Share

BAB 3

Author: ANDIN
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 09:22:23

Bab 3

Mulut Alan baru saja terbuka, hendak melontarkan makian untuk membela harga dirinya yang baru saja diinjak-injak dengan lembaran uang itu. Namun, kalimatnya terputus seketika.

​Ting! Ting!

​Ponsel Alena yang tergeletak di meja berdering nyaring berturut-turut. Sebuah nada notifikasi dari aplikasi pesan singkat memecah udara dingin dan tegang di antara mereka.

​Alena menarik napas panjang, mencoba menguasai emosinya. Matanya yang sembab menatap Alan dengan sisa-sisa tatapan dingin, lalu dia berbalik untuk meraih ponselnya. Dia berniat mematikan benda itu agar bisa fokus menyelesaikannya dengan Alan.

​Namun, tiga pesan gambar dan satu pesan teks yang dikirimkan oleh temannya, bernama Siska membuat Alena tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

​”Alena, suamimu sedang di luar kota kan? Dan ini aku tidak salah lihat, kan? Ini Mas Angga, suami kamu?” tulis Siska.

​Dahi Alena berkerut. "Bagaimana Siska bisa ketemu Mas Angga..." gumamnya pelan setelah usai membaca notif pesan mengambang.

​Alena menggeser layar ke bawah, agar dia bisa membaca pesan dengan jelas lalu bisa membuka foto pertama yang dikirimkan.

​Seketika itu juga, pasokan udara di paru-paru Alena rasanya diisap habis.

​Foto itu sangat jernih. Diambil di sebuah gedung pertunjukan sekolah swasta mewah. Di dalam foto itu, berdiri seorang pria yang sangat Alena kenali, pria yang sudah menemaninya dalam ikatan pernikahan selama tiga tahun terakhir. Dia adalah Angga.

​Angga mengenakan kemeja rapi, tersenyum begitu lebar dan bahagia. Sebuah senyuman hangat yang sudah bertahun-tahun tak pernah Alena lihat lagi di rumah mereka. Tapi yang membuat jantung Alena serasa berhenti berdetak adalah sosok di samping Angga. ​Seorang wanita berparas manis dengan gaun elegan merangkul lengan Angga dengan mesra.

“Astaga Mas Angga! Kenapa kamu bersama wanita lain?” geram Alena sembari mengepelkan kedua tangannya. 

Angga bukan hanya bersama dengan seorang perempuan, tapi di depan mereka berdua, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun yang memegang piala pertunjukan. Tangan Angga yang sebelah lagi merangkul bahu anak laki-laki itu dengan penuh kasih sayang.

​Alena mengatur nafas agar tetap tenang. Lalu dia menggeser ke foto kedua. Foto candid dari samping. Angga sedang mencium pelipis wanita itu sambil tertawa, sementara sang anak mendongak menatap mereka berdua. ​Itu bukan sekadar foto kebetulan. Itu adalah foto sebuah keluarga kecil yang harmonis. Sebuah Keluarga yang utuh.

​Pesan teks berikutnya dari Siska muncul di layar.

​”Ini acara pentas seni sekolah keponakanku, Len. Aku kaget banget lihat Mas Angga di sini. Kata gurunya, mereka itu wali murid dari anak bernama Kenzie. Apa kamu tahu soal ini?”

​"N-nggak... Nggak mungkin..." suara Alena keluar berupa bisikan yang sangat serak dan bergetar.

​Dunia di sekitar Alena mendadak ingin runtuh.

​Satu minggu ini, Angga pamit kepadanya untuk pergi ke luar kota. Urusan bisnis penting katanya. 

​Tapi ternyata... pria itu berada di kota yang sama, menghadiri acara sekolah seorang anak kecil, berpose mesra dengan wanita lain, dan tersenyum seolah-olah dia adalah pria paling bahagia di dunia.

“ Siapa wanita itu? Dan anak siapa yang dia rangkul dengan sebangga itu?!” Kejut Alena dengan jantung yang seolah berhenti berdetak.

​Ponsel di tangan Alena terlepas, jatuh meluncur ke atas ranjang. ​Kedua lutut Alena lemas seketika. Wanita itu merosot jatuh ke lantai. Dis berlutut tepat di dekat lembaran-lembaran uang yang tadi dia lemparkan ke arah Alan.

​"M-Mbak? Apa kamu baik baik sajai?" Tanya Alan sedikit ikut  panik.

Dia yang sejak tadi memperhatikan perubahan raut wajah Alena mendadak mengurungkan niatnya untuk marah. Emosi Alan menguap, berganti dengan rasa bingung sekaligus cemas saat melihat wajah Alena yang mendadak berubah pucat seputih kertas.

​Alena tidak menjawab. Airmata pertamanya menetes, membasahi pipinya yang mulus, disusul oleh suara tawa campur tangis yang pecah begitu saja.

​"Hahah... Hahaha..." Alena tertawa, sebuah tawa sumbang yang sangat menyayat hati, sebelum akhirnya berubah menjadi tangisan yang begitu histeris. Dia mencengkeram dadanya sendiri dengan jemarinya yang gemetar.

​"Mbak, Mbak kenapa?" Alan melangkah mendekat, berlutut di sebelah Alena tanpa ragu lagi. 

​"D-dia... dia bohong..." bisik Alena dengan nada suara yang terputus-putus. Tangannya mencengkeram erat kaus di bagian dadanya.

​"Siapa yang bohong? Mbak tenang dulu," kata Alan mencoba merengkuh bahu Alena agar wanita itu tidak jatuh tersungkur.

​"Suamiku...Dia bilang... dia pergi ke luar kota untuk bisnis..." Jawab Alena sambil mendongak, menatap Alan dengan mata yang penuh dengan aliran air mata dan kebasahan duka yang teramat dalam. 

Rasa terkejut yang berlebihan membuatnya down dan bicara ngelantur. Bahkan menceritakan masalah suaminya pada pria asing. Mendengar ungkapan Alena yan terputus, Alan menelan ludah. Dia melihat betapa hancurnya wanita di depannya ini dalam hitungan detik.

​"Tapi ternyata… Dia... dia sama wanita lain... Ada anak... Ada anak kecil..." lanjut Alena sabil terbatuk pelan. Napasnya mulai terdengar kasar dan memburu. 

​Napas Alena mendadak berbunyi nyaring.

​Ngik... Ngik...

​Sentuhan emosi yang terlalu hebat membuat tubuh Alena bereaksi ekstrem. Suasana hatinya yang mendadak hancur berantakan memicu serangan pada saluran pernapasan dan jantungnya.

​"Mbak?!" Alan panik seketika saat melihat bibir Alena mulai membiru.

​Alena memegangi dadanya sendiri yang naik turun dengan sangat cepat namun seolah tidak ada udara yang berhasil masuk ke paru-parunya. Wajahnya yang pucat kini mulai diwarnai rasa kesakitan yang amat sangat.

​"S-sakittt… Dada... dadaku..." rintih Alena. Matanya terbalik menahan sesak.

​"Mbak! Jangan bercanda, Mbak!" Alan memegang kedua pipi Alena, mencoba membuat wanita itu tetap sadar. "Tarik napas, Mbak! Tarik napas!"

​"N-nggak... bisa..." Alena terengah-engah, suaranya sangat terbata-bata dan hampir tak terdengar. "O-obat... obat..."

​"Obat apa?! Di mana?!" tanyanya panik. Alan mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang luas itu dengan liar.

​Dengan sisa-sisa tenaganya, tangan Alena yang gemetar menunjuk ke arah meja rias di sudut ruangan.

​"Dimana... tas… tasku…? D-di dalam... ada... inhaler... obat sesak…”  bisik Alena. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa takut akan rasa sakit yang menghimpit dadanya. 

​"Tas?! Yang warna hitam itu ya Mbak?!" tanya Alan lalu ​Alena mengangguk lemah. Kepalanya terkulai ke bahu Alan.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan langsung melompat berdiri. Dia berlari kencang menerjang meja rias, menyambar tas milik Alena, lalu menggeledah isinya tanpa peduli barang-barang kosmetik wanita itu berhamburan jatuh ke lantai.

​"Yang mana obatnya…??" jemari kasar Alan menelusuri tiap kantung dalam tas tersebut dengan panik.

​Jantung Alan berdegup kencang bak genderang perang. Dia tidak peduli lagi soal harga diri yang diinjak-injak, tidak peduli lagi soal uang yang berserakan, atau fakta bahwa wanita ini baru saja mengusirnya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah menyelamatkan nyawa wanita yang ada di hadapannya.

​"Ini dia!" seru Alan.

​Jemari Alan akhirnya menyentuh sebuah botol semprotan kecil berukuran tabung inhaler berwarna biru. Alan menggenggam benda itu erat-erat dan langsung berbalik, berlari kembali ke arah Alena yang sudah tergeletak lemah di atas karpet.

​"Mbak! Ini obatnya. Ayo aku bantu.." Alan mengangkat tubuh atas Alena, menyanggah kepala wanita itu di pangkuannya.​Napas Alena sudah sangat tipis, matanya setengah terpejam menahan rasa sakit di dadanya yang kian mencengkeram.

Usai menemukan obatnya, nafas Alena sudah mulai teratur. Alan mengangkat tubuh Alena ke atas kasur, lalu menyelimutinya. Karena tidak mau lagi terlibat masalah, Alan memutuskan untuk segera pergi dari kamar itu tanpa memungut uang sepeserpun yang berserakan di lantai.

“Mbak Alena, anggap pertemuan ini suatu kekonyolan aja. Semoga kita nggak ketemu lagi dan semoga kamu beneran mandul, jadi benihku nggak sampai tumbuh di rahimmu. Aku pergi dulu ya Mbak,” pamit Alan pada Alena yang masih memejamkan mata di atas kasur.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 12

    Melihat reaksi Alena, Alan menyadari bahwa tidak semudah itu menyadarkan wanita yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping. Alena masih terus menangis, menutup wajahnya dengan kedua tangan saat emosinya meluap tak tertahan. Pikirannya benar-benar kalut, tertutup oleh rasa dikhianati dan harga diri yang diinjak-injak selama bertahun-tahun.​Alan menarik napas panjang. Duduk berlama-lama di pinggir jalanan yang sepi dan makin dingin hanya akan memicu masalah baru. Dia tidak punya pilihan lain selain membawa Alena pergi dari tempat itu secepatnya.​"Mbak Alena, kita tidak bisa terus-terusan di sini. Ayo ikut saya. Kita bicara di tempat yang lebih aman,” ajak Alan dengan pelan.​Alena tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menolak ketika Alan membantu memegang lengannya untuk berdiri. Langkahnya masih sangat lemah dan gontai. Alan mengarahkannya menuju sepeda motor tua yang terparkir di tepi jalan. Setelah memasangkan helm ke kepala Alena, Alan naik ke jok depan dan meminta wanita itu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 11

    Tidak ada ruang atau kesempatan lagi bagi Alan untuk menolak permintaan itu. Isak tangis lirih Alena di seberang telepon benar-benar mengetuk nuraninya. Apalagi jika mengingat jarum jam sudah menunjukkan larut malam dan suasana jalanan kota makin sepi. Sangat berbahaya bagi seorang perempuan sendirian bertengger di pinggir jalan tanpa pengawasan.​"Kirimkan lokasi Mbak sekarang," ucap Alan sambil mempersiapkan diri untuk menjemput Alena.​Setelah sambungan telepon terputus, sebuah pesan masuk berisi titik lokasi Alena menunggu. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alan menyambar jaket dan helmnya, lalu bergegas berlari ke pekarangan rumah. Dia menyalakan mesin sepeda motor tuanya dan langsung memutar gas dengan kecepatan tinggi.​Alan berkendara sangat cepat membelah kegelapan malam. Kebetulan lalu lintas sudah melengang lengang, sehingga hanya butuh waktu lima belas menit bagi Alan untuk sampai di lokasi yang dikirimkan Alena.​Dari kejauhan, Alan langsung mengenali sosok wanita itu.

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 10

    Alena melangkah keluar dari pintu kaca hotel dengan tubuh yang terasa begitu layu. Angin malam yang berembus kencang langsung menyapu kulitnya, namun rasa dingin itu sama sekali tak mampu menandingi rasa hampa yang membekukan dadanya.​Setiap kata-kata Angga di lobi tadi terus bergema, berputar-putar di dalam kepalanya. Semua tuduhan dan kebohongan yang disimpannya rapi selama bertahun-tahun akhirnya meledak tepat di depan matanya.“Mas Angga. Kenapa kamu lakukan semua ini padaku Mas?” lirih Alena dengan tatapan kosong.​Harusnya Alena merogoh ponselnya, menghubungi sopir pribadinya untuk segera menjemput dengan mobil mewah yang biasa mengantarnya. Tapi saat ini, dia sama sekali tidak ingin melihat siapa pun dari kehidupannya yang lama. Alena hanya ingin menghilang sejenak dari pusaran kemewahan yang terasa makin memuakkan.​Tanpa tujuan pasti, Alena berjalan menyusuri trotoar jalanan kota yang mulai lengang. Langkah kakinya lambat, terseret bersama gaun kremnya yang melambai ditiup a

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 9

    Alena baru saja melangkah keluar dari area lift menuju lobi hotel ketika matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Pria itu berdiri di dekat konter resepsionis, mengenakan kemeja biru yang persis sama seperti yang dipakainya saat pamit seminggu lalu. ​Dia adalah Angga, suami Alena.​Langkah Alena terhenti seketika. Dadanya mendadak terasa dingin. Tapi kali ini, tidak ada rasa panik atau serangan sesak napas yang datang menyiksa. Hatinya sudah terlalu kebal setelah semua yang dia lalui beberapa waktu ;terakhir.​Pada saat yang bersamaan, Angga menoleh. Tatapan mata mereka berdua bertabrakan di tengah keramaian lobi. Wajah Angga yang tadinya santai berubah kaget luar biasa. Langkahnya tertahan, matanya membelalak menatap Alena dari atas sampai bawah.​"Alena?" Angga berjalan mendekati Alena dengan dahi berkerut rapat. "Kamu ngapain di sini? Kamu ngikutin aku?"​Alena menatap suaminya dengan tajam. Tidak ada air mata, tidak ada suara gemetar. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.​"

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 8

    Setelah hampir dua jam lamanya berada di kamar hotel itu, Alan membenahi pakaiannya satu per satu. Sementara Alena masih terbaring pasrah di balik selimut putih, menatapnya dengan tatapan sukar diartikan. Setelah kembali rapi dan mengantongi uang dari Alena, Alan segera berpamitan untuk pulang.“Mbak, aku harus segera pulang. Sekali lagi aku mau ucapin Terima kasih sama kamu Mbak. Kamu bagai dewi penolongku,” ucap Alan sambil merapikan rambutnya. “Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu Alan. Kamu, sudah memberikan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya,” sahut Alena sambil bangun dari rebahannya. Tanpa banyak kata lagi, Alan segera melangkah mendekati pintu. Tapi, Alena menahannya.“Alan, tunggu!”Alan berhenti, lalu menoleh.“Ya Mbak Alena, Ada apa Mbak?”Tanpa basa basi, Alena tiba tiba mendekat ke arah Alan lalu memeluk erat pria itu dari belakang.“Alan, kita mungkin tidak punya ikatan. Tapi, jujur aku katakan aku menyukaimu!”Mendengar pengakuan Alena, Alan memu

  • Akibat Salah Masuk Kamar   BAB 7

    Berbeda dari malam sebelumnya, saat segalanya diburu ketakutan, kepanikan, dan amarah meledak-ledak, kali ini pergerakan mereka terasa jauh lebih lambat, dalam, dan sengaja. Ada semacam kesepakatan terselubung di antara mereka untuk melepaskan segala beban hidup sejenak di atas ranjang ini.​Alan membiarkan jemari tangannya menyusuri lekuk pinggang Alena yang mulus. Otot-otot lengannya yang tegap menopang tubuhnya tepat di atas Alena, menatap lurus pada mata sayu wanita yang napasnya berembus hangat menyentuh lehernya.​"Kenapa menatapku seperti itu?" bisik Alena lirih. Suaranya serak, sarat akan gairah yang masih membara.​"Mbak benar-benar yakin tidak akan menyesal? Saya cuma tukang servis AC. Setelah malam ini dan setelah uang itu saya terima, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,” tanya Alan dengan suara maskulinnya.​Alena mengukir senyum tipis. Jemari lentiknya naik, menyusuri garis rahang Alan yang tegas lalu membelai rambut pria itu yang basah oleh keringat.​"Jangan bahas s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status