Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!

Pernikahan Kontrak Dokter Arogan: Musuhku, Suamiku!

last updateLast Updated : 2026-07-26
By:  nanadvelynsUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
12Chapters
147views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah diberikan tiket liburan palsu oleh pamannya, saat kembali Adhira juga mendapati bahwa rumahnya dijual demi biaya pernikahan sang sepupu dan tunangan miliknya. Tak cukup dengan pengkhianatan keluarga dan cinta, fakta yang lebih mengejutkan terjadi. Rumah miliknya kini jatuh ke tangan pria angkuh yang sangat Adhira benci sejak kecil, Marsena Buana! "Kalau kau begitu terobsesi ingin tinggal di sini, maka menikah saja dengan pemiliknya."

View More

Chapter 1

Bab 1. Luntang-Lantung

“Nona, mohon maaf. Kode tiket konser Anda tidak ditemukan di sistem.”

Adhira mengerutkan keningnya tidak percaya mendengar ucapan petugas itu. Mana mungkin? 

Setelah kabar bahwa pertunangannya dibatalkan sepihak oleh sang pacar, pamannya menghiburnya dengan membelikan tiket liburan ke luar negeri, beserta tiket konser impian Adhira. Bahkan jika ia harus membelinya dengan menggunakan jasa.

Sudah seperti itu, tidak mungkin paman kandungnya berbohong, bukan?

“Selanjutnya!”

“T-tunggu dulu–” Sebelum Adhira sempat memprotes lebih jauh, tubuhnya terdorong ke samping oleh orang yang mengantre di belakangnya.

“Kalau tidak mampu, ya sudah. Jangan sampai menipu.” 

Wajah Adhira memerah. Ia mengecek sekali lagi barcode tiket, berikut tanggal, hari, dan lokasi konser.

Tidak ada yang salah kok. Tapi kenapa bisa–

Dengan cepat, Adhira merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan ponsel. Ia mencari kontak pamannya dan segera melakukan panggilan. 

Nada sambung terdengar, tetapi hingga dering terakhir habis, tidak ada jawaban. Adhira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia menekan tombol panggil untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Hasilnya tetap sama, nihil.

Adhira menghela napas gusar, ia berusaha berpikir positif. Ini pasti hanya kesalahan sistem di loket konser.

Tidak apa-apa batal menonton konser, batin Adhira menghibur diri. Setidaknya pamannya sudah membiayai tiket pesawat dan memesankan hotel untuknya. Ia masih bisa menikmati liburan di Seoul untuk menenangkan pikiran dari masalah Saga.

Adhira segera memesan taksi daring melalui aplikasinya. Begitu mobil pesanannya tiba, ia bergegas memasukkan koper ke bagasi dan meminta sopir menuju hotel yang tertera di lembar voucher.

Namun, kenyataan pahit kembali menghantamnya tanpa ampun.

“Mohon maaf, Nona. Kamar atas nama Adhira Kusuma yang sebelumnya Anda sebutkan tidak pernah masuk ke dalam database pemesanan kamar kami,” ucap resepsionis wanita dengan senyum formal yang kentara dipaksakan. “Mungkin Anda perlu melakukan konfirmasi kembali kepada pihak agensi atau orang yang memesankan kamar ini?”

Adhira membatu di tempatnya berdiri. Keningnya berkerut dalam. 

“Anda yakin? Tetapi status di aplikasi ini sudah tertulis jelas bahwa pemesanan berhasil, bukan?” Adhira menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan bukti pemesanan yang sebelumnya dikirimkan oleh sang paman melalui pesan singkat.

Di balik ketenangannya, rasa percaya diri Adhira mulai goyah. Sudut hatinya mulai menaruh curiga pada gelagat pamannya sebelum ia berangkat.

Resepsionis itu mengambil ponsel Adhira, mengamati gambar layar tersebut selama beberapa detik. Detik berikutnya, wajah ramah sang resepsionis seketika berubah penuh keengganan. Ia mengembalikan ponsel tersebut dengan gerakan kaku.

“Mohon maaf sekali, Nona. Tetapi... bukti pemesanan ini palsu,” ujar wanita itu. Ia kemudian membalikkan layar monitor kecil di meja konter dan menunjukkan selembar contoh bukti pemesanan kamar via daring yang asli kepada Adhira. “Anda bisa membandingkannya dengan yang ini.”

Matanya bergerak cepat, membandingkan lembar contoh di layar monitor dengan gambar di ponselnya. Saat mendapati bukti pemesanan miliknya tidak memiliki  barcode resmi dengan logo hotel, sorot mata Adhira berubah dingin.

Sial, dirinya ditipu sungguhan?

Adhira mencengkeram ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, matanya membelalak lebar dan wajahnya yang semula segar kini mulai memucat. 

Ia terpaku pada satu kesimpulan yang paling tidak masuk akal, namun paling nyata saat ini. Pria paruh baya yang merupakan pamannya sendiri, bagian dari keluarganya, telah menipunya mentah-mentah!

“Nona, ada yang bisa saya bantu lagi?” Suara resepsionis menyadarkan Adhira dari lamunannya.

Adhira memaksakan sebuah senyuman kecut. Ia menggeleng pelan. “Ah... tidak. Terima kasih banyak, maaf telah merepotkanmu.”

Adhira berbalik, meraih pegangan kopernya, dan melangkah keluar dari gedung hotel dengan wajah suram. 

Langkahnya terasa berat di atas trotoar jalanan Seoul yang dingin. Tangan kanannya sibuk menekan layar ponsel, melakukan panggilan berkali-kali ke nomor paman dan sepupunya secara bergantian. 

Namun, tidak ada satu pun dari panggilan itu yang diangkat. Panggilan Adhira dialihkan ke kotak suara.

“Berengsek,” gumam Adhira pelan dengan gelisah. Tangan kirinya mengepal di dalam saku mantel.

Pikiran Adhira berputar liar. Mereka tidak mungkin benar-benar menipunya, bukan? Untuk apa mereka melakukan ini semua? 

Selama ini, setelah orang tuanya meninggal, ia diasuh dan tinggal bersama paman serta sepupunya di rumah peninggalan mendiang ayah dan ibunya. 

Mereka adalah keluarga Adhira yang tersisa. 

Setelah satu jam luntang-lantung di sekitar kawasan hotel dan merasa cukup putus asa, Adhira mengambil keputusan bulat. Ia harus kembali ke negaranya hari ini juga.

Tidak mungkin dia bertahan di sana. Adhira memeriksa saldo rekeningnya, dan angka yang tertera membuat jantungnya mencelos. 

Tabungannya hanya tersisa lima juta rupiah, jika ia nekat memesan kamar hotel baru di kota ini, uangnya akan habis dan ia tidak akan bisa membeli tiket pesawat untuk pulang.

Dengan perasaan campur aduk antara amarah, kecewa, dan lelah, Adhira memesan tiket penerbangan darurat paling murah menuju Jakarta. Meskipun memang ia harus menginap di bandara selama semalam.

Begitu pesawat mendarat di Bandara negaranya, Adhira langsung menaiki taksi menuju rumahnya. Ketika taksi itu berhenti di depan pagar besi tinggi, Adhira segera turun dan menurunkan kopernya.

Namun, baru dua langkah ia berjalan mendekati gerbang, seorang pria berseragam satpam yang sama sekali tidak dikenalnya menghadang langkah Adhira dengan tatapan penuh selidik. Pria itu merentangkan tangannya, menghalangi jalan masuk.

“Orang asing dilarang masuk ke rumah ini, Nona!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

nanadvelyns
nanadvelyns
Halo, para pembaca terkasih>•<. Selamat datang di karya baru Nanad Velyns! Mohon dukungan berupa ulasan positif atau gift untuk Adhira dan Marsena, yaa. Happy reading!(⁠人⁠⁠•͈⁠ᴗ⁠•͈⁠)
2026-07-26 09:03:58
0
0
12 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status