Share

Bab 6

Penulis: Gusmandora
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 12:00:01

Perlahan aku berjalan menuju dapur dan

Glekk...

Reza sudah ada disana, berkutat di depan kompor, sudah rapi mengenakan kemeja dan dasi, baru saja aku ingin berbalik

"Hei, sudah mandi?"

"Oh hei." Jawabku kikuk.

"Abang sudah bikin sarapan, kamu kerja kan hari ini?" Reza meletakkan nasi goreng ke atas piring.

"Iya kerja, kenapa Abang yang bikin sarapan?"

"Enggak apa- apa, sekali- kali, ayo duduk."

Aku menurutinya duduk di kursi, mulai menyuap nasi goreng buatan Reza.

"Abang minta
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 15

    Sama-sama bekerja di dunia perbankan, aku dan Reza agak kewalahan mengajukan cuti untuk ke Zurich kali ini. Apalagi jabatan Reza yang seorang manager, ditambah pengajuan cuti untuk akhir bulan. Pengajuanku hampir tidak di ACC kepala cabang, namun syukur nya baik aku maupun Reza bisa mendapatkan cuti , tidak banyak hanya 5 hari kerja, satu minggu totalnya jika dihitung hari Sabtu dan Minggu. Aku mengemasi barangku diatas meja kerja dan Loli melipat tangan didada sambil memperhatikan kegiatanku dari tadi. " Lo mau cuti seminggu kayak orang mau resign aja." Protesnya. Aku tertawa kecil, " Mau dibawain oleh-oleh apa?" "Zurich itu terkenal apanya sih?" "Emm, apa ya? gue belum pernah kesana." Aku balik bertanya. "Coklat Swiss aja." Aku mengangguk,"Tungguin gue balik ya sayang." "Iya sayang gueeh, eh btw gimana prospek mendapatkan cinta suami, udah berapa persen progres nya?" "Entahlah." Aku mengedikkan bahu." Cowok kalau naksir ke cewek bisa dilihat secara kasat mata gak s

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 14

    Mama masuk ke dapur saat aku dan mbak Rima masih mengupas buah. Tanpa tedeng aling-aling dia langsung memeluk pinggangku, mengelus perutku persis seperti yang mbak Rima lakukan tadi. "Udah ada tanda-tanda keberadaan cucu oma belum nih?" Guraunya. Lagi-lagi wajahku memerah,"Belum ma." Jawabku tersipu. "Ah, si Reza kurang topcer, mama dulu kosongnya cuma sebulan, habis itu langsung hamil Rima." "Baru juga empat bulan ma, Rima dulu kosongnya satu tahun malah." Mbak Rima menyahut sambil mencuci buah. "Iya, kamu waktu itu sama Vino kan LDR, kamu di Jakarta, si Vino di Samarinda. Itu buktinya pas Vino pindah ke Jakarta, kamu langsung hamil." Reza masuk ke dapur saat aku baru saja ingin bicara, membuat kata-kata yang ingin kekeluarkan kutelan lagi. "Pada ngomongin apa sih?" Tanyanya santai sambil membuka kulkas. "Ngomongin kamu yang kurang topcer, masa udah empat bulan si Donna belum tekdung juga." Mama membalas. Reza tertawa renyah, dia mengambil air minum kemasan dari kulk

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 13

    Ini adalah hari ke 124 aku menikah dengan Reza. Yap, aku menghitungnya, kutandai setiap hari yang dilalui bersamanya sejak dia mengikrarkan janji sucinya dulu di depan penghulu. "Don... Donna, kamu di dalam?" Suara Reza terdengar dari luar pintu kamarku. Aku melangkah membukakan pintu. "Ya, kenapa bang?" " Mama barusan nelpon, nanyain kita kapan kesana." Mama yang dimaksud Reza adalah mama mertuaku, wanita berusia 65 an, masih sangat energik, pensiunan PNS Kemenkeu. Sejak pensiun dia hanya menghabiskan waktu di rumah, menanam berbagai jenis bunga, dia juga memiliki kios bunga segar, kadang beliau menghabiskan waktunya di kios juga. "Ada acara?" Reza mengangguk,"Bagas pulang." Bagas itu adiknya Reza yang bungsu, yang lagi ngambil S2 di Zurich, Swiss. Dia waktu itu enggak bisa pulang pas kami menikah. "Udah nyampe rumah?" Tanyaku. "Belum, jam 7 baru landing, nanti kita jemput ke bandara abis itu langsung kerumah mama, kamu siap-siap ya, lima belas menit lagi kita pergi

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 12

    Loli menggeleng kepala sambil tersenyum miris melihat tekadku. "Gue bukannya skeptis sama usaha Lo sih Don, tapi kalau gue jadi Lo, gue bakalan jambak habis-habisan tuh si Reza. Gila ya, masa menggantung anak orang sebegitunya, kalau dia sudah punya pacar enggak seharusnya dia nikahin Lo, itu zholim namanya. Menikahi lo cuma sebagai status." Yang dikatakan Loli lagi-lagi sangat masuk akal, Reza tidak seharusnya menikahiku kalau hanya menjadikanku sebagai pion catur dalam hidupnya. "Dia udah nidurin gue." Ucapku pelan. Loli yang baru saja meminum sisa air mineralnya langsung memuncratkan lagi air yang terlanjur masuk ke dalam mulut, dan percikannya kemana-mana, termasuk ke wajahku. "APAAAA.....?!" Aku mengangguk pelan sambil mengambil tisue, menghapus jejak air diwajahku,"Satu kali, habis itu gak pernah lagi." "Gila, katanya gak mencintai lo tapi nidurin Lo, kurang brengsek apa coba si Reza, gedeg banget gue, sumpah." "Gak perlu pake cinta kalau soal begituan, cuma perlu n

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 11

    "Jangan tunggu abang." Sudah sangat jelas perkataannya padaku itu, tapi dengan bodohnya aku sekarang masih duduk di ruang tamu, sesekali melirik pintu berharap sosok itu muncul, menanti menit demi menit hingga terkumpul menjadi 5 jam, luar biasa Donna. 5 jam menunggu sosok yang akhirnya berdiri di depanku ini. Wajahnya nampak lelah, namun masih bisa memberikan senyum untukku, beruntung sekali mbak Fanny yang memiliki hati laki-laki ini, bukan hanya senyumnya. "Loh, kok belum tidur?" Aku menggeleng lemah, " Enggak bisa tidur." "Tau gitu tadi abang beli nasi goreng cumi kesukaan mu, abang pikir kamu pasti udah tidur jam segini." Aku melirik jam dinding, sudah pukul setengah dua belas malam. Aku kemudian berjalan menuju dapur, melewati tubuh jangkung Reza yang masih berdiri diruang tamu. "Gimana mbak Fanny?" Tanyaku membuka kulkas dan mengambil air dingin dari dalamnya. "Tadi hampir pingsan, hipotensi, dibawa ke rumah sakit dia nya gak mau, katanya mau istirahat dirumah aja

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 10

    Aku menggeleng kepala pelan, tersenyum sendiri, Donna betapa geer nya dirimu, huh. Kami berkeliling setelah menyelesaikan makan, melihat- lihat beberapa toko yang memajang produk-produk merey, mataku terhenti pada sebuah toko pakaian bayi, tiba-tiba saja ada yang mengalir di dada, rasanya menyenangkan sekaligus menghangat saat melihat topi bayi yang menurutku sangat lucu terpajang di etalase. Seperti terhipnotis, kakiku melangkah masuk ke dalam toko, "Kita kesana sebentar." Ucapku dan Reza mengekoriku yang berjalan menduluinya menuju toko tersebut. "Untuk apa?" Tanyanya saat aku membeli dua topi bayi pilihanku, berwarna biru dan merah muda. "Pengen aja, bisa dijadiin kado juga nanti kalau ada teman yanh lahiran." Aku mengedikkan bahu, aku juga heran dengan tingkahku, tapi aku benar- benar suka topi itu, lucu. "Mungkin suatu hari nanti bisa kugunakan untuk bayiku." Gumamku sendu, meski suatu hari itu entah ada atau tidak. Suatu hari yang bagiku seperti bayangan yang menghila

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status