แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Jay
Aku berjalan menghampirinya, memapahnya dan membiarkan dia menggenggam tanganku.

Menanyakan kabar dengan penuh perhatian, mengulang semua prosedur yang sama seperti dulu.

Hanya saja, saat menyinggung hubunganku dengan Nathan, aku menunduk dan berkata pelan,

“Kami sudah cerai. Dia sudah nggak mengingatku, pernikahan ini juga sudah nggak perlu dilanjutkan.”

Genggaman tangannya sempat terhenti, tatapan matanya tampak tidak rela.

“Ada baiknya juga. Setelah dia amnesia, kami benar-benar sudah banyak menderita.”

Saat hendak pergi, dia kembali memperingatkan Nathan dengan nada tegas,

“Meski kamu sudah cerai dengan Jasmine, jangan pernah berharap perempuan itu bisa masuk ke rumah kita.”

Seketika, wajah Nathan langsung memuram.

Dengan suara keras, dia membantah,

“Kami hanya cerai sementara. Setelah Selly melahirkan, kami pasti akan rujuk kembali.”

Aku menatap ekspresinya yang sama sekali tak terlihat bercanda, lalu berkata,

“Aku sudah menikah dan juga sudah mengandung anak suamiku. Jadi, aku nggak akan rujuk denganmu.”

Mendengar itu, dia langsung menoleh menatapku, tatapan matanya tampak terkejut.

Tiba-tiba, ibunya dipanggil keluar, katanya ada teman yang harus dijenguk di rumah sakit.

Tak lama setelah dia pergi, Nathan menarik tanganku dan membawaku ke halaman belakang.

“Lepaskan aku!”

Namun, dia hanya berkata dengan nada tak sabar,

“Bukannya kamu ingin punya anak? Tunggu setelah Selly melahirkan, kamu bisa mengurus anak itu. Bukannya itu yang kamu inginkan?”

“Bisa-bisanya mengarang sudah menikah dan hamil segala? Segitu nggak sabarnya kamu mau memaksaku untuk rujuk denganmu?”

Melihat amarahnya, aku malah merasa konyol.

Hingga saat ini, dia masih mengira aku berbohong.

Aku meronta tak bisa melepaskannya, lalu langsung menampar wajahnya keras-keras.

“Nathan, sudah cukup belum? Masih belum cukup berpura….”

Belum sempat aku selesai bicara, tiba-tiba sekelompok orang berhamburan keluar, sambil berteriak ke arahku.

“Itu dia! Pelakor yang merusak rumah tangga orang!”

Kepalaku seakan meledak.

Dengan mata terbelalak, aku melihat orang-orang mengangkat ponsel dan merekam menyerbu ke arahku.

Seorang wanita paruh baya di barisan depan mengacungkan beberapa foto tepat ke wajahku.

Di foto itu, terlihat aku sedang berciuman dengan pria lain.

“Lihat semuanya! Si jalang ini suka menggoda suami orang di mana-mana!”

Wanita itu berteriak nyaring memakai pengeras suara, kilatan lampu kamera berkedip-kedip menyilaukan mataku.

Aku reflek memejamkan mata, mengangkat tangan dengan malang untuk menutupi cahaya yang menyilaukan itu.

“Aku bukan pelakor! Aku nggak menggoda siapapun!”

Namun, dalam kekacuan itu, tak ada yang mau mendengarkan penjelasanku. Mereka bahkan mulai menjambak rambutku dengan kasar dan melemparkan barang ke arahku.

Batu, botol minum, kulit buah… segala macam benda berterbangan ke arahku seperti air hujan.

Aku reflek mengangkat tangan untuk melindungi diri.

Detik berikutnya, terdengar bunyi retakan yang tajam. Rasa sakit luar biasa langsung menjalar dari lenganku.

Aku hampir bisa merasakan tulangku patah dan bergeser.

Aku terjatuh lemas di lantai, seluruh tubuhku berteriak kesakitan.

Namun, dari celah kerumunan, aku melihat Nathan tengah memeluk erat dan melindungi Selly, yang entah sejak kapan sudah ada di sana.

Mata Selly berkaca-kaca, tubuhnya bersandar di dada Nathan, tatapannya menatapku dengan penuh tantangan.

Setelah itu, entah apa yang dia katakan, Nathan pun melirikku sekilas dan segera menggendongnya pergi.

Pada saat itu, hatiku yang tadinya sudah mati rasa, kembali terasa nyeri hingga hampir sesak napas.

Tak ada satu pun orang yang menolongku. Aku hanya bisa melindungi perutku sambil memohon dengan putus asa,

“Tolong jangan sakiti anakku!”

Namun, mereka mengabaikan permohonanku. Mereka bahkan merobek pakaianku dan menyeretku untuk dipermalukan di depan umum.

Di tengah ejekan dan makian, entah siapa yang mendorongku, tubuhku terhuyung dan hampir terjatuh.

Di saat genting itu, sepasang lengan kuat melingkari tubuhku dari belakang.

“Jasmine!”

Suara akrab Leo terdengar di telingaku.

Di saat yang sama, Nathan kembali dengan beberapa petugas keamanan.

Dan dari dalam kerumunan, seseorang berteriak keras,

“Dia berdarah! Dia benar-benar hamil!”
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 9

    Rambut panjang Selly tampak acak-acakan menempel di wajahnya. Mungkin karena baru saja keguguran, wajahnya terlihat sangat pucat.Saat dia mendongak, aku melihat sudut bibirnya membiru dan mata kirinya bengkak sampai hampir tak bisa dibuka.Sangat berbeda dengan penampilannya yang dulu selalu tampak lemah dan manja di hadapan Nathan.“Jasmine, kamu pikir dirimu sudah menang?”Begitu melihatku, dia tiba-tiba tertawa nyaring dengan suara yang tajam.“Orang yang benar-benar dicintai Nathan selamanya adalah aku! Kamu hanya mainan saja. Emangnya kenapa kalau dia menikahimu?”Plak!Leo menampar wajahnya keras-keras, langsung membuat pipinya bengkak dan memerah.“Siapa yang mengizinkanmu bicara?”Setelah itu, Leo menoleh ke arahku. Tatapannya langsung berubah lembut.“Jasmine, tempat ini kedap suara. Kamu bisa bebas melampiaskan amarahmu.”Aku melangkah maju, kilasan kenangan masa lalu berkelabat di benakku.Selama dua tahun ini, semua kejahatan yang Selly lakukan berulang kali terputar di ke

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 8

    Dia mengangkat kepalanya menatapku, sorot matanya sulit ditebak.Usai bicara, dia tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar gila.“Kamu bahkan tahu kalau aku pura-pura amnesia demi membalas dendam padamu.”Dia menopang dirinya untuk berdiri, langkahnya terhuyung saat mendekat ke arahku.Aku reflek mundur, pinggangku membentur sandaran kepala ranjang hingga mengeluarkan bunyi yang tumpul. Telapak tangan Nathan menghantam keras sisi telingaku, napas hangatnya menyapu wajahku.“Lalu kamu mencari pria lain untuk akting, mau menggunakan cara yang sama untuk membalas dendam padaku?”Dia menempelkan keningnya ke keningku. Air mata panas jatuh dan membasahi wajahku.“Maaf! Maaf!”Tangan Nathan gemetar saat menyentuh wajahku, jempolnya dengan lembut menghapus air mataku.“Tapi kamu salah. Bahkan sebelum diriku sendiri menyadarinya, aku sudah jatuh cinta padamu.”Usai bicara, dia menunduk, seolah ingin menciumku.Aku menghindar dengan marah, lalu menampar wajahnya keras-keras.“Nathan, jangan p

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 7

    Sebenarnya aku tak begitu mengerti semua sikap anehnya selama beberapa hari terakhir ini.Yang ingin cerai itu dia, yang menyuruhku pergi juga dia.Tapi, ketika aku benar-benar berhenti berharap untuk rujuk, dia pula yang tampaknya tidak senang.Namun, karena dia ingin tahu, aku pun akan memberitahunya.“Dalam kecelakaan itu, bukan hanya rahimku saya yang terluka. Aku juga kehilangan seorang anak yang sudah berusia dua bulan.”Begitu kata-kata itu terucap, dunia seakan ditekan tombol jeda.Nathan terpaku di tempat. Wajahnya pucat seketika, jakunnya bergerak dengan susah payah.“Apa kamu bilang? Kamu hamil waktu itu?”Sementara tangan Leo yang menggenggam tanganku mendadak mengencang, ujung jarinya sampai memucat.“Aku sendiri juga nggak tahu. Dokter yang memberitahuku setelah aku sadar.”Saat mengatakan itu, kenangan itu pun menyerbu seperti riak gelombang.Rasa sakit hebat saat kecelakaan, suara logam yang terpelintir memekakkan telinga.Serta keputusasaan saat darah hangat terus meng

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 6

    Saat menatapku, alisnya agak berkerut. Matanya yang berwarna kecoklatan langsung menajam saat melihat keadaanku yang begitu malang.“Tolong… aku!”Aku terhuyung keluar dari lift. Tubuhku yang panas membara secara reflek mendekat ke arah yang terasa dingin.Leo bereaksi sangat cepat, sebelum aku terjatuh, tangannya sudah mencengkeram bahuku.“Kamu diracuni?”Mendengar suaranya, aku pun mengangguk asal. Jari-jariku tanpa sadar mencengkeram dasinya.Sebenarnya, dia berniat membawaku ke rumah sakit, tapi aku benar-benar tak sanggup menahan dorongan obat itu.Setelah satu malam yang tak terduga itu, sebenarnya aku ingin berterima kasih dengan baik padanya.Namun, dia malah mengajukan diri untuk bertanggung jawab.“Bagaimana kalau kita menikah? Aku punya mobil dan rumah, kondisiku seharusnya nggak buruk!”Baru saja terluka oleh cinta, aku tentu tak mungkin langsung masuk ke pernikahan baru.Namun, dia bilang dirinya butuh seorang istri. Jika aku ingin membalas budi, bisa dengan menikah denga

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 5

    Leo menyelimuti tubuhku dengan jasnya, lalu memelukku erat.Dia mencium keningku berulang kali, menenangkanku dengan suara lembut, “Jasmine, aku sudah datang, semuanya akan baik-baik saja!”Lalu dengan mata memerah, dia menyapu pandangan ke sekeliling. Suaranya sangat dingin, seolah mampu membekukan udara.“Siapa yang menyentuhnya?Melihat situasi yang mulai memburuk, orang-orang di sekitar mulai ingin kabur. Namun, wanita yang memimpin tadi malah maju dan menunjuk kami sambil berteriak, “Wanita jalang ini menggoda pria di mana-mana! Kamu sudah tertipu olehnya!”Leo meliriknya dengan dingin, suaranya datar tanpa emosi,“Polisi akan datang sebentar lagi. Fitnah dan pencemaran nama baik, ditambah penganiayaan dengan sengaja, sepertinya sudah cukup untuk dipenjara beberapa tahun!”Kerumunan mendadak sunyi. Orang-orang mulai menurunkan ponsel masing-masing.Saat para satpam membawa perisai dan membubarkan kerumunan, pandangan Nathan masih tertuju pada ujung gaunku yang berlumuran darah.

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 4

    Aku berjalan menghampirinya, memapahnya dan membiarkan dia menggenggam tanganku.Menanyakan kabar dengan penuh perhatian, mengulang semua prosedur yang sama seperti dulu.Hanya saja, saat menyinggung hubunganku dengan Nathan, aku menunduk dan berkata pelan, “Kami sudah cerai. Dia sudah nggak mengingatku, pernikahan ini juga sudah nggak perlu dilanjutkan.”Genggaman tangannya sempat terhenti, tatapan matanya tampak tidak rela.“Ada baiknya juga. Setelah dia amnesia, kami benar-benar sudah banyak menderita.”Saat hendak pergi, dia kembali memperingatkan Nathan dengan nada tegas, “Meski kamu sudah cerai dengan Jasmine, jangan pernah berharap perempuan itu bisa masuk ke rumah kita.”Seketika, wajah Nathan langsung memuram. Dengan suara keras, dia membantah, “Kami hanya cerai sementara. Setelah Selly melahirkan, kami pasti akan rujuk kembali.”Aku menatap ekspresinya yang sama sekali tak terlihat bercanda, lalu berkata, “Aku sudah menikah dan juga sudah mengandung anak suamiku. Jadi, a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status