Se connecterAku menghela nafas lega saat pesawat mulai stabil mengangkasa, meninggalkan bandara Soetta dan membuat rumah dan gedung menjadi kotak-kotak kecil dibawah sana. "Kalau dilihat dari atas, ternyata harta benda itu enggak ada artinya ya."Gumamku. Reza ikut melihat arah mataku yang memperhatikan rumah-rumah dan gedung-gedung yang semakin mengecil,"Iya, semua jadi tampak kecil." Tambah Reza. "Semua jadi tidak berarti, apa yang kita usahakan mati-matian ternyata hanya sekecil itu dilihat dari atas." Aku menjentikkan ujung jari. Andai saja perasaan bisa juga mengecil seperti itu jika dibawa terbang, namun saat aku menoleh ke laki-laki di sampingku ini kenapa malah perasaanku padanya makin membuncah, aku jadi ingin memilikinya seutuhnya, hanya aku tidak ada yang lain. Perjalanan kami masih panjang, setelah nanti transit di Changi Airport, kami langsung melaju ke Bandar Udara Internasional Zurich. Bagas nanti akan menunggu disana. Kami semua tidak menginap di hotel, disana Bagas bahkan
Hari ini Fanny sudah diperbolehkan pulang, Reza tadi meneleponku kalau Fanny langsung dibawa kerumah tantenya karena keberangkatan kami ke Zurich tinggal beberapa hari lagi. "Maaf mbak belum bisa jenguk." Suaraku meminta maaf di telpon. Jujur, walaupun hanya tinggal beberapa hari dengan kami, aku tau Fanny orang yang baik. "Iya, enggak apa-apa Donna, lancar-lancar perjalanan nya ke Zurich nanti ya ." Suara Fanny masih lemah terdengar dibalik telpon. "Makasih mbk, mbak juga jaga kesehatan ya." Ucapku tulus. Aku mematikan telpon dan memberikan ponsel ke Reza. Reza menerima ponselnya dan melihat koperku sudah tersusun rapi disudut kamar,"Wuihh, semangat betul ya, tinggal berangkat nih." "Ya iyalah, Yang Abang belum tuh." Ucapku ke Reza sambil menyusun syal yang akan kubawa. Andai saja pernikahan kami normal seperti pernikahan pada umumnya, mungkin moment ini menjadi moment Honeymoon bagiku. Bahagia sekali rasanya bisa dicintai oleh suami, tidur dalam satu selimut sambil ber
Aku membuka pintu apartemen hanya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang cup minuman, tas dan mengepit beberapa map dokumen di ketiak. Hari sudah menjelang magrib ketika aku pulang. Kuletakkan semua barang di atas meja lalu aku duduk berselonjor di sofa, mengecek ponsel. Tadi siang Reza sempat mengabari kalau Fanny akan kemoterapi. Baru saja aku ingin menelpon Reza, pintu apartemen terbuka memunculkan sosok laki-laki itu dari luar pintu. "Eh, udah pulang?" Tanyanya padaku sambil masuk. Aku mengangguk,"Abang pulang, siapa yang jagain mbak Fanny?" "Ada tantenya barusan datang, malam ini tantenya yang jaga, abang pulang dulu, besok pagi baru kesana lagi." Reza berjalan dan duduk disofa di sampingku, wajahnya terlihat sangat lelah, dia memejamkan mata dan tiba-tiba saja berguling merebahkan kepalanya di pahaku, kakinya yang jenjang bahkan tidak cukup muat disofa sampai menggantung. "Ih, Abang, mandi dulu sana." Aku berusaha menghindar. "Begini dulu ya, sebentar."
Malam ini aku tidur sendiri, aku sudah menghubungi Reza tadi kalau aku sudah sampai. Aku belum mengantuk, jadi ku putuskan untuk beres-beres, membersihkan sisa acara ulang tahun Reza tadi. Aku mengumpulkan sampah dan memasukannya dalam kantong plastik hitam, melewati meja sudut yang berdiri disana kalender tegak. Aku berhenti, dan melihat tanggal yang kutandai dengan spidol merah. Itu tanggal keberangkatan kami ke Zurich, tinggal satu Minggu lagi. Tadi mama juga sudah membahas masalah keberangkatan kami ini. Bagaimana Reza akan pergi dengan kondisi Fanny yang seperti itu. Tidak mungkin dia meninggalkan Fanny yang tengah berjuang dengan penyakitnya, dan tidak mungkin juga dia tidak hadir di pernikahan Bagas. Mama akan marah besar kalau tau Reza tidak bisa hadir. Dan yang lebih parahnya bagaimana nanti menjelaskan nya ke mama semuanya. Kepalaku pusing sendiri memikirkan sesuatu yang seharusnya bukan aku yang pusing. Aku tertidur di sofa depan, terbangun ketika bunyi alarm menjerit d
Aku berlari menyusul Reza, langkahku tidak bisa mengimbangi langkah lebar dari kaki Reza, padahal aku sudah berlari sangat cepat. Aku tau dia panik, tapi meninggalkan ku seperti ini membuatku terlihat menyedihkan. Bahkan dia langsung melajukan mobilnya tanpa menungguku. Aku akhirnya memesan taxi yang kebetulan lewat gedung apartemen, meminta mas supirnya untuk mengejar mobil Reza. "Mas, kejar mobil yang itu ya." Ucapku cemas, karena aku tidak tau di hotel mana Fanny check in. Mobil Reza terus melaju dan taxi kami menyusul dibelakang, namun ada dua sampai tiga mobil yang menghalangi kami. "Mas, gak bisa lebih cepat ya?" Desakku pada supir taxi. "Gak bisa mbak, yang ada kita nabrak nanti." Aku mengetuk-ngetuk ujung jari, mobil kami berhenti di lampu merah sementara mobil Reza sudah melaju cepat hingga kami kehilangan arah. Mobil kami menepi, aku mencoba menghubungi Reza, tidak diangkat. Sepuluh menit kemudian, Reza menelpon balik. "Don, Abang sekarang di Rumah Sakit, di JMC.
"Kenapa?" Loli bingung melihat wajah panikku, dia berdiri tepat disampingku sekarang. "Mama mertua gue mau datang ke apartemen." "Lah, terus kenapa muka Lo kayak orang ditagih pinjol?" "Fanny ada di sana." Ucapku kian panik. "Bukannya bagus, sekalian aja mertua Lo lihat selir anaknya itu." "Lo gila ya, Reza bisa mati." Aku mendelik pada Loli. "Kalau gue jadi Lo sih, gue mending pura-pura enggak tau." Aku menggeleng putus asa, aku tidak sekejam itu. Aku tau semuanya akan hancur saat mama tau Reza menikah lagi dengan wanita yang tidak direstuinya sejak awal. Aku tau aku bodoh melindungi laki-laki yang jelas telah menyakiti perasaanku ini, tapi aku tidak tega, bagaimana lagi. Telponku kembali berdering, mama menelpon. "Mama udah didepan pintu, mama telpon Reza enggak diangkat." Ya Tuhan, bagaimana ini, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. "Ma, Reza kayaknya sedang rapat deh, kalau mama nelpon Reza, nanti kejutannya jadi kacau. Gimana kalau mama pulang dulu, nanti a







