Share

46. Perfect

Author: W.M.G
last update publish date: 2025-11-29 20:07:39

Gavin terdiam untuk beberapa saat, memegang kemudi sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada setir mobil.

Sira menghela nafas, memilih menyerah dan menepis rasa penasaran akan kisah pernikahan mereka. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil, melihat pepohonan di tepi jalan yang seakan berlarian dengan cepat melewatinya.

"Tidak. Pernikahanku dan Raina sedang tidak baik-baik saja." Ucap Gavin memecah keheningan tiba-tiba, membuat Sira terkejut karena akhirnya ia mau buka suara soal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
kang halu
lagian Gavin jdi laki kok gak bisa tegas sikapny,kan kasian Sira nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    159. Sisa-Sisa Badai

    Raungan sirene ambulans dan mobil polisi memecah kesunyian gang sempit yang lembap itu secara bersamaan.Cahaya strobo merah dan biru berpendar liar, memantul di dinding-dinding kontrakan kusam yang selama beberapa jam terakhir menjadi saksi bisu sebuah penyekapan yang mengerikan. Namun, bagi Gavin, kebisingan itu hanyalah dengung jauh yang tidak berarti. Dunianya telah menyempit drastis, hanya sebatas tubuh rapuh dalam balutan selimut tebal yang kini berada dalam dekapannya.Begitu pintu belakang ambulans dihempaskan terbuka, Gavin segera membopong Sira dengan langkah yang tergesa namun penuh kehati-hatian. Ia melangkah dengan kaki yang terasa seberat timah, mengabaikan lengan bawahnya yang terluka serta darah yang mulai mengering dan menghitam di kemejanya.Petugas medis mencoba mengambil alih, namun Gavin menolak melepaskan dekapannya. Ia seolah tidak lagi mempercayai siapa pun. Hanya setelah ia sendiri yang meletakkan Sira di atas tandu dan memastikan istrinya aman di dalam kabin

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    158. Hancur dalam Pelukan

    Udara pagi di gang sempit itu mendadak membeku. Baru saja kaki Gavin menyentuh tanah setelah melompat dari mobil, sebuah jeritan melengking terdengar pendek, tajam, dan penuh penderitaan, menyayat kesunyian dari arah dalam kontrakan tanpa pagar itu. Jeritan itu tidak selesai, seolah diputus oleh bungkaman tangan yang kejam."SIRA!" teriak Gavin sekuat mungkin.Dunia Gavin seakan runtuh seketika. Tanpa menunggu Prabu atau Maya, ia berlari menerjang pintu kayu usang itu. Pikirannya tidak lagi mampu memproses logika. Yang ia tahu, suara itu adalah suara istrinya, suara penuh harap ditengah sisa-sisa kekuatannya untuk meminta tolong.Gavin menghantamkan bahunya ke pintu kayu kontrakan yang terkunci rapat. Brak! Pintu itu bergeming. Gavin tidak menyerah. Ia mundur selangkah, mengabaikan rasa nyeri yang mulai menjalar di sekujur tubuhnya yang bahkan belum sepenuhnya pulih akibat kecelakaan maut beberapa bulan lalu. Tapi baginya, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan ket

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    157. Di Ujung Kegelapan

    Dinding-dinding kayu kontrakan yang sempit itu seolah merapat, menghimpit napas Sira yang kian tersengal. Di dalam kamar yang pengap oleh bau obat-obatan dan kecemasan, suasana berubah menjadi neraka yang nyata. Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan, justru menjadi saksi bisu atas horor yang sedang berlangsung di balik pintu terkunci.Andre tidak lagi tersenyum lembut. Topeng orang baik yang ia kenakan sejak kemarin telah retak, menampakkan monster obsesif yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan sikap sopannya. Di tangannya, semangkuk bubur itu bukan lagi simbol perhatian, melainkan alat penyiksaan."Makan, Sira! Aku bilang makan!" geram Andre. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan perintah rendah yang sarat akan ancaman.Sira menggeleng kuat, air matanya membasahi pipi yang kini dihiasi noda lipstik merah yang mulai berantakan akibat gesekan. "Lepaskan aku, Mas Andre... Tolong, jangan begini..."Kemarahan Andre meledak. Ia meletakkan mangkuk itu dengan kasar di ata

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    156. Titik Terang

    Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa membakar kulit, namun tak sedahsyat api kegelisahan yang melalap dada Gavin dan Prabu. Keduanya masih tertahan di dalam mobil yang terparkir di depan bistro, dengan mata yang merah akibat tidak tidur semalaman. Prabu sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, menghubungi kenalan di kepolisian hingga melacak jaringan komunikasi, namun Andre Wijaya seolah lenyap ditelan bumi bersama Sira."Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sira karena kita terlambat... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," desis Gavin. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga gemetar.Prabu yang biasanya tenang kini hanya bisa bersandar pada kursi dengan napas berat. "Kita sudah melakukan segalanya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu satu celah kecil."Tepat pukul delapan tiga puluh pagi, sebuah motor berhenti di depan bistro. Seorang perempuan turun, membuka helm, dan dengan wajah mengantuk mulai merogoh kunci untuk membuka pintu geser resto

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    155. Sang Penyelamat atau Sang Penculik?

    Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis, jatuh tepat di atas kelopak mata Sira yang masih terasa berat. Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang konstan di pelipisnya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, rasa lemas yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang belakang, seolah-olah seluruh tenaganya telah dikuras habis.Sira perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang ia tatap terasa familiar. Cat putih yang sedikit mengelupas di sudut ruangan, aroma kayu tua yang khas, dan suara kicauan burung dari pohon mangga di luar jendela."Ini... kontrakan?" bisiknya parau.Pikirannya yang masih berkabut mencoba memutar kembali kaset memori yang berantakan. Ingatan terakhirnya adalah bau disinfektan rumah sakit yang tajam, lampu neon yang dingin, dan kehadiran Gavin. Ia ingat tangan Gavin yang membelai kepalanya, ia ingat kecupan di pipinya, dan ia ingat rasa hangat yang sempat singgah di hatinya. Tapi, kenapa sekarang ia ada di sini? Di rumah kontrakan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    154. Sebuah Obsesi

    Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya. Daster pendek berwarna kuning dengan lengan sejari membalut tubuh ringkihnya, menggantikan pakaian rumah sakit yang kaku dan berbau disinfektan. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di atas bantal putih. Di tepi ranjang, Andre duduk membeku. Matanya tidak lepas dari wajah Sira, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga sekaligus rapuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah lipstik berwarna merah darah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seolah sedang melukis di atas kanvas yang bisa

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    50. Pelakor itu Aku

    "Bu..., Ibu kenapa?" Panggil Bagas.Sira tertegun untuk beberapa saat. Otaknya seakan berpikir keras sementara jantungnya berdebar semakin kencang hingga suara detaknya bisa ia dengar sendiri."Bu?" Kini Aldo juga ikut memanggil, khawatir melihat wajah gurunya yang kini terlihat pucat.Bel tanda ma

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    49. Guru Pelakor

    Siang itu, gosip tentang pelakor masih jadi topik hangat di kalangan siswa. Beberapa orang tua yang mengetahui kabar itu bahkan sempat menelepon dan datang ke sekolah untuk mengonfirmasi kebenarannya.Dengan dalih tak ingin diajar oleh guru tak bermoral jika berita itu benar, orang tua siswa menuntu

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    48. Surat Ancaman dan Plaster Luka

    Sekali lagi Sira memandangi plaster luka berwarna biru dengan motif buah stroberi berwarna merah muda yang tiba-tiba telah bertengger di jari telunjuknya, begitu ia membuka mata pagi ini. Dan tiba-tiba jantungnya berdebar tanpa alasan yang pasti. Usai makam malam dengan sayur lodeh dan ayam gore

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    47. Luka Kecil

    "Ngapain kamu ke sini lagi, Vin?" Sapa Rita sedikit ketus pada Gavin begitu melihat keponakannya berjalan mengiringi Sira yang menghampirinya di dapur."Tante ngapain malah masak di sini, bukannya pulang? Om udah nanyain terus itu." Sahut Gavin dengan tatapan lelah memandang tantenya yang kadang ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status