INICIAR SESIÓNLaras yang sudah lima tahun tinggal di desa untuk hidup tenang pasca meninggalnya suami, kembali ke kota untuk menengok anak semata wayangnya yang sudah lama tidak berkunjung ke desa. Siapa sangka anak semata wayangnya dilakukan semena-mena. Laraspun melakukan pembalasan dendam dan menemukan kembali pasangan hidup yang selama ini menjaganya dari jauh.
Ver más"Akhirnya, kita harus pulang sekarang, ya?" tanya Laras, yang merasa tidak rela harus meninggalkan desa sekarang. "Iya, mau gimana lagi. Kerjaan di kantor pasti udah padet banget sekarang."Satu minggu pertama setelah pernikahan Laras dan Arya berlalu jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.Bulan madu mereka di desa kecil itu ternyata menjadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan Arya. Tidak ada jadwal rapat, telpon pekerjaan yang datang setiap satu jam sekali, dan agenda yang datang mendadak.Hanya pagi yang tenang, udara segar, dan warga desa yang sesekali datang berkunjung untuk mengobrol.***Sementara itu, di kota, kehidupan Dina juga berjalan dengan ritme yang berbeda. Awalnya ia mengira setelah pernikahan Laras selesai, semuanya akan kembali normal. Namun ternyata tidak.Karena tanpa ia sadari, hubungannya dengan Fadlan semakin dekat dari hari ke hari. Bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Tidak ada momen dramatis. Hanya percakapan
"Semoga hari ini, berjalan lancar," gumam Dina pelan, penuh harap. Sore itu, hotel tempat pernikahan Laras dan Arya dilaksanakan sudah ramai sejak sebelum matahari turun sepenuhnya.Para staf hotel berjalan cepat dari satu ruangan ke ruangan lain. Tim dokumentasi mulai mempersiapkan peralatan mereka. Beberapa keluarga yang datang dari luar kota juga sudah terlihat berada di area lobi sejak pagi.Hari yang selama ini hanya ada di dalam rencana akhirnya benar-benar tiba. Di salah satu ruang persiapan, Laras duduk di depan cermin. Untuk beberapa saat, ia hanya memandangi pantulan dirinya sendiri. Gaun yang dikenakannya sudah hampir sempurna. Riasan wajahnya terlihat lembut dan elegan. Rambutnya ditata sederhana namun anggun.Anehnya, ia tidak merasa terlalu gugup. Mungkin karena semua proses panjang itu sudah mereka lalui sedikit demi sedikit. Atau mungkin juga karena ia sudah sangat yakin dengan keputusan yang diambilnya.Pintu ruangan terbuka perlahan. Dina masuk sambil membawa secang
"Baiklah, Ibu nggak akan goda kamu lagi..," ucap Laras, dengan suara yang masih ada tawa tersisa Dina hanya menggeleng pelan sambil kembali melanjutkan sarapannya. Laras pun tidak lagi melanjutkan godaannya sesuai dengan janjinya tadi.Meski begitu, sesekali senyum tipis masih terlihat di wajah wanita itu setiap kali matanya bertemu dengan Dina. Dan hal tersebut membuat Dina memilih untuk fokus pada makanannya daripada memberi kesempatan Ibunya untuk bisa menggoda lebih jauh.***Hari pernikahan Doni dan Lila akhirnya tiba beberapa minggu kemudian. Sejak pagi, Dina sudah bersiap di kamarnya.Gaun yang dikenakannya sederhana namun tetap elegan. Tidak terlalu mencolok untuk sebuah acara pernikahan, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat rapi dan anggun.Ia sedang memeriksa tas kecil yang akan dibawanya ketika ponselnya bergetar. Fadlan. Dina langsung tersenyum kecil dan mengangkat."Udah berangkat?" tanyanya setelah panggilan telpon tersambung."Udah. Ini, aku lagi di depan rumah
"Hah..," ucap Dina, pelan. Ia menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut."Halo.""Halo."Suara Fadlan terdengar santai dari seberang sana."Gimana? Akhirnya selesai juga acaranya?"Dina tersenyum kecil sambil menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur."Iya. Udah selesai kok," jawab Dina. "Gimana, lancar 'kan?" tanya Fadlan. "Lancar, kok.""Baguslah, kalo begitu."Ada jeda singkat. Setelah itu, Dina bisa mendengar suara pintu mobil ditutup dari seberang sambungan telpon. "Kamu baru pulang?" tanyanya."Iya.""Sekarang masih di luar?" tanya Dina lagi. "Ini baru masuk rumah."Dina mengangguk pelan meski Fadlan tidak bisa melihatnya. "Kerjaan kamu padet banget ya hari ini?""Lumayan. Dari pagi sampe sore banyak rapat di luar.""Oh, gitu.""Makanya aku baru bisa telpon kamu malam."Kalimat itu membuat Dina tersenyum tipis. "Perhatian banget, sih.""Iya 'kan aku harus menunjukkan sikap baik aku ke orang yang sp
"Iya, aku paham," jawab Laras. "Oh ya, terima kasih atas bantuan kamu beberapa waktu lalu karena udah bersedia datang ke kantor polisi untuk menjadi saksi," lanjutnya. "Sama-sama, Ras. Terus sekarang, kamu mau ke mana?" tanya Ferdi. "Ke kantin. Aku mau beli bubur untuk Dina." "Mau aku ban
"Sekarang?" tanyanya."Nggak harus hari ini, tapi secepatnya," jawab LarasDina menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku belum yakin, Bu. Aku memang sudah ikut bekerja sama Ibu dari masih sekolah. Tapi, untuk menjadi seorang pemimpin kayaknya agak..,""Kamu pemegang saham mayoritas, Din. Dan posisi k
Dina menghela nafas pelan. "Iya, aku paham." Ia mengakhiri panggilan dengan menekan tombol merah. Entah kenapa ia merasa harus selalu menuruti permintaan Leo. Laras yang melihat perubahan sikap dan wajah Dina secara tiba-tiba membuat Laras kembali membuka mulut. "Kenapa, sayang? Leo bilang apa?"
"Apa?" tanya Feri, sambil mengerutkan kening. Ia melihat ke arah Dina dan Laras secara bergantian, lalu kembali ke Laras. Ia tidak tau sebenarnya hubungan kedua Ibu dan anak itu sedekat apa. Setelah mendengar pernyataan Laras, Dina yang sedang makan roti coklat keju, tersedak. Dengan cepat, Feri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas