LOGINMalam ini aku tidur sendiri, aku sudah menghubungi Reza tadi kalau aku sudah sampai. Aku belum mengantuk, jadi ku putuskan untuk beres-beres, membersihkan sisa acara ulang tahun Reza tadi. Aku mengumpulkan sampah dan memasukannya dalam kantong plastik hitam, melewati meja sudut yang berdiri disana kalender tegak. Aku berhenti, dan melihat tanggal yang kutandai dengan spidol merah. Itu tanggal keberangkatan kami ke Zurich, tinggal satu Minggu lagi. Tadi mama juga sudah membahas masalah keberangkatan kami ini. Bagaimana Reza akan pergi dengan kondisi Fanny yang seperti itu. Tidak mungkin dia meninggalkan Fanny yang tengah berjuang dengan penyakitnya, dan tidak mungkin juga dia tidak hadir di pernikahan Bagas. Mama akan marah besar kalau tau Reza tidak bisa hadir. Dan yang lebih parahnya bagaimana nanti menjelaskan nya ke mama semuanya. Kepalaku pusing sendiri memikirkan sesuatu yang seharusnya bukan aku yang pusing. Aku tertidur di sofa depan, terbangun ketika bunyi alarm menjerit d
Aku berlari menyusul Reza, langkahku tidak bisa mengimbangi langkah lebar dari kaki Reza, padahal aku sudah berlari sangat cepat. Aku tau dia panik, tapi meninggalkan ku seperti ini membuatku terlihat menyedihkan. Bahkan dia langsung melajukan mobilnya tanpa menungguku. Aku akhirnya memesan taxi yang kebetulan lewat gedung apartemen, meminta mas supirnya untuk mengejar mobil Reza. "Mas, kejar mobil yang itu ya." Ucapku cemas, karena aku tidak tau di hotel mana Fanny check in. Mobil Reza terus melaju dan taxi kami menyusul dibelakang, namun ada dua sampai tiga mobil yang menghalangi kami. "Mas, gak bisa lebih cepat ya?" Desakku pada supir taxi. "Gak bisa mbak, yang ada kita nabrak nanti." Aku mengetuk-ngetuk ujung jari, mobil kami berhenti di lampu merah sementara mobil Reza sudah melaju cepat hingga kami kehilangan arah. Mobil kami menepi, aku mencoba menghubungi Reza, tidak diangkat. Sepuluh menit kemudian, Reza menelpon balik. "Don, Abang sekarang di Rumah Sakit, di JMC.
"Kenapa?" Loli bingung melihat wajah panikku, dia berdiri tepat disampingku sekarang. "Mama mertua gue mau datang ke apartemen." "Lah, terus kenapa muka Lo kayak orang ditagih pinjol?" "Fanny ada di sana." Ucapku kian panik. "Bukannya bagus, sekalian aja mertua Lo lihat selir anaknya itu." "Lo gila ya, Reza bisa mati." Aku mendelik pada Loli. "Kalau gue jadi Lo sih, gue mending pura-pura enggak tau." Aku menggeleng putus asa, aku tidak sekejam itu. Aku tau semuanya akan hancur saat mama tau Reza menikah lagi dengan wanita yang tidak direstuinya sejak awal. Aku tau aku bodoh melindungi laki-laki yang jelas telah menyakiti perasaanku ini, tapi aku tidak tega, bagaimana lagi. Telponku kembali berdering, mama menelpon. "Mama udah didepan pintu, mama telpon Reza enggak diangkat." Ya Tuhan, bagaimana ini, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. "Ma, Reza kayaknya sedang rapat deh, kalau mama nelpon Reza, nanti kejutannya jadi kacau. Gimana kalau mama pulang dulu, nanti a
"Fanny tinggal sama kami." Loli yang sedang memilih menu makan siang langsung menoleh padaku, berhenti melakukan aktivitasnya membaca buku menu. Keningnya berkerut dalam, mulutnya menganga sebesar gua hira, definisi nyata dari syok mungkin. "Apa kata Lo barusan?" "Fanny, tinggal sama gue, di apartemen gue dan Reza." Aku memperjelas ucapan ku. "Kalian tinggal bertiga?" "Yap." "Hahahah,, luar biasa Reza." Loli tertawa geleng kepala, dan aku tentu saja langsung menjitak kepalanya. "Awww." Aku melotot,"Dasar teman kurang ajar." Loli meringis,"Terus lo mau mau aja digituin?" Aku mengedikkan bahu, siapa sih yang mau tinggal bareng selir. Sebenarnya aku bisa saja membawa masalah ini ke mama mertuaku, tinggal bilang bahwa Reza sudah menikah lagi, dia membawa istri barunya ke apartemen kami dan aku tidak tahan lalu memutuskan untuk pergi, lengkap ceritanya aku jadi istri yang tersakiti seperti di drama-drama. Aku yakin, mama mertuaku akan syok dan murka pada Reza. Namun, ap
Wajah Fanny langsung merah mendengar ucapan ku yang to the poin, tapi memang iya kan, masakannya payah. Bukannya aku jumawa karena masakanku enak. Tapi seenggaknya kalau memang dia mau mempersembahkan yang terbaik dan dia tau kalau dia enggak bisa masak, setidaknya tau dirilah, beli aja kan gampang. Daripada sekarang, bahan makanannya jadi mubazir. Entahlah ya, apa mungkin aku sedang sensitif, sehingga apa yang dilakukan oleh dua orang dihadapan ku saat ini rasanya selalu salah, keberadaan mereka berdua disini aja sebenarnya sudah salah. "Enggak apa-apa mbak, besok-besok jangan masak, mending beli aja." Ucapku lagi. Fanny mengangguk,"Masakanku payah ya, besok-besok kita beli aja." Dia mengulang ucapan ku. "Jadi, sekarang aku permisi dulu." Aku berdiri menggeser kursi. Aku tidak tau Fanny akan menginap disini, tidur bersama Reza dikamar laki-laki itu atau pulang ke kediamannya. Reza belum membahas apapun tentang itu padaku. Jadi ku putuskan untuk kembali ke kamar dan tidur, aku
Aku membuka pintu perlahan, hanya ada mbak Fanny berdiri didepan pintu kamarku. Suasana tiba-tiba berubah canggung. "Mbak boleh masuk?" tanyanya. Melihat dia begitu pucat dengan mata berair membuat hatiku luluh juga, aku mengangguk membuka pintu kamarku. Setelah mbak Fanny masuk, aku menutupnya kembali. "Duduk mbak." Aku mempersilahkan wanita itu duduk diatas tempat tidurku. Mata Fanny memindai isi kamarku kemudian tatapannya jatuh ke foto pengantin yang ada di atas meja rias. Itu foto yang diambil saat resepsi pernikahanku dulu dengan Reza. Disana tampak mataku berbinar bahagia, itu saat semua mimpi sempurna masih bercokol di atas kepalaku. "Cantik." Fanny meraih foto itu dan aku hanya diam tidak menanggapi. "Mbak ngerti mungkin kamu masih marah sama mbak, mbak egois ya." Matanya beralih menatapku. Lagi-lagi aku diam, bukan karena marah namun memang belum ada kata-kata yang tepat untuk kuutarakan. "Mbak dan Reza pacaran dari kelas dua SMA, waktu itu kami sama-sama te







