Share

BAB 2

Author: ANDIN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 09:20:22

Bab 2

 Matanya terpaku pada bordiran logo kecil di dada kaus otomotif yang dikenakan Alan yang bertuliskan Jasa Service AC. Alena menoleh ke lantai dekat pintu, menatap tas perkakas besi yang terbuka, memperlihatkan obeng, tang, dan tabung freon kecil yang tergeletak di sana.

​"Jika laki laki itu bukan kamu, lalu kamu ini siapa? Kenapa masuk ke kamarku?" tanya Alena dengan suara gemetar , menyiratkan kepanikan yang luar biasa.

Melihat perubahan raut wajah Alena yang semula menggebu dan kini menjadi lunak dipenuhi rasa kaget, Alan segera angkat bicara untuk memperkenalkan diri.

​"Kenalin, saya Alan Mbak. Tukang servis AC yang dipanggil pihak hotel untuk benerin AC kamar 404."

“Apa? Jadi benaran kamu ini tukang servis AC? Tapi kamarku ini kan nomor 403!” teriak Alena tidak percaya. 

“Serius Mbak ini kamar 403? Jadi, aku salah kamar dong!” Alan pun tak kalah terkejutnya dengan Alena.

Suasana di dalam kamar itu seketika membeku. Keheningan yang sangat mencekam mendadak merayapi setiap sudut ruangan yang baru saja menjadi saksi bisu hubungan intim tak terduga di antara dua orang asing tersebut.

​Alena berdiri kaku. Bibirnya sedikit terbuka, menatap Alan dan logo perusahaan servis AC di dadanya secara bergantian dengan tatapan tidak percaya. Tentu dia merasa sangat malu. Rasa bersalah dan canggung langsung menghantam kesadaran Alena secara bertubi-tubi. 

Alena, seorang perempuan terpandang, berpendidikan, dan istri dari seorang pengusaha kaya, baru saja menyerahkan tubuhnya secara sukarela kepada seorang tukang servis AC yang salah masuk kamar.

“Astaga! Aku sudah salah orang! Gimana dong ini?” panik Alena.

​Namun, rasa gengsi yang setinggi langit menghalangi Alena untuk mengakui kesalahannya. Mengakui bahwa dia telah melakukan kecerobohan sekonyol ini adalah sebuah kehancuran bagi harga dirinya. Sehingga untuk menutupi rasa malu yang membakar dadanya, Alena memilih untuk menyalahkan Alan lebih dahulu.

​"Duuuuh… Kenapa kamu nggak bilang dari awal sih kalau kamu itu tukang servis AC?!" bentak Alena. Suaranya meninggi, berusaha menutupi rasa malu dan getaran kepanikan di tenggorokannya.

​Alan yang sedang merapikan ikat pinggangnya langsung menghentikan gerakannya. Dia menatap Alena dengan dahi berkerut, heran dan tak habis pikir atas reaksi wanita di depannya.

​"Loh kok jadi nyalahin saya? Dari pertama saya melangkah masuk ke kamar ini, saya sudah bilang kalau saya mau benerin AC. Tapi mbak nggak peduli,” balas Alan dengan nada suara yang tak kalah meninggi.

​"Tapi kamu kan bisa teriak! Kamu dorong aku kek! Atau gimanalah pokoknya intinya kamu tegaskan kalau kamu salah kamar, bukannya malah diam saja!" sergah Alena dengan cepat. Matanya menatap Alan dengan kilatan amarah yang dibuat-buat, padahal sebenarnya dia sangat menahan malu.

​Alan terkekeh sinis. Tawa pahit keluar dari mulutnya mendengar tuduhan yang sungguh tak masuk akal itu.

​"Mbak, tolong ingat baik-baik. Waktu saya baru masuk, Mbak langsung tarik leher saya. Mbak dorong saya ke kasur. Mbak kencangkan tangan saya. Dan tiap kali saya mau buka suara buat menjelaskan, Mbak selalu potong dan bilang tak peduli siapa saya! Dan minta saya segera...” cerocos Alan sambil melangkah satu tindak mendekati Alena, tapi Alena segera memotongnya.

​"Tapi ya harusnya kamu bisa menghindar. Kamu kan laki laki! Pasti kan… lebih kuat dari saya. Bukan malah…malah menikmati kesempatan dalam kesempitan!" potong Alena dengan nafas memburu dan wajah makin memerah.

​"Ya gimana lagi Mbak?! Saya ini pria normal. Saya sudah berusaha menghindar, tapi Mbak malah nempelin tubuh Mbak ke saya, terus minta saya... minta saya tanam benih di rahim Mbak! Pria mana yang bisa berpikir jernih kalau dipaksa seperti itu?!" Alan menunjuk dirinya sendiri dengan nada tidak percaya.

​Kata-kata Alan tepat menembus jantung pertahanan Alena, apalagi saat Alan mengatakan tentang menanam benih. Kalimat itu menusuk telinga Alena, memukul telak kesadarannya. Rasa malu yang luar biasa kini membakar seluruh wajah dan lehernya hingga merona merah padam. 

Dia merasa begitu murahan. Sangat amat murahan. Bagaimana mungkin dia sampai bertindak seberani dan senekat itu pada laki-laki asing yang bahkan tidak dia ketahui namanya?

​Tapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tak lagi ada gunanya. Benih pria asing ini  pria yang hanya seorang tukang servis AC, sudah terlanjur tertanam di dalam rahimnya. Sesuatu yang tadi begitu gigih dia minta dengan kesadaran penuh.

​Alena menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya yang gemetar. Dia memalingkan wajah, menolak menatap mata Alan yang tajam membakar.

​"Sudahlah! Semua sudah terjadi. Tidak ada yang perlu dibahas lagi! Lagian aku kan sudah memberi kamu uang” potong Alena dengan dingin, menyembunyikan kerapuhannya di balik nada angkuh

​"Enak saja bilang begitu! Mbak pikir saya ini pria apa? Mbak pikir masalah sebesar ini akan hilang gitu aja. Kalau sampai mbak hamil, saya akan dalam masalah!" protes Alan, dadanya naik turun menahan amarah.

​"Dengar ya. Kamu tidak usah takut. Aku tidak akan menuntut apa pun dari kamu. Aku tidak akan minta kamu bertanggung jawab kalaupun… lagian  aku nggak mungkin hamil!” tegas Alena sambil kembali menatap Alan, berusaha bersikap setenang mungkin meski hatinya bergemuruh.

​Alan menyipitkan mata. "Kenapa Mbak bisa seyakin itu?"

​Alena tersenyum tipis, sebuah senyuman pahit yang penuh duka yang tersembunyi. 

"Karena aku mandul. Suamiku sendiri yang selalu bilang kalau aku wanita mandul. Dokter boleh bilang aku sehat, tapi kenyataannya aku tidak pernah bisa hamil. Jadi tenang saja, benihmu itu tidak akan jadi apa-apa di dalam tubuhku. Anggap saja ini ketidakberuntungan mu malam ini."

​Alan tertegun sejenak mendengar jawaban dari Alena. Rupanya Wanita ini sudah bersuami, dan berniat main belakang hanya demi membuktikan kesuburannya. Mendadak, ada simpati di hatinya. 

Namun, rasa simpati yang sempat terlintas sekilas di hati Alan langsung menguap berganti amarah ketika Alena kembali bersikap arogan.

​"Sekarang, ambil tas perkakasmu dan keluar dari kamarku. Keluar sekarang juga sebelum aku panggil keamanan hotel!" perintah Alena tegas sambil menunjuk ke arah pintu keluar.

​"Mbak mengusir saya?!" Alan melangkah maju, menatap Alena dengan tatapan menyalang.

​Harga diri Alan sebagai seorang pria benar-benar hancur berkeping-keping. Dia bukan pria panggilan yang bisa disuruh berbuat asusil4 seenaknya, lalu menganggap semua usai setelah diberi bayaran.

Dia bekerja keras secara halal membanting tulang setiap hari sebagai teknisi. Namun malam ini, di dalam kamar mewah ini, dia diperlakukan tak ubahnya seperti alat pemuas kepuasan dan eksperimen konyol seorang wanita kaya yang frustrasi. Dia merasa dimanfaatkan, dihina, dan dibuang begitu saja setelah dipakai.

​"Iya! Aku minta kamu keluar! Apa kata-kataku kurang jelas?" bentak Alena lagi.

​"Mbak benar-benar tidak punya hati, ya? Mbak yang tarik saya ke sini, Mbak yang minta saya melayani Mbak sampai menanam benih, dan sekarang setelah Mbak dapat apa yang Mbak mau, Mbak mengusir saya seperti anjing?" geram Alan dengan suara yang meninggi.

​Alena merasa tersudut oleh tatapan tajam Alan. Rasa canggung dan malunya makin bertumpuk-tumpuk, membuatnya makin bersikap defensif.

​"Lalu kamu mau apa?! Bukankah tujuan kamu kerja itu cari uang? Ini ambil uangmu!" teriak Alena makin merasa malu dengan penolakan dan kata kata Alan. Meski apa yang diucapkan oleh Alan itu benar, tapi Alena tidak mau tunduk begitu saja.

Alena meraih seikat uang kertas yang tadi dia letakkan di atas meja, lalu melemparkannya ke dada Alan hingga lembaran uang kertas seratus ribuan itu berhamburan jatuh melayang ke lantai. Alan membeku saat lembaran uang itu menampar dadanya dan berserakan di sekitar kakinya. Saat dia hendak menanggapi ucapan Alena, perempuan itu kembali membentak.

​"Apa Uang yang aku berikan tadi kurang?! Berapa yang kamu minta?! Sebut angkanya! Berapa harga yang kamu minta untuk kompensasi kehormatanmu malam ini?!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 12

    Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.​Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya.​"Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.​Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 11

    Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan.​"Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.​Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.​Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.​Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 10

    Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.​Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.​Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.​Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 9

    Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. ​Dia adalah Angga, suami Alena.​Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.​Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah.​"Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"​Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.​"

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 8

    Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 7

    Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.​Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya.​"Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara.​"Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.​Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat.​"Jangan bahas s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status