แชร์

Bab 34

ผู้เขียน: Gusmandora
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-18 11:21:22
Aku akui masakan Reza memang luar biasa enak, rasanya sangat pas di lidah. Aku sudah mencicipi nasi gorengnya, tumis cah kangkungnya, dan sekarang spaghetti yang nagih dan lumer dimulut. Mbak Rima dan suaminya bahkan request minta dimasakin lagi.

"Enak banget jadi Donna, punya suami pinter masak." Mbak Rima tersenyum.

"Pasti tiap hari dimasakin." Tambah Kak Vino menyusul.

"Oh tentu dong. "Jawabku tertawa diikuti Reza yang ikut tertawa.

Mama masuk saat kami semua tertawa,"Eh kenapa nih pa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 34

    Aku akui masakan Reza memang luar biasa enak, rasanya sangat pas di lidah. Aku sudah mencicipi nasi gorengnya, tumis cah kangkungnya, dan sekarang spaghetti yang nagih dan lumer dimulut. Mbak Rima dan suaminya bahkan request minta dimasakin lagi. "Enak banget jadi Donna, punya suami pinter masak." Mbak Rima tersenyum. "Pasti tiap hari dimasakin." Tambah Kak Vino menyusul. "Oh tentu dong. "Jawabku tertawa diikuti Reza yang ikut tertawa. Mama masuk saat kami semua tertawa,"Eh kenapa nih pada tertawa?" "Ngebahas Donna yang punya suami pinter masak." "Anak nya siapa dulu, anak mama dong." Ucap mama jumawa." Nanti kalau Reza sama Donna udah punya anak, anaknya pasti pinter masak juga." "Kita tungguin aja." Mbak Rima merangkulku bahagia. *** Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum pesawat kami ke Zurich berangkat, aku mulai bersiap-siap. Ini perjalanan panjangku yang pertama di pesawat, kami akan terbang sekitar 13 jam lebih dan akan tiba di Zurich besok pagi. Karen

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 33

    "Semuanya rumit, Reza datang ke mbak sebelum hari pernikahan kalian, dia minta pendapat, dia benar-benar bingung saat itu, di sisi lain dia sayang ke mama, dia tidak pernah mengecewakan mama, namun dia juga sepertinya tidak mau mengkhianati Fanny, dan saat ketemu kamu, dia tau kamu wanita baik, dia takut menyakiti kamu."Ucap Mbak Rima."Akhirnya dia tetap memilih menikah sama kamu, awalnya mbak khawatir, tapi melihat kalian sekarang mbak bisa bernafas lega, terus gimana Reza sama kamu?" "Ya..? Gimana apanya mbak?" Jawabku bingung. "Reza,, sebenarnya udah lama mbak mau ngobrolin masalah ini sama kamu, tapi belum ada sempat. Reza ke kamu gimana?" Jujur saja, aku kaget langsung ditodong pertanyaan seperti ini, namun untuk berterus terang mengenai urusan rumah tanggaku , tentu saja aku belum siap." Baik kok mbak." Putusku akhirnya. Belum saatnya untuk menceritakan semua kebenaran walaupun mbak Rima ternyata lebih dulu tau hubungan Reza dan Fanny seperti apa. "Syukurlah, mbak sempat

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 32

    Aku menghela nafas lega saat pesawat mulai stabil mengangkasa, meninggalkan bandara Soetta dan membuat rumah dan gedung menjadi kotak-kotak kecil dibawah sana. "Kalau dilihat dari atas, ternyata harta benda itu enggak ada artinya ya."Gumamku. Reza ikut melihat arah mataku yang memperhatikan rumah-rumah dan gedung-gedung yang semakin mengecil,"Iya, semua jadi tampak kecil." Tambah Reza. "Semua jadi tidak berarti, apa yang kita usahakan mati-matian ternyata hanya sekecil itu dilihat dari atas." Aku menjentikkan ujung jari. Andai saja perasaan bisa juga mengecil seperti itu jika dibawa terbang, namun saat aku menoleh ke laki-laki di sampingku ini kenapa malah perasaanku padanya makin membuncah, aku jadi ingin memilikinya seutuhnya, hanya aku tidak ada yang lain. Perjalanan kami masih panjang, setelah nanti transit di Changi Airport, kami langsung melaju ke Bandar Udara Internasional Zurich. Bagas nanti akan menunggu disana. Kami semua tidak menginap di hotel, disana Bagas bahkan s

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 31

    Hari ini Fanny sudah diperbolehkan pulang, Reza tadi meneleponku kalau Fanny langsung dibawa kerumah tantenya karena keberangkatan kami ke Zurich tinggal beberapa hari lagi. "Maaf mbak belum bisa jenguk." Suaraku meminta maaf di telpon. Jujur, walaupun hanya tinggal beberapa hari dengan kami, aku tau Fanny orang yang baik. "Iya, enggak apa-apa Donna, lancar-lancar perjalanan nya ke Zurich nanti ya ." Suara Fanny masih lemah terdengar dibalik telpon. "Makasih mbk, mbak juga jaga kesehatan ya." Ucapku tulus. Aku mematikan telpon dan memberikan ponsel ke Reza. Reza menerima ponselnya dan melihat koperku sudah tersusun rapi disudut kamar,"Wuihh, semangat betul ya, tinggal berangkat nih." "Ya iyalah, Yang Abang belum tuh." Ucapku ke Reza sambil menyusun syal yang akan kubawa. Andai saja pernikahan kami normal seperti pernikahan pada umumnya, mungkin moment ini menjadi moment Honeymoon bagiku. Bahagia sekali rasanya bisa dicintai oleh suami, tidur dalam satu selimut sambil ber

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 30

    Aku membuka pintu apartemen hanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang cup minuman, tas dan mengepit beberapa map dokumen di ketiak. Hari sudah menjelang magrib ketika aku pulang. Kuletakkan semua barang di atas meja lalu aku duduk berselonjor di sofa, mengecek ponsel. Tadi siang Reza sempat mengabari kalau Fanny akan kemoterapi. Baru saja aku ingin menelpon Reza, pintu apartemen terbuka memunculkan sosok laki-laki itu dari luar pintu. "Eh, udah pulang?" Tanyanya padaku sambil masuk. Aku mengangguk,"Abang pulang, siapa yang jagain mbak Fanny?" "Ada tantenya barusan datang, malam ini tantenya yang jaga, abang pulang dulu, besok pagi baru kesana lagi." Reza berjalan dan duduk disofa di sampingku, wajahnya terlihat sangat lelah, dia memejamkan mata dan tiba-tiba saja berguling merebahkan kepalanya di pahaku, kakinya yang jenjang bahkan tidak cukup muat disofa sampai menggantung. "Ih, Abang, mandi dulu sana." Aku berusaha menghindar. "Begini dulu ya, sebentar."

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 29

    Malam ini aku tidur sendiri, aku sudah menghubungi Reza tadi kalau aku sudah sampai. Aku belum mengantuk, jadi ku putuskan untuk beres-beres, membersihkan sisa acara ulang tahun Reza tadi. Aku mengumpulkan sampah dan memasukannya dalam kantong plastik hitam, melewati meja sudut yang berdiri disana kalender tegak. Aku berhenti, dan melihat tanggal yang kutandai dengan spidol merah. Itu tanggal keberangkatan kami ke Zurich, tinggal satu Minggu lagi. Tadi mama juga sudah membahas masalah keberangkatan kami ini. Bagaimana Reza akan pergi dengan kondisi Fanny yang seperti itu. Tidak mungkin dia meninggalkan Fanny yang tengah berjuang dengan penyakitnya, dan tidak mungkin juga dia tidak hadir di pernikahan Bagas. Mama akan marah besar kalau tau Reza tidak bisa hadir. Dan yang lebih parahnya bagaimana nanti menjelaskan nya ke mama semuanya. Kepalaku pusing sendiri memikirkan sesuatu yang seharusnya bukan aku yang pusing. Aku tertidur di sofa depan, terbangun ketika bunyi alarm menjerit d

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status