LOGINBiya tahu permintaannya gila. Siapa yang waras meminta sahabat kakaknya sendiri untuk mengajarinya berciuman? Namun, keberanian polos itu justru mengubah segalanya. Bagaswara, direktur dingin itu, seharusnya menolak mentah-mentah. Tapi tatapan Biya—adik sahabatnya—mampu meruntuhkan logikanya. “Bisa ajarin aku, nggak?” “Selama saya bisa. Ajarin apa?" “Ajarin aku… ciuman.” Satu kalimat itu menyeret Biya ke dunia bahaya dan gairah yang tak pernah ia bayangkan.
View MoreBiya tak pernah menyangka, hidupnya sebagai mahasiswa bisa berubah semiris ini. Hidupnya terasa lurus-lurus saja, tanpa drama yang berarti.
Semua itu berubah ketika Mahes, pacarnya selama hampir setahun, tiba-tiba memutuskan hubungan. Alasannya membuat Biya hancur sekaligus marah hanya karena ia menolak berciuman. Bagi Biya, menjaga diri bukan hal memalukan, tapi justru prinsip yang ia pegang teguh.
“Ih, kasihan ya,” suara seseorang terdengar di koridor.
Sayangnya, di mata Mahes, sikap itu dianggap membosankan, polos, dan tidak menarik. Sejak saat itu, Biya merasa harga dirinya runtuh. Perasaan itu tumbuh menjadi luka yang sulit sembuh, sekaligus melahirkan sebuah tekad baru. Ia ingin membuktikan pada dirinya—dan diam-diam pada Mahes—bahwa ia tidak sepolos dan semembosankan itu.
“Itu kan yang diputusin Mahes cuma gara-gara nggak mau dicium. Sok suci banget.”
Biya menunduk, berusaha tak peduli, meski telinganya panas dan matanya mulai berair. Apa salahnya menjaga diri? Memangnya itu dosa?
Sepanjang jalan pulang, bisikan dan tawa meremehkan terus menghantui. Dadanya sesak, langkahnya terasa berat. Hingga akhirnya, ketika ia melewati lorong belakang kampus, Biya berhenti. Pandangannya terpaku pada pemandangan yang menusuk jantungnya.
Mahes—lelaki yang baru saja memutuskan dirinya—kini tengah menempelkan bibirnya pada seorang mahasiswi lain, tangannya melingkar mesra di pinggang perempuan itu. Air mata Biya luruh seketika.
Sialan.
Baginya, yang paling menyakitkan bukan sekadar ditinggalkan. Tapi fakta bahwa Mahes bisa dengan ringan berkata ia terlalu polos, lalu beberapa hari kemudian dengan mudah menunjukkan "kemesraan" itu di depan umum, seolah membuktikan kalau keputusan meninggalkan Biya memang benar.
“Ini tuh tempat belajar! Dasar brengsek!” Biya menunduk, menahan suara agar tidak pecah.
Ia berbalik, langkahnya gemetar, tak ingin lagi melihat. Dadanya perih, bukan hanya karena diejek, tapi karena Mahes membuktikan semua ucapan kejamnya dengan tindakan.
Sesampainya di rumah, Biya langsung membanting pintu. Tasnya ia lempar ke sofa, tubuhnya ikut terjerembab menyusul. Lutut ditarik ke dada, matanya masih sembab.
“Kenapa ini kenapa?” tanya Abangnya, Arsen, seraya di kursi seberang.
Di sampingnya, Bagas—teman dekat abangnya yang kebetulan sedang mampir—ikut mendengar.
“Orang-orang bilang aku nggak menarik, cuma karena aku nggak mau dicium. Mereka ketawa, bilang aku cupu, nggak seksi. Mahes juga… dia—” suaranya pecah, tak sanggup melanjutkan.
“Siapa Mahes? Pacar kamu? Abang labrak ya! Bener bener ya!”
Masih dengan mata sembab, Biya mendongak. Air matanya masih menempel. “Gak usah!”
Bukan emosi kesal yang ia lihat. Justru abangnya tertawa.
Yang ia dapatkan bukan tatapan marah, melainkan tawa keras abangnya.
“Biyaaa, kamu tuh! HAHAHAHA.” Arsen terbahak sambil menggeleng, seolah masalah Biya hanya remeh-temeh.
Biya menatapnya tak percaya. “Bang, aku serius!” suaranya pecah, matanya memerah lagi.
Tawa Arsen perlahan mereda, tapi bukan karena sadar. Ia masih menyeringai. “Ya ampun, Biya… gara-gara nggak mau dicium aja kamu dibikin nangis? Kenapa sihh kamuu?”
Biya ingin membantah, tapi terhenti ketika menyadari Bagas masih duduk di sana. Lelaki itu diam, hanya menatapnya lurus. Tatapan yang sama sekali berbeda dari Arsen—tidak mengejek, tidak meremehkan. Ia menatap Biya lurus.
Perempuan itu melemparkan bantal ke arah Arsen yang masih tertawa. Kemudian melangkah lari ke kamarnya.
Di kamar, ia berdiri di depan cermin besar, menatap wajahnya yang lelah tapi penuh tanda tanya. Jari-jarinya menyentuh pelan bibirnya yang sering kali terasa kaku dan tak percaya diri.
Matanya menelusuri lekuk wajah, bahu, hingga ke rambut yang selama ini ia anggap biasa saja. Ada getar halus di dadanya—antara ragu dan berharap.
Jarinya pelan menyentuh bibirnya sendiri, seolah mencari jawaban yang tak mudah ditemukan. Bibir Biya memang bukan tipe bibir tipis atau tebal, bisa dibilang berada ditengah-tengah. Dulu, saat masih SMP, SMA, ia merasa insecure dengan bibirnya, tapi itu berubah saat mulai kuliah sarjana.
Ada kekhawatiran tersembunyi di balik kata-katanya, sebuah ketidakpastian tentang tubuh yang selama ini ia merasa asing dengannya sendiri.
“Apa aku gak menarik?”
Biya menghela nafas panjang, mencoba menerima bayangan dirinya yang selama ini ia pandang sebelah mata.
Perihal tubuh saja bisa menjadi ejekan untuk orang lain, memangnya dosa ya kalau tidak seksi? Kalau semua wanita dimuka bumi ini memiliki bentuk tubuh yang dianggap seksi, itu artinya tidak ada keberagaman dalam manusia.
Benar? Harusnya sih iya.
Biya menghela nafas lelah, mencari validasi dalam pikirannya sendiri bahwa dengan begini saja sudah cukup.
Bukan gue yang nggak seksi, tapi mereka yang otak mesum. Sambil menatap pantulannya di cermin, Biya memiliki ide gila.
Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi ke ruang tamu. Arsen sudah tidak ada. Hanya Bagas yang masih duduk, menunduk ke arah laptopnya.
“Abang kemana, Mas?” suara Biya lirih.
“Salin dokumen di ruang kerjanya,” jawabnya tanpa menoleh pada Biya. Biya menghela nafas, mengumpulkan keberanian yang tersisa.
“Mas, ada sesuatu yang mau aku omongin,” suaranya pelan, nyaris bergetar.
Bagas tersenyum ramah, menatapnya penuh perhatian.
“Ada apa?”
Biya mengumpulkan kata-kata, menyiapkan langkah pertamanya dalam perjalanan yang tak mudah ini.
“Bisa ajarin aku, nggak?”
“Selama saya bisa,” begitu jawabnya yang semakin mempercepat debaran jantungnya. Bagas menatapnya dengan tenang, menunggu adik sahabatnya mengatakan niatnya.
“Ajarin apa?” tanyanya lagi.
“Ajarin aku ciuman.”
"Aaaaaaaaaaaaaa."Bagas membiarkan istrinya itu berteriak kencang sesaan setelah mereka menginjakkan kaki di bandara Belanda.Biya berhenti mendadak, menatap sekeliling dengan mata membulat. Angin belanda terlalu segar di rasa atau memang Biya saja yang berlebihan dalam euphoria kepindahannya ke Belanda.“Mas,” katanya pelan tapi penuh tekanan, “ini, kita beneran pindah.”Bagas menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya.”Biya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya keras. “Aku kira aku bakal biasa aja. Ternyata enggak.”Bagas mendekat dan memeluk pinggang ramping istrinya. Menatap wajah berseri itu kala mereka benar-benar tiba di Belanda. Perjalanan menuju rumah baru memakan waktu kurang lebih 40 menit- yang mana Biya pun tidak tahu bagaimana penampakan rumah baru mereka."What the- ini beneran rumah kamu?" tanya Biya dengan kekaguman."Rumah kita," koreksi Bagas.Biya kira mereka akan tinggal di apartemen besar di lantai paling atas dengan pemandangan kota. Namun, justru
Biya memutar tubuhnya sedikit, menghadap suaminya. Matanya bertemu dengan mata Bagas yang gelap, penuh cinta dan keinginan.“Aku juga,” Biya mengakui dengan pelan, tangannya naik ke dada Bagas, merasakan detak jantung yang sama cepatnya.Biya berbalik dan kembali bersandar rileks di dada Bagas, napasnya sudah tenang sepenuhnya. Tangan Bagas yang tadinya hanya memeluk pinggang istrinya kini mulai bergerak lebih lambat, lebih berani dengan jari-jarinya menyusuri kulit perut Biya yang halus, naik perlahan hingga menyentuh tepian payudaranya.“Sepertinya memang Mas sudah tidak tahan, sayang,” bisik Bagas yang gagal menekan keinginannya.Biya menggigit bibir bawahnya pelan, merasakan getaran kecil di tubuhnya. “Mas,” desahnya lembut, bukan protes, melainkan seperti undangan.Air hangat di bathtub masih menyelimuti mereka berdua, gelembung busa perlahan menghilang seiring waktu. Bagas tersenyum di balik leher istrinya, bibirnya mencium pelan kulit pundak Biya yang basah.“Hmm?” jawabnya ser
Tidak ada malam pertama yang katanya banyak orang harus dilakukan, karena Biya sudah lebih dulu tertidur setelah bertanya satu hal terakhir pada suaminya itu. Dan saat matahari mulai memunculkan dirinya dengan malu-malu, barulah Biya menyadari bahwa kini hidupnya akan sangat berwarna dengan kehadiran seseorang yang akan menemaninya seumur hidup."MASSS!"Teriakan itu menyadarkan Bagas dari tidurnya, pria itu langsung terduduk dengan mata setengah terduduk. Sangat lucu dengan wajah linglung, rambutnya acak-acakan, ekspresinya kosong beberapa detik sebelum fokus.“Kenapa?” suaranya serak, refleks.Biya duduk di ranjang, selimut terlepas setengah. Wajahnya panik tapi bukan panik besar.“Jam berapa?”Bagas mengerjap, menoleh ke kanan-kiri untuk mencari ponselnya. Namun, sayangnya ponsel itu belum juga ditemukan. "Ponsel, sayang. Di mana?"Benar-benar kekacauan pagi hari, suami-istri yang sedang mencari ponsel. Biya khawatir mereka akan ketinggalan pesawat untuk terbang ke Belanda, menging
Bagi sebagian orang, pernikahan adalah peristiwa sakral. Bagi Bagas, itu adalah momen ketika dadanya terasa terlalu sempit untuk napasnya sendiri.Saat Biya melangkah masuk ke altar, senyum di wajahnya muncul secara otomatis dengan hangat. Ada sesuatu yang mengeras di tenggorokannya, sesuatu yang selama ini tak pernah ia izinkan muncul. Untuk pertama kalinya, Bagas menyadari betapa dekat jaraknya antara kebahagiaan dan air mata.Langkah Biya pelan, gaun putihnya jatuh sederhana, cahaya pagi menyelinap melalui jendela kapel, memantul lembut di rambutnya. Bagas berdiri tegak dengan jemari mengepal tanpa sadar saat Biya sampai di hadapannya dan mengangkat wajah.Mata mereka bertemu.“Beautiful,” ucapnya lirih yang membuat Biya tersenyum.Upacara berjalan dengan tenang. Saat Bagas mengucap janji, ia tidak mencoba terdengar sempurna. Pria itu memilih jujur.“Saya berjanji untuk tidak selalu benar,” katanya, menatap Biya tanpa berpaling. “Tapi saya akan selalu hadir. Saya berjanji memberi k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore