author-banner
Daisy
Daisy
Author

Novel-novel oleh Daisy

Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Biya tahu permintaannya gila. Siapa yang waras meminta sahabat kakaknya sendiri untuk mengajarinya berciuman? Namun, keberanian polos itu justru mengubah segalanya. Bagaswara, direktur dingin itu, seharusnya menolak mentah-mentah. Tapi tatapan Biya—adik sahabatnya—mampu meruntuhkan logikanya. “Bisa ajarin aku, nggak?” “Selama saya bisa. Ajarin apa?" “Ajarin aku… ciuman.” Satu kalimat itu menyeret Biya ke dunia bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan.
Baca
Chapter: Bagian 175 - Welcome, The End
"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Terakhir Diperbarui: 2025-12-18
Chapter: Bagian 174 - Saya Sangat Mampu
Biya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Terakhir Diperbarui: 2025-12-17
Chapter: Bagian 173 - Not Yet
Tidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Terakhir Diperbarui: 2025-12-16
Chapter: Bagian 172 - Happy Ending
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
Terakhir Diperbarui: 2025-12-15
Chapter: Bagian 171 - Danau Como, Italia
Dua minggu kemudian.Matteo menyandarkan tubuhnya di balkon vila kecil di pinggiran Danau Como, Italia. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Tempat itu tidak ramai, tidak pula berlebihan, tenang, intim, dan terlalu indah untuk disebut kebetulan.“Bapak yakin Ms. Biya tidak akan curiga?” tanya Matteo sambil menyesap espresso-nya.Bagas berdiri di sampingnya, jas tipis berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. “Dia pikir ini hanya makan malam biasa.”Matteo mengangguk pelan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi Ms. Biya sampai. Saya sudah atur kapal kecilnya berlabuh di dermaga pribadi. Tidak ada tamu lain.”Bagas tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada danau yang berkilau, tapi jelas pikirannya tidak sedang di sana. Ada ketegangan tipis di bahunya karena hari ini, ia berniat untuk melamar Biya dengan layak dan pantas, tidak sepertinya waktu itu di pantry pagi hari.Bagas terkekeh dengan aksinya terlalu im
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14
Chapter: Bagian 170 - PillowTalk
Biya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung menuju Bagas, menatap dengan keterkejutan yang membuat Bagas tersenyum.“Aku nggak cemburu. Ngapain juga cemburu? Ke siapa juga lagian,” ucapnya lirih.Bagas menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu melanjutkan mengelus rambut Biya dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada respon dari pria itu yang membuat Biya kesal.“Saya akan anggap kamu sudah jujur,” desah Bagas.“Aku serius,” suara itu mulai meninggi dan bukannya menakutkan justru menggemaskan.Bagas akhirnya mengangkat selimut sedikit lalu turut berbaring di samping perempuannya. Menarik tubuh mungil itu, menyelipkan lengan kanan di bawah kepala Biya dan memeluk erat. Biya terdiam sesaat ketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bagas.“Aku beneran nggak cemburu,” ulangnya lebih pelan, kali ini nyaris berbisik. “Kalau kamu dekat sama Valerie secara profesional, itu bukan urusanku.”Bagas menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Biya. “Justru itu yang ingin saya pastikan,” kat
Terakhir Diperbarui: 2025-12-14
Di Bawah Selimut Tetangga

Di Bawah Selimut Tetangga

Aruna Maheswari berniat menjual rumah peninggalan ibunya karena tempat yang terlalu besar untuk ditinggali sendiri dan terlalu sarat kenangan untuk dipertahankan. Keputusan itu tampak sederhana, hingga ia mengetahui bahwa rumah tersebut masih memiliki satu pemilik lain yaitu Sagara Setjo Pratama, pria yang meninggalkannya lima belas tahun lalu tanpa penjelasan. Kembalinya Sagara ke Indonesia memaksa Aruna menghadapi masa lalu yang selama ini ia kunci rapat. Urusan hukum berubah menjadi konflik personal ketika tanda tangan yang dibutuhkan justru tertahan oleh kehadiran orang yang paling ingin ia hindari. Terjebak dalam ruang yang sama, Aruna dan Sagara dipaksa berbagi rumah, waktu, dan luka yang belum sembuh. “Sekali lagi kamu bahas soal tanda tangan atau—” ucapnya tertahan, rahangnya mengeras. Aruna menyalang. "Atau apa? atau kamu bakal ber—" Kalimat itu belum selesai ketika ia maju selangkah. Tangan terangkat, menutup mulut lawannya bukan dengan telapak, tapi dengan bibir. "Sekali lagi bicara, aku tutup mulut kamu pakai itu."
Baca
Chapter: Bagian 34 - Momen yang Tidak Tepat
Malam sudah lewat tengah ketika Aruna kembali terjaga.Jam digital di meja kecil di samping ranjang menunjukkan pukul 00.47. Rumah tante Mira sunyi, Aruna menatap langit-langit kamar lamanya. Dadanya terasa sesak, karena rasa bersalah yang menumpuk pelan-pelan, seperti air yang merembes tanpa suara hingga akhirnya meluap.Sagara sedang sakit. “Kenapa aku selalu lari dari kamu ya, Sa?” gumamnya lirih.Ia duduk, menyibakkan selimut. Lantai keramik dingin menyentuh telapak kakinya. Aruna meraih ponsel di meja, menatap layar yang masih gelap. Tidak ada pesan baru, lalu menekan layar, membuka chat Sagara lagi. Pesan terakhir itu masih ada, seolah menunggu.Rasa kasihan bercampur dengan rasa bersalah membuat matanya panas. Ia mengusap wajah kasar-kasar, lalu berdiri. Keputusan itu datang tanpa banyak pertimbangan, seolah tubuhnya sudah lebih dulu memilih sebelum pikirannya sempat membantah.Aruna berjalan pelan keluar kamar, mengambil tas kecilnya, memasukkan dompet, ponsel, kunci mobil. I
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bagian 33 - Jarak yang Dipilih Sendiri
Pagi itu, langit masih gelap ketika Aruna membuka mata. Jam di samping ranjang menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Tubuhnya terasa berat, bukan karena lelah fisik, tapi karena beban pikiran yang menumpuk sejak malam tadi.Aruna bangkit pelan, menarik cardigan tipis dari kursi. Kakinya membawa dia ke dapur tanpa perlu menyalakan lampu utama. Hanya lampu kecil di atas kompor yang menyala kuning lembut.“Ngh, dingin banget,” gumamnya sambil mengambil dua butir telur dari kulkas, memecahkannya ke wajan anti lengket.Bau mentega meleleh segera memenuhi udara, diikuti aroma bawang bombay yang ditumis pelan. Nasi sisa semalam dipanaskan di microwave, lalu ia tambahkan potongan smoked beef dan sedikit kecap manis, sarapan favorit Sagara dulu, saat mereka masih remaja dan Sagara sering mampir pagi-pagi sebelum sekolah.Sambil mengaduk, pikiran Aruna melayang ke mana-mana. Setelah semuanya selesai, Aruna menyusun makanan itu ke dalam kotak bekal dengan sebuah post-it kuning ditempel di ata
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 32 - Jarak yang Tiba-Tiba
Suara pintu kamar mandi terbuka pelan, disusul langkah kaki basah yang menapak lantai keramik. Aruna langsung menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya, berbaring miring menghadap dinding, mata terpejam rapat. Jantungnya berdegup kencang, seperti drum perang yang tak mau diam.Ia pura-pura tidur, harus pura-pura tidur, karena tak tahu harus menghadapi Sagara dengan wajah apa setelah mendengar semua itu.“Na?” panggil Sagara pelan dari ambang pintu kamar.Suaranya masih agak serak, tapi sudah kembali normal, seperti pria yang baru mandi dingin untuk menenangkan diri.“Kamu sudah bangun?”Aruna tak bergerak. Napasnya ia atur pelan dan teratur, seolah benar-benar masih terlelap. Tubuhnya kaku di bawah selimut, kaus besar Sagara yang ia pakai terasa semakin panas di kulitnya. Ia bisa mendengar langkah Sagara mendekat, merasakan kasur turun sedikit saat pria itu duduk di pinggir ranjang.“Aruna,” Sagara memanggil lagi, kali ini lebih lembut, hampir seperti bisikan.Jari-jarinya meny
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 31 - Kamar Mandi
Aruna terdiam, menatap wajah Sagara yang kini terlelap dengan damai. Kepala pria itu masih bersandar di dadanya, bibirnya mengulum lembut puncak payudara kirinya, napasnya teratur dan hangat menyapu kulit Aruna yang masih sensitif. Gerakan kecil saat Sagara menelan dalam tidurnya membuat Aruna tersentak pelan, getaran kecil menyebar ke seluruh tubuhnya.“Ngh.”Ia menggeleng tadi, saat Sagara dengan suara serak meminta izin membuka celananya. Pria itu tak memaksa, hanya mencium keningnya pelan, lalu kembali ke posisi semula, seperti anak kecil yang mencari kenyamanan, hingga akhirnya tertidur dalam pelukannya.“Aku nggak ngerti sebenarnya kita apa, Sa,” bisik Aruna.Setiap hembusan napas Sagara di kulitnya seperti sentuhan api yang pelan tapi tak pernah padam. Ia mengusap rambut pria itu perlahan, jari-jarinya menyusuri helai-helai rambut yang sedikit basah karena keringat tadi.“Sa,” bisik Aruna hampir tak bersuara, seolah takut membangunkannya.Sagara bergumam kecil dalam tidur, bibi
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 30 - Semakin Liar
“Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Chapter: Bagian 29 - Tidur Seranjang
Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar
Terakhir Diperbarui: 2026-01-03
Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Maira, mahasiswi riset berusia dua puluh lima tahun, mengira tugas lapangannya di Abu Dhabi hanya akan berupa wawancara dan observasi budaya. Namun segalanya berubah ketika ia ditempatkan langsung di bawah pengawasan Wisnutama Adnan Bin Malik- seorang diplomat yang dikenal disiplin, nyaris tanpa emosi, dan memiliki reputasi berbahaya yang jarang dibicarakan secara terbuka. Perjumpaan pertama mereka membuat Maira sadar satu hal bahwa pria ini bukan tipe yang bisa ditebak atau dilawan. Terlambat satu menit saja, Wisnutama menatapnya seolah ia sudah melakukan kesalahan fatal. Terlambat satu detik pun, ia mengucapkan kata hukuman tanpa berkedip. Maira tidak tahu apakah ia sedang diuji, atau sedang ditarik masuk ke dunia kerja Wisnutama yang dingin, tajam, dan teratur seperti garis map diplomatik. Namun yang tidak pernah ia duga, semakin lama ia bekerja di dekatnya, semakin jelas bahwa pria itu tidak sesederhana atau sesuci yang terlihat. Dan ketika Maira mulai menyadari bahwa dosennya menghilang tanpa jejak, penempatannya terasa janggal, dan Wisnutama terlalu tahu banyak tentang dirinya. Di antara koridor kantor diplomatik, ruangan kaca gelap lantai delapan belas, dan tatapan yang selalu menguji, Maira harus memutuskan. Melarikan diri atau mengikuti pria itu lebih jauh, meski ia tahu Wisnutama punya cara tersendiri untuk menahan siapa pun yang menarik perhatian.
Baca
Chapter: Bagian 29 - Pesta yang Membawa Kegelisahan
Jam makan siang tiba tanpa terasa.Maira masih duduk di mejanya, menatap layar laptop dengan fokus yang sengaja ia pertahankan. Sejak keluar dari ruangan Wisnutama pagi tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus menempel di hatinya. Bukan takut, melainkan kesadaran bahwa dirinya sedang berada dalam radius perhatian yang tidak biasa.Ia baru saja hendak menyimpan file ketika bayangan seseorang jatuh di sisi mejanya.“Nona Maira.”Ia mendongak. Rasyid berdiri di sana, rapi seperti biasa, tablet di tangan, ekspresinya netral namun matanya tajam mengamati.“Pak Wisnutama memanggil Anda. Sekarang.”Maira berkedip pelan. “Sekarang, Pak?”“Iya. Untuk makan siang.”Kalimat itu membuat Maira terdiam sepersekian detik.“Makan siang?” ulangnya, refleks.Rasyid mengangguk. “Di ruangan beliau.”Tidak ada pilihan tersirat. Tidak ada pertanyaan. Itu perintah yang dibungkus dengan nada sopan.“Baik, Pak,” jawab Maira akhirnya.Ia berdiri, merapikan bajunya secara refleks, lalu Rasyid pergi begitu saj
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 28 - Di Bawah Permukaan Panas
Besoknya, Maira berangkat riset seperti tidak terjadi apa pun. Bahkan, gadis itu merahasiakan penemuannya dari Wisnutama.Langkahnya tetap tenang, raut wajahnya profesional, bahkan nyaris terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam baru saja membuka pintu ke dokumen yang seharusnya tidak ia sentuh. Tidak ada gelagat gugup, tidak ada gerakan mencurigakan. Dari luar, Maira tetap mahasiswi riset yang sama yaitu diam, fokus, dan sedikit terlalu serius untuk usianya.“Relax, Maura. Semuanya aman selama kamu tenang,” ucapnya pada dirinya sendiri.Ia duduk di mejanya, menyalakan laptop, dan membuka file riset utama. Lembar-lembar analisis yang kemarin terasa buntu kini seperti memiliki jalur baru. Kalimat-kalimat yang dulu ia ragu tuliskan, sekarang mengalir dengan lebih yakin dan lebih tajam.Namun Maira berhati-hati. Ia tidak menyalin apa pun secara mentah. Tidak ada kutipan langsung, karena semua ia olah ulang, ia sembunyikan dalam kerangka analisis yang tampak wajar, seolah kesimpula
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 27 - Arsip Yang Tidak Seharusnya Ada
Maira tidak pernah menyangka dirinya akan berada di ruangan arsip saat ada staff meminta tolong padanya untuk mengantarkan dokumen ke dalam.Semua terjadi terlalu cepat untuk dipertanyakan. Seorang staf, pria paruh baya dengan kartu identitas yang tergantung malas di lehernya langsung menyodorkan map tebal ke tangannya, sambil berkata terburu-buru, “Tolong antarkan ini ke dalam, ya. Saya harus ke rapat sekarang.”Dan sebelum Maira sempat membuka mulut untuk menolak, pria itu sudah berlalu di lorong panjang, meninggalkannya berdiri dengan map di tangan dan pintu arsip di depannya. Padahal, mahasiswi magang sangat dilarang sendirian ke dalam ruangan ini.“Mungkin dia ngira aku anak magang kali ya,” gumam Maira.Mengingat banyaknya manusia yang bekerja di kedutaan ini, maka tidak salah kalau mereka menganggap Maira juga bagian dari mereka. Ini keuntungan, karena saat datang tidak banyak yang ingin tahu akan mahasiswi yang melakukan riset.Udara di dalam ruangan berbeda. Lebih dingin. Leb
Terakhir Diperbarui: 2026-01-05
Chapter: Bagian 26 - Gelisah Di antara Dua Janji
Maira sudah duduk di meja kecilnya sejak pukul delapan, laptop terbuka di depannya, jari-jari mengetik laporan ringkasan rapat kemarin. Pikirannya melayang ke panggilan video semalam akan janji pada Profesor Hamdani untuk segera mencari dokumen itu.Ia membuka folder riset di drive terenkripsi, scroll pelan ke sub-folder berlabel “Referensi Tambahan”. Di sana ada beberapa file PDF yang sudah ia dapat secara resmi, tapi ia tahu dokumen rahasia itu tidak akan ada di sini. Harus ada cara lain, mungkin lewat arsip digital internal kedutaan, atau meminta staf tertentu.Pintu ruangan terbuka pelan. Wisnutama masuk dengan langkah tenang, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuh tinggi itu, aroma kayu cendana langsung mengisi udara. Ia melirik Maira sekilas, lalu duduk di kursi besarnya.“Selamat pagi. Ringkasan rapat kemarin sudah selesai?” sapanya rendah, suara yang selalu membuat perut Maira berdegup.Maira tersentak dari lamunan, buru-buru mematikan layar folder yang terbuka. “Selamat pagi, P
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: Bagian 25 - Wajah Merona dan Janji Rahasia
Rapat babak kedua dimulai tepat pukul dua siang. Ruangan besar dengan AC dingin kembali dipenuhi suara bahasa Arab yang cepat dan aksen Inggris berat dari para pejabat. Maira duduk di samping Wisnutama seperti biasa, tubuhnya terasa ringan sisa orgasme singkat tapi ganas di pangkuan mentornya tadi membuat pipinya masih memerah, keringat tipis di pelipis belum sepenuhnya kering.Ia berusaha fokus, tapi napasnya kadang tersendat pelan, dan ia harus menunduk pura-pura mencatat agar tidak ketahuan.“Miss Maira,” panggil Ahmed dengan suara lembut tapi penuh perhatian.Di tengah diskusi tentang protokol kerjasama budaya, salah satu staf senior bernama Ahmed, pria paruh baya berkacamata yang selalu ramah pada Maira tiba-tiba menoleh ke arahnya. Rapat sedang jeda sejenak karena seorang pejabat mencari slide presentasi. “Are you alright? Your face is quite red, and you look a bit warm.”Semua mata langsung tertuju padanya. Maira langsung membeku. Wajahnya yang sudah merona kini terasa seperti
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Chapter: Bagian 24 - Patuh dan Godaan Di Balik Pintu
Maira duduk di meja kerja Wisnutama yang besar, jari-jarinya menari di atas keyboard laptop, membalas email dari profesor pembimbingnya di Indonesia. Data riset yang ia kirim hanya tentang budaya sosial dan birokrasi publik yang sudah disetujui, tanpa sedikit pun menyentuh dokumen sensitif yang hampir membuatnya bermasalah.Wisnutama berdiri tepat di belakang kursinya, tubuh tingginya menaungi seperti biasa. Tangan besarnya bertumpu di pundak Maira, memijat pelan, jarinya melingkar di otot yang tegang, turun ke leher, lalu naik lagi ke bahu. Setiap sentuhan itu membuat Maira merinding, napasnya sedikit tersendat.“Bagus, Maira. Saya menyukai mahasiswi patuh seperti kamu,” bisik Wisnutama di telinga Maira, suaranya rendah dan hangat.Maira menoleh sedikit, wajahnya memerah karena kedekatan itu. pijatan pria itu benar-benar nikmat dan membuat tubuhnya rileks. Setiap tekanannya pas dan membuat Maira ingin mengeluarkan desah yang untungnya masih bisa ditahan.“Tapi, apakah rasa penasaran
Terakhir Diperbarui: 2026-01-02
Anda juga akan menyukai
Extraordinary Captain
Extraordinary Captain
Young Adult · Jahikunie
2.7K Dibaca
Remorse
Remorse
Young Adult · ajengpttry
2.7K Dibaca
Dance in the Rain
Dance in the Rain
Young Adult · Yoru Akira
2.7K Dibaca
King of Night
King of Night
Young Adult · Liliss354
2.7K Dibaca
Good Girl
Good Girl
Young Adult · Moon Rose
2.7K Dibaca
Summer Pieces
Summer Pieces
Young Adult · Allein Gios
2.7K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status