LOGINBekerja bersama mantan suami membawa kehidupan Lula pada babak baru yang penuh godaan. Terlebih setelah resmi bercerai, hubungannya dengan Nata selalu diwarnai ketegangan. Namun, satu malam yang membakar perlahan mengubah arah. Membuka satu per satu rahasia yang selama ini terkunci dengan pasrah. Ketika tubuh kembali bersatu dan ego mulai mengalah, Lula menyadari... mungkin alasan mereka bercerai tidak pernah benar-benar selesai.
View More"Maaf ya Nat, aku ngerepotin kamu, makasih juga karena mau jaga Salsa."
Sambil memasukkan travel bag berisi pakaian Salsa ke bagasi, aku mencoba membuka obrolan. Di sampingku Nata tetap datar, seakan tidak mendengar, dia sibuk memasukkan tas lain yang berisi mainan serta buku pelajaran Salsa. Aku memberanikan diri kembali bicara. "Kemarin itu waktu sama kamu, Salsa kebanyakan makan gula ya, dia jadi aktif banget, tapi pas malam malah susah tidur, rewel. Kalau bisa dikurangin ya, aku udah list makanan apa aja yang boleh dan nggak boleh untuk Salsa." Kami serempak mundur dari bagasi setelah semua barang dimasukkan. Aku berusaha untuk tidak berjengit ketika pintunya langsung ditutup keras, suara itu tidak kencang tetapi berhasil membuat harapanku berguguran. Bicara dengan Nata tidak pernah mudah, jangankan untuk membalas sekadar menyahut atau menyadari aku di sisinya pun tidak. Ia hanya fokus pada Salsa, putri kami yang baru berusia lima tahun, kemudian menggendongnya. Salsa menjerit semangat. Saat tahu bahwa aku akan mengirimnya untuk bersama sang Papa, dia langsung menyiapkan gaun terbaik, berdandan cantik, dan memintaku untuk menguncir rambutnya dengan pita-pita. "Papa, cantik tak?" tanyanya dengan comel, menggoyangkan rambutnya di hadapan Nata. Respon Nata tidak pernah serius, dia hanya mengerling kemudian mengangguk kaku. "Cantik." "Mama yang bikin." Tapi Salsa tetap saja Salsa. Anakku adalah titisanku yang bawel, ekstrovert, dan mudah akrab, walaupun Papanya hanya menjawab singkat, dia tetap menempel bahkan tanpa perlu dirayu atau dibujuk-bujuk. "Salsa mau beli kayak gini lagi yang banyak, Papa bisa temenin, kan?" "Boleh." "Mama ikut?" tanyanya berbinar. Nata melirikku. "Enggak." Jawaban itu dingin dan menusuk, wajah Salsa seketika berubah keruh. Aku buru-buru menghiburnya. "Salsa sama Papa dulu. Kan, Mama udah bilang semalam, Mama harus kerja, jadi Salsa belanjanya sama Papa. Oke?" "Kenapa nggak sama Mama juga?" Karena itu sama sekali tidak mungkin, aku dan Nata sudah resmi bercerai setelah sepuluh tahun menikah. Alasannya? Tidak ada, tidak ada perselingkuhan, tidak ada kekerasan, tidak ada kekurangan nafkah. Semua murni karena kami sudah tidak cocok satu sama lain dalam segala hal. Nata menganggap aku berantakan, berisik, dan sulit diatur. Sementara aku menganggap Nata terlalu dingin, dan sama sekali tidak memiliki empati. Dia bahkan lebih memilih rawat inap di RS karena tidak percaya aku mampu merawatnya saat sakit. Dia lebih memilih catering meskipun tahu aku bisa memasak, dia juga tidak suka diganggu ketika menyetir, menonton, atau melakukan apapun di rumah. Aku malu sebagai istri, malu di hadapan keluarganya karena dianggap tidak becus mengurus Nata, sifat dingin dan tidak peka Nata ini mempersulit aku untuk berbakti padanya. Dan terkadang tidak perlu pertengkaran besar untuk membuat hubungan ambruk. Mulai dari jarang berkomunikasi, sampai akhirnya benar-benar berhenti. Di satu titik itu, aku dan Nata sepakat untuk berpisah. Dan karena Salsa masih di bawah umur, hak asuh jatuh ke tanganku, Nata pun tidak berniat untuk mengambilnya. Kini, hubungan kami hanya sebatas menjalani co parenting, bergantian mengasuh putri kecil kami. "Kalau gitu kapan kita liburan bertiga? Aku kangen kita tidur bareng," cetusnya polos. Wajahku seketika merah padam diingatkan hal tersebut, sementara Nata? Tetap lempeng dan tak acuh. Dia memasukkan Salsa di jok penumpang dan mendudukkannya di car seat. Lalu memasangkan sabuk pengaman. "Boleh ya, Pa tidur bertiga?" tanya Salsa lagi dengan wajah berharap. "Nggak bisa Sal, Mama sama Papa hukumnya haram bersentuhan." Astaga. Nada suara Nata kalau bicara hampir tidak ada intonasi tetapi sangat tajam. Lagipula, Salsa itu masih kecil, mana paham dia soal halal dan haram? Apakah kalau bicara lebih lembut mulutnya akan bernanah? Mata Salsa seketika berembun, bibirnya melengkung ke bawah siap menangis. "Kan, bisa tidurnya di pinggir, Salsa di tengah, jadi nggak sentuhan." "Tetap nggak boleh." "Papa–" "Mau dibuka sepatunya?" Nata mengalihkan pembicaraan, jelas dia tidak ingin rengekan Salsa berlanjut. Gadis kecil itu menatapku seakan meminta bantuan lalu mengangguk. "Iya Papa tolong, makasih." Nata pun melepaskan sepatu pink barbie Salsa dan membiarkannya hanya mengenakan kaos kaki serupa. "Mama, Salsa mau peluk," pinta putri kami merentangkan tangan padaku. "Sini." Aku segera menyambut, membungkuk untuk mendekapnya. Lalu membombardir pipinya dengan ciuman. "Baik-baik sama Papa ya, nurut sama aturan Papa, makan tepat waktu, dan jangan lupa selalu bilang apa?" "Maaf, tolong, dan terima kasih." "Good job anak Mama." Aku mengusap pipinya dan memberinya kecupan terakhir di kening sebagai balasan. Saat mundur dan menutup pintu, kulihat Nata sudah menunggu di balik kemudi. Tidak ada basa-basi darinya, bahkan sekadar memandang pun tidak. Aku menghela nafas panjang, kemudian berusaha tersenyum lebar pada Salsa yang melambai ceria. "Bye Mama," pamitnya. "Hati-hati Salsa," balasku melambai. "Selamat tinggal, Mama." Dia seperti akan berdiri tetapi terhalang dengan sabuk pengaman. "Jangan nakal ya." "Dah Mama." "Dadah Salsa." Aku menunjuknya agar berhenti melongokkan kepala di jendela. Tetapi Salsa tetap seperti itu sampai mobil mantan suamiku menghilang dari gang tempat kosanku berada. Ada yang menghimpit dada setiap kali aku mengirim Salsa untuk diurus Nata sebelum jadwal asuhnya. Tapi aku tidak punya pilihan, semenjak resmi bercerai enam bulan yang lalu, otomatis aku bukan hanya kehilangan suami, tetapi juga tempat tinggal dan penghasilan. Yang awalnya hanya ibu rumah tangga kini aku dituntut harus berjuang dari nol lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sayangnya banyak perusahaan menganggap umurku yang sudah menginjak 33 tahun ini sebagai jompo, sudah tidak produktif bekerja hingga membuatku sulit diterima. Jadi ketika tawaran interview datang, aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Aku memacu mobilku sendiri menuju ke perusahaan tempatku dipanggil. Perusahaan itu bergerak di bidang fashion yang menyuplai perhiasan mewah ke luar negeri. Tetapi karena minim pengalaman, aku hanya mampu melamar jabatan yang paling rendah sesuai kualifikasi yaitu asisten desiner. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh saat aku tiba, aku segera mencari tempat parkir, terburu-buru saat memasuki gedung, lalu menuju ke ruangan interviewnya berada. Seorang pria berjas hitam rapi menyambutku di depan pintu. "Mba Kalula Samahita?" tanyanya. "Benar Pak." "Oke, silakan masuk, mohon ditunggu sebentar, atasan kami sedang dalam perjalanan ke sini," tambahnya sopan. Aku mengangguk, menahan nafas saat memasuki ruangan itu yang ternyata sangat besar dengan pemandangan mengintimidasi gedung pencakar langit Jakarta. Untuk ukuran interview jabatan yang remeh menurutku ini sangat niat dan menghargai para kandidat. Aku masih berdiri saat mendengar suara langkah sepatu mendekat. Punggungku menegak, kurapikan kemeja putih dan rok hitam yang kukenakan. Sementara suara berat dari belakang punggungku menyapa. "Duduk." Keningku berkerut. Meski hanya satu kata, suara itu terlalu mudah dikenali untuk telingaku yang sensitif. Aku segera menoleh dan pria yang kutemukan membuat dengkulku lemas. Nata berdiri di sana mengenakan jas hitam kinclong, berbeda dari yang ia kenakan saat menjemput Salsa sebelumnya. Rambutnya tersisir rapi, dan untuk pertama kalinya hari ini dia menatapku, benar-benar menatapku lurus dengan wajah tanpa emosi. Dan tanpa mengalihkan pandangan, dia berkata tegas. "Kamu terburu-buru meminta aku untuk menjaga Salsa hanya untuk bertemu aku lagi?" Memang sebuah malapetaka! ***“Mesin kopi saya mendadak nggak berfungsi, mungkin saya harus membeli yang baru atau berhenti minum kopi.” Aku terkekeh, paham betul bahwa ini hanya akal-akalan Damian untuk memintaku datang ke ruangannya. Namun aku tetap duduk di sofa panjang, mendengar dia mengeluh dan mengetuk-ngetuk mesin itu yang sepertinya memang sudah rusak. “Aku suka minum kopi, tapi aku nggak ngerti soal mesin, biasanya aku selalu beli jadi. Kamu manggil orang yang salah Damian,” balasku tenang. Dia mengerling, menatapku kalem. Ada sesuatu tentang tatapan Damian yang membuatku tertegun. Tidak seperti Nata yang selalu menatap dingin tanpa ekspresi seakan aku melakukan kesalahan. Damian selalu menatap dengan menilai, tapi tidak lancang, dia pun orang yang cukup peka dengan perubahan suasana hati seseorang. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa kami masih bisa berteman. “Kamu harusnya minta tolong Ma
“Tumben banget traktir? Memangnya udah gajian? Atau baru dapet bonus?”Melihat wajah Tria yang berbinar-binar ketika aku mengajaknya lunch di hari berikutnya, membuatku ikut senang.Dia menenteng paper bag, dan setelah dibuka isinya adalah bekal yang dimasak sendiri tadi pagi.“Wah, nggak jadi dong kalau gitu.”“Ih, jadi.” Tria menggerutu. “Kalau soal makan aku masih bisa nampung.” Dia menepuk perutnya lalu kami tertawa.Setelah makanan disajikan oleh pelayan yang berupa tomyum serta pangsit. Aku tidak menyia-nyiakan waktu.“Enak banget kayaknya kerja di sini ya, dekat dari stasiun. Mau ke mana-mana juga dekat, tempat makan banyak.” Aku melirik Tria seraya menyuap pangsitku sendiri. “Oh ya, loker yang kamu tawarin waktu itu masih ada?”Tria mengernyit. “Yang admin itu?”“Iya.”“Udah lama itu Mba, udah diisi fresh graduate sama anak magang. Kenapa tiba-tiba nanyain loker? Memangnya kerjaan yang sekarang
“Aku penasaran siapa sebenarnya yang ngirim foto-foto kayak gitu ke HRD maksud aku, kayak kurang kerjaan banget gitu loh.” Adisty mengomel panjang lebar ketika kami memilih melipir ke kantin untuk makan siang. Meski badanku lemas, tapi aku berusaha memberi tubuhku asupan. “Berarti ada orang yang diam-diam ngikutin kita sampai ke hotel, Mba!”Plot twistnya adalah, aku dituduh jadi pelakor di hubungan Nata dan Calista.Maksudnya, aku mengantri makanan yang sedang viral saja mager, apalagi bersaing dengan orang seperti Calista.Baiklah, aku akui, aku salah. Apa yang kulakukan dengan Nata selama di Bandung itu berlebihan, terutama dengan status Nata yang sudah bersama dengan Calista. Tapi di sisi lain, aku percaya pada Nata, kalau dia bilang bahwa mereka tidak bertunangan, maka itulah faktanya.Lagipula setelah kejadian itu, aku berusaha keras menghindar. Meredam perasaan yang pula kurasakan sejak ciuman terakhir kami. Bahkan Salsa
Aku berusaha tetap tenang, menyalakan PC, mengecek email, mengecek jadwal meski sebenarnya konsentrasiku buyar.Punggungku dingin, tapi seluruh tubuhku terasa panas. Tuduhan Wenda sangat mengerikan, dan bagaimana dia bisa menyimpulkan aku bersama Nata?“Tolong jangan ribut, malu. Urusan kayak gini sebaiknya nggak dibahas di kantor.” Sebagai yang paling dewasa, Gilman berusaha keras agar ruangan kondusif.Namun Wenda masih saja merepet panjang lebar di mejanya. Aku ingin menyanggah namun tidak lama Calista masuk ke ruangan. Dia tampak rapi hari ini, tidak ada lagi penyangga di lengan. Wajahnya pun kelihatan lebih cerah. Tubuhnya lebih ramping tapi itu malah membuat penampilannya stunning.Dia melirikku saat melintas, dan langsung memasang wajah lelah.“Aku nggak nyangka kalau kamu selicik ini,” bisiknya ketika melewati mejaku.Hidungku mengerut.Berbagai pikiran buruk berkecamuk, pekerjaanku jadi berantakan. Aku kesulitan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore