เข้าสู่ระบบIa berjalan cepat, mengitari sisi ruangan hingga menemukan lorong kecil menuju belakang stage. Hatinya berdegup makin kencang, keringat dingin mulai muncul di pelipis.
Namun langkahnya terhenti ketika seorang pria berbadan besar, jelas seorang petugas keamanan, menghalangi jalan. “Maaf, nona. Area ini khusus untuk panitia.” Ariel tertegun. “Ah... iya, saya... sebenarnya hanya ingin menyampaikan sesuatu pada dr. Nathan. Penting sekali.” Petugas itu menatap curiga. “Anda peserta?” “I-ya... saya tadi ikut seminar. Tapi...” Ariel menggigit bibir, mencari alasan. “Saya hanya butuh waktu sebentar. Tolonglah... ini soal penelitian.” Petugas itu menghela napas, menimbang sebentar, lalu menggeleng. “Saya tidak bisa. Kalau ada yang ingin disampaikan, silakan lewat email resmi atau formulir.” Ariel mulai panik. Matanya melirik ke arah belakang panggung, dan ia bisa melihat bayangan dr. Nathan yang hendak keluar dari pintu samping. Ini kesempatan terakhirku! “Aku harus ke sana,” gumamnya lirih. Dengan langkah cepat, ia mencoba menerobos, tapi petugas itu langsung menahan lengannya. “Nona!” “Lepaskan aku! Hanya lima menit saja!” Ariel setengah berteriak. Suara keributan itu rupanya terdengar. Dr. Nathan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah suara. Tatapannya tajam, dingin, seperti menembus pandangan. “Siapa di sana?” suara Nathan terdengar tenang namun tegas. Salah satu peserta seminar, Dokter." "Biarkan dia masuk!" Petugas itu langsung melepaskan Ariel, meski ragu. “Baik, Dok.” Ariel berdiri kaku, jantungnya hampir melompat. Ia tak menyangka dr. Nathan sendiri yang mempersilakannya. Nathan menunggu di dekat pintu samping, tangannya menyelip di saku jas putih, tatapannya tak beranjak dari Ariel. “Jadi... kau ingin bertemu denganku?” tanyanya datar. Ariel menelan ludah, lalu melangkah maju. “I-ya, Dok. Saya... saya perlu bicara.” Nathan menaikkan alisnya sedikit. “Tentang apa?” Ariel terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. “Tentang... hal-hal yang Dokter jelaskan di seminar. Saya... butuh lebih dari sekadar teori.” Tatapan Nathan menajam, namun tetap tanpa ekspresi berlebihan. “Lebih dari teori?” ulangnya pelan. “Apa maksudmu? Seminar saya tadi khusus untuk pasutri. Kalau kamu peserta berarti seharusnya kamu sudah punya pasangan dan bisa mempraktekkannya dengan pasanganmu sendiri.” Ariel menggenggam tasnya erat-erat, wajahnya memerah. Ia tahu kata-kata berikutnya bisa terdengar gila, tapi ia tidak punya pilihan. “Maksud saya... saya ingin belajar langsung. Dari Dokter.” Lorong itu mendadak sunyi. Bahkan bunyi langkah panitia pun terdengar samar jauh di belakang. Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ariel dalam-dalam, seolah sedang mengukur isi kepalanya. Senyum tipis samar akhirnya muncul di bibirnya—senyum yang entah menenangkan atau justru membuat jantung Ariel semakin berdebar. “Belajar... langsung dariku?” suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. Ariel mengangguk pelan, meski kakinya hampir gemetar. “Iya, Dok. Saya mohon...” “Sepertinya kau masih nona, ya?” Nathan berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan dingin. “Maaf, ilmu saya hanya khusus untuk pasutri. Sebaiknya Anda keluar dari sini.” Nada suaranya tenang, namun tegas. Ia kembali melangkah menuju pintu. “Dokter, kumohon...” Ariel nekat menghadang, matanya berkilat penuh tekad. “Sebenarnya aku ini adalah seorang penulis cerita dewasa... dan aku ingin melakukan riset langsung. Aku—” Nathan memotong kalimat itu, nada suaranya makin tajam. “Maaf, Nona. Saya tidak tertarik dengan riset atau pekerjaan Anda. Saya sibuk dan tidak punya waktu untuk meladeni Anda.” Ia kembali melangkah. Ariel hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, dadanya sesak. Dalam situasi genting itu, pikirannya berpacu cepat. Apa yang harus kulakukan? Kalau aku menyerah sekarang, aku akan kehilangan kesempatan. Tapi... dengan cara semurahan itu? Wajah Ariel memerah, tangannya bergetar. Sekarang... atau tidak sama sekali. “Dokter Nathan!” suaranya terdengar lantang. Ia berlari kecil dan meraih lengan Nathan, menariknya hingga pria itu berbalik menghadapnya. Nathan mendengus, nada suaranya mulai emosi. “Apa lagi?!” “Maaf, Dokter, tapi...” suara Ariel melemah, namun tubuhnya menolak berhenti. Ia tahu satu-satunya jalan adalah melangkah lebih jauh. Nathan menepis tangannya dengan kasar. “Jangan menyentuhku lagi.” Namun Ariel tidak menyerah. Ia kembali menarik lengan Nathan, kali ini lebih kuat, dan sebelum pria itu sempat menolak, Ariel meraih wajahnya dengan kedua tangan—lalu menempelkan bibirnya ke bibir Nathan. Ciuman itu terjadi begitu cepat, begitu nekat, hingga Nathan terkejut. Matanya membelalak, tubuhnya menegang. Refleks, ia mendorong Ariel hingga ciuman itu terlepas. “Penulis gila!” bentaknya, wajahnya memerah karena marah sekaligus terkejut. Namun Ariel tidak membiarkannya pergi. Dengan napas memburu, ia kembali menarik kerah Nathan, dan kali ini mendorong bibirnya lagi ke bibir pria itu. Ciuman kedua ini lebih liar, penuh pemaksaan, dan entah bagaimana—lebih bergairah. Nathan terpaku. Wanita ini... Meski jelas tak berpengalaman, ada sesuatu yang menggairahkan dalam keberaniannya. Tubuhnya menolak, tapi rasa ingin tahu yang samar membuatnya tidak segera mendorong Ariel. Ia tidak membalas, tapi juga tidak menolak—setidaknya untuk beberapa detik yang terasa begitu panjang. Hingga akhirnya akalnya kembali. Dengan tenaga penuh, Nathan mendorong Ariel menjauh, kali ini agak kasar, hingga gadis itu hampir terjatuh ke dinding. Napas mereka terengah-engah, wajah Ariel merah padam, sementara Nathan tampak berusaha menahan gejolak yang tak seharusnya muncul. “Maaf, Nona. Anda sudah keterlaluan.” Suaranya dingin, tajam. Ia merapikan jas putihnya dengan gerakan kaku, lalu berbalik melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Ariel berdiri terpaku, bibirnya masih bergetar. Matanya memandang punggung Nathan yang menjauh dengan perasaan campur aduk—malu, takut, tapi juga puas karena setidaknya ia sudah membuat pria itu berhenti dan merasakannya walau sebentar. ---- Di luar, Nathan langsung masuk ke mobil hitam yang sudah menunggunya. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggung dan kepalanya ke jok, matanya terpejam rapat. Napasnya panjang, dadanya naik turun. Wanita itu... berani-beraninya... gumamnya dalam hati. Bayangan ciuman barusan kembali menghantam pikirannya, membuatnya mendesis pelan. Sial! Dari kursi depan, seorang pria dewasa dengan kacamata, Gerry, menoleh dengan tatapan penasaran. Ia adalah sahabat sekaligus perawat senior yang sering mendampingi Nathan. “Sepertinya terjadi sesuatu di dalam ya, dr. Nate?” tanyanya sambil menyeringai kecil, mencoba mencairkan suasana. Nathan membuka mata perlahan, wajahnya masih tegang. Ia terdiam sejenak, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan secarik kartu nama. Tanpa banyak kata, ia menyerahkannya ke Gerry. “Di ruang panitia... ada seorang gadis muda. Katanya penulis.” Nathan menarik napas berat. “Tolong berikan kartu nama itu padanya.” Gerry menaikkan alis, lalu bersiul pelan. “Siap, Dok!" Gerry terkekeh kecil, lalu keluar dari mobil dengan langkah santai, menuju kembali ke gedung hotel. Sementara itu, Nathan masih duduk diam di kursi belakang. Namun semakin ia berusaha, semakin jelas bayangan bibir wanita itu muncul di benaknya.Aula Central Park malam itu bermandikan cahaya lampu kristal yang megah, namun bagi Nathan, atmosfer di sana terasa menyesakkan. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama, tempat sebuah baliho besar terpampang dengan judul mencolok: 'Rahasia Empat Tahun' oleh Ariel Anata.Nathan berdiri di sudut paling gelap, bersandar pada pilar beton yang dingin. Ia sengaja mengenakan turtleneck hitam dan jas yang senada, berharap kerumunan orang tidak mengenalinya sebagai dokter bedah yang sempat viral karena edukasinya di podcast-podcast. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang duduk di kursi beludru di atas panggung.Ariel tampak luar biasa cantik, meski gurat kelelahan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan tipisnya. Ia mengenakan gaun loose-fit berwarna krem yang jatuh dengan lembut, menyamarkan perutnya yang kini sudah sedikit membuncit. Nathan merasakan dadanya berdenyut perih. Itu anaknya. Nyawa yang selama sebulan ini ia tangisi dalam diam, kini berada hanya b
Langkah kaki Nathan menggema keras di lorong apartemen yang sunyi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa panas, namun ia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ariel. Setelah konfrontasi hebat dengan Kara di rumah sakit, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah merengkuh Ariel, meminta maaf, dan berjanji bahwa ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas nyawa kecil yang kini tumbuh di rahim gadis itu.Ia sampai di depan pintu nomor 402. Jantungnya berdentum kencang saat ia menekan bel berkali-kali.Ting-nong! Ting-nong!"Ariel! Ini aku, Nathan! Buka pintunya, tolong!" teriaknya, tak peduli jika tetangga merasa terganggu.Tidak ada jawaban. Sunyi.Nathan mencoba memutar gagang pintu, dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan waswas, ia melangkah masuk. Namun, pemandangan di dalamnya membuat dunianya seakan runtuh untuk kedua kalinya hari itu.Apartemen itu kosong.Tidak ada lagi aroma kayu manis yang biasa tercium dari li
Ketegangan di koridor rumah sakit itu memuncak dalam hitungan detik. Kara, dengan kecepatan yang tidak terduga, menyambar amplop putih dari tangan Ariel yang gemetar. Sentakan itu begitu keras hingga ujung kertasnya sempat menyayat telapak tangan Ariel, namun rasa perih itu kalah oleh rasa takut yang menghantam dadanya."Hai! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" sergah Ariel, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha meraih kembali miliknya, namun Kara melangkah mundur, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.Kara tidak memedulikan protes itu. Dengan kasar, ia merobek segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas hasil laboratorium di dalamnya. Matanya menyisir baris demi baris kata medis yang tertera di sana. Begitu sampai pada kesimpulan akhir, napas Kara tertahan."Positif hamil?" Suara Kara bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. Ia menatap Ariel dengan pandangan menghina. "Kamu hamil anak siapa, Ariel? Siapa laki-laki malang yan
Lampu meja kerja Ariel berpendar kekuningan, kontras dengan kegelapan apartemennya yang hanya disinari lampu jalan dari balik jendela. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba merangkai kembali kata-kata dalam draf novel lamanya yang sempat terbengkalai. Menulis selalu menjadi pelarian baginya—sebuah dunia di mana ia bisa mengatur takdir setiap karakter tanpa harus merasa sakit hati.Namun, fokusnya pecah.Tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman naik dari perut menuju pangkal kerongkongannya. Rasa asam yang tajam membuatnya tersedak. Ariel menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong kursi kerjanya hingga berderit keras, dan berlari menuju kamar mandi.“Hoekk!”Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen yang dingin. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Setelah beberapa menit yang menyiksa, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak pucat pasi.“Apa maagku kambuh ya?” gumamnya p
Keheningan di ruang makan itu mendadak terasa begitu tebal.Dr. Kara menatap Ariel dengan waspada, matanya tajam seperti sedang mengukur sesuatu yang tidak terlihat. Sementara itu Ariel hanya membalas tatapan itu dengan senyum lembut, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.Lalu tiba-tiba—Ariel terkekeh kecil.“Aduh… kenapa jadi serius begini?” katanya ringan sambil melambaikan tangan. “Aku kan cuma bercanda, Dokter. Kita makan dulu saja, ya.”Nada suaranya santai, hampir seperti anak kecil yang baru saja melempar gurauan.Nathan menatap Ariel lama, mencoba membaca ekspresinya. Ia tidak yakin apakah ucapan tadi benar-benar hanya candaan.Dr. Kara memaksakan senyum tipis.“Oh… tentu,” katanya.Namun suasana sudah terlanjur berubah.Dentang sendok dan garpu kembali terdengar, tapi kini terasa canggung. Tidak ada lagi percakapan ringan. Nathan hanya makan sedikit, lebih sering melirik Ariel dari sudut matanya.Sementara Kara...Kara sama sekali tidak berselera makan lagi.Ia hanya mengad
Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di udara ketika Ariel menekan tombol send di laptopnya. Jantungnya bertalu-talu. Sebuah subjek email singkat: Naskah Final - Teach Me How, Doctor.Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap langit-langit kamar dengan senyum yang tak bisa dibendung. Akhirnya. Setelah semua drama dengan Matthew, setelah air mata dan penolakan dari London, naskah yang sebenarnya telah ia rintis jauh sebelum badai itu datang kini rampung. Ini bukan sekadar buku; ini adalah katarsis. Sebuah cerita tentang seorang wanita yang belajar menemukan suaranya di bawah bimbingan seorang pria yang dingin namun menghanyutkan—sebuah cerminan yang terlalu nyata dari apa yang ia alami bersama Nathan."Sudah selesai, Pak George," bisik Ariel pada ruangan yang sepi. Ia tidak tahu apakah Matthew akan mengizinkan naskah ini terbit, atau apakah Pak George punya cukup keberanian untuk meloloskannya. Tapi baginya, keberhasilan menyelesaikan kalimat terakhir adalah kemenangan mutlak.Ar







