LOGINSetelah diberikan tiket liburan palsu oleh pamannya, saat kembali Adhira juga mendapati bahwa rumahnya dijual demi biaya pernikahan sang sepupu dan tunangan miliknya. Tak cukup dengan pengkhianatan keluarga dan cinta, fakta yang lebih mengejutkan terjadi. Rumah miliknya kini jatuh ke tangan pria angkuh yang sangat Adhira benci sejak kecil, Marsena Buana! "Kalau kau begitu terobsesi ingin tinggal di sini, maka menikah saja dengan pemiliknya."
View More“Halo, aku baru saja sampai di bandara. Kau di—”
Belum tuntas Adhira melontarkan kalimatnya, suara Sasha, sahabatnya sejak kecil, memotong dari seberang telepon dengan cepat dan panik. “Hah? Bandara? Astaga, Adhira, kenapa kau tidak bilang dari jauh-jauh hari? Aku sedang sangat sibuk sekarang, jadi tidak bisa menjemputmu.” Adhira menyandarkan punggungnya pada sandaran jok taksi, membalas dengan nada tetap tenang. “Aku sudah di taksi, mungkin kita bisa bertemu nanti malam?” Meski suaranya terdengar santai, ada sedikit perasaan jengkel yang mengganjal di dadanya. Adhira ingat betul telah mengabari Sasha tiga hari sebelum keberangkatannya hari ini. Kepulangannya ke kota kelahiran ini terjadi setelah ia menuntaskan masa internship-nya di Ibu Kota. Sebagai pemegang beasiswa, ia diwajibkan bertugas di cabang kedua dari RS Medical Buana Group, sebuah rumah sakit swasta tersohor, untuk melanjutkan jenjang residensi. “Malam ini aku juga tidak bisa. Bisakah kau berhenti membuat agenda dadakan seperti ini? Masih ada pesta sampai malam setelah pernikahan Hanum selesai.” Adhira mengerutkan keningnya rapat-rapt saat mendengar nama sepupunya disebut. “Hanum... menikah?” Pertanyaan itu meluncur spontan karena terasa amat janggal. Bagaimana mungkin sepupu yang tinggal satu atap dengannya sejak kecil menikah tanpa memberi kabar apa pun? Suara berdecak kesal dari Sasha terdengar dari seberang sambungan. “Ck... Ayolah, Adhira. Bukankah ini alasan utamamu mendadak pulang ke kota ini?” Adhira menaikan sebelah alisnya. “Apa? Untuk apa? Aku bahkan—” “Aku sarankan kau tidak membuat keributan di sana, Adhira,” potong Sasha mendadak. Kening Adhira kian terlipat dalam. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan sarkasme terukir di bibirnya. “Keributan? Sasha, aku kembali murni bukan untuk—” “Siapa yang tidak tahu soal hubunganmu dan pria itu?” sela Sasha kembali. “Aku mengerti perasaan tidak terimamu. Tapi, mari lupakan apa yang sudah berlalu. Kau tidak bisa terus-menerus mengganggu kehidupan Saga. Dia sekarang sudah sah menjadi suami sepupumu.” Adhira memijat pelipisnya perlahan. Ia tertegun. Dunia ini sedang gila atau bagaimana? Kenapa semua orang mendadak berasumsi konyol? Jemari tangannya mencengkeram ponsel sedikit lebih erat, berusaha meredam rasa gusar yang perlahan merayap. “Baiklah, jadi kau tidak bisa menjemputku karena harus menghadiri pernikahan Hanum? Tidak masalah, mungkin—” “Kau menyalahkanku sekarang?” potong Sasha, suaranya meninggi. “Ini pernikahan saudarimu. Meskipun aku sahabatmu, menghadiri undangan acara jelas jauh lebih penting. Kau tidak sedang iri dengan kebahagiaan mereka, kan?” Adhira tidak bisa menahannya lagi. Kali ini ia memotong pembicaraan, meski tetap berusaha mengontrol intonasi suaranya agar terdengar datar. “Tidak, Sha. Baiklah, hati-hati di jalan. Mungkin kita bisa bertemu di lain waktu, berkabar saja.” TUTT... TUTT... Adhira mematikan sambungan telepon secara sepihak, lalu menghembuskan napas panjang. Alasan utamanya meminta bantuan Sasha murni karena nomor telepon paman dan sepupunya mendadak tidak bisa dihubungi sejak satu minggu belakangan. Dan kini, ia justru mendengar kabar bahwa sepupu dan mantan tunangannya telah melangsungkan pernikahan? "Konyol. Siapa yang peduli soal itu?" Gumam Adhira lelah karena perjalanan jauh. Hubungannya dengan Saga sudah resmi kandas sejak ia masih menjalani masa koas, sudah cukup lama berlalu. Dirinya tidak cukup gila untuk mengacau di pernikahan orang lain. Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di depan sebuah gerbang besi familiar. Adhira turun dari mobil, mengambil koper dari bagasi, lalu berdiri membisu menatap peninggalan orang tuanya. Eh...? Batinnya heran, melihat tata letak halaman depan rumahnya yang berubah. "Mungkin paman?" Gumamnya. Paman Jack adalah adik angkat mendiang ayahnya. Sejak kedua orang tua Adhira meninggal akibat kecelakaan mobil tunggal, Paman Jack bersama Hanum mendiami rumah ini dengan dalih merawat Adhira. Bahkan saat Adhira menjalani koas dan internship di luar kota, mereka yang mengurus hunian ini. Jadi, wajar jika ada beberapa perubahan tatanan. Namun, ketika Adhira menancapkan kunci ke dalam lubang pintu utama, matanya membelalak. Kuncinya tidak bisa berputar sama sekali. Kunci rumah ini telah diganti. "Kenapa tidak bisa?" Ujarnya bingung, lalu menghela napas pelan. Mungkin sang paman yang mengubahnya? Karena dia sudah cukup lama tidak pulang. Adhira menggigit bibirnya sejenak, berpikir. Dia tidak punya tempat lain untuk singgah hari ini, bagaimanapun caranya dia harus masuk jika ingin beristirahat. “Oh… benar!” Serunya tertahan, mengingat pintu belakang yang terhubung langsung dengan dapur rumahnya. Tempatnya menyelinap masuk dan keluar diam-diam saat kecil. Segera, Adhira menarik kembali kopernya menuju halaman belakang. Bibirnya tersenyum lega saat mendapati pintu kayu di area dapur rupanya tidak terkunci. Adhira menggeser daun pintu pelan, lalu melangkahkan kakinya masuk. Namun, baru melangkah masuk, keheranan Adhira kembali muncul saat matanya menyapu pandangan ke sekeliling. Interior rumahnya kini tampak jauh lebih rapi, minimalis, dan didominasi warna putih bersih. Padahal, Paman Jack dan Hanum sangat gemar memajang berbagai ornamen serta hiasan mencolok. Adhira bergegas merogoh ponselnya, mengetikkan pesan untuk Paman Jack. [Paman, apakah ada renovasi besar-besaran di rumah? Mengapa kunciku tidak berfungsi dan beberapa barang peninggalan Ibu menghilang? Tolong balas jika Paman sudah tidak sibuk.] Mengabaikan rasa janggal di dadanya, Adhira mengayunkan langkah menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya di lantai dua. Ia memutar gagang pintu kamar dan melangkah masuk. SREP! Belum sempat Adhira menyalakan sakelar lampu, sebuah bayangan tegap menerjang dari sudut gelap. Tubuh Adhira tersentak saat seseorang mengunci pergerakannya, mendekap dada dan lengannya secara ketat dari arah belakang. “Siapa kau?” Sebuah suara berat nan dingin menggema tepat di dekat telinganya. “Berani sekali menyelinap masuk ke rumahku sembarangan.” Mendengar rumah miliknya diklaim secara sepihak, rasa terkejut Adhira seketika berganti menjadi amarah. Dengan mata berkilat tajam, ia memutarkan kepalanya sedikit. “Hah? Rumahmu? Ini rumahku!” BUGH! Adhira menyikut perut pria asing itu dengan sikunya secara keras. Cengkeraman pria itu melemah seketika, memberi Adhira celah untuk melompat mundur beberapa langkah demi membuat jarak aman. Namun, akibat gerakan yang terlalu mendadak dan lantai porselen yang licin, kaki Adhira hilang keseimbangan. Tubuhnya limbung ke belakang. Dalam kepanikan, tangan Adhira bergerak acak, secara refleks mencari pegangan di udara. Jemarinya mencengkeram erat helai kain terdekat yang bisa digapai. SRAK! Adhira terjatuh terlentang ke lantai, namun matanya membelalak lebar dalam keterkejutan. Kain melayang yang ditariknya secara tidak sengaja adalah selembar handuk putih, satu-satunya penutup tubuh yang dikenakan oleh pria asing tegap di hadapannya yang baru saja selesai mandi! "IBUU!!" Teriak Adhira sambil membatu di posisinya.“Mama...?”Cicit bocah itu pelan, sepasang mata bulatnya yang basah menatap Adhira lurus.Adhira seketika tersentak dari keterpakuannya. Ia berdeham cepat, lalu spontan menganggukkan kepalanya dengan raut serba salah. “Y—ya, benar. Mama di sini.”Ah, masa bodohlah! batin Adhira menjerit pasrah. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya agar isakan bocah mungil ini bisa berhenti total dan tidak makin histeris.Adhira merendahkan tubuhnya, mengelus lembut pipi chubby Farah yang hangat. “Sekarang sudah makin malam, Sayang. Saatnya kita bobo. Farah mau bobo dengan... dengan Papa atau Mama?”Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat bagian belakang telinga Adhira seketika memerah. Ia tidak terbiasa melontarkan panggilan semacam itu! Betapa memalukannya situasi ini! jerit Adhira histeris di dalam benaknya.Farah tampak memiringkan kepala mungilnya, berpikir sejenak. Melihat jeda itu, Adhira bergegas merapikan susu
“Permisi! Apakah ada orang di rumah ini?!”Suara lantang seorang wanita asing yang menggema dari lantai bawah seketika memecahkan keheningan rumah.Suara itu pula yang menyentak kesadaran Adhira, memutus secara paksa ketegangan magis yang baru saja melingkupi mereka. Adhira bergegas menarik tubuhnya mundur dari dekapan Marsena, merapikan bajunya dengan pergerakan serba salah.“Ma—makasih ya...” cicit Adhira gugup.Astaga, apa yang baru saja ia pikirkan?! Kenapa ia sampai hampir hanyut begitu?! jerit Adhira histeris di dalam benaknya.Belum sempat jantungnya berdegup normal, suara nyaring wanita asing dari arah ruang tengah kembali meluncur. “Kak Marsena! Halo! Apakah ada orang di dalam rumah ini?!”Adhira memalingkan wajahnya ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka, keningnya terlipat. Siapa sebenarnya wanita itu? batinnya bertanya-tanya. Suara itu meluncur sangat santai dan berani menyebut nama depan Marsena tanpa embel-embel f
Setibanya di rumah seusai menuntaskan jam dinas di rumah sakit, Adhira bergegas membersihkan diri seperti biasa. Malam ini, mengingat kondisi pergelangan kakinya sudah sanggup berjalan normal, Adhira memutuskan untuk memindahkan kembali barang-barang pribadinya dari kamar utama setelah menyantap makan malam.“Apakah... kau punya waktu untuk membantuku memindahkan barang setelah makan nanti?” tanya Adhira di sela-sela denting sendok di meja makan.Marsena yang tengah menyantap hidangannya mendongak sedikit, melayangkan pandangan mata singkat seraya melontarkan pertanyaan balik, “Pindah kamar?”Ada intonasi nada bingung yang samar di dalam nada suaranya, membuat Adhira ikut menatapnya heran. “Tentu saja. Kenapa tidak?”Sepasang mata mereka bertabrakan dalam keheningan sejenak. Namun detik berikutnya, Marsena menarik kembali pandangan matanya secara acuh, menolak memberikan balasan lisan lebih lanjut.Adhira murni mengerutkan keningnya samar. Sikap Marsena terasa ganjil dan sulit ditebak
Adhira berjalan berdampingan dengan Marsena menyusuri koridor rumah sakit, mengantar Rara menuju ke ruang rawat inap ibunya. Bocah kecil itu masih tertidur pulas di dalam pelukan Marsena, menyandarkan kepalanya yang mungil di atas dada tegap pria itu.Adhira menyunggingkan senyuman tulus, menatap pemandangan di sebelahnya dengan rasa tak percaya.“Siapa yang tahu kalau kau ternyata sangat pandai menjaga anak kecil?” bisik Adhira pelan.Ia benar-benar heran. Padahal beberapa jam lalu, Rara tampak amat ketakutan saat pertama kali ditinggal sendirian bersama Marsena. Bagaimana bisa bocah itu kini justru tertidur lelap tanpa beban?Marsena menolak memberikan jawaban. Pria tegap itu memilih bungkam, tetap fokus menggendong Rara hingga langkah kaki mereka membawa keduanya masuk ke dalam kabin lift yang sepi.TING.Pintu lift tertutup rapat.Di dalam ruang sempit yang berdinding cermin itu, Adhira mendadak merogoh saku jas medisnya. Ia mengeluarkan ponsel, mengarahkan lensa kamera lurus ke a












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews