Jemari kekarnya yang semula mengunci tangan Celine, kini perlahan bergerak turun. Meraba rahang, mengusap leher jenjang sang istri yang meremang hebat, hingga mendarat di pinggang ramping wanita itu, meremasnya pelan penuh kelembutan yang posesif.“Nggghhh... Mas...” Celine melenguh lirih di sela ciuman mereka. Sentuhan Aldean malam ini benar-benar menghantarkan gelombang arus listrik yang membuat seluruh persendian Celine mati rasa.Dalam remang cahaya lampu tidur, Aldean perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Napasnya memburu berat, menatap lurus ke dalam sepasang mata sayu Celine yang tampak berkaca-kaca karena gairah. Pria itu menyungging
“Ayo, Celine... katakan. Sebut satu panggilan yang pantas untuk pria yang sudah resmi jadi suamimu ini,” desak Aldean. Nada suaranya masih tetap sama, serak-serak seksi yang memabukkan.Tubuh Celine meremang hebat. Jantungnya berdegup semakin ekstrem, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Hingga akhirnya, Celine memutuskan menyerah kalah pada dominasi suaminya.Dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat lambat, Celine melingkarkan kedua lengan mungilnya di leher kokoh Aldean, menarik pria itu sedikit menunduk hingga jarak di antara wajah mereka benar-benar terkikis habis.“Memangnya Om minta dipanggil apa? Honey kayak kemarin?”Aldean menggeleng tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Celine. “Nggak mau... kali ini, aku mau yang lain.”Celine terdiam sejenak, mengkerutkan hidungnya samar. “Mmm... apa, ya?”Ia berpikir beberapa saat, memutar otak mencari panggilan yang paling pas untuk menjinakkan pria di atasnya ini, hingga akhirnya ia menemukan satu sebutan yang c







