LOGINTotal seminggu hari, Biya tidak mau bicara dengan Arsen dan keduanya terlibat perang dingin. Dan, meski Arsen masih belum menerima Bagas secara utuh, pria itu tidak masalah untuk bertemu terkait dengan pembahasan pindah.“Biya memang tergolong masih muda dan adikmu. Tapi, bukan berarti segala bentuk keputusan hidupnya harus diawasi oleh kamu, Arsen,” ucap Bagas sambil memperhatikan Arsen yang sedang mengambil air- untuk dirinya sendiri.“Kalau bukan aku, siapa lagi,” jawab Arsen lalu menoleh pada Bagas yang masih setia menatapnya, “you? Hah orang yang sudah nyakitin Biya? Seriously?”“Saya tidak menyangkal itu,” potong Bagas tenang. “Saya memang pernah menyakiti Biya. Dan saya tidak datang ke sini untuk menghapus fakta itu.”Arsen berhenti menuang air. Gelasnya sudah penuh sampai hampir meluap, tapi ia tidak sadar. “Terus apa?”Bagas berdiri menyandar di meja dapur, tidak defensif, tidak pula merendah. “Saya datang untuk memastikan satu hal bahwa keputusan tentang kepindahan dan menet
Bagas tidak menunggu Arsen menjawab, “itu kenyataan yang sama-sama tidak nyaman. Buat kamu, buat Biya, bahkan buat saya. Tapi kebencian kamu ke saya tidak akan mengubah fakta bahwa Biya tetap berhak memilih hidupnya sendiri.”Arsen tertawa pendek, pahit. “Kamu bicara soal hak, seolah dunia ini adil sejak awal.”“Tidak,” sahut Bagas cepat. “Saya bicara soal tanggung jawab. Kamu kakaknya. Tugas kamu melindungi, bukan mengendalikan.”Arsen mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. “Dan kamu? Apa tanggung jawabmu?”Bagas menghela napas, kali ini lebih dalam. “Menepati apa yang saya katakan. Menjaga Biya tetap punya ruang untuk menjadi dirinya sendiri bahkan kalau suatu hari itu berarti dia memilih pergi dari saya.”Kata-kata itu membuat Arsen terdiam lebih lama dari sebelumnya. Dari balik pintu, Biya merasakan dadanya mengencang. Ada bagian dari dirinya yang ingin keluar sekarang juga, tapi kakinya seperti tertanam di lantai.“Kamu sadar,” ujar Arsen akhirnya, suaranya lebih rendah, “kalau
"Ahh ah... ah .. ah," Biya tetus mendesah selaras dengan dorongan tubuhnya yang kadang menyentuh cermin.Sudah tidak terhitung berapa lama mereka berganti posisi bercinta. hingga saat ini di jam yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, keduanya dengan kondisi telanjang, keringat membuat kulit bersinar dan erangan yang tidak berhenti mengisi apartemen. Mereka bercinta di depan cermin besar milik Biya di ruang tamu denga bagas terus bergerak liar dari belakang.“Nghh, so tight,” geram Bagas yang meski sudah berulang kali melakukan, milik Biya masih sangat ketat.Biya berdiri membungkuk sedikit, kedua telapak tangannya menempel di kaca dingin, meninggalkan jejak sidik jari berkabut setiap kali dorongan Bagas membuat tubuhnya terdorong ke depan. Rambutnya yang basah menempel di pipi dan leher, beberapa helai menutupi mata, tapi ia tetap memaksa matanya terbuka, ingin melihat segalanya.Bagas di belakangnya seperti binatang dengan tubuhnya yang besar, otot-otot punggung dan lengannya mene
Biya menyusuri leher Bagas, jari-jarinya menyelusup ke rambut yang sudah berantakan, menariknya lebih dekat. Bibirnya menyerang kembali dengan lapar, rakus, seperti binatang yang baru lepas dari kandang. Bagas menggigit bibir bawah Biya pelan, menariknya hingga Biya mengeluarkan desahan kecil yang teredam, lalu menjilatnya dengan lidah yang panas.“Ahh.”Bagas mendorong tubuh Biya hingga punggungnya menyentuh dinding dingin apartemen, kontras tajam dengan panas yang membara di antara mereka. Ciuman itu menggebu, liar, lidah Bagas menari dengan lidah Biya, saling bertarung untuk dominasi, saling mengejar kenikmatan yang membuat dunia di sekitar mereka lenyap."Mas," gumam Biya di sela-sela ciuman.Bagas tak memberi kesempatan, tangan pria itu kini merayap ke bawah, menyusup di balik kaus tipis Biya, menyentuh kulit telanjang punggungnya yang panas. Sentuhan itu seperti listrik, membuat Biya melengkungkan tubuhnya, menekan dada ke dada Bagas, merasakan otot-otot tegang di bawah jaket ku
“Mas,” Biya kembali membuka suara, pelan tapi terasa seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian terakhirnya. “Apa yang harusnya aku lakuin? Diam aja waktu Abang bilang Mas cuma manfaatin aku?”Bagas tidak langsung menjawab. Ada suara gesekan kursi di seberang sana, Bagas berdiri dan menghadap jendela kamarnya yang menampilkan pemandangan kota malam.“Saya bukan orang baik, Biya,” ucap Bagas akhirnya, suaranya dalam dan berat. “Dan saya tidak keberatan kalau orang lain menganggap saya sampah. Tapi kamu,” Bagas terdiam sejenak, “kamu tidak seharusnya jatuh bersama saya.”Kata-kata itu membuat dada Biya mencelos. Ia meremas ujung bantal sofa, mencoba memahami apakah ia baru mendengar penolakan atau bentuk perlindungan yang salah arah.“Mas,” panggil Biya pelan, “aku yang milih, bukan karena manipulasi.”“Tidak semua pilihan itu sehat, Sayang,” Bagas kembali berkata, kali ini lebih lirih, seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri, “kadang cinta pun bisa menjerumuskan manu
Biya menegakkan punggungnya.“Jujur aja, Bang. Perusahaan Abang nggak hancur. Masih berdiri. Masih jalan. Bahkan mulai stabil setelah sidang putusan selesai. Mama dan Papa juga nggak dapat hukuman seumur hidup. Kita masih bisa ketemu, masih bisa ngobrol, masih bisa minta maaf kalau mau.”Ia berhenti sebentar untuk mengukur reaksi Arsen. Pria itu menunduk sedikit, tapi rahangnya mengeras.“Itu aja,” lanjut Biya pelan, “udah jauh lebih baik dari apa yang Mas Bagas dapat. Anak umur belasan tahun kehilangan dua orang tua dalam semalam. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa kesempatan terakhir buat peluk,” tatapan Biya melembut, tapi kalimatnya tetap menusuk.“Bang, itu sakit yang nggak ada batas waktunya. Kehilangan itu final. Kita masih punya keluarga, tapi dia? Nggak.”Arsen mengangkat kepala. Mata itu bukan marah, seperti terpukul, tapi menolak mengakuinya. Biya melanjutkan dengan suara lebih rendah,“Dan soal balas dendam, apa iya ‘balas dendam’ kalau yang dia tuntut cuma keadilan yang







