author-banner
Daisy
Daisy
Author

Novels by Daisy

Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Ajari Aku Ciuman, Mas CEO

Biya tahu permintaannya gila. Siapa yang waras meminta sahabat kakaknya sendiri untuk mengajarinya berciuman? Namun, keberanian polos itu justru mengubah segalanya. Bagaswara, direktur dingin itu, seharusnya menolak mentah-mentah. Tapi tatapan Biya—adik sahabatnya—mampu meruntuhkan logikanya. “Bisa ajarin aku, nggak?” “Selama saya bisa. Ajarin apa?" “Ajarin aku… ciuman.” Satu kalimat itu menyeret Biya ke dunia bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan.
Read
Chapter: Bagian 175 - Welcome, The End
"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Last Updated: 2025-12-18
Chapter: Bagian 174 - Saya Sangat Mampu
Biya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Last Updated: 2025-12-17
Chapter: Bagian 173 - Not Yet
Tidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Last Updated: 2025-12-16
Chapter: Bagian 172 - Happy Ending
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
Last Updated: 2025-12-15
Chapter: Bagian 171 - Danau Como, Italia
Dua minggu kemudian.Matteo menyandarkan tubuhnya di balkon vila kecil di pinggiran Danau Como, Italia. Matahari sore menggantung rendah, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang tenang. Tempat itu tidak ramai, tidak pula berlebihan, tenang, intim, dan terlalu indah untuk disebut kebetulan.“Bapak yakin Ms. Biya tidak akan curiga?” tanya Matteo sambil menyesap espresso-nya.Bagas berdiri di sampingnya, jas tipis berwarna gelap melekat rapi di tubuhnya. “Dia pikir ini hanya makan malam biasa.”Matteo mengangguk pelan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya. “Sepuluh menit lagi Ms. Biya sampai. Saya sudah atur kapal kecilnya berlabuh di dermaga pribadi. Tidak ada tamu lain.”Bagas tidak menjawab. Pandangannya terpaku pada danau yang berkilau, tapi jelas pikirannya tidak sedang di sana. Ada ketegangan tipis di bahunya karena hari ini, ia berniat untuk melamar Biya dengan layak dan pantas, tidak sepertinya waktu itu di pantry pagi hari.Bagas terkekeh dengan aksinya terlalu im
Last Updated: 2025-12-14
Chapter: Bagian 170 - PillowTalk
Biya membuka mata perlahan. Tatapannya langsung menuju Bagas, menatap dengan keterkejutan yang membuat Bagas tersenyum.“Aku nggak cemburu. Ngapain juga cemburu? Ke siapa juga lagian,” ucapnya lirih.Bagas menghentikan gerakan tangannya sesaat, lalu melanjutkan mengelus rambut Biya dengan ritme yang lebih lambat. Tidak ada respon dari pria itu yang membuat Biya kesal.“Saya akan anggap kamu sudah jujur,” desah Bagas.“Aku serius,” suara itu mulai meninggi dan bukannya menakutkan justru menggemaskan.Bagas akhirnya mengangkat selimut sedikit lalu turut berbaring di samping perempuannya. Menarik tubuh mungil itu, menyelipkan lengan kanan di bawah kepala Biya dan memeluk erat. Biya terdiam sesaat ketika tubuhnya sudah berada dalam dekapan Bagas.“Aku beneran nggak cemburu,” ulangnya lebih pelan, kali ini nyaris berbisik. “Kalau kamu dekat sama Valerie secara profesional, itu bukan urusanku.”Bagas menunduk sedikit, dagunya menyentuh rambut Biya. “Justru itu yang ingin saya pastikan,” kat
Last Updated: 2025-12-14
Di Bawah Selimut Tetangga

Di Bawah Selimut Tetangga

Aruna Maheswari berniat menjual rumah peninggalan ibunya karena tempat yang terlalu besar untuk ditinggali sendiri dan terlalu sarat kenangan untuk dipertahankan. Keputusan itu tampak sederhana, hingga ia mengetahui bahwa rumah tersebut masih memiliki satu pemilik lain yaitu Sagara Setjo Pratama, pria yang meninggalkannya lima belas tahun lalu tanpa penjelasan. Kembalinya Sagara ke Indonesia memaksa Aruna menghadapi masa lalu yang selama ini ia kunci rapat. Urusan hukum berubah menjadi konflik personal ketika tanda tangan yang dibutuhkan justru tertahan oleh kehadiran orang yang paling ingin ia hindari. Terjebak dalam ruang yang sama, Aruna dan Sagara dipaksa berbagi rumah, waktu, dan luka yang belum sembuh. “Sekali lagi kamu bahas soal tanda tangan atau—” ucapnya tertahan, rahangnya mengeras. Aruna menyalang. "Atau apa? atau kamu bakal ber—" Kalimat itu belum selesai ketika ia maju selangkah. Tangan terangkat, menutup mulut lawannya bukan dengan telapak, tapi dengan bibir. "Sekali lagi bicara, aku tutup mulut kamu pakai itu."
Read
Chapter: Bagian 146 - Pijat Plus Plus
Sagara menggendong Aruna dengan mudah menuju kamar utama vila, lalu membaringkan Aruna telungkup di atas ranjang king-size yang empuk, kepala wanita itu menghadap ke samping dengan pipi menempel bantal.Aruna menghela napas panjang, tubuhnya yang lelah langsung rileks saat merasakan kasur yang dingin.“Pijat ya, beneran pijat,” gumam Aruna dengan suara setengah memperingatkan, meski matanya sudah setengah terpejam.Sagara tersenyum tipis, lalu naik ke ranjang, berlutut di samping tubuh istrinya. Tangan besarnya mulai bekerja dari bahu Aruna, menekan otot-otot yang tegang dengan tekanan yang pas dengan kuat tapi tidak menyakitkan.“Tenang saja, Nyonya Pratama. Saya kan sudah janji,” katanya dengan suara bariton yang rendah, sementara jempolnya memutar di bahu Aruna, melemaskan simpul-simpul ketegangan.“Enak, terus, Sayang di situ,” Aruna mendesah lega.Sagara melanjutkan pijatannya ke punggung dengan gerakan lambat dan teratur, tapi semakin ke bawah, semakin nakal tangannya. Saat menc
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bagian 145 - Gencatan Senjata Aruna
Sagara benar-benar tidak membiarkan Aruna bangun dari tempat tidur selama 3 hari awal di Yunani. Sampai akhirnya Aruna marah dan ngambek, akhirnya Sagara menyerah.“Ini! Liat ini! Bener-bener ya kamu!” teriak Aruna sambil menunjuk tubuhnya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam.Aruna menunjuk tubuhnya yang penuh memar, bekas gigitan, tamparan yang Sagara perbuat sejak mereka sah di Jakarta.“Pokoknya hari ini, aku mau jalan-jalan. Titik!” teriak Aruna sekali lagi.Sagara yang duduk di pinggir ranjang dengan bertelanjang dada hanya meringis menatap tubuh istrinya yang penuh tanda dari ujung kepala sampai kaki.Sagara berdehem, mencoba menutupi rasa bangga sekaligus bersalah yang muncul bersamaan saat melihat tanda-tanda itu berwarna ungu kemerahan, beberapa bahkan masih tampak baru akibat sesi panas mereka di kolam renang semalam."Itu... tanda cinta, Sayang," gumam Sagara dengan suara baritonnya yang serak, mencoba meraih pinggang Aruna untuk membujuknya kembali ke pelukan."Cint
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bagian 144 - Penerbangan Menuju Yunani
Hari keberangkatan pun tiba. Bandara Soekarno-Hatta pagi itu masih cukup tenang, namun aura di sekitar gerbang keberangkatan internasional terasa berbeda bagi Aruna. Aruna duduk di ruang tunggu eksekutif, menyesap chamomile tea untuk menenangkan sarafnya yang masih sedikit tegang.Bukan karena takut terbang, melainkan karena efek persiapan Sagara selama dua hari terakhir yang membuat langkah kakinya masih terasa sedikit goyah."Masih pegal?" tanya Sagara rendah, duduk tepat di sampingnya sambil menutup tablet kerjanya.Pria itu tampak sangat berkelas dengan setelan kasual high-end berwarna abu-abu arang, kacamata hitam tersampit di kerah kausnya.Aruna melirik tajam suaminya dari balik kacamata besarnya. "Menurut kamu? Aku hampir nggak bisa angkat koper tadi kalau nggak kamu bantuin."Sagara terkekeh, suara baritonnya yang jernih menarik perhatian beberapa pasang mata di ruangan itu. Ia meraih tangan Aruna, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari."Itu alasan kenapa saya pesan firs
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bagian 143 - Jejak Sang Penguasa
Sore itu, kediaman keluarga Maheswari tampak tenang saat mobil Range Rover hitam milik Sagara memasuki gerbang. Aruna duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk.Di satu sisi, ia sangat bahagia bisa berkunjung ke rumah Papanya setelah resmi menjadi istri Sagara. Namun di sisi lain, ia merasa sangat was-was.Sejak berangkat tadi, ia terus mematut diri di cermin, mencoba menaikkan kerah blouse tinggi yang ia kenakan untuk menutupi karya seni Sagara yang sangat mencolok di lehernya."Sa, kamu yakin ini nggak kelihatan?" tanya Aruna untuk kesekian kalinya, jemarinya meraba kerah pakaiannya dengan gugup.Sagara, yang terlihat sangat santai dengan kemeja kasual berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga siku, melirik istrinya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan."Sudah aman, Sayang. Kecuali kalau kamu sengaja mendongak di depan Papa,” respon suaminya yang terdengar menyebalkan bagi istrinya."Ih, kamu mah! Ini gara-gara kamu yang terlalu brutal," gerutu Aruna sambi
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bagian 142 - Sarapan yang Manis
Sagara tidak mempedulikan protes lemah Aruna. Pria itu justru semakin gencar mendaratkan kecupan di sepanjang rahang hingga turun ke ceruk leher yang sudah penuh dengan tanda kepemilikannya.Aroma tubuh Aruna di pagi hari, perpaduan antara sisa parfum mawar dan aroma khas sehabis bercinta selalu menjadi candu yang gagal ia lawan."Sa, beneran, berhenti. Aku mau mandi, badanku lengket semua," rintih Aruna, meski tubuhnya secara khianat justru merespons setiap sentuhan Sagara dengan getaran halus.Sagara mendongak, menatap Aruna dengan binar jenaka sekaligus lapar. "Mandi bersama? Itu ide bagus. Saya bisa bantu gosok punggung kamu... atau bagian lainnya.""Nggak! Mandi bersama kamu itu artinya kita nggak akan keluar kamar mandi sampai siang," ketus Aruna sambil mencoba mendorong dada bidang suaminya.Sagara terkekeh, suara baritonnya yang berat di pagi hari terdengar sangat seksi. Lalu, melepaskan kuncian tangannya, namun bukannya menjauh, ia malah menyusupkan kepalanya di dada Aruna, m
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Bagian 141 - Capek, Suamiku
"Sa... Sa... aku... aku mau lagi... ahhh! Lidah kamu... terlalu enak... ngghhh! Aku... aku nggak kuat... ahhhhh!"Sagara merasakan tubuh Aruna semakin tegang dan mempercepat gerakan lidahnya.Dalam hitungan detik, Aruna menjerit panjang. Tubuhnya mengejang hebat, pinggulnya maju secara tak sadar, menekan wajah Sagara lebih dalam. Gelombang orgasme keenam menyapu dirinya dengan ganas, membuat cairannya meluber deras ke lidah Sagara."Ahhhhhh!! Sa... keluar... aku keluar lagi... hah... hah... ngghhhhh!"Sagara tidak berhenti dan terus menjilat dan menghisap melalui pelepasan Aruna, memperpanjang kenikmatan hingga Aruna hampir ambruk. Baru setelah tubuh Aruna benar-benar lemas dan gemetar tak terkendali, Sagara bangkit dari jongkoknya.Ia memeluk Aruna, tubuhnya yang panas menempel rapat di punggung istrinya yang basah keringat. Bibirnya menciumi tengkuk Aruna sambil berbisik serak."Nikmat sekali rasanya... kamu malam ini."Aruna hanya bisa bernapas tersengal, tangannya masih mencengker
Last Updated: 2026-04-09
Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Di Balik Pintu Gelap Diplomat

Maira, mahasiswi riset berusia dua puluh lima tahun, mengira tugas lapangannya di Abu Dhabi hanya akan berupa wawancara dan observasi budaya. Namun segalanya berubah ketika ia ditempatkan langsung di bawah pengawasan Wisnutama Adnan Bin Malik- seorang diplomat yang dikenal disiplin, nyaris tanpa emosi, dan memiliki reputasi berbahaya yang jarang dibicarakan secara terbuka. Perjumpaan pertama mereka membuat Maira sadar satu hal bahwa pria ini bukan tipe yang bisa ditebak atau dilawan. Terlambat satu menit saja, Wisnutama menatapnya seolah ia sudah melakukan kesalahan fatal. Terlambat satu detik pun, ia mengucapkan kata hukuman tanpa berkedip. Maira tidak tahu apakah ia sedang diuji, atau sedang ditarik masuk ke dunia kerja Wisnutama yang dingin, tajam, dan teratur seperti garis map diplomatik. Namun yang tidak pernah ia duga, semakin lama ia bekerja di dekatnya, semakin jelas bahwa pria itu tidak sesederhana atau sesuci yang terlihat. Dan ketika Maira mulai menyadari bahwa dosennya menghilang tanpa jejak, penempatannya terasa janggal, dan Wisnutama terlalu tahu banyak tentang dirinya. Di antara koridor kantor diplomatik, ruangan kaca gelap lantai delapan belas, dan tatapan yang selalu menguji, Maira harus memutuskan. Melarikan diri atau mengikuti pria itu lebih jauh, meski ia tahu Wisnutama punya cara tersendiri untuk menahan siapa pun yang menarik perhatian.
Read
Chapter: Bagian 52 - Teken Kontrak
"Akh,” rintih Maira yang mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk.Seluruh ototnya terasa kaku, gempuran Wisnutama semalam, terutama saat pria itu memaksanya bertahan dalam posisi berdiri di ambang jendela berhasil meremukkan tubuhnya, terutama pada kakinya yang terluka.Maira menoleh ke samping dan mendapati Wisnutama yang tidur telungkup di balik selimut sutra yang hanya menutupi sebatas pinggangnya. Punggung lebar pria itu terekspos sepenuhnya, memperlihatkan pemandangan yang membuat wajah Maira memerah padam seketika.Di atas kulit punggung yang kokoh itu, terdapat gurat-gurat merah panjang, bekas cakaran kuku Maira yang menancap dalam saat ia kehilangan akal di puncak kenikmatan semalam.“Empp,” Maira menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya bahwa ia telah berbuat sejauh itu pada pria yang paling ditakuti di wilayah ini.Wisnu bergerak sedikit, otot punggungnya berkedut sebelum ia membuka mata. Pria itu tidak tampak lelah sedikit pun."Bangun, Little Bird. Kamu punya jadwal y
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Bagian 51 – Desah yang Menggema di Udara
"Pak!" Maira terpekik kecil, matanya membelalak saat menyadari celana dalam sutranya kini telah hancur, jatuh menyusul bra-nya ke lantai kamar yang gelap."Tatap saya," geram Wisnu.Kini, di bawah temaram lampu kota dan sorot lampu taman yang memantul di kaca, keduanya benar-benar tanpa penghalang. Punggung Maira benar-benar tereskpos dengan jendela terbuka pada siapa pun yang melewati di bawah jendela ini."Lihat ke bawah, Little Bird," perintah Wisnu, suaranya parau oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. "Lihat mereka yang berjaga. Mereka adalah saksi bahwa malam ini, tidak ada lagi mahasiswi riset. Yang ada hanyalah wanita milik Wisnutama."Tanpa peringatan lebih lanjut, Wisnu mengangkat pinggul Maira dan menghujamkan miliknya masuk dalam satu dorongan yang dalam dan telak."AAHHH!"Maira mendongak, lehernya yang jenjang menegang saat ia merasakan sensasi penuh yang menyesakkan sekaligus meledakkan percikan listrik ke seluruh sarafnya. Kuku-kukunya menancap di kulit pria itu.Di b
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bagian 50 – Secercah Harapan
UPDATE: UNIVERSITAS TELAH MERILIS PERNYATAAN RESMI. MAIRA PERMATA RASTANTI DINYATAKAN SEBAGAI KORBAN MANIPULASI DATA. SELURUH GELAR DAN STATUS AKADEMIK AKAN DIPULIHKAN SETELAH PROSES KLARIFIKASI FISIK."Proses klarifikasi fisik..." Maira membaca tulisan itu dengan suara terengah-engah saat Wisnu menjauhkan wajahnya sejenak untuk membiarkan gadis itu bernapas. "Artinya saya harus pulang, Pak? Saya harus melapor ke Jakarta?"Wisnu terkekeh sinis, sebuah tawa yang kering dan tanpa belas kasihan. Dengan tegas lengan kekar itu menarik Maira berdiri dan membiarkan miliknya menegang tegak.“Tentu saja, tapi... setelah masa pemulihanmu selesai,” jawab Wisnu yang jemarinya lihai mulai membuka abaya yang dikenakan Maira.“Masa pemulihan? Maksudnya, Pak?” Maira tak peduli saat Abaya itu terlepas dan jatuh ke lantai, fokusnya pada secercah harapan hidupnya.Wisnutama terdiam, pria itu mulai membuka kancing kemeja Maira yang sudah kusut dan tidak beraturan, lalu menjatuhkannya begitu saja, hanya m
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bagian 49 – Keterkejutan akan Ukurannya
Keheningan di kamar itu terasa mendenyut, hanya dipecahkan oleh suara napas Maira yang pendek-pendek dan deru mesin AC yang halus. Tatapan Wisnutama yang gelap seolah menelanjangi setiap rasa takut dan gairah yang berusaha Maira sembunyikan."Kenapa diam, Maira?" bisik Wisnu, suaranya serak, mengirimkan getaran listrik ke seluruh saraf Maira.Wisnu meraih pergelangan tangan Maira yang gemetar. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ia menuntun telapak tangan halus gadis itu turun dari bahu kokohnya, melewati dadanya yang bidang dan keras, hingga berhenti tepat di atas simpul handuk putih yang melilit pinggangnya.Maira bisa merasakan panas kulit Wisnu di balik kain tipis itu, sebuah kontak fisik yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran."Jika kamu masih penasaran dengan milik saya... buka saja, Maira," perintah Wisnu, nada suaranya tidak lagi sekadar menggoda, melainkan sebuah instruksi yang menuntut kepatuhan mutlak.Maira menelan ludah dengan susah payah. Matanya yang basah men
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bagian 48 - Kunci Hidup dalam Sangkar
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain tetap berada di bawah pengawasan saya," Wisnu berdiri, tarikan handuk di pinggangnya sedikit bergeser, namun ia tampak abai.Pria itu mencengkeram kedua bahu Maira, memaksa gadis itu untuk duduk tegak dan menatapnya."Dunia luar mungkin menganggapmu hilang, tapi di ruangan ini, kamu adalah kartu as saya. Hamdani mengira dia bisa bermain catur dengan nyawamu, tapi dia lupa bahwa saya adalah pemilik papan caturnya."Wisnu mendekatkan wajahnya, memangkas jarak hingga Maira bisa mencium aroma cendana yang kini bercampur dengan hawa panas tubuh pria itu."Kamu takut, Maira? Takut pada saya atau pada kenyataan bahwa tidak ada tempat pulang untukmu selain di sini?""Bapak... Bapak mengancam saya juga?" bisik Maira dengan mata berkaca-kaca.Wisnu terkekeh rendah, suara yang lebih mirip geraman puas. "Saya tidak mengancam. Saya sedang memberi tahu faktanya. Kamu adalah bagian dari skandal internasional sekarang. Jika kamu melangkah keluar dari gerbang
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bagian 47 – Pelindung Rasa Dementor
"Diam, Maira. Saya tidak punya waktu untuk menunggu langkahmu yang lambat itu," desis Wisnu sambil terus melangkah masuk menuju lift pribadi.Pria itu segera membawa Maira langsung ke lantai teratas, ke dalam sebuah kamar utama yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh luas apartemen Maira di Indonesia. Wisnu meletakkan Maira di atas tempat tidur king size yang dilapisi sprei sutra abu-abu."Walid akan mengirimkan tim medis untuk mengobati kakimu dan memastikan tidak ada luka dalam akibat ledakan tadi," ucap Wisnu sambil mulai membuka kancing kemejanya yang kotor, menampakkan otot dada yang keras dan beberapa memar biru yang mengerikan di tulang rusuknya.Maira segera memalingkan wajah, merasa sangat tidak nyaman berada di ruang pribadi pria ini dalam kondisi seperti ini. Ya, meskipun keduanya juga sudah beberapa kali melakukan hubungan yang lebih intim dan terbuka."Bapak sendiri... luka Bapak perlu diobati,” cicit Maira.Wisnutama berhenti bergerak, menatap punggung Maira dengan
Last Updated: 2026-03-12
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status