LOGINUntuk memperbaiki akhlak anaknya yang sudah rusak, orang tua Ezra sengaja menitipkan Ezra di kampung, di rumah mantan asisten rumah tangganya. Lantas, apakah Ezra sang anak kota metropolitan bisa beradaptasi dan betah hidup di kampung yang masih jauh dari kata modernisasi? Dan apakah Ezra bisa menaklukkan hati seorang gadis yang sangat dingin dan acuh padanya? Tantangan untuk Ezra dimulai dari sekarang!
View MoreRaisa terhenyak saat dirinya diminta untuk ikut memandikan jenazah bu Sapto. Padahal dia baru beberapa kali, mengikuti pelatihan itu bersama emak haji.
"Kenapa harus saya, Bu? Yang lain 'kan bisa," elak gadis manis itu.
"Enggak ada orang. Emak haji lagi pulang ke Padang. Bu Titin ada hajatan di rumahnya. Mbah Sarji sakit, jadi cuman ada kamu, biar dibantu dengan ibu-ibu masjid," ucap Bu Marto panjang lebar.
Dia berusaha meyakinkan gadis itu. Raut wajahnya berubah. Dirinya tak yakin, jika harus menerima permintaan ini.
"Kasihan jenazah Bu Sapto!"
"Tapi, selama ini saya selalu sama Emak Haji."
"Raisa, enggak baik menolak. Ini tentang orang meninggal. Bukan hal bersenang-senang!"
Gadis itu mulai berpikir. Ada pertarungan dalam benaknya. Antara menerima atau menolak. Namun, dia sudah berjanji pada neneknya, emak haji. Jangan pernah menolak jenazah untuk dimandikan. Siapa pun!
Dengan berat hati, akhirnya dia menerima. Raisa bergegas mengganti pakaian dan menyambar tas kecil.
Hatinya selalu berdoa. Ini adalah pengalaman pertama baginya terjun langsung, tanpa ada emak haji di sisinya.
"Aku pasti bisa! Pasti bisa ...!"
*
Suasana rumah Bu Sapto sudah banyak pelayat yang berdatangan. Berbagai kelengkapan untuk mandi sudah dipersiapkan.
Kali ini, Raisa nampak tegang. Wajahnya hampir tak bisa tersenyum. Kala jenazah sudah memasuki ruang pemandian. Jantungnya semakin berdebar kencang.
"Bismillah."
Saat kain jarik yang menutupi tubuhnya terbuka, bau busuk dan anyir menjadi satu. Ada beberapa luka di bagian kaki dan kuku tangan. Kata mereka karena diabetes yang diderita. Bagian pergelangan tangan pun terlihat parah.
Berulang kali gadis itu, membaca doa dalam hatinya. Dia mulai mengikuti tata cara memandikan jenazah yang diajarkan selama pelatihan.
Setelah mencuci rambut, membersihkan bagian vital serta kuku dan tubuh. Raisa yang dibantu oleh dua orang ibu pengurus masjid dan satu orang keluarga, mulai menutupi mayat dengan kain jarik.
Ketika hendak diangkat dan dibawa masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba, benang jilbabnya seperti terkait pada sesuatu. Saat dia lihat, benang itu terkait pada kuku jempol tangan bu Sapto yang panjang.Sontak membuat gadis itu sangat terkejut. Saat dia mau mengatakan pada orang-orang, keburu mayat sudah di angkat untuk masuk ke dalam rumah.
"Astagfirullah!" ucapnya.
Kuku itu terlepas, dan menempel diantara renda jilbabnya. Raisa menjadi panik. Dia berusaha untuk menarik kuku dari sela benang yang terurai.
Belum sampai dia mengambil, kuku itu sudah tak terlihat. Kemungkinan terlepas dan terjatuh. Raisa kelimpungan mencari benda kecil itu. Dia mulai panik.
"Uuups! Di mana kuku itu?" gumamnya lirih.
"Kamu cari apa?" tegur Bu Marto.
"Eeeh, ca-cari kuku Bu," jawabnya dengan melihat ke lantai.
"Kuku siapa?"
"Kuku Bu Sapto," bisik Raisa lirih.
"Haaaaa! Apa?" teriak wanita itu kencang.
Raisa mengabaikan wanita itu, yang masih syok mendengar ceritanya. Kemudian, Bu Marto menarik lengannya kuat.
"Kamu apa ndak takut? Hati-hati kamu dihantuinya," jelas Bu Marto.
"Makanya Ibu bantu saya cari!"
Mereka berdua terus mencari benda sangat kecil, yang hampir tak terlihat itu. Mustahil mereka akan menemukannya, disaat para pelayat semakin banyak berdatangan.
"Gimana Bu Marto?"
Raut wajah Raisa terlihat tegang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
"Enggak usah dicari, pasti enggak ketemu," ujar Bu Marto.
"Ta-tapi, apa enggak jadi masalah?"
Terlihat wanita itu mengernyitkan dahinya. Dia pun bingung menjawab apa atas pertanyaan yang terlontar pada Raisa.
Gadis itu masih mendongak ke arah Bu Marto. Sambil menunggu jawaban.
"Gimana Bu?"
"Semoga enggak apa-apa Sa."
"Maksud Ibu?
"Yah, enggak akan terjadi apa-apa."
Suara Bu Marto terdengar bergetar. Sesekali dia melena ludahnya sendiri.
"Bu Marto kok diam saja? Kenapa?"
"Ehhh ... cuman kaget soal kuku tadi. Kamu kalau mau ganti baju pulanglah!"
"Iya, Bu. Saya pulang dulu."
Setelah itu, Raisa berpamitan pulang untuk mengganti pakaiannya yang basah. Sepanjang perjalanan, dia merutuki dirinya yang sial.
"Kenapa kuku itu harus terselip diantara benang jilbabnya?"
'Emak Haji, apa yang harus Raisa lakukan sekarang?' bisiknya dalam hati.
*
Malam ini, gadis itu masih gelisah. Dia tidak bisa tenang. Ingin bercerita pada bapak, tapi dia mengurungkan niatnya. Raisa tak ingin di salahkan. Apalagi bila keluarga Bu Sapto yang mendengar. Atau warga desa Bu Sapto.
Cukup lama Raisa terduduk di atas kasur, dengan mendekap lututnya. Seperti teringat sesuatu, dia mengambil sebuah gunting dan tas plastik.
Raisa berjalan ke ruang belakang, mencari jilbabnya yang sudah tertumpuk pakaian kotor. Dia berniat mencuci bersih, setelah itu membuangnya.
Saat mencuci, telapak tangannya merasakan duri tajam yang menusuk walau tidak sakit. Sontak kedua matanya terbelalak, manakala melihat kuku itu ternyata terselip dibalik renda.
"Aaaahhh!"
Dia mendengkus kasar. Seolah mempersalahkan dirinya yang kurang teliti. Gadis itu mengambil kuku Bu Sapto. Kemudian dia letakkan dalam kantong plastik kecil dan mengikatnya.
Tak lupa juga Raisa, membungkus jilbab yang masih basah. Berjalan keluar rumah untuk membuangnya ke tempat sampah.
Namun, dia merasakan seperti ada seseorang yang mengikuti dari arah belakang. Seketika itu dia menoleh. Tak terlihat ada siapa pun.
"Aneh. Aku kok merasa ada seseorang tadi. Kayak ada suara orang berjalan?"
Pandangan matanya berpendar mengelilingi seluruh halaman rumah. Cukup lama dia terdiam dan mematung.
"Mungkin cuman perasaan aku aja."
Buru-buru Raisa kembali masuk ke dalam rumah. Adik dan bapaknya sibuk menonton televisi. Gadis itu masuk ke dalam kamar kembali. Plastik yang berisi kuku bu Sapto, diletakkannya bersebelahan dengan Alquran.
Entah apa alasannya?
Dia mulai merebahkan tubuhnya yang penat. Raisa berpikir besok pagi, akan menguburkan kuku itu.
"Besok pagi akan aku kuburkan di makamnya. Semoga semua baik-baik aja."
Terdengar hembusan napas berat. Berulang kali dia menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa ini terjadi sama aku ya Allah? Kok bisa kuku itu terselip di jilbab aku? Kok bisa?"
Tampak dia memukul kepalanya berulang kali. Sembari sesekali melirik ke atas lemari. Tempat kuku itu dia taruh.
"Aku memang sembrono! Terlalu grusa grusu."
Perasaan Raisa semakin tidak tenang. Kegelisahan itu semakin jelas terpancar dari mimik wajahnya.
Dia membalikkan tubuhnya menghadap jendela kamar.
"Haaahhhh!"
Terdengar helaan napas yang terasa berat. Berulang kali terdengar.
Tiba-tiba ....
Raisa seperti merasa ada yang aneh. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding.
Tangannya bergerak ke arah belakang. Mengusap tengkuk berulang kali.
Raisa mulai merasakan bagian punggung terasa hangat. Seperti hangatnya hembusan napas.
Deg!
Ada desir aneh menyelinap dihatinya. Semakin membuat tubuhnya bergidik.
"Aa-ada apa di belakangku ini?" Gadis itu langsung berbalik, dan seketika jantungnya berhenti berdetak. Mulutnya terbuka lebar.
"Haaaahhh!"
Matanya terbelalak. Tanpa bisa dia mengerjap sedikit pun.
"Ka-kamu ...?"
*
Follow my IG Raifiza_lina
Baca juga ELEGI WANITA KEDUA, GEISHAKU KARMILA, THE DUKE WILLIAM (9 ISTRI)
"Bu, keluarga Pak Rohili digerebek polisi!" Pak Kuswan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Bu Mimin yang sedang berada di dapur bersama ibu-ibu lainnya yang sedang memasak daging karena hari ini sedang akikah Wulan sebelum lima hari lagi hari pernikahannya."Yang benar, Pak?" tanya Bu Mimin. Semua orang menghentikan kegiatan masak memasak itu."Benar, Bu. Bapak tahu kabarnya dari Pak RT. Ayo kita segera ke sana, katanya Kang Saepuloh juga sama digerebek."Bu Mimin bergegas menuju ke rumah Pak Rohili dan Kang Saepuloh. Sementara ibu-ibu melanjutkan kegiatannya sambil bergosip, menunggu kabar lainnya dari orang-orang. Wulan yang sedang dalam masa dipingit langsung keluar rumah, berlari bersama adiknya untuk menyusul kedua orang tuanya.Dan benar saja, di rumah Pak Rohili dan Kang Saepuloh yang memang bersebelahan itu kini sedang banyak orang yang menonton karena penasaran. Pak Rohili, Kang Saepuloh dan beberapa anak buahnya ikut ditangkap, mereka sekarang sedang digiring menuju ke mobil
Ezra banyak melamun setelah selesai belajar. Beberapa bulan ini dirinya memang benar-benar kacau, bahkan sekarang Ezra menjadi perokok berat. Biasanya ia hanya merokok sedikit, kemudian ia berhenti merokok ketika berpacaran dengan Wulan tetapi setelah putus Ezra hampir menghabiskan sehari sebungkus.Ceu Itoh merasa prihatin melihat anak majikannya itu yang sedang putus cinta. Waktu putus dulu dengan Feodora, Ezra tidak segalau ini. Galau dia hanya sebentar, tidak berlarut-larut. Tapi ini dengan Wulan? Hampir setengah tahun ia galaunya."Den, sini makan. Dua hari lagi, kan, Aden mau Ujian Nasional, Aden jangan terlalu banyak pikiran biar nanti apa yang sudah dihapal dan dipelajari tidak hilang dari kepala.""Iya, Mbok, nanti."Ponsel Ezra berbunyi. Mamanya menelpon dan memberi kabar ada kampus yang cocok untuk Ezra di Swiss. Hmmm... sepertinya Ezra sudah mulai mempersiapkan diri untuk kuliah di luar negeri karena kelapa sekolah merekomendasikan universitas di dalam negeri untuk Ezra te
Wulan mengurung diri di kamar, sudah dua hari ia tidak pergi ke sekolah, makan juga hanya beberapa suap. Orang-orang yang ada di rumah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Berbagai macam bujukan sudah mereka lakukan tetapi tetap tidak mempan.Ezra juga tidak berhenti mendatangi rumah Wulan, memaksa dan memohon kepada Pak Kuswan dan Bu Mimin supaya mempertemukan Ezra dengan Wulan tetapi mereka tetap tidak bisa melakukannya karena Wulan tidak ingin. Kedua orang tua Wulan sudah menjelaskan pada Ezra apa yang sebenarnya sedang terjadi.Kedua orang tua Wulan beralasan kalau Wulan mutuskan hubungannya karena Wulan sudah dijodohkan pada cucu kenalan dari kakeknya. Waktu lebaran juga Ezra sudah bertemu dengan kakek Wulan yang dari luar kota. Kakek Wulan sengaja berlebaran di sini karena sudah lama tidak mudik ke Desa Pacima."Tapi saya ingin mendengar penjelasannya dari Wulan, Bu.""Walaupun Wulan menjelaskan, penjelasannya akan tetap sama, Nak Ezra.""Tapi, Bu...""Nak Ezra, Ibu tidak bermaksud
Anak buah Kang Saepuloh tiba-tiba sudah ada di sawah milik Pak Kuswan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi Neni sangat penasaran. Sayangnya ia tidak bisa mendekati mereka karena takut dirinya dijadikan target sebagai calon istri barunya Kang Saepuloh, amit-amit kalau sampai diincar juga oleh ayahnya, Pak Rohili. Aki-aki peot yang masih doyan daun muda, orang yang tidak tahu umur yang hampir uzur.Hampir sepuluh menit mereka berbicara, kemudian anak buah Kang Saepuloh pergi dari saung sawah milik Pak Kuswan. Bu Mimin tertunduk lesu sedangkan Pak Kuswan berkacak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Apa ini? Apa ini? Kenapa wajah mereka terlihat sangat frustrasi?"Bu, Neni sudah bawa minum," ucap Neni setelah tiga menit ia bersembunyi. Pura-pura tidak tahu kalau tadi ada yang datang mengancam."Cepet banget bawanya," ujar Bu Mimin, mencoba bersikap biasa saja."Iya. Oh ya, Teh Wulan sama Rukman di mana?""Ada di bawah lagi nyari tutut."Neni mengangguk. Ia kemudian turun ke b
Namanya Wulan Cayarini, anak kelas X-1. Wulan ini teman semasa kecil dari Emin, pantas saja Emin tahu nomor telepon gadis itu tetapi Emin tidak memberikan nomor telepon Wulan padahal dari kemarin Ezra memintanya. Alasannya karena Emin memang tidak pernah membawa ponsel ke sekolah, ditulis di secari
Terhitung sudah tiga hari Ezra bersekolah di SMA Wilalung, selama itu pula Ezra menjadi sorotan dan pusat perhatian orang-orang. Kelas Ezra juga sering dikunjungi oleh murid-murid dari kelas lain, termasuk murid kelas sebelas dan kelas dua belas yang tidak mau ketinggalan. Paling banyak yang datang
Membosankan, gerutu Ezra dalam hati.Saat ini dirinya tengah berkeliling di sekolah barunya bersama kepala sekolah dan kedua orang tuanya.Alasan kenapa Ezra terlihat badmood karena tadi pagi-pagi sekali sekitar pukul lima pagi dirinya harus mandi di empang. Itu karena dipaksa oleh mamanya, kata Bu
"Sudah hampir sepuluh tahun, ya, Mbok dan Mang Dasa berhenti bekerja di rumah kami," ucap Pak Willy sambil menyeruput kopi hitam yang tadi disajikan oleh Ceu Itoh."Si Bungsu ke mana, Mbok?" tanya Bu Hannah."Dia sekarang lagi ke sekolah. Sebentar lagi juga pulang."Tidak berapa lama, sekumpulan an






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews