Home / Young Adult / Ajari Aku Ciuman, Mas CEO / Bagian 120 - Kesempatan Kedua

Share

Bagian 120 - Kesempatan Kedua

Author: Daisy
last update Last Updated: 2025-11-10 13:12:55

“Aku habis berenang, Bang di kolam renang umum. Biar seger hehe.”

Nada ringan itu terdengar terlalu dibuat-buat di telinga Arsen. Sama seperti kemarin, jawaban yang tidak masuk akal, senyum yang sama, tapi ada sesuatu yang tidak sama dari sorot mata Biya.

Ada tenang yang aneh, tenang yang justru membuat Arsen ingin bertanya lebih jauh. Tapi sayangnya si abang menahan diri. Untuk sekarang, akan lebih baik fokus pada pengajuan banding, bukan pada sesuatu yang bahkan belum bisa di jelaskan.

Namun malam itu, ketika Arsen lewat di depan kamar Biya, langkahnya terhenti. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, dan sosok adiknya duduk di tepi ranjang, dengan rambut tersingkap sebelah. Arsen melihat tanda merah samar yang sejujurnya sejak kemarin adiknya itu memakai syal kecil- yang Arsen kira itu sebagai fashion saja.

"Biya?" panggilnya pelan dari depan pintu.

Tubuh adiknya itu menegak cepat, bahunya kaku, lalu buru-buru menarik rambutnya agar menutupi semua sisi lehernya.

"Bang? Belum ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 162 - Kali ini, Izinin Aku

    Bagas mengembuskan napas pendek, hampir seperti tawa kecil yang tidak selesai. “Kamu sempat-sempatnya mikirin jambang saya,” gumamnya, menatap Biya dengan campuran lelah dan hangat.Biya menyandarkan keningnya ke bahunya, suaranya lebih tenang kini, meski napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Aku lihat kamu makin mirip singa. Tambah keliatan galak, tapi... ya, Mas tahu sendiri lah.” Ia mengerling. “Suka ganggu pipiku kalau ciuman.”Bagas terdiam sejenak. Bukan karena komentarnya, tapi karena cara Biya mengatakannya seolah bukan hal yang besar. Ya, meskipun mereka memang sudah sering berciuman bahkan lebih, tapi Bagas menyadari bahwa perempuan itu kian berani.Tangannya yang bebas bergerak naik ke belakang kepala Biya, jari-jarinya masuk ke rambut perempuan itu. “Kamu ini, enteng banget ngomong begitu.”“Dih, emang kenapa kan sudah sering ciuman, masa Mas malu,” jawab Biya tanpa ragu.Ada jeda. Bagas tidak tahu harus bagaimana menanggapi jawaban frontal itu. Biya menarik tubuhnya tu

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 161 - Akan Saya Turuti

    Bagas menyerah total pada hembusan panas yang menyapu tubuhnya, mata setengah terpejam menangkap kilauan nakal di mata Biya. Tangan kanannya terikat selang infus, menetes pelan seperti pengingat rapuhnya kondisi tubunya."Biya nghh, sayang, sa-saya tidak bisa," geramnya rendah.Suara serak bergetar saat jemari mungil itu membelai lebih dalam, menggenggam kejantanan yang sudah membengkak, panas dan berdenyut di telapak tangannya. Setiap gesekan lambat itu menyulut saraf-sarafnya, membuat pinggulnya bergoyang insting ke arah genggaman itu.Biya tak bicara banyak dan hanya tersenyum samar, bibir merahnya melengkung penuh godaan sebelum menyerbu lagi dengan ciuman yang liar. Lidahnya menyusup masuk, menyapu setiap relung mulut Bagas, mencuri napasnya dalam tarikan panjang yang membuat dada pria itu naik-turun hebat."Mas, mmh, kamu udah basah banget," bisiknya di sela-sela.Suara manja pecah oleh desahannya sendiri saat tangannya mulai bergerak perlahan dulu dari pangkal yang tebal hingga

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 160 - Tidak Ingin Kembali

    “Aku nggak mau balik ke Indonesia,” ucap Biya setelah hening yang menyelimuti keduanya.Bagas menatapnya, kali ini lembut dan sudah mengantisipasi bahwa jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut manis Biya. Mau bagaimanapun Bagas mengakui betul kesalahannya dan kalaupun memang sesaat tidak apa, tapi setidaknya izinkan pria yang penuh dosa itu menebus dengan cara yang ia percayai bisa efektif.“Itu artinya-““Artinya aku nggak mau balik ke Indonesia,” potong Biya.Terdengar helaan nafas berat dari Bagas, jemari besar itu naik untuk mengelus rambut hitam yang agak berantakan karena bangun tidur. Tidak ada respon hanya tubuhnya yang sedikit mengerat di bagian pelukan di pinggang si perempuan.“Tapi aku juga nggak mau pisah sama kamu, Mas,” lirih sekali.Bagas menghentikan elusaanya dan jemari itu berpindah ke dagu Biya, mengangkatnya untuk bisa menatap mata si perempuan yang masih setia memeluknya.“Kamu...” tidak ada yang keluar, Bagas tercekat, “tolong jelaskan, Biya. Saya sedang

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 159 - Memaksa Mengingat Luka

    Nando tidak langsung menanggapi. Ia menatap Bagas lama, cukup lama untuk membedakan apakah pernyataan itu sekadar rasa bersalah atau sebuah obsesi yang dibungkus penebusan.“Pak,” akhirnya ia membuka suara, pelan tapi jernih, “yang Bapak inginkan itu terdengar seperti permintaan maaf, tapi juga seperti hukuman.”Bagas membuka mata, menoleh sedikit. “Bukan itu maksud saya.”“Tapi itulah yang terdengar,” respon Nando dengan hati-hati, “seolah Bapak ingin Nona Biya melihat bahwa Bapak adalah orang yang menghancurkannya. Bapak ingin Nona Biya mengingat luka itu secara jelas sebelum menerima Bapak.”Tatapan Bagas mengeras samar, bukan marah, melainkan defensif, tanpa sadar.“Bukankah itu jujur?” Bagas membalas lirih.“Kejujuran, iya. Tapi apakah itu sehat untuk Bapak dan untuk Nona Biya? Itu adalah hal yang berbeda,” jawab Nando.Bagas menunduk, kedua jarinya saling menekan, seperti sedang berusaha menahan sesuatu yang ingin pecah dari dadanya. Nando melanjutkan, lebih tajam namun tetap me

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 158 - Niat Kembali

    “Maaf, Pak. Ada beberapa hal yang masih harus saya urus sebelum kemari,” ucap seseorang yang sudah ditunggu sejak tadi.Nando, sekretaris Bagas selama di Indonesia yang kini dipercayakan Bagas untuk menjadi CEO sementara. Pria itu memang ada di Italia sejak dua minggu lalu untuk membicarakan sesuatu dengan Bagas.“It’s fine,” jawab Bagas sambil mencoba duduk dan bersandar, Nando segera membantu atasannya itu untuk menaikkan kepala ranjang menjadi sandaran yang nyaman.Bagas mengerti betul bahwa posisi yang sedang dijalani Nando tidak mudah. Jadi menunggu hingga malam hari seperti ini tidak masalah.“Tapi, Pak. Kenapa Nona Biya tidur di depan?” pertanyaan Nando sontak membuat Bagas mengernyitkan dahi.Bukankah Biya sudah pulang? Gadis itu seharusnya sudah berada di apartemennya sendiri sejak siang tadi. Sejak Bagas mengusirnya karena merasa kalut dan kepala panas. Bagas langsung turun dari ranjang dan Nando bergegas membantunya.“Bapak mau kemana?” tanya Nando sambil memegangi lengan p

  • Ajari Aku Ciuman, Mas CEO   Bagian 157 - Ruangan Panas

    3 hari menginap di rumah sakit membuat tubuh Biya benar-benar pegal. Apalagi, dirinya harus tidur di sofa atau kursi. Meski Bagas berulang kali mengatakan untuk tidur bersamanya di ranjang, tapi Biya menolak keras mengingat luka pria itu benar-benar memilukan baginya.“Saya mau pulang,” ucap Bagas.Bahkan sejak kemarin, pria itu terus menggaungkan kalimat itu, yang mana masih di bantah dengan halus oleh Biya. Namun, semakin lama semakin menyebalkan, apalagi setelah pembicaraan Bagas dan Arsen tempo hari membuat pria itu bersikap aneh.“Nggak bisa. Tunggu dokter dulu. Kamu kenapa sih, Mas. Rewel banget.”Sudah. Keluar semua emosi yang terpendam akibat pegal badan, pusing kepala, desakan Abangnya. Sekarang, pria yang begitu dicintainya membuatnya semakin pusing dengan permintaan yang jelas tidak akan langsung dikabulkan oleh pihak rumah sakit.“Saya tidak tahu kalau ternyata saya rewel buat kamu,” merasa menjadi korban adalah alat andalan bagi Bagas sejak kemarin.Benar sih, memang korb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status