Share

Aku Madu Kembaranku
Aku Madu Kembaranku
Penulis: Nanitamam

Bab 1. Vonis dokter

Penulis: Nanitamam
last update Tanggal publikasi: 2023-06-20 11:07:54

Di sebuah rumah besar dan megah. Terdengar suara rintihan wanita yang berasal dari salah satu kamar yang berada di sana. Suaranya begitu terasa memilukan seakan dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat.

"Angkat mas," ucapnya penuh harap. Menunggu telponnya tersambung dengan nomer yang sedang di panggilnya.

Lama menunggu yang di teleponnya tak kunjung juga mengangkat telpon. Rania, nama wanita tersebut. Melemparkan ponselnya ke atas kasur kemudian kembali menahan perutnya yang terasa sakit. Ia mencengkram sprei hingga tidak berbentuk lagi untuk menyalurkan rasa sakit yang sedang di alaminya.

"Rania!" panggil seorang wanita paruh baya dari arah dapur. Wajahnya terlihat mengkerut menandakan ia sedang kesal.

"Rania!" panggilnya lagi. Kali ini dengan setengah berteriak.

"Non Rania di kamarnya, Bu," jawab seorang wanita yang memakai seragam pekerja. Ia menarik napas pelan, sebab merasa kasihan pada gadis yang terus di panggil oleh majikannya.

Wanita paruh baya tersebut bernama, Bu Fatma. Nyonya sekaligus mertua Rania. Dia menatap tajam kepada asisten rumah tangganya. Bu Fatma tahu jika semua orang di rumahnya begit menyayangi Rania.

"Sudah jam berapa ini? Dasar menantu pemalas," gerutu Bu Fatma kepada Bi Asih.

"Biar saya saja yang masak. Emang Ibu mau saya masakin apa?" tanya Bi Asih mengajukan diri. Tak ingin suasana rumah yang damai harus di awali dengan omelan majikannya terhadap menantunya.

Rania sering kali mendapat omelan dari ibu mertuanya. Dia selalu di perlakukan seperti pembantu pada umumnya meskipun statusnya seorang menantu di rumah itu. Rania menikah dengan Malik, anak semata wayang Bu Fatma.

Bu Fatma memang tidak menyetujui Malik menikah dengan Rania selain karena Rania hanya gadis biasa. Gadis itu juga bukan tipe menantu ideal bagi Bu Fatma. Oleh sebab itu, Bu Fatma kerap kali memperlakukan Rania dengan buruk.

"Coba panggil Rania, Bi. Saya mau dia yang memasak," titah Bu Fatma kepada Bi Asih.

"Baik, Nyonya." Bi Asih menaruh kembali pisau yang hendak di gunakan untuk memotong sayuran. Perintah Bu Fatma adalah sebuah keharusan yang segera di laksanakan.

Bu Fatma membantingkan bokongnya di kursi makan yang ada di belakangnya. Bibirnya terus cemberut serta deru napas yang turun naik. Dia memaikan jarinya jemarinya di atas meja makan, menahan kesal.

Bi Asih menaiki anak tangga setengah berlari. Dia menarik napas berkali-kali karena usianya sudah tidak semuda dulu. Tulang pinggangnya terasa mau lepas.

Tok! Tok!

"Non Rania, di panggil ibu," ujar Bi Asih sambil terus mengetuk pintu kamar.

Bi Asih menunggu sejenak, berharap yang di panggil segera membuka pintu kamar dan menjawab panggilannya. Akan tetapi, setelah menunggu pintu kamar tetap masih tertutup dan belum ada pergerakan. Bi Asih kembali mengetuk pintu kamar dan memanggil Rania.

Dari dalam kamar, Rania berusaha untuk bangun dan berjalan ke arah pintu. Tangannya terus menahan perutnya yang terasa begitu sakit. Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhnya. Hal itu membuat tubuhnya lemas tak bertenaga.

"Bi Asih!" panggil Rania pelan karena sudah tidak kuat lagi menahan sakit. Pandangannya mulai kabur begitu kakinya menginjak lantai.

Brukk!

Terdengar bunyi sesuatu jatuh dari dalam kamar. Bi Asih terkejut karena suaranya seperti orang terjatuh. Ia kembali mengetuk pintu kamar dan memanggil Rania berkali-kali.

"Non Rania. Non ga apa-apa?" tanya Bi Asih mulai cemas. Pikirannya mulai kalut karena Rania terus diam membisu. Bi Asih refleks membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Mata Bi Asih melotot melihat Rania sudah tergeletak di lantai.

"Ya Allah, Non Rania," pekik Bi Asih. Ia berlari menghampiri tubuh Rania yang tak sadarkan diri.

Bi Asih mengguncang tubuh Rania pelan. Namun, Rania masih terpejam.

"Nyonya, Tolong!" Bi Asih berteriak memanggil Bu Fatma yang berada di lantai bawah. Tangannya mengelus pipi Rania berusaha membangunkan sebisanya. Bi Asih semakin panik karena tubuh Rania terasa dingin serta wajahnya pucat pasi.

"Nyonya, Tolong."

Bu Fatma yang mendengar teriakan Bi Asih. Bangkit dari tempat duduknya dan bergegas naik ke lantai dua. Dia sempat menggurutu sebelum melihat Bi Asih dan Rania di lantai.

"Rania kenapa, Bi?" tanya Bu Fatma Panik.

"Saya gak tau, Bu. Saya hanya mendengar bunyi jatuh dari dalam kamar, makanya saya nekat masuk." Bi Asih menundukan wajah saat menjawab pertanyaan Bu Fatma.

"Dasar menantu merepotkan." Bu Fatma berjongkok di samping tubuh Rania, ia menekan leher dan nadi pada pergelangan tangan. Taka lama wajahnya yang masam berubah menjadi panik.

"Cepat panggil ambulance!" titah Bu Fatma kepada Bi Asih. Bi Asih bergegas keluar menuju telpon yang berada di luar kamar.

Kebetulan Malik yang kembali pulang karena ada beberapa file yang tertinggal. Handphonenya juga mati sebab lupa di carger. Malik masuk kedalam rumah dan berlari ke arah tangga.

Malik mengerutkan kening melihat Bi Asih berdiri memegang telpon dengan wajah panik. Ia belum sempat bertanya karena mendengar Bu Fatma berteriak memanggil Bi Asih. Merasa ada yang tidak beres, Malik masuk ke dalam kamar.

"Ya Allah, Rania." Malik terkejut melihat Rania berada di pangkuan ibunya.

Bu Fatma sedikit gelisah, takut Malik menyalahkannya.

"Rania kenapa, Ma?" tanya Malik sambil memeluk tubuh Rania.

"Mama juga tidak tahu. Dia sudah seperti ini saat Mama masuk ke dalam," terang Bu Fatma tidak mau di salahkan.

Malik segera menggendong tubuh Rania dan berlari ke bawah melewati Bi Asih. Dia tidak mau menunggu ambulance datang yang pasti akan memakan waktu lama. Malik membaringkan tubuh Rania di dalam mobil.

Tanpa menunggu Bu Fatma. Malik melajukan mobil secepat mungkin menuju rumah sakit. Jalan yang lenggang membuat mobil sampai lebih cepat di rumah sakit. Malik meminta tolong dokter dan perawat yang berjaga di UGD.

"Tolong istri saya!" pinta Malik kepada dokter sambil membantu mendorong brankar.

Rania langsung mendapat tindakan dari para tenaga medis. Perawat memasang infusan karena tubuh Rania lemah sedangkan dokter memeriksa Rania dengan teliti. Perhatian dokter tertuju pada perut Rania yang bengkak dan juga membiru.

Dokter menyibak tirai lalu mendekati Malik yang terduduk di kursi. Malik yang melihat wajah dokter begitu tegang, langsung merasa semakin cemas dan panik. Ia menelan salivanya untuk menetralisir rasa cemas.

"Apa istri Tuan sering mengeluh sakit pada bagian perut?" tanya dokter dengan nada serius.

Malik menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dok. Memangnya kenapa?"

"Sebaiknya istri Anda menjalani berbagai tes untuk lebih pasti," jawab dokter membuat Malik semakin bingung dan penasaran.

"Memang istri saya sakit apa, Dok?" desak Malik kepada dokter agar bicara lebih jelas.

Dokter menarik napas panjang dan berat. Ia menaruh tangannya di atas pundak Malik, menguatkan. "Saya curiga pasien mengalami penyakit tertentu pada bagian perutnya."

Deg!

Jantung Malik terasa di hantam benda besar setelah mendengar ucapan dokter. Malik menyetujui saran dari dokter. Ia menanda tangani berbagai berkas persetujuan. Rania langsung menjalani berbagai tes yang di anjurkan. Dokter melarang Rania pulang sebelum hasil tesnya keluar.

"Istri saya sakit apa, Dok?" tanya Malik yang begitu penasaran dengan hasil tes pemeriksaan istrinya.

Rania bisa melihat perubahan raut wajah dokter begitu selesai membaca hasil tesnya. Seketika rasa takut menyelimuti hati Rania. Ia memegang erat lengan Malik, Malik berusaha tersenyum ke arah Rania menutupi rasa takutnya.

"Berdasarkan hasil tes. Istri Anda mengalami kanker rahim, sel kankernya sudah menjalar cukup parah dan …." Dokter menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.

"Dan apa, Dok?" Rania memberanikan diri bertanya karena penasaran.

"Rahim Anda terpaksa harus di angkat secepat mungkin."

"Tidak mungkin, Dok. Jika rahim saya di angkat itu tandanya saya …." Rania menangis kencang.

Malik spontan menarik Rania dalam pelukannya. Ia bisa merasakan kesedihan dan juga ketakutan istrinya. Malik mengecup rambut Rania, memberikan ketenangan dan tempat ternyaman untuk istrinya. Sejujurnya hati Malik juga ikut hancur menerima kabar buruk tersebut.

"Aku tidak bisa hamil, Mas. Aku tidak bisa punya anak," ucap Rania di sela isak tangisnya. Ia merasa dunianya sudah hancur karena tidak bisa menjadi seorang ibu. Mimpinya untuk memiliki banyak anak harus ia kubur dalam-dalam.

"Jadi kamu mandul, Rania?" tanya Bu Fatma tiba-tiba.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 29. Kesetanan

    “Arghhhh! Dasar brengsek! Semenjak menikah dengan Rania, Malik jadi berubah dan tidak bisa diatur!” teriak Bu Fatma membahana. Suaranya menggema hebat di setiap sudut rumah megah yang mendadak terasa begitu luas dan kosong.Dengan napas tersengal-sengal dan wajah memerah padam, ia menyambar sebuah vas bunga kristal dari atas meja konsol. Tanpa ragu, ia melemparkannya ke arah dinding hingga hancur berkeping-keping, menciptakan dentuman nyaring yang memecah keheningan pagi.Di balik dinding dapur yang berbatasan langsung dengan area ruang tamu, dua orang pekerja rumah tangga mengintip dengan wajah pucat dipenuhi ketakutan. Bi Asih dan seorang pelayan muda bernama Mbak Sum saling berdempetan, menahan napas setiap kali mendengar benturan benda tajam yang dihantamkan sang majikan.“Aduh, Mbak... Ibu kumat lagi marahnya. Seperti orang kesetanan begitu,” bisik Mbak Sum pelan, tangannya gemetar memegang kain lap yang terlipat.“Iya, kasihan Mas Malik sama Mbak Tania,” balas Bi Asih seraya mer

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 28. Pindah

    Bu Fatma memutus sambungan telepon dengan napas berburu dan mata menyala. "Aku tidak akan membiarkan penipu itu menikmati uangku! Semua hartaku harus kembali!" serunya histeris, menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang kini terasa dingin.Malik menggelengkan kepala, ketidakpercayaan merayapi raut wajahnya. "Mas, menurut kamu apa Mama akan berubah setelah kejadian ini?" bisik Tania lirih seraya menyentuh lengan suaminya.Malik menghela napas panjang, menatap Tania dengan tatapan ragu. "Dia bukan tipe orang yang seperti itu, Sayang," balas Malik pelan. "Keangkuhannya sudah terlalu mengakar.""Setidaknya dia tahu jika wanita yang ingin dia jadikan menantu ternyata hanya mengincar hartanya saja," sahut Paman Burhan yang menyusul ke ambang pintu kamar bersama Rania.Tania terdiam beberapa saat, mencari kemungkinan apa yang akan dilakukan ibu mertuanya itu. Pikiran Tania melayang pada kerumitan watak manusia. Kenapa ada orang yang menilai latar belakang begitu penting demi status sosial

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 27. Murka

    Pintu depan membanting keras, menyisakan gema yang dingin di tengah ruang makan yang mendadak hening. Bu Fatma membeku di ambang pintu, napasnya memburu. Wajah yang beberapa menit lalu dipenuhi kesombongan, kini pucat pasi dan diliputi kehancuran.Para tamu keluarga besar mulai saling berbisik gemuruh. Tatapan yang tadinya mengagumi kemewahan acara, kini berganti menjadi tatapan sinis dan penuh cemooh yang tertuju lurus kepada Bu Fatma.“Jadi ini calon menantu idaman yang diagung-agungkan itu?” bisik salah seorang kerabat cukup keras, disusul gelengan kepala dari tamu lainnya.Bu Fatma membalikkan badan dengan tubuh gemetar. Matanya yang merah menatap proyektor yang masih menyala, lalu beralih pada Tania yang berdiri tenang di samping Paman Burhan. Senyum tipis Tania terasa bagai sembilu bagi Bu Fatma.“Rania... kamu... kamu sengaja mempermalukan Mama di depan semua orang?!” suara Bu Fatma melengking, berusaha mengalihkan rasa malunya dengan kemarahan.Malik melangkah maju, berdiri te

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 26. Terbongkarnya kejahatan Mely

    Malam yang dinanti tiba. Acara makan malam yang telah dirancang dengan begitu matang akhirnya digelar. Sejak sore, Bu Fatma tak henti-hentinya mengawasi persiapan, menata hidangan, dan memberi perintah pada para pekerja agar semuanya sempurna. Ia seolah lupa bahwa kemarin ia berpura-pura jatuh.Sementara itu, Tania hanya mengamati dari kejauhan. Ia memastikan semua berjalan sesuai rencananya. Tanpa sepengetahuan Bu Fatma, ia telah meminta para pekerja untuk menyiapkan proyektor dan papan putih di ruang makan.“Rania ..., apa maksudnya semua ini?” tanya Bu Fatma, matanya menatap tajam ke arah Tania, curiga dengan keberadaan proyektor dan papan putih itu.“Oh, itu sengaja aku pasang untuk menonton drama, Ma. Biar acara makan malam kita lebih seru dan ada tontonan yang menghibur,” jawab Tania dengan nada meyakinkan, menyembunyikan maksud sebenarnya.Bu Fatma mendengus, namun ide Tania terdengar cukup menarik. Ia pun memutuskan untuk menyetujuinya.“Oke, kali ini Mama setuju! Tapi, awas s

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 25. Rencana Tania

    “Mas, boleh tidak besok malam kita mengadakan makan malam dan mengundang seluruh keluarga?” tanya Tania tiba-tiba, memecah keheningan kamar.Malik, yang tengah bersandar di ranjang sambil menggenggam iPad, sontak menoleh. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan atas permintaan Tania yang tak terduga.“Apa kamu sedang bercanda?"“Astaga, aku serius kali ini. Lagipula, acara ini kan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga,” kata Tania, berusaha meyakinkan suaminya.Malik terdiam, tampak menimbang-nimbang permintaan Tania. Melihat itu, Tania tak mau menyerah. Ia beranjak dari tempatnya, mendekati Malik dan duduk di tepi ranjang.“Ini juga keinginan bayi kita,” ucap Tania, terpaksa berbohong demi melancarkan rencananya. “Boleh ya, Mas?”“Ya sudah, nanti aku bicara dengan Mama dulu,” jawab Malik akhirnya, luluh dengan bujuk rayu istrinya.Senyum bahagia merekah di bibir Tania, membuat Malik ikut merasakan kebahagiaan yang sama. Ia pun bangkit, bersiap menuju kamar Bu Fatma untuk men

  • Aku Madu Kembaranku   Jika aku pergi, hiduplah bahagia

    Tania melangkah tergesa melewati gerbang, jejak kakinya seolah tak sabar menginjak tanah pekarangan rumah Paman David. “Assalamulaikum, Paman, Rania,” sapanya, suaranya sedikit bergetar, “Aku punya berita untuk kalian.”Paman Burhan dan Rania, yang semula bersantai di bangku panjang halaman, sontak menoleh. Raut wajah mereka menyiratkan keheranan. Kedatangan Tania menjelang senja, seorang diri, bukanlah pemandangan yang biasa.Rania bangkit dengan terhuyung, wajahnya sepucat kapas, tubuhnya tampak kurus dan rapuh, seolah embusan angin saja bisa merobohkannya. Paman Bruhan segera menyongsong, memapah bahu keponakannya itu, dan menuntunnya mendekat ke arah Tania.“Kalian tetap di sana saja! Jangan mendekatiku,” seru Tania, nadanya tegas namun ada gurat cemas di matanya.“Sebaiknya kita bicara di dalam,” putus Paman Burhan sembari menuntun Rania perlahan. Tania mengangguk patuh, melangkah mengikuti, menyelaraskan langkahnya dengan Rania yang tertatih. Semakin dekat ia melihat kembarann

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 7. Jangan sentuh suamiku!

    Malik melemparkan ponselnya ke meja. Dia tidak habis pikir mamanya masih saja mendekatkan dia dengan mely. Padahal sudah Malik yegaskan sejak dulu, jika dia tidak ada perasaan apapun Mely. Tania juga ikut kesal setelah membaca pesan Bu Fatma. Ibu macam apa yang ingin merusak rumah tangga anaknya

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 6. Tania hamil

    Saking syoknya, Bu Fatma sampai mundur kebelakang beberapa langkah. Darmi serta Bi Asih saling berpandangan satu sama lain. Mereka merasa bingung dengan ekspresi Bu Fatma. Wajahnya bukan menunjukan bahagia mendengar menantunya hamil. Akan tetapi, malah terlihat seperti orang yang bingung. Darmi

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 5 Nafkah bathin

    Setiap hari ada saja tingkah Tania yang membuat Bu Fatma sakit kepala. Bu Fatma merasa aneh dengan perubahan sikap menantunya tersebut. Rania yang biasanya penurut dan tidak berani membantah, sekarang berubah drastis. Pagi-pagi sekali Tania sudah siap dengan alat pel dan embernya. Bukan Tania na

  • Aku Madu Kembaranku   Bab 4 Mulai bertukar posisi

    Kamu kenapa Rania?" tanya Paman Burhan pada Rania yang baru saja siuman. Rania memijit kepalanya yang masih terasa pusing. "Mungkin aku kelelahan Paman," jawab Rania menutupi perasaannya. "Tabahkan dan kuatkan hatimu! Semua terjadi atas permintaan kamu. Paman tahu, dilubuk hati paling dalam k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status