LOGINSetelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Safira menerima tawaran Vivian, sahabat lama mendiang ibunya untuk tinggal di kota. Ia berharap rumah itu menjadi tempat aman untuk menata masa depannya. Namun sosok Adrian, suami Vivian yang karismatik dan dominan, perlahan menyeret Safira ke dalam hubungan yang seharusnya tak pernah terjadi. Renggangnya hubungan pernikahan antara Adrian dan Vivian membuat Adrian tidak bisa mengabaikan kehadiran Safira. Sementara Vivian yang terus saja sibuk bekerja justru tanpa sadar semakin membuat Adrian leluasa menggoda Safira. Di bawah ancaman, tekanan dan kendali Adrian membuat Safira tidak punya pilihan lain. Kenyamanan, uang, dan kemewahan yang ia terima menjadi pembenaran atas hubungan terlarang yang makin menjeratnya.
View MoreMobil hitam berhenti perlahan di depan sebuah gerbang tinggi yang megah. Lampu jalan berkilau temaram, memantul di bodi mobil yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari stasiun. Di dalam mobil, seorang gadis muda duduk diam dengan tangan menggenggam tas kecil di pangkuannya. Jemarinya berkeringat dingin, bergetar halus seakan ikut membawa gugup yang memenuhi dadanya.
“Sudah sampai, Nona,” ucap sopir dengan suara ramah, meliriknya sekilas melalui kaca spion. Safira mengangkat wajah. Pandangannya segera terpaku pada pagar besi di hadapannya. Di balik pagar, sebuah rumah besar bergaya modern tampak berdiri dengan anggun. Ini rumah Tante Vivian… batin Safira, menarik napas panjang. Hanya beberapa bulan lalu, Safira masih tinggal di rumah sederhana di sebuah desa kecil bersama ayah dan ibunya. Hidupnya tenang, meski sederhana. Hingga kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya dalam sekejap. Dunia yang dikenalnya runtuh, meninggalkannya sendiri dengan kesedihan yang nyaris menenggelamkan. Vivian, sahabat lama ibunya, adalah satu-satunya orang yang menawarkan tangan, mengajaknya pindah ke kota besar dan tinggal di rumahnya. Gerbang perlahan terbuka otomatis dan saat itu Safira merasa seperti masuk ke dunia lain. Dunia yang sangat berbeda dengan kehidupan lamanya. Seorang wanita dengan rambut hitam sebahu, lurus rapi, melangkah keluar rumah. Ia mengenakan blus putih dan rok pensil abu-abu yang pas tubuh. Penampilannya elegan, rapi, dan berkelas. Ada ketegasan di sorot matanya, tapi senyumnya tetap hangat. “Safira!” Panggil wanita itu dengan suara lembut namun penuh energi. Safira buru-buru turun dari mobil, menunduk sopan, lalu memeluk wanita itu. Ada rasa nyaman sekaligus canggung. “Tante Vivian. Terima kasih sudah mau menerimaku di sini.” Vivian menepuk bahunya lembut, menatapnya dengan mata yang seolah mengerti semua rasa kehilangan dan kesedihan yang dipendam Safira. “Kamu ini anak sahabat baikku. Jangan sungkan. Mulai sekarang anggap rumah ini rumahmu juga, ya.” Ada kehangatan dalam ucapannya, tapi rasa asing tetap menekan dada Safira. “Ayo, masuk. Kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh ke sini,” kata Vivian sambil meraih tangan Safira. Vivian menyuruh Safira untuk duduk sekaligus beristirahat di sofa ruang keluarganya. Sementara ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. “Itu Safira?” Vivian menoleh, menatap Adrian, suaminya yang baru saja menyusulnya masuk ke dalam dapur. “Ya. Aku harap kamu bisa menerima Safira di rumah ini. Kasihan dia, begitu orang tuanya meninggal, dia sudah tidak memiliki keluarga lagi,” jelas Vivian. “Sebenarnya aku masih merasa sedikit keberatan,” ujar Adrian terus terang. “Adrian, ayolah. Kita sudah membahas hal ini sebelumnya. Safira anak Diana, sahabatku. Aku tidak bisa membiarkan dia tinggal sendirian. Lagipula aku melakukan semua ini juga karena aku ingin membalas budi atas kebaikan Diana dulu padaku.” Adrian tampak menghela napas. “Sayang …” Vivian berusaha membujuk lembut. “Aku pastikan, Safira tidak akan menyusahkan kita. Lagipula dia akan bekerja di kantormu juga, kan. Jadi tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan. Dia bisa mencari uang untuk dirinya sendiri.” Lagi-lagi Adrian menghela napas. Memilih mengalah daripada harus berdebat dengan istrinya. “Baiklah,” ujarnya singkat. Vivian tersenyum lalu menggandeng tangan Adrian menuju ruang keluarga menemui Safira. Vivian memanggil Safira, membuat gadis yang tengah menunduk itu seketika mendongak dan menatap ke arahnya. “Safira, ini Om Adrian. Kamu masih ingat, kan?” Vivian menyusul duduk di sebelah Safira. Sedangkan Adrian tetap dalam posisi berdirinya. Safira menatap pria yang kini berdiri di hadapannya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Tubuhnya tegap, sorot matanya tajam, dalam, seolah mampu menelanjangi batin siapa pun yang ditatap. Kumis tipis dan rambut halus di sekitar rahang membuat wajahnya maskulin dan penuh kharisma. Aura berwibawa itu begitu nyata, sampai udara seakan menegang. Safira merasa Adrian juga tengah menatapnya, terlalu terang-terangan hingga wajah gadis itu merona. Ia buru-buru menunduk, tak sanggup menahan sorotan itu. “Selamat datang, Safira,” ucap Adrian. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “Te… terima kasih, Om Adrian,” jawab Safira kaku, suaranya hampir bergetar. Bagi Safira, Adrian terlihat masih begitu tampan di usia matangnya. Bugar, bertubuh atletis, rapi dan wangi. Sedangkan Vivian juga cantik meski ada sedikit garis-garis halus di sekitar wajahnya. Dan Safira tahu, umur Vivian 2 tahun lebih tua dari Adrian. “Aku harap kamu bisa nyaman tinggal di rumah ini. Seperti yang di harapkan oleh istriku.” Adrian melirik Vivian yang tersenyum padanya, lalu ia kembali menatap Safira yang kebetulan juga tengah menatap ke arahnya. Hal itu membuat Adrian tertegun sejenak. Safira telah tumbuh menjadi seorang gadis yang begitu cantik. Berbeda dengan Safira kecil yang ia temui 13 tahun yang lalu. Rambutnya memang panjang sejak kecil, tapi kulit gadis itu dulunya sedikit lebih gelap. Tidak seperti sekarang yang justru terlihat putih dan terawat. Wajahnya yang lugu tampak bersih, dengan bibir yang berwarna merah muda alami. Tiba-tiba saja pandangan Adrian jatuh ke bagian dada Safira yang tampak menonjol dari balik kemeja putih yang di kenakannya. Tampak padat dan kencang. Membuat Adrian diam-diam menelan salivanya. Bagaimana bisa Safira tumbuh menjadi gadis yang semenarik ini? Batin Adrian seraya terus mengamati tubuh Safira yang tampak molek dan menggiurkan. Adrian lalu berdehem pelan, berusaha mengalihkan perhatiannya dari tubuh Safira. Semoga saja ia bisa mengendalikan fantasi liarnya terhadap Safira ketika Vivian sedang meninggalkan rumah untuk bekerja keluar kota. “Oh iya, Safira. Minggu depan kamu bisa langsung masuk dan bekerja di perusahaan Om Adrian. Di divisi keuangan,” jelas Vivian sambil menatap Safira. “Kebetulan divisi itu akan dipimpin oleh Rafael begitu dia kembali dari luar negeri. Jadi nanti kamu akan banyak berhubungan dengannya juga.” Safira menoleh pelan. “Rafael?” “Iya. Putraku. Kalian pernah bertemu sewaktu kecil? Ingat?” Vivian tersenyum ke arah Safira. “Dia sebentar lagi lulus kuliah. Adrian sudah menyiapkan posisi manajer divisi keuangan untuknya. Aku harap ke depannya kalian bisa bekerja sama.” Safira mengangguk sopan. “Aku akan berusaha sebaik mungkin, Tante.” Di tengah perbincangannya dengan Vivian, diam-diam Safira menangkap pandangan mata Adrian yang sejak tadi terus menatap ke arahnya. Safira memberanikan diri untuk melirik, Adrian sedang meneguk anggur merah dengan gerakan pelan, matanya tetap tertuju padanya. Ada sesuatu pada tatapan itu. Sesuatu yang membuat wajah Safira panas, jantungnya kacau, dan tubuhnya gelisah. Vivian lalu mengantar Safira menuju kamar tamu. Meninggalkan Adrian yang masih sibuk menikmati segelas anggurnya. Lalu tak lama Adrian memilih pergi ke ruang baca. Percuma saja jika ia menunggu Vivian kembali, karena ia tahu, istrinya tidak akan pernah melakukan hal itu. Vivian jelas lebih suka menyibukkan diri di ruang kerjanya daripada menemani Adrian, meski hanya untuk sekedar mengobrol. Seperti itulah rutinitas yang selalu Adrian jalani bersama Vivian. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Vivian adalah seorang manager kontruksi di perusahaan milik orang tuanya. Dia sering berpindah lokasi proyek, bahkan sering meninggalkan rumah berbulan-bulan lamanya selama proyeknya berlangsung. Sementara Adrian merupakan CEO di perusahaan non-multinasional yang ia bangun sendiri. Perusahaan yang saat ini masuk ke dalam Top 10 perusahaan paling berpengaruh dalam negeri. Hal itu membuat Adrian dan Vivian jarang bertemu. Di tambah mereka juga jarang bertemu dengan Rafael, putra semata wayang mereka yang saat ini masih menempuh pendidikan di luar negeri. Jadi hubungan keluarga mereka hanya terlihat seperti formalitas saja. Bahkan Adrian merasa kata suami dan istri sudah tidak pantas lagi ia sandang bersama Vivian. Adrian merasa, ia dan Vivian seperti dua manusia yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Dan entah sampai kapan Adrian bisa menahan semua rasa itu sendirian. Hari semakin larut, Safira yang berada di kamar tamu sudah berganti baju, hanya memakai kaos tipis warna biru muda dan celana pendek yang kebetulan lebih nyaman dipakai tidur. “Ya Tuhan, sprei kasurnya wangi sekali. Apa setiap hari dicuci? Dan kasur ini juga empuk dan nyaman sekali. Pasti harganya sangat mahal,” gumamnya pelan, memeluk bantal yang empuknya berlipat-lipat dibanding bantal dari rumah lamanya. Safira sempat gelisah. Lelah perjalanan belum juga membuatnya mengantuk. Perutnya tiba-tiba terasa lapar. Ia menatap pintu, menimbang. “Kalau turun ke dapur… apa tidak aneh? Masih tamu baru, masa malam-malam sudah berani mencari makanan?” Tapi rasa lapar mengalahkan rasa malu. Safira akhirnya memberanikan diri keluar. Rumah sudah terasa sepi. Ia menuruni tangga perlahan, jantungnya berdetak kencang tanpa alasan jelas. Dapur rumah Adrian membuatnya ternganga. Meja panjang dari marmer putih, kulkas besar dua pintu yang bahkan ada layar digitalnya. Ia ragu-ragu membuka pintu kulkas, hampir tak berani menyentuh. “Banyak sekali makanan bahkan ada buah yang belum pernah aku coba,” gumam Safira, tercengang melihat buah beri berwarna ungu kehitaman. “Eh, ini bisa dimakan langsung atau tidak, ya?” Ia akhirnya mengambil segelas susu dari kulkas. Baru saja ia menuang, sebuah suara berat memecah kesunyian. “Kamu belum tidur?” Gelas di tangan Safira hampir terlepas. Susu menetes ke meja marmer. Ia buru-buru menoleh, Adrian berdiri di ambang pintu dapur, hanya mengenakan kaos hitam tipis dan celana panjang santai. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat semakin… berbahaya. Safira menunduk cepat, wajahnya panas. “Pak—eh, maksud saya, Om Adrian… saya sedikit lapar. Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu.” Adrian berjalan masuk, langkahnya pelan tapi berat. “Tidak apa-apa. Rumah ini rumahmu juga, kata Vivian.” Safira mencengkeram gelasnya dengan kedua tangan. Ia sadar betul kaos tipis yang ia pakai menempel di kulit karena udara dingin dari kulkas. Ia buru-buru mengembalikan botol susu itu pada tempatnya lalu menutup pintu kulkas. Sementara Adrian tampak membuka salah satu laci, mengambil sendok, lalu duduk di kursi dapur, menatap Safira tanpa tergesa. Tatapannya membuat Safira semakin salah tingkah. “Apa kamu sudah terbiasa tinggal di kota besar?” Tanya Adrian, suara rendahnya bergetar di udara. Safira menggeleng cepat. “B-baru pertama kali, Om. Semua terasa baru termasuk rumah ini. Bahkan dapurnya…” ia berhenti, tersipu, lalu menunduk. “Dapurnya lebih besar daripada ruang tamu rumah saya di kampung.” Adrian terkekeh pelan. “Kamu jujur sekali.” Safira menggigit bibir, merasa bodoh karena mengucapkan sesuatu yang polos. Ia buru-buru menenggak susunya, berharap bisa kabur ke kamar. Tapi saat ia melangkah mundur, kursinya nyaris tersenggol, menimbulkan bunyi gesek keras. “Pelan-pelan,” ucap Adrian, nadanya tenang, seolah menenangkan anak kecil. Safira hanya bisa mengangguk cepat, wajahnya merah padam. Ia merasa seperti gadis kampung yang baru pertama kali masuk rumah gedongan, dan sekarang malah salah tingkah di depan pemilik rumah yang karismanya menekan seluruh ruang. “Selamat malam, Om Adrian,” katanya tergesa, lalu hampir berlari kecil menuju tangga. Meninggalkan Adrian yang mengikuti kepergian Safira dengan tatapan tenang dan senyum tipis yang perlahan mengembang di sudut bibirnya.Adrian dan Safira melangkah masuk ke rumah hampir bersamaan. Mereka baru saja pulang bekerja. Hari pertama bekerja langsung menguras tenaga Safira. Jauh dari bayangannya tentang pekerjaan kantoran yang rapi dan ringan.Tanpa sadar ia menghela napas terlalu keras. Adrian yang berjalan lebih dulu menoleh.Pria itu menatap Safira yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu lelah, Safira?”“Eh, i-iya, Om. Sedikit,” jawab Safira jujur, berusaha tersenyum. “Ini pertama kalinya saya benar-benar terjun ke dunia kantor.”“Wajar,” kata Adrian tenang. “Nanti juga terbiasa.”Safira hanya mengangguk, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ingin makan malam, rupanya dapur masih kosong. Tidak ada seorang pun di sana. Namun, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.Safira baru ingin duduk saat ia mendengar langkah kaki berat memasuki ruang makan. Ia menoleh, menatap Adrian yang baru memasuki ruang makan.“Makan, Safira.” Pria itu berujar santai. Lalu menarik kursi tempat bia
“Aku harus menjawab ini sekarang.” Vivian bangkit dari sisi ranjang, meraih ponselnya di atas nakas. “Aku akan berada di ruang kerja. Kalau mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku,” imbuhnya lembut, disertai senyum yang terasa sekilas, lalu pergi.Adrian tidak bereaksi. Ia hanya menatap punggung istrinya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup pelan. Ia di tinggalkan dalam kondisi setengah terbakar, hanya demi sebuah panggilan.Panggilan yang belakangan ini terasa terlalu sering. Terlalu penting.Tapi Adrian sudah tidak heran. Ini bukan kali pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ia kalah oleh suara dari seberang sana.Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Menunggu Vivian kembali terasa sia-sia. Ia tahu, besar kemungkinan malam ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dirinya sendirian, dengan hasrat yang kembali di pendam.***Safira menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Hari ini ad
Sore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian.Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya.“Safira, kamu sedang apa?”Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya. “A
Pagi itu Safira terbangun oleh cahaya yang menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia mengerjap pelan, menyadari terang yang berbeda. Bukan lagi sinar lembut dari jendela rumah lamanya, melainkan cahaya kota yang putih, hangat, dan asing.Setelah membersihkan diri, Safira langsung memilih untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia merasakan suasana yang berbeda. Rumah terasa sunyi. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Dari lantai bawah terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Safira menuruni tangga dengan hati-hati.Di ruang makan, Adrian duduk dengan setelan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Sebuah tablet tergeletak di samping cangkir kopinya.Safira refleks berhenti melangkah.Adrian mendongak, dan tanpa sengaja tatapan mereka saling bertaut. Safira terlihat begitu cantik alami, segar, dengan wajah polos tanpa sentuhan riasan apapun. Ada kelembutan yang jujur terpancar dari sorot matanya, sesuatu yang jarang sekali ia temukan. Berbeda dengan Vivian yang selalu tampil sempu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.