Share

68. Rencana Menghilang

Author: W.M.G
last update publish date: 2025-12-23 21:10:41

Ruang tamu yang pintunya dibiarkan terbuka itu terasa sangat dingin, meski matahari pagi mulai merangkak naik. Prabu Sagara masih terdiam, menyandarkan punggungnya pada sofa sambil memijat pelipisnya. Informasi yang baru saja ia dengar bukan sekadar kejutan, itu adalah sebuah hantaman kenyataan yang meruntuhkan logikanya sebagai seorang pebisnis yang terbiasa berpikir taktis.

"Jadi..." Prabu akhirnya bersuara, nadanya rendah dan berat. "Kamu adalah istri pertama Gavin, sementara Raina adalah is
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    157. Di Ujung Kegelapan

    Dinding-dinding kayu kontrakan yang sempit itu seolah merapat, menghimpit napas Sira yang kian tersengal. Di dalam kamar yang pengap oleh bau obat-obatan dan kecemasan, suasana berubah menjadi neraka yang nyata. Matahari pagi yang seharusnya membawa harapan, justru menjadi saksi bisu atas horor yang sedang berlangsung di balik pintu terkunci.Andre tidak lagi tersenyum lembut. Topeng orang baik yang ia kenakan sejak kemarin telah retak, menampakkan monster obsesif yang selama ini bersembunyi di balik kacamata dan sikap sopannya. Di tangannya, semangkuk bubur itu bukan lagi simbol perhatian, melainkan alat penyiksaan."Makan, Sira! Aku bilang makan!" geram Andre. Suaranya bukan lagi bisikan, melainkan perintah rendah yang sarat akan ancaman.Sira menggeleng kuat, air matanya membasahi pipi yang kini dihiasi noda lipstik merah yang mulai berantakan akibat gesekan. "Lepaskan aku, Mas Andre... Tolong, jangan begini..."Kemarahan Andre meledak. Ia meletakkan mangkuk itu dengan kasar di ata

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    156. Titik Terang

    Sinar matahari pagi yang mulai terik terasa membakar kulit, namun tak sedahsyat api kegelisahan yang melalap dada Gavin dan Prabu. Keduanya masih tertahan di dalam mobil yang terparkir di depan bistro, dengan mata yang merah akibat tidak tidur semalaman. Prabu sudah mengerahkan seluruh orang kepercayaannya, menghubungi kenalan di kepolisian hingga melacak jaringan komunikasi, namun Andre Wijaya seolah lenyap ditelan bumi bersama Sira."Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sira karena kita terlambat... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," desis Gavin. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga gemetar.Prabu yang biasanya tenang kini hanya bisa bersandar pada kursi dengan napas berat. "Kita sudah melakukan segalanya. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu satu celah kecil."Tepat pukul delapan tiga puluh pagi, sebuah motor berhenti di depan bistro. Seorang perempuan turun, membuka helm, dan dengan wajah mengantuk mulai merogoh kunci untuk membuka pintu geser resto

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    155. Sang Penyelamat atau Sang Penculik?

    Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis, jatuh tepat di atas kelopak mata Sira yang masih terasa berat. Ia mengerang pelan, merasakan denyut nyeri yang konstan di pelipisnya. Saat ia mencoba menggerakkan tubuh, rasa lemas yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke tulang belakang, seolah-olah seluruh tenaganya telah dikuras habis.Sira perlahan membuka mata. Langit-langit kamar yang ia tatap terasa familiar. Cat putih yang sedikit mengelupas di sudut ruangan, aroma kayu tua yang khas, dan suara kicauan burung dari pohon mangga di luar jendela."Ini... kontrakan?" bisiknya parau.Pikirannya yang masih berkabut mencoba memutar kembali kaset memori yang berantakan. Ingatan terakhirnya adalah bau disinfektan rumah sakit yang tajam, lampu neon yang dingin, dan kehadiran Gavin. Ia ingat tangan Gavin yang membelai kepalanya, ia ingat kecupan di pipinya, dan ia ingat rasa hangat yang sempat singgah di hatinya. Tapi, kenapa sekarang ia ada di sini? Di rumah kontrakan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    154. Sebuah Obsesi

    Malam semakin larut, di sebuah kamar yang tersembunyi jauh dari kebisingan kota, keheningan terasa begitu pekat hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman jantung yang gelisah. Sira terbaring lemah di atas ranjang berukuran kecil. Wajahnya yang biasanya berseri kini tampak pucat. Ia tidak benar-benar tidur, kondisinya lebih mirip dengan seseorang yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan luar biasa dan trauma fisik yang baru saja dialaminya. Daster pendek berwarna kuning dengan lengan sejari membalut tubuh ringkihnya, menggantikan pakaian rumah sakit yang kaku dan berbau disinfektan. Rambut hitamnya yang panjang tergerai indah di atas bantal putih. Di tepi ranjang, Andre duduk membeku. Matanya tidak lepas dari wajah Sira, seolah-olah ia sedang menjaga harta karun yang paling berharga sekaligus rapuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah lipstik berwarna merah darah. Dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati, seolah sedang melukis di atas kanvas yang bisa

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    153. Penculikan

    Jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam, namun aspal jalanan seolah tidak pernah tidur. Gemuruh mesin mobil dan sorot lampu motor yang hilir mudik menciptakan simfoni bising yang memperparah denyut nadi di pelipis Gavin. Kepalanya terasa pening, seolah dihantam godam berkali-kali. Pikirannya belum sempat beristirahat dari sisa-sisa badai konfrontasi tragis dengan Raina di rumah tadi namun kini, sebuah horor baru menyambutnya melalui layar ponsel yang berkedip-kedip di atas dasbor yang ia tinggalkan di dalam mobil sejak tadi.17 panggilan tak terjawab.Semua dari Tante Rita.Jantung Gavin seolah ditarik paksa dari rongganya, menyisakan kekosongan yang dingin di dadanya. Perasaan tidak enak merambat cepat dari ujung kaki hingga ke tulang belakang. Ia segera membanting setir, menepikan mobilnya ke bahu jalan dengan kasar hingga debu jalanan beterbangan. Tangan kirinya gemetar hebat, jari-jarinya kaku saat berusaha menekan tombol panggil balik. Panggilan itu langsung tersambung pad

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya     152. Malam Perpisahan

    Malam semakin larut, namun udara di dalam kediaman Gavin terasa jauh lebih mencekam daripada kegelapan di luar sana. Gavin melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu yang merosot. Pikirannya masih tertinggal di kamar rumah sakit, pada wajah pucat Sira dan pertanyaan besar tentang janin berusia empat bulan yang ada di dalam perut istri pertamanya itu.Ia sudah meminta Tante Rita untuk menjaga Sira, memastikan istrinya itu tidak sendirian. Gavin butuh pulang. Bukan untuk istirahat, melainkan untuk menyelesaikan kekacauan yang telah ia biarkan berlarut-larut sebelum ia kembali ke rumah sakit.Saat Gavin membuka pintu kamarnya, ia menemukan lampu nakas menyala temaram. Di sana, di sudut tempat tidur, Raina sedang berdiri memunggungi pintu. Tangannya tampak memegang sesuatu dengan erat, tubuhnya sedikit gemetar.Gavin berdiri mematung di ambang pintu, menatap punggung wanita yang selama ini ia anggap sebagai pelindung ingatannya. "Sudah puas kamu mengarang cerita untukku, Raina?"Suara Gav

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    28. Pelukan

    Sudah kesekian kalinya Sira menghela nafas dengan keras pagi ini. Sira pikir ia sudah benar-benar kehilangan rasa dengan Gavin. Tapinya nyatanya ciuman sesaatnya tadi malam tetap meninggalkan kesan tak terlupakan untuknya. Dan Sira benar-benar benci fakta itu.Dengan malas Sira melangkahkan kaki me

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    27. Hak dan Kewajiban

    Lagi, suara dering handphone itu masih belum lelah berbunyi. Ini sudah yang ke tiga limanya dering itu terdengar sejak Sira masih di angkutan kota tadi. Sira tahu itu panggilan dari Gavin, tapi ia sama sekali masih tidak berniat untuk menjawabnya, meski dulunya dering itu sering ia tunggu-tunggu ma

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    26. Pelakor

    Sekolah telah sepi. Satu per satu guru meninggalkan meja kerjanya untuk pulang ke rumah, termasuk Melati yang sudah pamit pulang lebih dulu sejak lima belas menit yang lalu. Kini di ruang guru itu hanya tersisa aku dan Arwan. Aku masih ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai, dan

  • Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya    25. Kisah Cinta Pertama

    Pagi hari menyambut rumah sederhana Sira. Sira terbangun dengan perasaan cemas, langsung teringat Bintang yang menginap di kamar sebelah. Ia bergegas menuju kamar itu, tapi ia mendapati ranjang sudah kosong dan rapi.Jantung Sira sempat mencelos, takut Bintang kembali menghilang. Namun, di atas mej

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status