Share

BAB 5

Author: Gusmandora
last update publish date: 2026-07-02 18:27:24

Ini kisah cintaku

Yang akan selalu membekas sampai kapanpun dihatinya

Akhirnya kuputuskan untuk pulang setelah hujan telah mereda, kembali ku tatap gedung pengadilan agama yang berdiri kokoh dibelakangku, tempat bersejarah dalam hidupku, tak pernah terpikir akan menjadi seorang janda diusia ku yang belum genap seperempat abad ini.

Empat bulan yang lalu, dia pernah bertanya, itu bertepatan saat ulang tahunku yang ke dua puluh empat, waktu itu pernikahan kami hampir berjalan dua bulan, walau belum ada perkembangan yang berarti, sajauh ini kak Reza sangat baik, aku diperlakukan seperti adiknya.

Ia benar- benar menjadi suami idaman, memenuhi segala kebutuhanku, kecuali kebutuhan biologis, kalian tau, dia belum pernah menyentuhku sekalipun, agaknya ia menganut prinsip nafsu berdasarkan cinta, tak masalah bagiku.

"Hari ini Donna ulang tahun ya? Selamat."

Aku mengangguk datar, heran sendiri, dia mengucapkan selamat padaku seperti ingin menanyakan alamat, kaku sekali. Ingin tertawa tapi takut nanti dia tersinggung.

"Dari mana abang tau kalau hari ini aku ulang tahun?"

"Dari ibuk, itu tadi dia kirim cake untukmu." Reza melewatiku.

"Ohh." Sedikit kecewa, ku pikir dia berusaha mencari tanggal kelahiranku, geer sekali kau Donna.

"Jadi apa hadiah untukku?" Aku mengejar kak Reza sampai ke kamar, dia yang tadinya ingin membuka kemeja sontak terhenti.

"Hadiah?"

"Iya hadiah, kadonya mana? kakak tidak menyiapkannya untukku?"

"Maaf engak ada sih, Abang juga baru tau tadi sore kalau kamu ulang tahun, jadi sekarang kamu mau minta apa, besok kakak belikan." Ucapnya tulus.

"Enggak perlu, temani aku nonton malam ini, mau ya."

Cckkk, Donna siasat macam apa ini, apa kau sedang berusaha menggoda suamimu sendiri? anggaplah seperti itu.

Tanpa berfikir, Reza langsung mengangguk menyetujui ideku.

Jadilah malam itu aku mengajaknya untuk duduk berdua di atas sofa, dengan persiapan nonton yang ala kadarnya, bermodalkan sebuah laptop, proyektor kantor yang kubawa siang tadi, teh kemasan dan berbagai snack diatas meja.

Kami sedikit berdebat mengenai genre film yang akan ditonton, dia ngotot ingin menonton film horor, sedang aku ingin nonton film romantis, akhirnya yang ulang tahun lah yang menang.

Kami nonton dengan seksama, sesekali mengomentari berbagai adegan yang menurut kak Reza tidak masuk akal.

"Namanya juga film kak, cuma ada di film." Monyongku mencuat, greget melihat dia sedari tadi banyak komentar, persis seperti komentator sepak bola.

Kami sama- sama terdiam ketika pemeran pria mencium bibir pemeran wanita, kulirik wajah Reza dari ujung ekor mataku, jakunnya naik turun, hahaaaa, kurasa libidonya meningkat setelah menonton adegan ini.

"Abang pernah seperti itu?" Tanyaku pelan.

"Hah..?" Wajahnya memerah.

"Seperti itu, berciuman." Tanyaku pelan.

"Belum, belum pernah."

"Masa?? dengan mbak Fany belum pernah?" Tanyaku antusias.

"Kami pacaran sehat, tidak pernah seperti itu."

Ya ya ya...

Aku tau sekarang, pasangan seperti apa mereka, pasangan lurus sepuluh benar. Bagaimana bisa pacaran bertahun tahun tidak pernah berciuman sedikitpun. Kalau sudah seperti ini, aku benar- benar tertarik ingin menggoda pria yang duduk disebelahku ini.

"Ohh, kasihan sekali." Gumamku misterius sok pengalaman, padahal aku juga belum pernah, kalau nonton sering malahan, ada banyak drama Korea, drama China yang kutonton, semua pasti ada adegan seperti ini.

Aku mulai melancarkan aksiku, aku tau Reza mulai terpengaruh oleh adegan tadi, sengaja aku duduk mendekat, kulit tangan kami bersentuhan.

Dan ternyata film tersebut sangat mendukung usahaku, beberapa kali adegan yang sama muncul di layar, membuat kami panas dingin, aku menoleh sebentar ke arah kak Reza, secara tak terduga, ia juga memandang kearahku, tatapan kami bertemu, saling mengunci, lama.

Entah apa yang ada di pikiran pria itu, ia mulai mendekat ke arahku, jarak kami hanya tinggal beberapa centi, aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat membelai kulitku, dia terus menatapku dengan tatapan yang berbeda.

Aku memejamkan mataku ketika ia mulai memiringkan sedikit kepalanya dan terjadilah, sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, aku benar- benar telah menggodanya, dan ia tergoda.

Kami menikmatinya, sama- sama untuk pertama kalinya dalam hidup, walau hati merasa seperti merebut kepunyaan orang lain, aku tetap melanjutkannya, aku yakinkan hati ini bahwa aku bukan orang ketiga, bukan.

Dia suamiku, sah dalam agama dan negara, Tuhan merestui apa yang kami lakukan malam ini, ini ibadah, pahala yang mengalir dari pergumulan kami, namun mungkin ada hati lain yang terluka.

Yah, malam ini kuberikan sepenuh keindahan cinta kepadanya. Aku menyerahkan diriku seluruhnya, juga hatiku. Ini kado terindah yang kudapat sepanjang hidupku, sekali lagi kado terindah. Malam itu berlalu sempurna. Bukan hanya dirumah ini, melainkan di hati ini. Itulah surgaku, kami sama- sama terlelap, masih diatas sofa.

***

Hujan lebat menyambut pagi. Suara air menimpa ember di balkon samar- samar terdengar, aku terbangun, ku tengok jam dinding, pukul lima. Posisi suamiku memelukku seperti sebuah guling. Kemudian, dia membebaskan dirinya, masih mendengkur.

Aku berdiri memungut pakaianku yang terserak di lantai, cepat- cepat berlari masuk kedalam kamar namun sebelumnya memakaikan selimut pada Reza yang masih terlelap.

Ku pandangi tubuhku di cermin, meraba beberapa jejas kemerahan di leherku, aku benar- benar persis seperti penggoda, aku telah menggodanya dengan tubuhku. Sadarlah Donna, dia tidak mencintaimu, hatinya sudah milik orang lain, sudah hampir dua bulan dia bahkan tidak pernah menyentuhmu.

Dia meninggalkanmu saat malam pengantin kalian, dan malam tadi dengan tidak tau malunya kau menyodorkan tubuhmu untuknya, kau meracuni pikirannya seperti wanita jalang.

Tidak, tidak. Aku menggeleng kuat menatap cermin.

Yang kau lakukan sudah benar Donna, dia suamimu, ada hak nya atas dirimu, justru yang kau lakukan itu mungkin akan membuatnya mencintaimu, perjuangkanlah cintamu, kamu bukan pencuri, kamu bukan orang ketiga. Sekali lagi kamu bukan orang ketiga, kamu istri sahnya, cam kan itu.

Suara- suara perdebatan itu terus berbicara membuat kepalaku pusing, kuguyur kepala ini dengan air shower hingga dingin, entah berapa lama aku didalam kamar mandi, tubuhku sudah menggigil, ujung- ujung jariku sudah mengkerut. Kusudahi ritual mandi ini.

Pelan ku buka pintu kamar, Reza sudah tidak ada lagi di sofa, sedikit lega karena aku tidak tau harus menampakkan wajah seperti apa setelah apa yang kami lakukan tadi malam, kami sama- sama dalam keadaan sadar, tentu kami ingat betul detail peristiwa yang telah terjadi bukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 84

    Reza berjalan menuju kamar tanpa menyalakan lampu. Sesampainya di kamar mandi, dia melepaskan kemejanya, lalu membiarkan pakaian yang lain jatuh begitu saja ke lantai. Dia masuk ke bawah shower dan memutar keran sampai air mengguyur seluruh tubuhnya. Namun air tidak mampu menghapus apa pun. Reza menundukkan kepala, tangannya mengepal. "Aku yang menghancurkan semuanya..." Suaranya bergetar. "Aku sendiri." Dia teringat bagaimana dulu Donna menunggunya di malam pernikahan mereka dan dia pergi, demi Fanny. Demi seseorang yang akhirnya justru menjadi alasan dia kehilangan perempuan yang benar-benar mencintainya. Napas Reza semakin berat. "Kenapa aku baru sadar sekarang?" Tinju Reza menghantam dinding. Sekali. Lalu sekali lagi. Sampai akhirnya matanya tertuju pada kaca besar di hadapannya. Dalam pantulan kaca itu, dia melihat dirinya sendiri. Laki-laki yang kehilangan istrinya karena kebodohannya sendiri. "Kenapa dulu aku nggak lihat kamu, Don?" Air mata bercampur dengan air

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 83

    POV REZA Pintu apartemen tertutup keras di belakang Reza. Untuk beberapa detik, dia hanya berdiri di sana. Diam. Tatapannya kosong, tetapi dadanya terasa sesak seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Percakapan dengan Mama terus terngiang di kepalanya. "Kalau ada seseorang yang patut disalahkan, salahkan dirimu sendiri." Dia memejamkan mata, rasanya seperti ditusuk-tusuk pecahan kaca tanpa ampun, begitu sakit."Ada laki-laki bodoh yang meninggalkan istrinya demi wanita lain." Reza bahkan tidak berani membuka matanya sekarang. Donna, nama itu kembali muncul di kepalanya. Wajah Donna ketika terluka, tangis gadis itu, tatapannya ketika memutuskan untuk pergi. Semua kembali seperti potongan-potongan film yang tidak bisa dia hentikan. Reza seolah terlempar ke masa itu, masa dimana mama memanggilnya dan mengatakan kalau ingin menjodohkannya dengan cucu dari kerabat mama. "Mama sudah bilang berapa kali sama kamu, putuskan pacarmu itu, mama enggak suka." "Ma...Fanny anak ba

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 82

    "Itu dokter Galih mirip siapa sih, yang kita tonton itu, di Pursuit Of Jade." Mama menoleh ke Rima. "Marquis Wuan." "Iya , Marquis Wuan. Udah cakep perhatian pula sama Donna." Tambah mama tanpa menghiraukan Reza. Aku melirik Reza yang sekarang sedang meneguk minumnya, ekspresi laki-laki itu tidak terbaca. “Dari cara dia melihat Donna, mama sih tau kalau Galih itu orang baik, setidaknya Donna sekarang punya orang yang benar-benar memperhatikan kondisinya.” Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat rahang Reza mengeras. “Maksud Mama apa?” Mama pura-pura tidak melihat perubahan wajah putranya. “Tidak ada maksud apa-apa.” Kemudian Mama menatapku. “Dulu Mama sering khawatir Donna sendirian, sekarang sepertinya mama enggak perlu khawatir lagi.” Reza menarik napas pelan.“Ma…” “Apa?” Mama balik bertanya santai. “Mama cuma bilang apa yang Mama lihat kok.” Mbak Rima akhirnya mencoba mencairkan suasana. “Ma, jangan mulai.” Mama terkekeh kecil. “Memangnya Mama salah?” Kal

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 81

    Nenek datang tak lama kemudian, bergantian dengan Reza dia menungguiku. Sedang Reza keluar, ke kantin mencari kopi. "Gimana?" masih sakit?" Nenek mengelus perutku pelan. Aku menggeleng,"Enggak."’ Pintu kamar rawat terbuka pelan. Aku yang sedang setengah berbaring langsung menoleh. “Mama…” Mama masuk lebih dulu, disusul Mbak Rima yang membawa beberapa kantong makanan dan pakaian. Wajah Mama terlihat cemas, tetapi begitu melihatku masih dalam keadaan baik, ekspresinya sedikit melunak. “Bagaimana sekarang?” Mama langsung mendekat ke tempat tidur. “Sudah mendingan,Ma. Tadi malam masih sering mulas, tapi sekarang sudah berkurang.” Mama mengusap rambutku pelan. “Kamu bikin Mama hampir nggak bisa tidur. Reza nelpon mama katanya kamu kontraksi." Aku tersenyum kecil. “Maaf.” Mbak Rima meletakkan barang-barangnya di kursi. “Ya ampun, Don. Kamu ini kalau bikin keluarga panik jangan setengah-setengah.” Aku terkekeh pelan."Cucu mama nih mbak." Aku mengelus perutku. “Permisi.”

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 80

    Mataku mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk menembus kaca jendela, rupanya hari telah pagi. Punggung tangan kananku sudah dipasang infus, kulirik botol infus yang tergantung ditiang infus, isinya tinggal setengah. Aku ingin menggerakkan tangan kiriku tapi terasa berat, aku menoleh. Kepala Reza bersandar ditepi tempat tidur, sambil menggenggam tangan kiriku. Dia masih tidur. Aku bergerak, gerakanku membuat laki-laki itu terbangun. "Masih sakit?" Itu ucapan pertama nya saat bangun, apa dia menungguiku semalaman? Aku menggeleng,"Nenek mana?" aku tidak melihat nenek diruangan ini. "Nenek pulang subuh tadi mau ambil barang-barang, nanti kesini lagi." "Abang disini semalaman?" Tanyaku pelan. Reza mengangguk, dia kemudian berdiri, melihat kearah perutku sebentar,"Enggak sakit lagi?" Sudah dua kali dia menanyakan apakah aku masih sakit atau tidak, dan ku jawab dengan gelengan kepala. Reza mengangguk sekilas kemudian mengambil minum diatas meja dan memberikannya padaku,"minum

  • Aku Bukan Orang Ketiga    Bab 79

    Aku masih berdiri di samping tempat tidur ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Nenek sibuk mengusap punggungku pelan berusaha mengurangi rasa sakitnya. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu. "Donna!" Suara Galih. Nenek langsung keluar kamar dan membukakan pintu, sementara aku masih dikamar karena kontraksi kembali datang. Aku memegang perut sambil meringis."Ahh..." Pintu kamarku terbuka, Galih langsung masuk dan wajahnya berubah ketika melihatku membungkuk menahan sakit. "Donna!" Dia menghampiriku dengan cepat. "Kontraksinya masih datang?" Aku mengangguk. "Iya..." "Berapa menit sekali?""Aku nggak tahu." Galih melihat jam tangannya."Mulai sekarang kita hitung." Aku menatap wajahnya yang terlihat jauh lebih tegang daripada biasanya. "Galih..." "Hm?" "Jangan panik, okay." Dia justru menatapku seolah tidak percaya."Aku yang seharusnya bilang begitu ke kamu." Aku hampir tersenyum, tetapi rasa sakit kembali datang, Galih langsung menopang bahuku. "Ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status