LOGINSetelah diberikan tiket liburan palsu oleh pamannya, saat kembali Adhira juga mendapati bahwa rumahnya dijual demi biaya pernikahan sang sepupu dan tunangan miliknya. Tak cukup dengan pengkhianatan keluarga dan cinta, fakta yang lebih mengejutkan terjadi. Rumah miliknya kini jatuh ke tangan pria angkuh yang sangat Adhira benci sejak kecil, Marsena Buana! "Kalau kau begitu terobsesi ingin tinggal di sini, maka menikah saja dengan pemiliknya."
View More“Nona, mohon maaf. Kode tiket konser Anda tidak ditemukan di sistem.”
Adhira mengerutkan keningnya tidak percaya mendengar ucapan petugas itu. Mana mungkin?
Setelah kabar bahwa pertunangannya dibatalkan sepihak oleh sang pacar, pamannya menghiburnya dengan membelikan tiket liburan ke luar negeri, beserta tiket konser impian Adhira. Bahkan jika ia harus membelinya dengan menggunakan jasa.
Sudah seperti itu, tidak mungkin paman kandungnya berbohong, bukan?
“Selanjutnya!”
“T-tunggu dulu–” Sebelum Adhira sempat memprotes lebih jauh, tubuhnya terdorong ke samping oleh orang yang mengantre di belakangnya.
“Kalau tidak mampu, ya sudah. Jangan sampai menipu.”
Wajah Adhira memerah. Ia mengecek sekali lagi barcode tiket, berikut tanggal, hari, dan lokasi konser.
Tidak ada yang salah kok. Tapi kenapa bisa–
Dengan cepat, Adhira merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan ponsel. Ia mencari kontak pamannya dan segera melakukan panggilan.
Nada sambung terdengar, tetapi hingga dering terakhir habis, tidak ada jawaban. Adhira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia menekan tombol panggil untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Hasilnya tetap sama, nihil.
Adhira menghela napas gusar, ia berusaha berpikir positif. Ini pasti hanya kesalahan sistem di loket konser.
Tidak apa-apa batal menonton konser, batin Adhira menghibur diri. Setidaknya pamannya sudah membiayai tiket pesawat dan memesankan hotel untuknya. Ia masih bisa menikmati liburan di Seoul untuk menenangkan pikiran dari masalah Saga.
Adhira segera memesan taksi daring melalui aplikasinya. Begitu mobil pesanannya tiba, ia bergegas memasukkan koper ke bagasi dan meminta sopir menuju hotel yang tertera di lembar voucher.
Namun, kenyataan pahit kembali menghantamnya tanpa ampun.
“Mohon maaf, Nona. Kamar atas nama Adhira Kusuma yang sebelumnya Anda sebutkan tidak pernah masuk ke dalam database pemesanan kamar kami,” ucap resepsionis wanita dengan senyum formal yang kentara dipaksakan. “Mungkin Anda perlu melakukan konfirmasi kembali kepada pihak agensi atau orang yang memesankan kamar ini?”
Adhira membatu di tempatnya berdiri. Keningnya berkerut dalam.
“Anda yakin? Tetapi status di aplikasi ini sudah tertulis jelas bahwa pemesanan berhasil, bukan?” Adhira menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan bukti pemesanan yang sebelumnya dikirimkan oleh sang paman melalui pesan singkat.
Di balik ketenangannya, rasa percaya diri Adhira mulai goyah. Sudut hatinya mulai menaruh curiga pada gelagat pamannya sebelum ia berangkat.
Resepsionis itu mengambil ponsel Adhira, mengamati gambar layar tersebut selama beberapa detik. Detik berikutnya, wajah ramah sang resepsionis seketika berubah penuh keengganan. Ia mengembalikan ponsel tersebut dengan gerakan kaku.
“Mohon maaf sekali, Nona. Tetapi... bukti pemesanan ini palsu,” ujar wanita itu. Ia kemudian membalikkan layar monitor kecil di meja konter dan menunjukkan selembar contoh bukti pemesanan kamar via daring yang asli kepada Adhira. “Anda bisa membandingkannya dengan yang ini.”
Matanya bergerak cepat, membandingkan lembar contoh di layar monitor dengan gambar di ponselnya. Saat mendapati bukti pemesanan miliknya tidak memiliki barcode resmi dengan logo hotel, sorot mata Adhira berubah dingin.
Sial, dirinya ditipu sungguhan?
Adhira mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya membelalak lebar dan wajahnya yang semula segar kini mulai memucat.
Ia terpaku pada satu kesimpulan yang paling tidak masuk akal, namun paling nyata saat ini. Pria paruh baya yang merupakan pamannya sendiri, bagian dari keluarganya, telah menipunya mentah-mentah!
“Nona, ada yang bisa saya bantu lagi?” Suara resepsionis menyadarkan Adhira dari lamunannya.
Adhira memaksakan sebuah senyuman kecut. Ia menggeleng pelan. “Ah... tidak. Terima kasih banyak, maaf telah merepotkanmu.”
Adhira berbalik, meraih pegangan kopernya, dan melangkah keluar dari gedung hotel dengan wajah suram.
Langkahnya terasa berat di atas trotoar jalanan Seoul yang dingin. Tangan kanannya sibuk menekan layar ponsel, melakukan panggilan berkali-kali ke nomor paman dan sepupunya secara bergantian.
Namun, tidak ada satu pun dari panggilan itu yang diangkat. Panggilan Adhira dialihkan ke kotak suara.
“Berengsek,” gumam Adhira pelan dengan gelisah. Tangan kirinya mengepal di dalam saku mantel.
Pikiran Adhira berputar liar. Mereka tidak mungkin benar-benar menipunya, bukan? Untuk apa mereka melakukan ini semua?
Selama ini, setelah orang tuanya meninggal, ia diasuh dan tinggal bersama paman serta sepupunya di rumah peninggalan mendiang ayah dan ibunya.
Mereka adalah keluarga Adhira yang tersisa.
Setelah satu jam luntang-lantung di sekitar kawasan hotel dan merasa cukup putus asa, Adhira mengambil keputusan bulat. Ia harus kembali ke negaranya hari ini juga.
Tidak mungkin dia bertahan di sana. Adhira memeriksa saldo rekeningnya, dan angka yang tertera membuat jantungnya mencelos.
Tabungannya hanya tersisa lima juta rupiah, jika ia nekat memesan kamar hotel baru di kota ini, uangnya akan habis dan ia tidak akan bisa membeli tiket pesawat untuk pulang.
Dengan perasaan campur aduk antara amarah, kecewa, dan lelah, Adhira memesan tiket penerbangan darurat paling murah menuju Jakarta. Meskipun memang ia harus menginap di bandara selama semalam.
Begitu pesawat mendarat di Bandara negaranya, Adhira langsung menaiki taksi menuju rumahnya. Ketika taksi itu berhenti di depan pagar besi tinggi, Adhira segera turun dan menurunkan kopernya.
Namun, baru dua langkah ia berjalan mendekati gerbang, seorang pria berseragam satpam yang sama sekali tidak dikenalnya menghadang langkah Adhira dengan tatapan penuh selidik. Pria itu merentangkan tangannya, menghalangi jalan masuk.
“Orang asing dilarang masuk ke rumah ini, Nona!”
Adhira terkejut, dia tidak percaya! Marsena pasti hanya ingin meledeknya seperti biasa!Segera wanita itu merebut kembali sendoknya dari tangan Marsena, lalu berlari cepat ke arah dapur dan mencicipi kuah masakannya lagi. Setelah meniupinya perlahan, Adhira mulai mengecap rasa kuah yang bersarang di lidahnya.Seketika, kedua matanya membulat sempurna. Mengapa rasa kuah ini bisa berubah jadi seasin ini?!Adhira menghela napas frustrasi, bahunya meluruh lemas. Dia sudah berkutat dan bersusah payah di dapur ini selama dua jam penuh hanya demi seonggok ayam, dan ini hasil akhirnya? Adhira berbalik menuju dapur, matanya menatap suram ke arah panci sup ayam jahe yang masih berasap di atas kompor.Tak lama kemudian, suara berat yang sangat familier terdengar tepat di belakangnya. “Ke mana kepercayaan dirimu yang meluap-luap sebelumnya?”Adhira menoleh cepat, merasa terpojok. Wanita itu segera menatap panci sup ayam jahenya la
“Kakimu tertancap di situ?”Suara dingin Marsena membuyarkan lamunan penuh kejutan Adhira secara mendadak. Adhira dengan cepat menarik napas, melangkah kembali menuju meja sofa, lalu menunjuk data profil milik Hanum di atas tumpukan berkas tersebut.“Data ini... apakah termasuk data para calon dokter pemagang baru di rumah sakit kita?” tanya Adhira.Marsena meletakkan sendok makannya yang belum usai. Pria itu menatap lembaran kertas yang ditunjuk Adhira, lalu membalas datar, “Jika kau menemukannya di tumpukan yang sama, maka jawabannya iya.”Adhira mengerutkan keningnya dalam-dalam. Rasanya... haruskah ia mengibarkan bendera putih atas alur hidupnya sekarang? Menghadapi konfrontasi dengan Saga saja sudah cukup membuat dadanya sesak, bagaimana bisa kini Hanum juga muncul di tempat yang sama? Mengapa keduanya harus hadir bersamaan di depan matanya?“Ada apa?” tanya Marsena, menyadari perubahan drastis pada raut waja
Adhira melotot lebar mendengarnya, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Bukankah mereka sudah sepakat di awal bahwa mereka tidak akan pernah membocorkan status pernikahan ini kepada siapa pun di rumah sakit?!Namun, belum sempat Adhira memprotes ucapan provokatif tersebut, Marsena sudah kembali mengalihkan pandangan dinginnya ke arah Saga.“Semua orang yang bekerja dan mengabdi di RS Medical Buana ini adalah orang-orangku,” lanjut Marsena dengan nada suara yang begitu tenang namun sarat akan penekanan yang tak terbantahkan. “Jadi, setiap gerak-gerik dan tindakan kalian di dalam lingkungan rumah sakit ini adalah urusanku. Sekarang kau bisa memilih, Dokter Saga. Lanjutkan pekerjaanmu kembali atau silakan urus urusan internal kalian, namun lupakan gelar spesialismu di instansi ini.”Saga mengepalkan kedua tangannya jauh lebih erat di sisi tubuh. Meskipun pria itu berusaha keras untuk tidak menunjukkan kekesalannya secara terang-teran
“Kalian sudah tidak membutuhkan gelar spesialis lagi di rumah sakit ini?”Suara berat Marsena terdengar memotong ketegangan di udara. Langkah kakinya yang mantap mengikis jarak di koridor, hingga kini Adhira berdiri tepat di tengah-tengah antara dua pria berpostur tegap tersebut. Suasana di sekitar pintu ruang ICU mendadak terasa mencekam.Saga mengerutkan keningnya penuh kebingungan. Ia meneliti penampilan Marsena yang tampak asing, berpakaian sangat rapi tanpa adanya tanda pengenal spesifik di jas putihnya. Saga melayangkan tatapan tajam dan meremehkan.“Siapa kau? Dokter umum baru di departemen ini?” tanya Saga dengan nada mencemooh.Adhira ingin berteriak rasanya, menyerah pada kepalanya yang semakin berdenyut nyeri. Namun, wanita itu memaksakan diri untuk tetap tenang. Ia melangkah sedikit mundur dan hendak membungkukkan tubuhnya secara formal ke arah Marsena.“Saya mengaku salah, Tuan Mu—”“Dok












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews