Chapter: Bagian 175 - Welcome, The End"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Terakhir Diperbarui: 2025-12-18
Chapter: Bagian 174 - Saya Sangat MampuBiya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Terakhir Diperbarui: 2025-12-17
Chapter: Bagian 173 - Not YetTidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Terakhir Diperbarui: 2025-12-16
Chapter: Bagian 172 - Happy EndingBagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
Terakhir Diperbarui: 2025-12-15
Chapter: Bagian 171 - Danau Como, ItaliaDua minggu kemudian.Matteo menyandarkan tubuhnya di balkon vila kecil di pinggiran Danau Como, Italia. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Tempat itu tidak ramai, tidak pula berlebihan, tenang, intim, dan terlalu indah untuk disebut kebetulan.“Bapak yakin Ms. Biya tidak akan curiga?” tanya Matteo sambil menyesap espresso-nya.Bagas berdiri di sampingnya, jas tipis berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. “Dia pikir ini hanya makan malam biasa.”Matteo mengangguk pelan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi Ms. Biya sampai. Saya sudah atur kapal kecilnya berlabuh di dermaga pribadi. Tidak ada tamu lain.”Bagas tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada danau yang berkilau, tapi jelas pikirannya tidak sedang di sana. Ada ketegangan tipis di bahunya karena hari ini, ia berniat untuk melamar Biya dengan layak dan pantas, tidak sepertinya waktu itu di pantry pagi hari.Bagas terkekeh dengan aksinya terlalu im
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14
Chapter: Bagian 170 - PillowTalkBiya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung menuju Bagas, menatap dengan keterkejutan yang membuat Bagas tersenyum.“Aku nggak cemburu. Ngapain juga cemburu? Ke siapa juga lagian,” ucapnya lirih.Bagas menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu melanjutkan mengelus rambut Biya dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada respon dari pria itu yang membuat Biya kesal.“Saya akan anggap kamu sudah jujur,” desah Bagas.“Aku serius,” suara itu mulai meninggi dan bukannya menakutkan justru menggemaskan.Bagas akhirnya mengangkat selimut sedikit lalu turut berbaring di samping perempuannya. Menarik tubuh mungil itu, menyelipkan lengan kanan di bawah kepala Biya dan memeluk erat. Biya terdiam sesaat ketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bagas.“Aku beneran nggak cemburu,” ulangnya lebih pelan, kali ini nyaris berbisik. “Kalau kamu dekat sama Valerie secara profesional, itu bukan urusanku.”Bagas menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Biya. “Justru itu yang ingin saya pastikan,” kat
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14
Chapter: Bab 103 - Pelarian di Atas AwanSuasana di dalam helikopter yang membawa mereka menuju bandara khusus begitu hening, hanya deru baling-baling yang memecah keheningan sore itu. Sagara tidak melepaskan dekapannya pada Aruna sedetik pun. Wanita itu tampak meringkuk kecil dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sagara.Sagara menatap ke bawah, melihat kemacetan Jakarta yang perlahan mulai mengecil. Rahangnya masih mengeras. Kata keluarga yang diucapkan tadi terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di benaknya.Siapa? Apakah ini tentang perebutan warisan? Ataukah ada pihak yang merasa Aruna adalah titik lemah yang bisa digunakan untuk menjatuhkan bisnisnya?"Pak, kita akan mendarat dalam tiga menit. Pesawat jet pribadi sudah siap di landasan," suara pilot melalui intercom membuyarkan lamunannya.Sagara hanya mengangguk singkat, lalu melirik Aruna yang tampak memejamkan mata, meskipun napasnya masih sulit."Na," bisik Sagara lembut sambil mengusap jemari Aruna yang masih sedingin es. "Sebentar lagi kita samp
Terakhir Diperbarui: 2026-02-23
Chapter: Bagian 102 - Detik-detik MenegangkanKalimat terakhir Rania barusan bagaikan petir yang menyambar langsung ke pusat syaraf Sagara.Dang!Jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik sebelum kemudian berpacu dengan kencang. Efek provokasi Rania bekerja dengan sempurna."Budi! Urus sisanya!" teriak Sagara tanpa menoleh lagi.Pria itu melesat keluar dari ruang interogasi dengan langkah lebar yang hampir menyerupai lari kecil. Di belakangnya, Budi tampak terkejut namun segera memerintahkan anak buahnya untuk memperketat penjagaan pada Rania."Sagara! Tunggu!" seru Budi, namun Sagara sudah menghilang di balik pintu kaca markas kepolisian.Sagara merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, lalu segera menghubungi Nando, salah staf yang diperintahkan untuk menjaga Aruna selagi dirinya pergi. Satu nada sambung, dua nada sambung..."Selamat siang, Pak Sagara," suara Nando terdengar di seberang sana." Nando! Di mana posisi kamu sekarang?!" bentak Sagara saat ia sudah berada di dalam mobilnya.Pria itu segera menyalakan mesi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 101 - Tikus LainSagara terdiam sejenak mendengar permintaan Aruna. Bandung. Mengingat beberapa hari lalu, mereka sudah ke Bandung untuk mengantar orang tua Sagara bertemu keluarganya setelah sekian lama menetap di Swiss.Pria itu mengeratkan dekapannya, mencium puncak kepala Aruna dengan lembut."Bandung? Kita kan sudah ke sana, Sayang. Memang kamu nggak bosan?” tanya lembut Sagara.Aruna menyandarkan kepalanya di dada bidang Sagara, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini sudah jauh lebih tenang dibandingkan beberapa jam yang lalu."Aku cuma mau udara segar, Sa. Mau ketemu banyak orang baru biar kita bisa rileks dari kebisingan di sini. Mau ya?” Aruna mendongak untuk meminta persetujuan pria itu, kekasihnya.Sagara menarik napas panjang. Rasanya tidak mungkin, tapi melihat binar mata itu yang terbit, membuat Sagara tidak tega untuk menolak.“Bagaimana kalau tunggu kabar dari Budi lebih dulu? Kita pastikan dulu kalau Rania akan mendapat hukuman yang sepadan,” tawar Sagara.Rasanya hati tidak te
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Bagian 100 - Runtuhnya Istana PasirPukul tujuh pagi, udara Jakarta biasanya sudah mulai pengap oleh polusi, namun di dalam lobi apartemen mewah kawasan Sudirman, suasananya terasa sedingin es. Sagara berdiri di tengah lobi dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan mahalnya. Di belakangnya, Max dan dua pengacara dari firma hukum terkemuka berdiri dengan dokumen-dokumen di tangan.Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul. Rania keluar dari lift dengan langkah terburu-buru, mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang melilit lehernya. Wanita itu tampak sedang mencoba melarikan diri dengan sebuah koper kecil diseret oleh asisten pribadinya yang gemetar ketakutan.Langkah Rania terhenti seketika saat melihat Sagara. Rania mencoba mempertahankan sisa-sisa keangkuhannya, meski bibirnya tampak sedikit bergetar."Sagara? Pagi-pagi begini sudah di sini? Sepertinya kita sudah tidak ada urusan lagi kan? Aku sedang terburu-buru ada jadwal ke Singapura," ucap Rania dengan nada yang dipaksakan ceria.Sagara tidak
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Bagian 99 - Bayang-bayang Dibalik PintuSagara menerjang pintu kamar dengan kencang. Jantungnya berdentum keras, memompa amarah dan ketakutan yang sudah bercampur aduk. Pria itumenyentak daun pintu hingga terbuka lebar, sesegera mungkin matanya menyapu koridor suite yang remang-remang.Kosong.Hanya ada keheningan koridor hotel yang dingin dan karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Sagara keluar, menoleh ke kiri dan ke kanan. Ujung koridor yang panjang tidak menunjukkan tanda-tanda ada orang yang melarikan diri.Namun, satu hal yang pasti bahwa foto itu baru saja diambil."Sialan!" desis Sagara.Pria itu segera kembali ke dalam dan mengunci pintu kamar dengan semua sistem pengaman yang ada- kait manual, kunci elektronik, hingga menaruh kursi berat di balik pintu.“Bajingan,” desis Sagara lagi dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.Pria itu menghampiri ranjang di mana Aruna masih tertidur dengan napasnya teratur, tetapi raut wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan. Sagara bernapas lega, tapi tangannya yan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Bagian 98 - TerungkapMalam itu, suasana di dalam mobil Sagara terasa sangat kontras dengan deru mesin yang dipacu kencang. Aruna duduk bersandar di kursi penumpang, matanya menatap kosong ke luar jendela. Tangannya masih memegang erat tas kerjanya, pikiran dan tubuhnya masih mengingat jelas bagaimana kejadian yang baru saja menghantamnya.Sagara sesekali meliriknya, rasa bersalah terus menghujam dadanya setiap kali ia melihat goresan ketakutan yang belum hilang dari wajah perempuan itu."Kita ke hotel saja. sekalipun apartemen tidak diketahui tapi bisa jadi teror juga akan muncul di sana. setidaknya hotel memiliki keamanan yang cukup ketat," suara Sagara memecah keheningan.Aruna tidak menjawab, perempuannya hanya mengangguk lemah. Menuruti semua keinginan Sagara yang mana menguarkan aura mengerikan. Meski tidak menunjukkan, tapi Aruna tahu bahwa pria di sampingnya itu tengah marah.Sagara segera mengarahkan mobilnya menuju salah satu hotel bintang lima dengan keamanan tingkat tinggi. Sepanjang jalan, pon
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12

Di Balik Pintu Gelap Diplomat
Maira, mahasiswi riset berusia dua puluh lima tahun, mengira tugas lapangannya di Abu Dhabi hanya akan berupa wawancara dan observasi budaya. Namun segalanya berubah ketika ia ditempatkan langsung di bawah pengawasan Wisnutama Adnan Bin Malik- seorang diplomat yang dikenal disiplin, nyaris tanpa emosi, dan memiliki reputasi berbahaya yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Perjumpaan pertama mereka membuat Maira sadar satu hal bahwa pria ini bukan tipe yang bisa ditebak atau dilawan.
Terlambat satu menit saja, Wisnutama menatapnya seolah ia sudah melakukan kesalahan fatal. Terlambat satu detik pun, ia mengucapkan kata hukuman tanpa berkedip. Maira tidak tahu apakah ia sedang diuji, atau sedang ditarik masuk ke dunia kerja Wisnutama yang dingin, tajam, dan teratur seperti garis map diplomatik.
Namun yang tidak pernah ia duga, semakin lama ia bekerja di dekatnya, semakin jelas bahwa pria itu tidak sesederhana atau sesuci yang terlihat. Dan ketika Maira mulai menyadari bahwa dosennya menghilang tanpa jejak, penempatannya terasa janggal, dan Wisnutama terlalu tahu banyak tentang dirinya.
Di antara koridor kantor diplomatik, ruangan kaca gelap lantai delapan belas, dan tatapan yang selalu menguji, Maira harus memutuskan.
Melarikan diri atau mengikuti pria itu lebih jauh, meski ia tahu Wisnutama punya cara tersendiri untuk menahan siapa pun yang menarik perhatian.
Baca
Chapter: Bagian 42 - Puncak Tekanan di Ruang Bawah TanahDengan jemari yang masih bergetar, Maira melepas kancing blazer abu-abunya satu per satu. Kain formal itu merosot, menyingkap kemeja putih tipisnya yang kini sedikit lembap oleh keringat dingin. Wisnutama tidak melepaskan pandangannya sedikit pun, seolah-olah setiap inci pergerakan Maira adalah bagian dari data yang harus ia audit."Duduk kembali," perintah Wisnutama sembari menarik kursi besi lain untuk dirinya sendiri, menempatkannya tepat di samping Maira hingga paha mereka bersentuhan.Layar laptop menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan beton itu. Wisnutama mengambil alih kendali kursor, jemarinya bergerak dengan kecepatan predator yang sedang melacak mangsa.Jemari besar itu membuka source code dari situs tempat Maira mengunduh dokumen tersebut, matanya bergerak lincah membedah barisan perintah yang rumit."Kamu menggunakan onion routing versi lama, Maira. Ceroboh," gumam Wisnutama tanpa menoleh."Inilah alasan mengapa mereka bisa menanamkan beacon. Mereka tidak perlu meme
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 41 - Sangkar di Cakrawala PasirMobil SUV perak itu terus menderu, membelah lautan pasir yang kian memerah terpapar matahari senja. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan simpati. Matanya terpaku pada sebuah alat navigasi militer genggam yang tidak terhubung dengan jaringan publik."Pak, tolong... ponsel saya," bisik Maira dengan suara parau.Maira menatap nanar pada ponselnya yang kini berada di genggaman Wisnutama. "Saya hanya ingin mengirim satu pesan singkat pada Ibu. Hanya agar beliau tidak cemas."Wisnutama menoleh lambat. Tanpa sepatah kata pun, Wisnutama membuka jendela mobil sedikit, lalu dengan gerakan santai, ia melempar ponsel mahal milik Maira ke luar. Benda itu menghilang dalam sekejap, tertelan debu dan pasir yang berterbangan di belakang ban mobil."TIDAK!" jerit Maira.Tubuh mungil itu berbalik, menempelkan wajahnya ke kaca belakang yang gelap, melihat sisa-sisa dunianya hancur di tengah gurun tak bertuan."Itu adalah nyawamu yang baru saja saya selamatkan," suara Wisnutama terdengar dingin, nyaris
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 40 - Pelarian di Bawah Terik MatahariTanpa sempat bertanya lebih jauh, tanpa sempat mencerna pengkhianatan atau perlindungan yang baru saja pria itu tawarkan, Maira menyambar laptopnya. Sudah tidak ada lagi ruang untuk logika lagi, insting bertahannya telah lumpuh, digantikan oleh kepatuhan mutlak pada satu-satunya otoritas yang ia kenal di gedung ini."Jalan, Maira. Jangan menoleh," bisik Wisnutama tajam, suaranya seperti perintah militer yang tak terbantahkan.Maira melangkah keluar melalui pintu samping yang tersembunyi di balik panel kayu ruang kerja Wisnutama, sebuah akses staf yang jarang digunakan. Jantungnya berdentum keras, menciptakan irama panik di dadanya.Kakinya menyusuri lorong sempit yang dingin, melewati dapur diplomatik yang sibuk, hingga akhirnya ia keluar ke area parkir belakang yang menyengat.“Apa yang sudah aku lakukan,” gumam Maira dengan ketakutan.Udara panas Abu Dhabi menghantam wajahnya, namun Maira justru merasa menggigil. Dengan sesegera mungkin memanggil taksi daring dengan tangan yang geme
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 39 - Audit di Ruang BerkacaPukul 06:55 AM. Cahaya matahari Abu Dhabi yang mulai menyengat menembus kaca patri gedung Kedutaan Besar, menciptakan bayangan panjang yang distorsi di koridor marmer. Maira berdiri di depan pintu kayu ek berat bertuliskan nama Wisnutama – Atase Riset & Kerjasama Strategis.“Relax... tenang. Aku bisa,” gumam Maira untuk menguatkan diri.Tangannya yang memeluk tas laptop terasa dingin, kontras dengan suhu udara luar yang mencapai 38°C. Maira menarik napas dalam, membetulkan letak kemeja putihnya yang tertutup blazer abu-abu formal.Pagi ini, ia harus kembali menjadi Maira sang peneliti yang brilian dan efisien."Masuk," suara bariton itu terdengar segera setelah Maira mengetuk.Wisnutama duduk di balik meja jati besarnya, tampak segar dengan setelan jas navy yang disetrika sempurna. Tidak ada tanda-tanda kelelahan atau sisa gairah dari kejadian semalam. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas fisik."Letakkan di sini," perintahnya tanpa menoleh, menunjuk ke area ko
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 38 - Labirin Digital dan Sisa Intimidasi“Huhh... huhhh,” napas Maira tersengal, memburu di udara apartemennya yang terasa semakin panas.Tubuhnya masih gemetar, sisa-sisa kontraksi dari pelepasan paksa yang diperintahkan Wisnutama masih terasa seperti sengatan listrik di pangkal paha. Si gadis masih dalam posisi yang memalukan dengan satu kaki di atas kursi, tubuh polos yang berkeringat dan mata yang masih berair menatap layar ponsel yang kini hanya menampilkan wajah Wisnutama dengan ekspresi yang sulit dibaca.Wisnutama tidak segera memutus sambungan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja di seberang sana, mengancingkan kembali kemejanya dengan gerakan pelang, seolah baru saja menyelesaikan rapat koordinasi, bukan memaksa mahasiswi risetnya melakukan tindakan asusila di depan kamera."Bersihkan dirimu, Maira," suara Wisnutama kembali ke nada baritonnya yang dingin dan datar.Otoritas itu kembali utuh, seolah gairah yang tadi sempat menggetarkan suaranya hanyalah ilusi optik."Dan jangan berpikir bahwa pertunjuka
Terakhir Diperbarui: 2026-02-21
Chapter: Bagian 37 - Layar PonselMaira merasakan udara di sekitarnya seolah menipis. Perintah Wisnutama bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah cara untuk mendominasi, untuk memastikan bahwa Maira benar-benar berada di bawah kendalinya, baik secara fisik maupun mental.Dengan tangan gemetar, Maira melonggarkan ikatan jubah mandinya. Kain kimono berbahan lembut itu merosot perlahan dari bahunya, menyingkap kulitnya yang masih lembap oleh sisa air mandi. Ia membiarkan kain itu tertahan di lipatan siku, mengekspos bagian atas dadanya di depan kamera ponsel yang ia sandarkan pada tumpukan buku di meja."Terus," suara Wisnutama terdengar lebih serak.Maira menelan ludah, memejamkan mata sesaat, mencoba mencari sisa keberanian yang entah bersembunyi di mana."Pak... tolong," bisik Maira lirih, sebuah upaya negosiasi yang sia-sia."Saya tidak suka mengulang perintah, Maira. Buka sepenuhnya. Sekarang."Dengan gerakan yang sangat lambat, kain kimono itu meluncur jatuh, menyingkap seluruh bagian dadanya yang putih dan kenca
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12