เข้าสู่ระบบKeluarganya dibantai. Kini dia kembali untuk menuntut balas pada semua musuhnya. Dalam perjalanannya, kemampuan beladiri dan kemampuan medisnya membuat dia dikagumi para wanita. Para wanita antri menjatuhkan diri dalam pelukannya, tapi tujuannya tetap sama, yaitu menuntut balas
ดูเพิ่มเติมKapal feri itu merapat perlahan ke dermaga Kota Alfa tepat saat matahari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga yang memantul di permukaan laut. Di antara penumpang yang berdesakan menuju pintu keluar, seorang pemuda berdiri diam di dekat pagar buritan, menatap garis pantai yang perlahan-lahan semakin jelas dari kejauhan.
Kevin.
Dua puluh dua tahun, wajah yang terlalu tampan untuk usianya, dengan rahang tegas dan mata gelap yang menyimpan sesuatu yang susah diartikan. Dia mengenakan kemeja putih polos yang sudah beberapa kali dicuci hingga warnanya memudar, celana katun abu-abu, dan sepatu kulit cokelat tua yang ujungnya mengelupas di satu sisi. Tidak ada yang akan menyangka pemuda berpenampilan sederhana ini pernah berdiri di tepi maut.
Tidak ada yang akan menyangka bahwa enam tahun yang lalu, kota inilah yang merenggut segalanya darinya.
Dia menarik napas panjang. Aroma laut Kota Alfa sama persis seperti yang selalu dia kenang, asin dan sedikit amis, bercampur dengan bau solar kapal yang menggantung di udara pelabuhan. Tapi kali ini aroma itu tidak membawa nostalgia. Aroma itu membawa gambar, gambar yang tidak pernah benar-benar pergi dari balik kelopak matanya setiap kali dia memejamkan mata.
Restoran tepi pantai itu.
Lampu-lampu kecil berwarna kuning yang menggantung di sepanjang beranda. Suara tawa para tamu undangan yang mengisi ruangan besar dengan dekorasi mewah. Ayahnya yang duduk di kepala meja dengan senyum yang selalu terlihat terlalu lebar setiap kali berhadapan dengan orang-orang dari keluarga besar kota ini. Ibunya yang merapikan lipatan serbet di pangkuan, sedikit canggung di tengah kemewahan yang tidak biasa bagi mereka.
Dan para tamu undangan dari keluarga-keluarga besar itu, keluarga Hartono, keluarga Susanto, keluarga Brama, keluarga Wirata, dan beberapa lagi yang namanya sudah Kevin hafalkan luar kepala dalam enam tahun ini. Mereka semua hadir malam itu. Mereka semua tertawa, bercengkerama, bersulang, dan kemudian...
Kevin mengatupkan rahangnya.
Kemudian datanglah orang-orang itu dari luar. Dan para tamu undangan dari keluarga besar itu, bukannya berteriak ketakutan atau berlarian, justru menepi dengan tenang ke sudut ruangan. Wajah mereka, Kevin tidak akan pernah melupakan wajah-wajah itu. Bukan wajah ketakutan. Bukan wajah terkejut.
Wajah penuh antisipasi. Seolah penonton yang menunggu tontonan mereka.
Wajah orang-orang yang sedang menonton pementasan yang memang sudah mereka rencanakan.
Kemudian pembunuhan mulai terjadi oleh orang yang tidak Kevin kenal dari ibukota itu. Ayahnya Kevin adalah korban pertama yang dibunuh dengan kejam. Ibunya Kevin mulai menjerit, berusaha membela ayahnya.
Paman Dodi yang berdiri paling dekat dengannya, tanpa kata-kata, tiba-tiba meraih Kevin dengan dua tangannya dan melemparkannya keluar dari jendela restoran yang terbuka. Kevin masih ingat sensasi udara malam menghantam mukanya, ingat bagaimana tubuhnya yang waktu itu masih kecil kurus itu meluncur jauh sebelum akhirnya membentur permukaan air laut dengan keras.
Dia tenggelam, naik, tenggelam lagi. Ombak malam itu tidak ramah.
Yang dia ingat berikutnya adalah wajah seorang lelaki tua dengan janggut putih panjang, yang menatapnya dari atas sebuah perahu kecil dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Kamu mau mati atau mau hidup?" tanya lelaki tua itu.
Kevin, yang waktu itu berusia enam belas tahun, menjawab dengan suara terputus-putus karena hampir tidak punya tenaga, "Hidup. Saya mau hidup."
Pak Soma, begitu Kevin memanggilnya kemudian, ternyata bukan sekadar nelayan tua. Dia adalah seseorang yang selama hidupnya menghabiskan waktu mempelajari berbagai hal, mulai dari ilmu beladiri hingga ekonomi, dari psikologi hingga cara kerja pasar modal, dari cara membaca manusia hingga cara menggerakkan sistem. Orang yang pernah berdiri di puncak dunia bisnisnya sendiri sebelum memilih untuk turun dan hidup tenang di atas perahunya.
Enam tahun bersama Pak Soma adalah enam tahun yang mengubah Kevin dari remaja yang hampir mati menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang kini berdiri di geladak feri ini dengan wajah tenang tetapi dengan tujuan yang sudah dipertajam selama ribuan hari.
Dia datang untuk mencari tahu nama orang yang melakukan pembantaian itu. Seseorang dari ibu kota, begitu yang berhasil dia ketahui dari serpihan informasi yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. Seseorang yang memiliki kepentingan di Kota Alfa dan menginginkan keluarga Kevin lenyap.
Dan untuk sampai ke orang itu, dia harus melewati keluarga-keluarga besar kota ini terlebih dahulu. Keluarga-keluarga yang malam itu berdiri di sudut ruangan dan tersenyum.
Feri bersandar dengan bunyi benturan pelan. Kevin mengangkat tas ranselnya, menarik napas sekali lagi, dan berbalik menuju kerumunan.
---
Terminal kedatangan Pelabuhan Kota Alfa tidak terlalu besar, tapi pada sore hari seperti ini selalu penuh sesak. Kevin berdiri di samping ban berjalan pengangkut bagasi, menunggu kopernya yang sudah tua muncul dari balik tirai karet hitam itu. Satu-satunya kopernya, berwarna biru tua yang sudah pudar, bertempelkan stiker kecil bergambar jangkar yang ditempelkan Pak Soma dulu sebagai tanda bercanda bahwa Kevin tidak akan lagi tenggelam.
Saat itulah dia menyadari kehadiran mereka.
Lima gadis berdiri tidak jauh darinya, menunggu bagasi juga rupanya. Semuanya berpenampilan rapi, tas bermerek, pakaian yang jelas tidak murah, rambut yang dirawat. Mereka berbicara satu sama lain dengan suara cukup keras, sesekali tertawa bersama. Kevin tidak memperhatikan mereka secara khusus. Matanya tetap tertuju pada ban berjalan.
Koper birunya muncul.
Kevin melangkah maju, sedikit menjulurkan tangannya untuk meraih pegangan koper, dan pada saat itulah tubuhnya bergerak sedikit ke kiri mengikuti sudut bahu yang terlalu lebar, menyenggol bahu salah seorang gadis yang berdiri tepat di sampingnya.
Bukan benturan keras. Lebih mirip sentuhan ringan yang bahkan mungkin tidak terasa kalau bukan karena si gadis memang sedang berdiri terlalu dekat.
"Hei!"
Kevin memutar kepala. Gadis yang tersenggol itu sedang menepuk-nepuk bahunya dengan gerakan berulang, seolah-olah dia baru saja terkena sesuatu yang kotor. Matanya, yang sudah dibingkai maskara tebal dan sedikit eyeliner tajam di sudutnya, menatap Kevin dari atas ke bawah dengan ekspresi yang tidak repot-repot menyembunyikan rasa jijiknya.
Kevin melihat apa yang dilihat gadis itu. Kemeja putih pudar. Celana katun biasa. Sepatu kulit cokelat yang ujungnya mengelupas. Tas ransel lusuh di punggungnya dan koper tua di tangannya.
Sudut bibir gadis itu menekuk ke bawah.
Kevin mengenal ekspresi itu. Dia sudah mengenal ekspresi itu sejak lama, sejak masa sekolah di SMA Pelita Bangsa, sekolah elit kota ini yang dulu diisi oleh anak-anak dari keluarga-keluarga besar yang kini masuk dalam daftar pencariannya. Kevin, yang datang dari keluarga berada tapi tidak termasuk dalam lingkaran elite tertinggi, dan yang lebih suka membaca buku sendirian di perpustakaan daripada bergaul di kantin, sudah sangat terbiasa dipandang seperti itu.
Tatapan yang berkata: kamu tidak selevel dengan saya.
Kevin membuang muka, mengambil kopernya, dan mulai melangkah menuju pintu keluar.
"Hei, tunggu dulu!"
Suaranya mengejar dari belakang. Kevin memperlambat langkahnya sesaat, tapi tidak berhenti.
"Kamu pura-pura tidak dengar, heh? Aku sedang bicara sama kamu!"
Pagi itu udara rumah kost Bu Ratna masih basah oleh embun ketika Kevin keluar dari kamarnya dengan ransel kecil di punggung. Dia tidak membawa banyak. Hanya yang perlu.Sarah sudah berdiri di halaman kecil itu, di samping sebuah motor bebek tua berwarna merah yang sudah kehilangan sebagian kilap catnya. Motor itu bersih meski sudah berumur, seperti sesuatu yang dirawat dengan baik bukan karena nilainya tapi karena memang terbiasa merawat apa yang dipunya."Ini motor Bu Ratna," kata Sarah, menyodorkan kunci ke arah Kevin. "Saya sudah telepon Beliau tadi pagi. Dokter bilang hasil pemeriksaan terakhir tidak menunjukkan sel kanker sama sekali. Beliau tinggal menunggu satu check up lagi sebelum boleh pulang." Dia berhenti sebentar, senyumnya muncul dengan cara yang tidak direncanakan. "Tadi Beliau lebih banyak nanya tentang Mas Kevin daripada soal jadwal kepulangannya sendiri."Kevin menerima kunci itu. "Terima kasih.""Bu Ratna yang bilang supaya saya siapkan semua yang Mas butuhkan." Sar
Bu Ratna batuk lebih keras. Dan kemudian, dengan suara yang membuat Sarah menghela napas tajam dari dekat pintu, beliau memuntahkan sesuatu ke mangkuk yang selalu tersedia di meja samping ranjang. Sesuatu yang berwarna gelap, dan yang bau serta tampilannya membuat Sarah melangkah cepat ke depan."Mas Kevin, apa yang-""Jangan ganggu."Suara Kevin keluar tenang dan tanpa drama, tapi cukup untuk membuat Sarah berhenti.Satu menit lagi. Dua menit. Bu Ratna batuk beberapa kali lagi, dan setiap kali ada sesuatu yang keluar, sedikit lebih sedikit dari sebelumnya, seperti proses yang sedang mendekati akhirnya.Kemudian semuanya berhenti.Kevin membuka matanya. Dia menarik napas dalam sekali, merasakan kelelahan yang sudah dia kenal, kelelahan yang selalu datang setelah menggunakan hawa murni terlalu banyak sekaligus. Tapi tidak parah. Bu Ratna bukan kasus yang sudah melampaui titik di mana tenaganya tidak cukup.Bu Ratna terbaring dengan napas yang terdengar berbeda. Lebih bersih. Lebih lapa
Mobil Sarah ternyata sebuah van kecil berwarna putih kelabu yang sudah cukup berumur, dengan stiker tanaman kecil yang ditempelkan di sudut kanan bawah kaca depan dan gantungan kunci berbentuk bintang laut yang tergantung di spion tengah. Kevin menaruh ransel dan kopernya di bagasi belakang yang tidak terlalu besar itu, lalu duduk di kursi penumpang depan.Interiornya bersih meski tidak mewah. Ada buku catatan kecil yang terjepit di antara kursi dan konsol tengah, dan satu botol air minum setengah penuh di cup holder.Sarah memasang sabuk pengamannya, menyalakan mesin, dan mobil itu melaju keluar dari pinggir jalan."Mas baru di kota ini?" tanyanya sambil menatap ke depan, mengarahkan setir ke jalanan yang masih belum terlalu ramai."Orang lama," jawab Kevin. "Tapi sudah enam tahun tidak di sini. Baru pulang tadi malam."Sarah mengangguk. "Pantas saya tidak pernah lihat Mas sebelumnya." Dia terdiam sebentar. "Mas mau pergi ke mana setelah ini? Sudah ada tempat menginap?""Belum," kata
Lobi hotel menyambut dengan lampu kristal yang terlalu terang untuk jam sepagi ini. Petugas resepsionis yang masih muda itu melirik ke arahnya dengan ekspresi sedikit terkejut, mungkin tidak biasa melihat tamu keluar membawa semua bawaannya sebelum waktu check-out normal. Kevin mengangguk sekilas ke arahnya dan melangkah keluar ke udara pagi kota Alfa.Jalanan masih sepi. Langit berwarna abu-abu muda dengan semburat merah di ujung timur. Udara laut yang dingin menyapu wajahnya begitu dia melewati pintu otomatis hotel. Kevin menarik napas panjang dan mulai berjalan.Dia belum tahu akan menginap di mana. Itu urusan yang bisa diselesaikan nanti. Yang dia butuhkan sekarang adalah berjalan, membiarkan udara pagi mendinginkan kepala, dan mulai memetakan langkah berikutnya dalam rencananya yang lebih besar.Di ujung jalan itu, sebuah deretan toko ruko mulai terlihat. Kebanyakan masih tutup pada jam sepagi ini, kecuali sebuah warung kopi kecil di pojok yang pintu kayunya sudah terbuka, dan se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.