Mag-log in
Bab 1
Saat akan servis AC, Alan ternyata salah masuk kamar.
"Akhirnya, aku udah nungguin kamu 30 menit. Ayo, cepat, cepat sentuh tubuhku!"
Alan terkejut. Beberapa waktu lalu, dia mendapat panggilan untuk membenahi Ac yang rusak di sebuah kamar hotel. Namun sayangnya, dia salah masuk kamar, yang harusnya 404, jadi 403.
Dan sekarang, ia berdiri di hadapan wanita cantik yang hanya menggunakan lingerie, sekaligus matanya berkaca-kaca.
"T-tunggu dulu, Mbak! Ada apa ini? Saya ini…"
Belum sempat Alan bereaksi, wanita itu merangkulkan tangannya ke pinggang Alan, lalu segera menutup pintu. Tanpa basa-basi, dia mencium bibir Alan dan mengarahkan tangan Alan ke miliknya.
Alan yang bingung dengan apa yang terjadi di sini, cepat-cepat mendorong tubuh wanita itu agar mundur selangkah.
Di satu sisi, dia merasa beruntung karena mendapat suatu kenikmatan tanpa harus membayar mahal. Tapi di sisi lain, dia takut apabila ini adalah suatu prank -- seperti layaknya prank di video biru media -- di mana, dia akan dieksplotasi begitu mukanya tersebar.
Karena tak mau gegabah, Alan pun kembali memastikan motif wanita itu lagi. "Mbak, saya rasa kamu itu salah paham! Saya ini tukang…"
"Panggil namaku, Alena, dan cepat berikan aku kenikmatan yang tak pernah bisa diberikan suamiku..." Wanita itu kembali memeluk Alan, lalu coba menciumnya. Namun kali ini, Alan tak bisa berbuat banyak karena tangannya reflek memangku paha Alena ketika wanita itu meloncat dalam pelukannya.
Mengetahui bahwa Alan memiliki otot kekar dan tangan kuat, Alena makin yakin bahwa benih pria ini pasti bisa membuatnya hamil. Dan... itu membuat Alena semakin beringas menciumi leher Alan.
Sebaliknya, Alan yang masih belum tahu motif wanita itu, segera menaruh perkakasnya, lalu menidurkan wanita dalam gendongannya itu ke atas ranjang.
Bukan karena punya kelainan s3ksu4l, atau tidak puas dengan suaminya Alena melakukan itu. Tapi ada satu alasan kuat yang membuat Alena terpaksa menyewa laki laki untuk tidur dengannya. Tanpa banyak kata, Alena memposisikan diri untuk menaiki tubuh Alan, mengunci kedua tangan pria itu di atas kepala. "Aku tidak peduli siapa kamu atau apa pekerjaanmu! Aku bayar kamu bukan untuk mendengar ocehanmu!” potong Alena dingin, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Alan. Ada kilat keputusasaan yang dalam di sana. "Tapi tolong jangan bersikap seperti ini. Saya takut nggak bisa nahan diri!” cerocos Alan dengan jujur. Sebagai pria normal, posisi dan desakan itu bisa dengan mudah melunturkan keteguhannya. “Kalau nggak tahan, tinggal lepaskan aja. Gampang kan? Semakin cepat selesai tugasmu, akan semakin baik!” "La iya Mbak, kamu tolong turun dulu, biar saya segera bisa mulai mengerjakan tugas saya untuk memperbaiki AC nya," Alan berusaha bersuara rasional, meski detak jantungnya kini berpalu keras. Posisinya sungguh tidak menguntungkan, atau justru terlalu menguntungkan untuk seorang pria lajang sepertinya. “ AC? Hei menurutmu sudah dalam posisi begini aku sewa kamu untuk nyervis AC? Jangan pura-pura bodoh deh!” Alena terkekeh sinis, sebuah tawa pahit yang menggebu. Sejujurnya Alena gengsi dengan apa yang dia lakukan, sehingga sebisa mungkin dia mendominasi untuk memegang kendali. Alan meneguk ludah. Matanya secara refleks menyapu penampilan Alena dari jarak sejengkal. “Sialan, jadi aku beneran sedang dijebak!” gerutu Alan dalam hati. Sementara itu, Alena terus mengeskplor kulitnya yang putih bersih, serta harum tubuhnya yang menguar tajam. Hal itu membuat pertahanan mental Alan yang tadinya kukuh mulai goyah secara drastis. Dia hanya seorang pria normal berdarah panas. Berada di posisi sesulit, dan seindah ini adalah ujian berat. Belum sampai Alan menjawab, Alena kembali bersuara. "Aku suruh kamu ke sini bukan suruh kamu servis, cepat lakukan tugasmu!!” tegas Alena tanpa basa basi. "Apa?! Mbak gila? Kita bahkan tidak saling kenal!" Alan melotot, benar-benar syok. "Aku tidak butuh kenalan sama kamu. Aku cuma mau membuktikannya malam ini apakah aku benar-benar mandul seperti yang dituduhkan suamiku!” seru Alena dengan nafas yang menggebu penuh amarah yang tertahan. Bukan tanpa alasan Alena menyewa seorang pria untuk menghamilinya. Itu adalah bentuk rasa keputus asaan karena dirinya selalu disebut mandul oleh suaminya, sementara dirinya dinyatakan sehat oleh Dokter. Alena dibuat bingung dengan keadaan itu. HIngga akhinya rasa penasaran tersebut membuat Alena nekat menyewa pria bayaran untuk menghamilinya tanpa sepengetahuan suaminya. JIka dia benar tidak hamil, berarti ada yang salah dengan pemeriksaan Dokter. Tapi jika dia ternyata bisa hamil, mungkin suaminyalah yang bermasalah. Alan masih berusaha menjaga kewarasan dan tidak langsung terpengaruh dengan ajakan Alena. Tapi Alena terus memaksa. Sentuhan lembut jemari Alena yang menyusup ke bawah kaus kerja Alan, menyapu dada tegap Alan yang kencang. Kulit mereka bertemu, mengalirkan hawa panas yang membakar seketika dan meruntuhkan keteguhan Alan. "Baiklah. Jangan menyesal karena memaksaku, Mbak," bisik Alan dengan suara berat yang serak. "Aku tidak akan pernah menyesal," balas Alena dengan yakin. Tanpa membuang waktu lagi, Alan membalikkan posisi mereka. Kini dialah yang mengungkung tubuh molek wanita itu. Alena menarik tengkuk Alan, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang penuh akan amarah, rasa frustrasi, dan gairah yang membara. Segalanya terjadi begitu cepat dan intens. Alan, yang awalnya hanya berniat servis AC, justru berubah haluan memberikan servis pada wanita cantik secara gratisan dan bahkan malah dapat bayaran. “Tidak perlu banyak gaya! Cepat tanamkan benihmu! Aku hanya butuh itu!” titah Alena dengan nafas yang memburu. “Baik, jika itu mau kamu Mbak. Terima ini!” seru Alan dengan wajah yang mulai terpancing gairah. Sesuai dengan permintaan Alena, Alan melakukannya dengan cepat. Tidak seperti pasangan pada umumnya yang bercinta dengan penuh perasaan, Alan hanya sekedar diminta mengeluarkan benih dengan cepat. Hanya dalam durasi beberapa menit dan berkali kali hentakan, Alan mampu mencapai puncaknya. Tubuh mulus Alena menyambutnya dengan sedikit bergetar. Bisa Alena rasakan, hentakan yang diberikan oleh Alan jauh lebih kuat daripada suaminya. Apalagi dengan ukuran yang lebih besar dan panjang. Sesuai permintaan wanita itu, Alan menumpahkan benih kehidupan di rahim Alena dalam sebuah hubungan yang singkat yang sulit dipahami. Alan terlentang di samping Alena, menyapu keringat di dahinya dengan lengan. Dadanya naik turun tidak teratur. Otaknya yang sempat mati rasa kini perlahan-lahan mulai berfungsi kembali. “Gila! Apa yang baru saja aku lakukan? Bagaimana bisa tiba tiba aku bercocok tanam dengan perempuan asing? Perempuan ini juga lebih gila dariku!” panik Alan dalam hati sambil melirik ke arah Alena. Usai melakukan aksi cocok tanam dadakan tersebut, Alena segera duduk di tepi ranjang, membelakangi Alan. Dia menyanggul rambut panjangnya yang berantakan dengan gerakan cepat, lalu mengenakan kembali gaun tidur sutranya. Tampak jelas raut kepuasan sekaligus ketegangan di wajah cantiknya. "Bagus. Aku akan lihat hasilnya bulan depan,” gumam Alena pada dirinya sendiri. Meski dia malu dengan perbuatannya sendiri yang menjijikkan, tapi hanya cara itu yang bisa membuktikan dirinya mandul atau tidak. Alena meraih tas tangannya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Dia mengambil seikat uang kertas lembaran seratus ribuan tanpa menghitungnya, lalu berbalik menatap Alan. "Ini bayaranmu. Terima kasih sudah melakukan tugasmu dengan cepat. Sekarang kamu bisa pergi dan anggap kejadian ini tidak pernah ada!” kata Alena dengan nada dingin sambil mengulurkan seikat uang itu. Alan menyipitkan mata, menatap tumpukan uang itu lalu beralih menatap Alena. Rasa tersinggung mendadak menyenggol harga dirinya sebagai pria. " Apa apaan ini? Saya tidak butuh uang kamu, Mbak. Kamu pikir saya jual diri? " seru Alan dengan tegas sambil berdiri dan mulai mengenakan pakaian kerjanya kembali dengan cepat. "Jangan sok jual mahal. Bukannya kamu memang menyewakan diri untuk ini? Ambil uangnya. Ini lebih dari cukup untuk tarifmu!” cibir Alena. "Saya bilang, saya tidak…" Ting! Kalimat Alan terputus saat suara notifikasi pesan masuk bernada nyaring terdengar dari ponsel Alena yang berada di atas meja. Alena mengernyit. Dia mengabaikan Alan sejenak dan meraih ponselnya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah pesan W******p dari nomor tak dikenal. Alena segera membaca pesan di layar kunci tersebut dari nomor tidak dikenal. “Nyonya Alena, maaf saya baru sampai di lobi hotel. Tadi ban motor saya bocor di jalan. Saya pria bayaran yang Mbak pesan dari aplikasi. Nyonya berada di kamar nomor berapa ya? Saya segera naik.” Darah di tubuh Alena mendadak berhenti mengalir usai membaca pesan tersebut. Wajah cantiknya seketika pucat pasi. Matanya membelalak menatap layar ponsel, lalu perlahan-lahan mengadah, menatap Alan yang sedang mengancingkan celana kerjanya. ”Astaga! Apa itu artinya aku sedang salah orang?” kejut Alena di dalam hati dengan mulut menganga.Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya."Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu
Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan."Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.
Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a
Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. Dia adalah Angga, suami Alena.Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah."Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam."
Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu
Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya."Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara."Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat."Jangan bahas s







