LOGINLaras yang sudah lima tahun tinggal di desa untuk hidup tenang pasca meninggalnya suami, kembali ke kota untuk menengok anak semata wayangnya yang sudah lama tidak berkunjung ke desa. Siapa sangka anak semata wayangnya dilakukan semena-mena. Laraspun melakukan pembalasan dendam dan menemukan kembali pasangan hidup yang selama ini menjaganya dari jauh.
View More"Beberapa sudah terealisasi," jawab Andi tanpa ragu.Kalimat itu membuat beberapa peserta langsung membuka kembali dokumen mereka.Wiwik menunjuk bagian lain. "Ini salah satunya."Leo melihat sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, ia tidak langsung membalas.Narasi di ruangan berubah. Bukan lagi perdebatan, tapi pembuktian yang berjalan satu arah.Laras menutup sesi pemaparan. "Baik. Saya rasa cukup untuk bagian audit," ucapnya.Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Kita masuk ke kesimpulan dan keputusan."Semua kembali fokus. Laras membuka dokumen terakhir."Berdasarkan hasil audit independen, serta klarifikasi yang telah diberikan dalam forum ini," ucapnya perlahan, "terdapat pelanggaran terhadap tata kelola perusahaan."Leo langsung menatap Laras. Ekspresinya berubah. Kali ini bukan marah, tapi waspada."Dan berdasarkan hal tersebut, kami mengajukan rekomendasi kepada forum
"Internal dan eksternal," jawab Andi dengan nada tenang.Suasana mulai berubah lebih serius.Laras kembali bersuara. "Leo, semua yang disampaikan di sini berbasis data. Bukan hanya sekedar asumsi semata," ucapnya.Leo menggeser dokumen di depannya."Selama ini, saya udah menjalankan perusahaan ini dengan baik. Tapi malah jadi seperti ini," ucapnya, nada suaranya sedikit naik. "Terkait hal itu, telah menjadi bagian dari penilaian kami," jawab Laras singkat.Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan."Termasuk bagian yang tidak sesuai dengan kebijakan dan prosedur."Leo terdiam sejenak. Wajahnya mulai memerah. Ia membuka kembali dokumen dan membalik beberapa halaman dengan cepat."Ini tidak bisa langsung disimpulkan seperti ini," ucapnya."Makanya kita bahas di forum ini, Pak Leo," jawab Laras. Nada suaranya tetap tenang dan datar.Wiwik kembali menunjuk salah satu bagian. "Ada pola yang berulang di beberapa transaksi," jelasnya.Leo menggeleng. "Ah, itu hanya kebetulan aja. Kalian emang s
"Akhirnya hari ini tiba," gumam Laras. "Ibu berangkat dulu ya?""Iya, hati-hati dijalan, Bu," ucap Dina. RUPS luar biasa digelar sesuai jadwal.Ruang rapat utama MARS Company sudah tertata rapi sejak pagi. Dokumen tersusun di setiap kursi, layar presentasi menyala, dan suasana cenderung formal. Tidak banyak percakapan, hanya sesekali terdengar diskusi ringan antar pemegang saham.Beberapa menit sebelum rapat dimulai, pintu terbuka. Leo masuk dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat kesal, napasnya sedikit berat. Ia langsung menarik kursi dan duduk tanpa banyak menyapa."Maaf saya telat," ucapnya singkat, nadanya terdengar datar.Beberapa peserta dan Direksi mengangguk kecil saat melihat kedatangan Leo. Sedangkan peserta lainnya fokus dengan pembahasan mereka masih-masing. Leo membuka map di depannya dan membaca agenda rapat. Alisnya sedikit mengernyit."Evaluasi Direksi," gumamnya pelan.Ia bersandar, mencoba menenangkan diri. Dalam pikirannya, ia masih kesal karena harus meninggalk
"Mau minum?" tanya Laras. "Boleh, Bu."Setelah dua hari dirawat, kondisi Dina menunjukkan perkembangan yang cukup baik.Ia sudah bisa duduk lebih lama dan tidak meringis sesering sebelumnya. Selang infus sudah dilepas sejak pagi tadi, dan obat-obatan kini diberikan secara oral. Meski masih terlihat pucat, kesadarannya penuh dan responsnya jauh lebih stabil.Suasana cukup tenang, hanya terdengar suara langkah perawat sesekali di lorong. Laras duduk di kursi samping tempat tidur, membuka catatan kecil di tangannya. Beberapa poin ia baca ulang dengan teliti."Bu," panggil Dina pelan.Laras langsung menoleh. "Iya, sayang. Kenapa?" tanya Laras. Ia memberikan minuman kepada Dina dan menaruhnya kembali ke atas nakas setelah Dina selesai minum. "Aku boleh tau sekarang udah sampai mana prosesnya?" tanya Dina, suaranya masih lemah tapi lebih jelas.Laras menutup catatannya. Ia paham maksud pertanyaan Dina. "Semua sudah mulai berjalan sayang. Bukti medis sudah lengkap, saksi juga sudah siap,
"Aduh.. Perih banget..," keluh Dina saat mulai berjalan ke luar kamar. Pagi itu datang lebih cepat dari yang ia rasakan. Ia sudah berdiri di dapur saat cahaya matahari mulai masuk dari sela jendela. Tangannya sibuk merapikan peralatan masak, menyapu sisa air di meja, lalu berpindah ke bagian la
"Kamu tuh cantik," puji Leo. Ia memegang wajah Dina dengan tangan kanannya. Semakin lama semakin keras seperti orang yang sedang mencengkeram mangsanya. "Tapi sayangnya kamu terlalu bodoh! Hingga badanmu sekarang kurus kering dan membuat aku jijik!" lanjut Leo. Ia mendorong wajah Dina denga
"Baik, Bu Laras," ucap Arief. "Bisa dijelaskan lebih detail?" tanyanya. "Ada beberapa hal yang janggal. Sistem kerja yang terlalu terpusat, distribusi data yang tidak transparan, dan pola keputusan yang tidak sehat," jelas Laras. "Saya baru lihat semuanya secara langsung hari ini.""Apakah ada in
"Tumben..," celetuk Dina. Ia bergegas menutup mulut dengan kedua tangannya karena merasa sudah salah bicara. Ia melirik ke arah Leo. Benar saja, rahang Leo sudah mulai mengeras. Dina menunduk takut. Ia tidak berani mengeluarkan perkataan apapun lagi. Leo tersenyum tipis. Ia berusaha maksimal unt












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews