Share

Kabar Amira

last update Last Updated: 2026-01-07 22:28:36

Kayra membeku.

Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Suara itu, terlalu familiar untuk bisa disangkal.

“K–kay...” suara itu terdengar lagi dari seberang, lebih jelas.

“Ini Mama.”

Deg.

Tubuh Kayra menegang seketika. Jantungnya seperti terhantam dari dalam.

“...Apa?” suaranya keluar tercekat. “Mama?”

“Iya, Nak,” jawab suara itu. Terdengar bergetar, menahan tangis. “Ini Mama.”

Kayra bangkit dari sofa tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga memutih.

“Mama ke mana aja selama tiga tahun ini?” suaranya meninggi, pecah antara marah dan luka yang dipendam terlalu lama. “Kenapa Mama nggak pernah datang? Nggak pernah jengukin Kay? Bahkan satu kali pun?”

Isakan tertahan terdengar dari seberang.

“Maaf, Nak…” suara Amira pecah. “Mama nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa, Ma?” Kayra nyaris berteriak. “Kenapa?!”

Hening sejenak. Lalu suara Amira terdengar lirih, hampir berbisik.

“Karena Mama disekap.”

Dunia Kayra seolah berhenti.

“...Disekap?” ulangnya pelan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Celine... Amira

    Ruang bawah tanah itu terasa lembap dan dingin.Lampu kuning di langit-langit berkedip lemah, memantulkan bayangan dua perempuan yang terkurung dalam ruangan sempit berdinding beton.Celine berdiri beberapa langkah dari Amira. Napasnya masih belum stabil, dadanya naik turun akibat sisa perlawanan dan emosi yang belum reda terhadap Surya.Sunyi menggantung di antara mereka.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Celine membuka suara.“Siapa Anda?” tanyanya waspada. “Kenapa Anda juga dikurung di sini?”Amira menatap Celine. Tatapannya tidak tajam, justru dipenuhi sesuatu yang sulit dijabarkan.“Kamu sendiri siapa?” balas Amira pelan. “Kamu apa hubungannya dengan Surya sampai dia memperlakukanmu seperti ini?”Celine mengangkat dagunya sedikit. “Aku Celine. Dan aku tidak ada hubungan apa pun sama Surya.”Deg.Tubuh Amira seolah tersambar petir.Wajahnya seketika pucat, matanya membelalak, seolah satu nama itu merobek lapisan terakhir dalam dirinya.Kenangan itu menghantamnya tanpa ampun:

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Surya Kalang Kabut

    “Jangan-jangan apa?” tanya Surya rendah, tenang di permukaan tapi mematikan di dalam.Reymon menelan ludah. “Jangan-jangan… ponsel saya diambil oleh Nyonya Amira, Tuan.”“Apa?!” suara Surya meledak. “Bagaimana bisa?!”Reymon langsung menunduk. “Maaf, Tuan. Saya ceroboh. Tadi saya sempat meninggalkannya di ruang tengah. Dan… kemungkinan besar Nyonya Amira melihatnya lalu mengambilnya.”Tatapan Surya mengeras. Amarah dan kecurigaan berkilat di balik pupil gelapnya.“Cek CCTV ruang tengah,” perintahnya dingin.Belum sempat gema suaranya mereda, seorang anak buah sudah melangkah cepat dan menyerahkan tablet.“Sudah saya tarik, Tuan.”Surya mengambil tablet itu, lalu layar menyala.Rekaman CCTV menampilkan ruang tengah vila yang sepi. Sinar sore menembus jendela-jendela tinggi, jatuh tepat di atas meja tempat sebuah ponsel tergeletak.Beberapa detik kemudian, sosok Amira muncul dalam frame. Langkahnya pelan dan ragu. Matanya menyapu sekeliling sebelum mendekati meja. Jemarinya sedikit geme

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Misi

    Celine menatap Surya lama, lalu tersenyum kecil. Sebuah senyum tanpa kepanikan atau ketakutan.“Enggak,” katanya tegas.Surya mengerutkan kening. “Apa?”“Aku bilang enggak,” ulang Celine dengan suara mantap. “Aku nggak akan jual peninggalan Mama atau kebenaran ke orang serakah kayak Papa.”Senyum Surya langsung menghilang.“Aku akan cari tahu sendiri,” lanjut Celine, matanya menyala penuh tekad. “Siapa pun pelakunya… aku akan menemukannya tanpa harus mengorbankan aset Mama untuk orang yang bahkan nggak pantas nyebut namanya.”Dia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Lalu berbalik dan berlari menuju pintu.“Berhenti!” teriak seorang anak buah.Dua tangan kasar langsung mencengkeram lengan Celine dari belakang. Tubuhnya tersentak keras.“Lepasin aku!” teriak Celine sambil meronta. “Lepasin!”Dia menendang, memberontak, berusaha melepaskan diri, tapi sia-sia.Surya hanya berdiri di tempat, menatap semuanya dengan wajah penuh kepuasan. Ia terkekeh pelan.“Kamu kira semudah itu per

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kelicikan Surya

    Celine terdiam. Namun di dalam kepalanya, sesuatu runtuh perlahan, seperti bangunan yang selama ini ia yakini kokoh, ternyata sejak awal isinya kosong.“Aku... bukan anak kandung Papa?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri.Surya menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya saling bertaut santai, seolah baru saja membicarakan hal sepele.“Iya.” Satu kata. Ringan, tanpa rasa bersalah.Celine menelan ludah. Dadanya sesak. Potongan-potongan masa lalu berhamburan di kepalanya: wajah ibunya yang selalu berusaha tersenyum, Surya yang dulu hangat tapi kini berubah dingin, tatapan yang tak lagi lembut sejak hari pemakaman itu.“Pantas…” gumamnya lirih.Surya mengangkat alis. “Pantas apa?”Celine mendongak, matanya memerah tapi tak menangis.“Pantas Papa berubah,” ucapnya pelan, lalu suaranya semakin tegas. “Pantas Papa berhenti sayang sama aku setelah Mama meninggal.”Tangannya yang sejak tadi terikat, mengepal. Kukunya menekan telapak tangan, m

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Aku Anak Kandung Papa Bukan?

    Ruang rapat tidak langsung pecah oleh suara. Justru sunyi yang jatuh berat dan penuh makna.Beberapa pasang mata saling bertemu. Evan menatap Aldean. Salah satu analis refleks menggeser kursinya lebih dekat ke meja. Tidak ada yang perlu bicara.Satu kesimpulan sudah terbentuk di kepala mereka semua.Aldean sendiri tidak bereaksi berlebihan. Tidak mengumpat atau membentak. Ia hanya mengangkat pandangannya, bertemu dengan mata Evan.Isyarat itu singkat, tapi cukup.Kepingan-kepingan itu tersusun rapi di kepala mereka: tempat penyengkapan Amira, persembunyian Surya, dan penculikan Celine.Semua itu berada dalam satu garis lurus, bertemu pada satu titik yang sama.Aldean kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke ponsel yang tergeletak di atas meja.“Kay,” ucapnya rendah dan tenang, kontras dengan suara putrinya yang bergetar di seberang. “Tenang, Sayang. Tarik napas dulu.”“Pa, Mama disekap!” suara Kayra terdengar nyaris pecah. “Mama nelpon Kay barusan. Mama minta tolong. Mama bilang dia

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   Kabar Amira

    Kayra membeku.Matanya membulat, napasnya tercekat, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Suara itu, terlalu familiar untuk bisa disangkal.“K–kay...” suara itu terdengar lagi dari seberang, lebih jelas.“Ini Mama.”Deg.Tubuh Kayra menegang seketika. Jantungnya seperti terhantam dari dalam.“...Apa?” suaranya keluar tercekat. “Mama?”“Iya, Nak,” jawab suara itu. Terdengar bergetar, menahan tangis. “Ini Mama.”Kayra bangkit dari sofa tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram ponsel hingga memutih.“Mama ke mana aja selama tiga tahun ini?” suaranya meninggi, pecah antara marah dan luka yang dipendam terlalu lama. “Kenapa Mama nggak pernah datang? Nggak pernah jengukin Kay? Bahkan satu kali pun?”Isakan tertahan terdengar dari seberang.“Maaf, Nak…” suara Amira pecah. “Mama nggak bisa.”“Kenapa nggak bisa, Ma?” Kayra nyaris berteriak. “Kenapa?!”Hening sejenak. Lalu suara Amira terdengar lirih, hampir berbisik.“Karena Mama disekap.”Dunia Kayra seolah berhenti.“...Disekap?” ulangnya pelan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status