LOGIN
“Tulisan kamu ini bahkan tidak menggairahkan sama sekali!”
Ariel terlonjak. Naskah yang beberapa menit lalu ia berikan pada George seketika berserakan. Dengan panik, wanita itu kembali memunguti kertas-kertas yang bertebaran itu. “Aku tidak merasakan apa-apa, Riel. Tidak ada denyut, tidak ada gairah. Kalau begini terus, kerja sama kita selesai!” Ariel menatap naskah itu, jemarinya gemetar di atas pangkuan. “Tapi, Pak... saya sudah memperbaiki bab awal. Saya baca ulang, bahkan mempelajari gaya Anny Arrow seperti yang Bapak sarankan.” “Kau pikir cuma dengan membaca, kau bisa menulis adegan bercinta yang terasa hidup?” potong George, sinis. “Tulisanmu dingin. Seperti dibuat orang yang bahkan belum tahu rasanya disentuh.” Kata-kata itu menusuk. Ariel menunduk, wajahnya memanas menahan malu. Setiap kali mengajukan naskah, komentar yang sama selalu datang darinya—tidak ada feel-nya! Tapi bagaimana mungkin ia bisa menulis dengan ‘rasa’ jika bahkan ia belum pernah merasakannya sendiri? “Kau punya waktu seminggu,” lanjut George, menyalakan rokok. “Kalau revisimu masih hambar, aku putus kontrak. Jangan harap bisa kirim naskah ke penerbit mana pun lewatku.” Asap rokok melingkari wajahnya yang penuh guratan keras. “Industri ini butuh tulisan yang membuat pembaca terhenti di tengah halaman karena napasnya ikut naik. Bukan paragraf steril tanpa roh.” Ariel menelan ludah. Suaranya serak ketika mencoba bicara, “Kalau saya... coba perbaiki adegan intinya?” “Kalau kau tidak bisa membuatku merasa terangsang hanya dengan membaca dua halaman pertama, maka semua usaha itu percuma.” George menyemburkan asap terakhirnya. "Tulisan dewasa harus terasa hidup, bukan sekadar imajinasi belaka.” Mendengar omelan itu, Ariel hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Kepalanya penuh oleh rasa penasaran yang menumpuk. Memangnya, seperti apa sih rasanya bercinta itu? Asap rokok terakhir George masih berputar di udara saat Ariel melangkah keluar. Bau tembakau, kata-kata sinis, dan rasa malu bercampur jadi satu di tenggorokannya. Ia tak ingat bagaimana bisa sampai ke ruang tunggu—hanya tahu tangannya telah mengepal saat melihat Silvi menatap dari sofa. “Bagaimana, Ariel?” tanya Silvi penuh harap. Ariel hanya mengembuskan napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Yah... revisi naskahku ditolak lagi. Pak George bilang kalau tulisanku itu kayak tulisan bocil pertama kali coba-coba nulis cerita dewasa. Aku bahkan terancam dipecat kalau revisi mendatang gagal lagi.” Nada putus asa itu membuat Silvi meringis. Ia ikut duduk, menatap Ariel dengan khawatir. Ariel meraih sebuah majalah dewasa yang tergeletak di meja, membuka-buka tanpa fokus. “Entah sampai kapan aku bisa bertahan kayak gini...” “Kau bisa mencobanya lagi, Riel. Atau... bagaimana kalau kau kembali menulis teenlit saja?” ucap Silvi lembut, mencoba menghibur sekaligus memberi solusi. Namun Ariel mendengus sinis. “Silvi, kau sendiri tahu... Buku teenlit satu-satunya yang terbit pun tidak laku. Kira-kira... apa yang harus kulakukan, ya?” Silvi menatapnya lama, lalu matanya melirik ke majalah di tangan Ariel. Bibirnya tersenyum kecil, penuh ide. “Pria itu bisa membantumu.” Ariel mengangkat wajah. “Siapa?” Silvi mencondongkan tubuh, lalu menunjuk sampul majalah dengan dagunya. “Itu, pria di sampul majalah itu.” Ariel menurunkan pandangan. Di sampul majalah itu tampak seorang pria tampan, gagah, dengan jas putih lengan panjang. Rambut hitamnya disisir rapi, senyum tipisnya menawan. “Apa-apaan ini? Seorang dokter? Ngapain jadi sampul majalah dewasa? Majalah aneh!” Dengan kesal, Ariel langsung melempar majalah itu ke tong sampah. “Riel!” Silvi hampir terlonjak melihatnya. “Astaga, kau ini!” Tapi Silvi tetap melanjutkan, meski meringis melihat kelakuan sahabatnya. “Itu dr. Nathan Xander. Dia pakar seksologi, sangat terkenal. Mungkin... kau harus belajar darinya.” Ariel sempat terdiam, keningnya berkerut. “Tadi aku juga baca-baca majalah itu,” lanjut Silvi cepat. “Katanya malam ini dia membawakan seminar tentang bagaimana memuaskan pasangan... di St. Regis. Tapi...” Ariel menoleh cepat, matanya berbinar penasaran. “Tapi...?” Silvi menghela napas panjang, suaranya pelan. “Tapi seminar itu hanya untuk pasangan suami istri...” Mata Ariel bergerak-gerak, wajahnya penuh pikiran. Tiba-tiba ia tersentak, seolah sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia buru-buru berdiri dan memungut kembali majalah dari tong sampah itu. “Silvi, aku harus pergi!” katanya terburu-buru. Silvi memandangnya dengan dahi berkerut. “Kau baru saja keluar dari ruangan editor, mau ke mana lagi?” “Ke seminar dokter seksologi itu!” jawab Ariel mantap. “Tapi... itu hanya untuk pasutri! Kau dengar tidak?!” Silvi hampir berteriak. Namun Ariel sudah melangkah cepat ke arah pintu. “Ariel!” seru Silvi, tapi sahabatnya itu sudah lenyap di balik pintu, meninggalkan Silvi ternganga. Silvi hanya bisa memegangi kepala, menggeleng pelan. “Astaga... anak itu... selalu saja bikin masalah...” --- Lampu-lampu hotel St. Regis berkilauan mewah, memantulkan cahaya keemasan di ruangan ballroom yang penuh dengan kursi tertata rapi. Puluhan pasangan suami istri duduk berjejer, sebagian besar tampak serius memperhatikan slide presentasi di layar besar. Suara dr. Nathan Xander terdengar berat namun tenang, penuh wibawa, setiap kali ia menjelaskan materi. “Cara pertama yang bisa dilakukan untuk menaikkan gairah pria,” ujarnya sambil menatap hadirin dengan tatapan tajam namun menenangkan, “adalah dengan menggoda melalui bahasa tubuh. Tubuh kita berbicara lebih cepat daripada kata-kata. Sebuah sentuhan kecil, tatapan mata yang tepat, bahkan cara berjalan... bisa membangkitkan gairah lebih dari seribu kalimat rayuan.” Para peserta tampak mengangguk-angguk. Beberapa istri menoleh ke suami mereka sambil tersenyum nakal, membuat suasana ruangan sesekali terdengar tawa kecil. Di sudut kursi belakang, Ariel duduk dengan wajah setengah bingung. Matanya menatap layar, tetapi pikirannya melayang. Ia memiringkan kepala, mencoba memahami penjelasan yang tampak sederhana bagi yang berpengalaman, namun terasa asing baginya. Bahasa tubuh... tatapan mata... sentuhan kecil? Ariel menghela napas panjang. Tapi bagaimana kalau aku bahkan belum pernah melakukannya sama sekali? Bagaimana aku bisa menulis cerita dewasa kalau hanya mengandalkan teori seperti ini? Ia menggigit bibirnya, lalu menunduk menatap buku catatan yang dibawanya. Hanya ada coretan singkat—lebih banyak tanda tanya daripada jawaban. “Apa kau baik-baik saja?” bisik seorang wanita paruh baya di sebelahnya. Ariel tersentak, lalu tersenyum kikuk. “Ah... iya, Bu. Saya hanya... banyak berpikir.” Wanita itu mengangguk maklum lalu kembali fokus ke layar. Sementara Ariel justru makin resah. Presentasi berlanjut. Slide demi slide menampilkan ilustrasi, kalimat-kalimat sugestif, dan tips praktis. Tapi semua itu terasa seperti bahasa asing bagi Ariel. Tidak bisa. Aku butuh lebih dari sekadar teori, batinnya. Kalau aku ingin tulisanku hidup, aku harus tahu langsung dari sumbernya... dari dr. Nathan sendiri. Matanya spontan melirik ke arah panggung. Sosok pria itu berdiri tegak, jas putih panjangnya membuatnya terlihat berwibawa sekaligus memancarkan aura dingin. Rambut hitamnya tersisir rapi, suaranya dalam dan tenang. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Ariel sulit berpaling. Ketika seminar berakhir, para peserta bertepuk tangan. Dr. Nathan menutup presentasi dengan senyum tipis dan ucapan, “Terima kasih sudah hadir. Semoga malam ini membawa manfaat bagi kehidupan rumah tangga Anda.” Ariel ikut bertepuk tangan, meski dalam hatinya ada kegelisahan yang semakin membuncah. Ia tahu ini saatnya bertindak. Orang-orang mulai keluar dari ballroom, sibuk mengobrol sambil menggandeng pasangan masing-masing. Ariel, yang datang sendirian, justru menunduk agar tidak terlalu mencolok. Tangannya meremas tas kecil yang dibawanya, sementara langkahnya melambat, mengamati ke arah panggung. Di belakang panggung, terlihat beberapa panitia sibuk merapikan peralatan. Seorang staf perempuan mendekati Nathan dan berbicara sebentar, lalu menyerahkan map berisi catatan. Nathan mengangguk singkat, wajahnya tetap datar. Ariel menelan ludah. Dadanya berdebar keras. Sekarang... atau tidak sama sekali.Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai berpijar saat Ariel melangkah gontai menyusuri trotoar menuju kompleks apartemennya. Kunjungan ke rumah Silvi tadi siang setidaknya memberi sedikit oksigen bagi jiwanya yang sesak. Bau bayi, tawa ringan tentang masa SMA, dan teh hangat yang disuguhkan Silvi sempat membuat Ariel lupa akan jerat Matthew. Namun, begitu kakinya menginjak lobi apartemen yang dingin dan steril, beban itu kembali menghimpit pundaknya.Unit 24B terasa begitu sunyi. Ariel melemparkan jaketnya ke sembarang arah, lalu menatap laptop yang masih terbuka di meja kerja. Kursor di layar berkedip-kedip seolah mengejeknya—mengejek kebuntuan ide yang membuatnya hampir gila. "Persetan dengan prosa elegan," gumamnya lirih. Kepalanya kembali berdenyut, bukan karena kurang oksigen, melainkan karena rasa sepi yang tiba-tiba menyerang dengan ganas.Dalam kondisi suntuk yang memuncak, bayangan dokter Nathan tiba-tiba melintas. Nathan adalah paradoks; pria yang menyelamatkannya, namun juga pr
Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden apartemen Ariel terasa berbeda hari itu. Bukan lagi sebagai pengingat akan kegagalan, melainkan sebagai lonceng dimulainya babak baru. Di atas meja kerja yang biasanya berantakan, kini hanya ada laptop dan kamus tesaurus bahasa Inggris yang tebal. Jemari Ariel menari di atas keyboard, mencoba menerjemahkan rasa sakitnya menjadi prosa yang elegan dalam bahasa asing.Namun, setelah lima jam berkutat dengan struktur kalimat lampau (past tense) dan mencari padanan kata yang tepat untuk menggambarkan "kerinduan yang menyayat," kepalanya mulai berdenyut. Ia butuh oksigen. Ia butuh melihat dunia luar yang tidak didominasi oleh layar monitor.Dengan jaket tipis dan rambut yang diikat asal-asalan, Ariel melangkah keluar menuju minimarket di bawah kompleks apartemennya. Bau pembersih lantai dan udara dingin dari mesin pendingin menyambutnya. Saat ia sedang memilah-milah deretan kopi kaleng, matanya tertumpu pada seorang wanita yan
Tiga bulan berlalu seperti musim dingin yang tak berujung di dalam apartemen Ariel. Ruangan yang dulunya terasa hangat kini dipenuhi dengan tumpukan kertas naskah yang dicoret-coret, cangkir kopi yang mengering, dan cahaya redup dari layar laptop yang menyala hingga dini hari.Ariel menatap layar ponselnya. Sebuah email baru masuk. Tanpa membukanya pun, ia sudah tahu isinya.“Terima kasih telah mengirimkan naskah Anda kepada kami. Namun, setelah melalui pertimbangan dewan redaksi, kami merasa karya ini belum sesuai dengan visi penerbitan kami saat ini...”Kalimat formal itu terasa seperti sembilu. Ini adalah penolakan ke-27 dalam sembilan puluh hari. Matthew tidak main-main dengan ancamannya. Setiap kali Ariel mengirimkan naskah ke penerbit besar maupun kecil, pintu selalu tertutup rapat. Bahkan beberapa editor yang dulunya adalah teman baiknya tiba-tiba berhenti membalas pesannya. Kekuasaan Matthew telah menciptakan dinding kedap udara di sekeliling kariernya.Dengan langkah gontai d
Lantai teratas gedung perkantoran itu terasa lebih dingin dari biasanya saat Ariel melangkah masuk tanpa mengetuk. Matthew sedang berdiri membelakangi pintu, menatap panorama kota Jakarta dari dinding kaca raksasanya, menyesap wiski seolah ia baru saja memenangkan seluruh dunia."Kau kembali lebih cepat dari perkiraanku, Ariel," Matthew berbalik, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bagaimana rasanya duduk di kursi barumu? Empuk, bukan?"Ariel tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah mendekati meja mahoni besar milik Matthew dan meletakkan amplop biru tua yang tadi pagi diberikan kepadanya. Di atasnya, Ariel meletakkan kartu identitas karyawannya."Aku tidak menginginkannya, Matt. Aku tidak menginginkan jabatan ini, aku tidak menginginkan uang ini, dan aku tidak menginginkan... kita."Gelas di tangan Matthew berhenti bergerak. Matanya yang tajam menyipit, mencari celah kebohongan di wajah Ariel. "Apa yang kau katakan? 'Kita' adalah satu-satunya alasan kau berada di posisi ini.""It
Suasana kantor yang megah itu tiba-tiba terasa seperti penjara berlapis emas bagi Ariel. Kata-kata Matthew masih terngiang, beradu dengan pesan singkat dari Nathan yang baru saja ia hapus. Tanpa pikir panjang, Ariel menyambar tasnya, mengabaikan tumpukan naskah yang seharusnya ia kurasi, dan melangkah keluar melewati sekretaris barunya yang membungkuk hormat dengan wajah tegang.Ia tidak pulang ke apartemennya sendiri. Kakinya membawanya berhenti tepat di depan pintu unit bernomor 23B—pintu yang sangat ia kenali, tepat di sebelah unit miliknya.Ariel menarik napas panjang, lalu mengetuk. Satu kali, dua kali, tidak ada jawaban. Baru pada ketukan ketiga, terdengar suara kunci diputar. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Nathan dengan kaos abu-abu lusuh dan rambut yang sedikit berantakan. Matanya yang tajam tampak lelah, namun seketika melembut saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya."Ariel?" suara Nathan serak. Ia tidak segera membukakan pintu lebar-lebar, seolah ragu apakah ini
"Aku tidak perlu bertanya untuk memberikan yang terbaik bagi gadisku, Ariel," Matthew melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Ariel bisa mencium aroma kayu cendana dari tubuh pria itu. "Kemarin kau memilihku di depan Nathan. Itu adalah keputusan paling bijaksana yang pernah kau buat. Dan di duniaku, loyalitas selalu membuahkan hasil."Matthew mengulurkan sebuah amplop berwarna biru tua yang tergeletak di atas meja. "Buka."Dengan tangan gemetar, Ariel merobek amplop itu. Matanya membelalak membaca baris demi baris surat keputusan di dalamnya.SURAT KEPUTUSAN DIREKSIMenetapkan: Ariella Anata sebagai Senior Executive Editor & Head of Creative Content.Wewenang: Hak veto penuh atas seluruh naskah fiksi dan non-fiksi, anggaran mandiri sebesar 1 miliar rupiah per kuartal, dan laporan langsung kepada CEO."Matt, ini terlalu banyak... Aku cuma ingin menjadi penulis. Kalau seperti ini, orang-orang akan menganggap aku hanya—""Hanya apa? Simpanan CEO?" Matthew memotong







