แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Jay
Dalam dua tahun terakhir, hal yang paling sering kudengar di tempat ini adalah tawa riang Selly.

Mungkin memang sengaja melukaiku, setiap sudut rumah ini dipenuhi jejak mereka setelah berhubungan.

Di atas piano kesayanganku, terselip tanktop pink milik Selly.

Sofa dan karpet yang kupilih dengan sepenuh hati pun sering kali dipenuhi kondom berisi cairan lengket.

Foto pernikahan di kamar pengantin juga dibuang seluruhnya ke tempat sampah, hanya karena Selly meminta dengan manja.

Namun saat itu, aku masih berharap Nathan bisa mengingatku kembali, sehingga semua penghinaan itu kuterima dengan rela.

Kalau dipikir kembali, benar-benar konyol sekali.

Dia menyuruh orang menyita semua barangku, lalu langsung mengurungku di dapur untuk memasak makanan bergizi untuk ibu hamil.

Aku tak bisa menghubungi Leo dan juga tak punya cara untuk melapor polisi.

Jika tidak menuruti perintahnya, aku takut konsekuensinya tak sanggup kuterima.

Bagaimanapun, terakhir kali saat aku menolak mencarikan anting untuk Selly, akibatnya diriku malah dilempar ke kolam renang di tengah badai salju.

Air kolam sedingin es langsung membasahi seluruh pakaianku.

Aku yang tak bisa berenang berjuang mati-matian di dalam air, tapi yang kudapat justru air semakin banyak masuk ke hidung dan tenggorokanku.

Sementara Nathan memeluk Selly berdiri di tepi kolam, keningnya berkerut dan wajahnya tampak kesal.

“Nathan… tolong aku….”

Teriakku sekuat tenaga, tapi suaraku malah teredam oleh air kolam.

Namun, Nathan hanya melihatku dengan dingin, sambil menghibur Selly dengan lembut,

“Sayang, ikhlaskan saja anting yang hilang. Nanti akan kubelikan yang baru, ya.”

Aku hanya bisa pasrah membiarkan air kolam menutupi kepalaku dan kegelapan menelanku.

Saat aku mengira ajal sudah di depan mata, tiba-tiba sebuah tangan menarik lenganku dan menyeretku ke permukaan.

Aku terengah-engah, memuntahkan beberapa teguk air, lalu menatap mata Nathan yang sedingin es.

“Aku lupa kamu nggak bisa berenang, maaf.”

Meski terdengar seperti permintaan maaf, ucapannya sama sekali tak ada nada penyesalan.

Setelah itu, aku diseret ke hadapan Selly. Tubuhku basah kuyup dan terjatuh terduduk di lantai.

Tatapan mereka padaku seperti sedang memandang seekor anjing yang menyedihkan.

Selly melirikku dengan sikap menantang, lalu dengan manja meminta Nathan menemaninya berbelanja.

Sebelum pergi, Nathan tak lupa melemparkan satu kalimat,

“Ibuku akan datang hari ini, rapikan dirimu.”

Tubuhku menggigil kedinginan sampai mati rasa, tapi tetap membelanya di depan ibunya.

Aku bahkan masih menghibur diriku sendiri dengan alasan karena dia amnesia.

Mengingat semua itu, aku menajamkan sudut bibir, mengejek diriku sendiri.

Aku tak bisa memasak makanan bergizi untuk ibu hamil, jadi hanya asal memasak semangkuk bubur, lalu membawanya keluar.

Seperti yang sudah kuduga, Nathan langsung membanting bubur itu ke lantai.

“Jasmine, kamu lagi mengambek apalagi?”

Bubur panas itu memercik ke lenganku yang terbuka, meninggalkan bercak merah perih di kulit.

Aku mendesis kesakitan, lalu melindungi perutku, sambil terhuyung berpegangan pada meja makan.

Belum sempat aku tersadar kembali, Nathan sudah memerintah dengan dingin,

“Ibu menyuruh kita pulang untuk makan malam ini, siap-siaplah dan ingat apa yang harus kamu katakan.”

Untuk menutupi lukaku, dia bahkan sengaja membawaku memilih baju berlengan panjang.

Sepanjang perjalanan, kami tak bicara sepatah kata pun, hingga tiba di rumah tua.

Sepertinya ibu Nathan sedang mengadakan perjamuan hari ini, karena ada banyak tamu yang datang.

Begitu melihatku, senyumannya langsung bermekaran.

“Jasmine! Cepat ke sini, ke samping ibu!”

Dia adalah sahabat terbaik ibuku.

Sejak ibuku meninggal, dialah yang mengambil peran merawat dan menjagaku.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 9

    Rambut panjang Selly tampak acak-acakan menempel di wajahnya. Mungkin karena baru saja keguguran, wajahnya terlihat sangat pucat.Saat dia mendongak, aku melihat sudut bibirnya membiru dan mata kirinya bengkak sampai hampir tak bisa dibuka.Sangat berbeda dengan penampilannya yang dulu selalu tampak lemah dan manja di hadapan Nathan.“Jasmine, kamu pikir dirimu sudah menang?”Begitu melihatku, dia tiba-tiba tertawa nyaring dengan suara yang tajam.“Orang yang benar-benar dicintai Nathan selamanya adalah aku! Kamu hanya mainan saja. Emangnya kenapa kalau dia menikahimu?”Plak!Leo menampar wajahnya keras-keras, langsung membuat pipinya bengkak dan memerah.“Siapa yang mengizinkanmu bicara?”Setelah itu, Leo menoleh ke arahku. Tatapannya langsung berubah lembut.“Jasmine, tempat ini kedap suara. Kamu bisa bebas melampiaskan amarahmu.”Aku melangkah maju, kilasan kenangan masa lalu berkelabat di benakku.Selama dua tahun ini, semua kejahatan yang Selly lakukan berulang kali terputar di ke

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 8

    Dia mengangkat kepalanya menatapku, sorot matanya sulit ditebak.Usai bicara, dia tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar gila.“Kamu bahkan tahu kalau aku pura-pura amnesia demi membalas dendam padamu.”Dia menopang dirinya untuk berdiri, langkahnya terhuyung saat mendekat ke arahku.Aku reflek mundur, pinggangku membentur sandaran kepala ranjang hingga mengeluarkan bunyi yang tumpul. Telapak tangan Nathan menghantam keras sisi telingaku, napas hangatnya menyapu wajahku.“Lalu kamu mencari pria lain untuk akting, mau menggunakan cara yang sama untuk membalas dendam padaku?”Dia menempelkan keningnya ke keningku. Air mata panas jatuh dan membasahi wajahku.“Maaf! Maaf!”Tangan Nathan gemetar saat menyentuh wajahku, jempolnya dengan lembut menghapus air mataku.“Tapi kamu salah. Bahkan sebelum diriku sendiri menyadarinya, aku sudah jatuh cinta padamu.”Usai bicara, dia menunduk, seolah ingin menciumku.Aku menghindar dengan marah, lalu menampar wajahnya keras-keras.“Nathan, jangan p

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 7

    Sebenarnya aku tak begitu mengerti semua sikap anehnya selama beberapa hari terakhir ini.Yang ingin cerai itu dia, yang menyuruhku pergi juga dia.Tapi, ketika aku benar-benar berhenti berharap untuk rujuk, dia pula yang tampaknya tidak senang.Namun, karena dia ingin tahu, aku pun akan memberitahunya.“Dalam kecelakaan itu, bukan hanya rahimku saya yang terluka. Aku juga kehilangan seorang anak yang sudah berusia dua bulan.”Begitu kata-kata itu terucap, dunia seakan ditekan tombol jeda.Nathan terpaku di tempat. Wajahnya pucat seketika, jakunnya bergerak dengan susah payah.“Apa kamu bilang? Kamu hamil waktu itu?”Sementara tangan Leo yang menggenggam tanganku mendadak mengencang, ujung jarinya sampai memucat.“Aku sendiri juga nggak tahu. Dokter yang memberitahuku setelah aku sadar.”Saat mengatakan itu, kenangan itu pun menyerbu seperti riak gelombang.Rasa sakit hebat saat kecelakaan, suara logam yang terpelintir memekakkan telinga.Serta keputusasaan saat darah hangat terus meng

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 6

    Saat menatapku, alisnya agak berkerut. Matanya yang berwarna kecoklatan langsung menajam saat melihat keadaanku yang begitu malang.“Tolong… aku!”Aku terhuyung keluar dari lift. Tubuhku yang panas membara secara reflek mendekat ke arah yang terasa dingin.Leo bereaksi sangat cepat, sebelum aku terjatuh, tangannya sudah mencengkeram bahuku.“Kamu diracuni?”Mendengar suaranya, aku pun mengangguk asal. Jari-jariku tanpa sadar mencengkeram dasinya.Sebenarnya, dia berniat membawaku ke rumah sakit, tapi aku benar-benar tak sanggup menahan dorongan obat itu.Setelah satu malam yang tak terduga itu, sebenarnya aku ingin berterima kasih dengan baik padanya.Namun, dia malah mengajukan diri untuk bertanggung jawab.“Bagaimana kalau kita menikah? Aku punya mobil dan rumah, kondisiku seharusnya nggak buruk!”Baru saja terluka oleh cinta, aku tentu tak mungkin langsung masuk ke pernikahan baru.Namun, dia bilang dirinya butuh seorang istri. Jika aku ingin membalas budi, bisa dengan menikah denga

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 5

    Leo menyelimuti tubuhku dengan jasnya, lalu memelukku erat.Dia mencium keningku berulang kali, menenangkanku dengan suara lembut, “Jasmine, aku sudah datang, semuanya akan baik-baik saja!”Lalu dengan mata memerah, dia menyapu pandangan ke sekeliling. Suaranya sangat dingin, seolah mampu membekukan udara.“Siapa yang menyentuhnya?Melihat situasi yang mulai memburuk, orang-orang di sekitar mulai ingin kabur. Namun, wanita yang memimpin tadi malah maju dan menunjuk kami sambil berteriak, “Wanita jalang ini menggoda pria di mana-mana! Kamu sudah tertipu olehnya!”Leo meliriknya dengan dingin, suaranya datar tanpa emosi,“Polisi akan datang sebentar lagi. Fitnah dan pencemaran nama baik, ditambah penganiayaan dengan sengaja, sepertinya sudah cukup untuk dipenjara beberapa tahun!”Kerumunan mendadak sunyi. Orang-orang mulai menurunkan ponsel masing-masing.Saat para satpam membawa perisai dan membubarkan kerumunan, pandangan Nathan masih tertuju pada ujung gaunku yang berlumuran darah.

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 4

    Aku berjalan menghampirinya, memapahnya dan membiarkan dia menggenggam tanganku.Menanyakan kabar dengan penuh perhatian, mengulang semua prosedur yang sama seperti dulu.Hanya saja, saat menyinggung hubunganku dengan Nathan, aku menunduk dan berkata pelan, “Kami sudah cerai. Dia sudah nggak mengingatku, pernikahan ini juga sudah nggak perlu dilanjutkan.”Genggaman tangannya sempat terhenti, tatapan matanya tampak tidak rela.“Ada baiknya juga. Setelah dia amnesia, kami benar-benar sudah banyak menderita.”Saat hendak pergi, dia kembali memperingatkan Nathan dengan nada tegas, “Meski kamu sudah cerai dengan Jasmine, jangan pernah berharap perempuan itu bisa masuk ke rumah kita.”Seketika, wajah Nathan langsung memuram. Dengan suara keras, dia membantah, “Kami hanya cerai sementara. Setelah Selly melahirkan, kami pasti akan rujuk kembali.”Aku menatap ekspresinya yang sama sekali tak terlihat bercanda, lalu berkata, “Aku sudah menikah dan juga sudah mengandung anak suamiku. Jadi, a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status