Share

Bab 4

Author: Ellow_dikata
last update publish date: 2025-12-10 07:41:54

Suara Jonathan pecah. Ia merosot berlutut dan menangis sambil memohon maaf, memeluk kaki ibunya. “Aku yang membuatnya mati perlahan, Bu… aku ikut mendorong dia…”

Ayah Citra menatapnya tajam. “Kau tahu dia bekerja paruh waktu?”

Jonathan mengangguk kecil. “Aku pikir… dia cuma ingin terlihat baik di mata kita…”

Plak!

Tamparan keras mendarat di wajah Jonathan.

Ayah Citra tak bisa menahan amarah. “Kau tahu, dan kau malah menyembunyikannya? Kau memberi kami laporan palsu? Kau sengaja membuat kami membencinya?”

“…iya,” jawab Jonathan pelan.

Tamparan kedua mendarat. Kali ini Jonathan tidak bergerak, menerima semua yang pantas ia terima.

“Aku pikir Senia cuma pura-pura menderita… ingin kita kasihan,” katanya lirih. “Padahal bukankah kita selalu kirim uang saku untuknya?”

Tubuh Livia langsung menegang.

Ayah Citra memperhatikan itu. Sebagai pebisnis yang sudah puluhan tahun mengamati bahasa tubuh, ia langsung tahu ada sesuatu yang salah.

Ia memanggil kepala pelayan. “Berapa uang yang diberikan pada Senia setiap bulan?”

Kepala pelayan menunduk. Tidak berani bicara.

“Aku tanya. Berapa?”

Akhirnya, dengan suara gugup, kepala pelayan menjawab, sambil melirik ke arah Livia.

“Maaf, Tuan… saya tidak pernah memberikan uang saku pada Nona Senia. Setelah Nona Senia diusir dari rumah… Nona Livia datang kepada saya. Beliau bilang uang saku Senia akan diberikan olehnya langsung. Saya pikir… itu demi mendekatkan mereka…”

Ayah Citra mengepalkan tangan begitu kuat sampai terlihat gemetar. Matanya langsung beralih ke Livia, tatapan yang membuat seluruh ruangan membeku.

Livia tidak berani mengangkat wajah. Giginya bergemeletuk. Semua orang sudah tahu jawabannya.

Ibu Citra kembali menangis histeris. Ia terisak hingga tubuhnya membungkuk. Sakit yang ia rasakan bukan sekadar marah, itu rasa bersalah yang menghancurkan seorang ibu dari dalam.

Ia membayangkan Senia…

mengangkat barang berat sambil menahan nyeri dada,

bekerja tanpa makan,

membeli obat murah,

menelpon ibunya berkali-kali hanya untuk diabaikan.

Tubuh ibu Citra bergetar hebat.

Ia menangis seperti seseorang yang kehilangan anak untuk kedua kalinya, kali ini bukan karena kematian Senia,

tetapi karena ia sadar dialah yang membiarkan semua itu terjadi.

Ayah Citra segera berlari menghampiri istrinya, menuangkan seteguk air ke bibir wanita itu yang tersedu keras. Ruangan yang tadinya hanya tegang kini berubah menjadi sumur gelap, kedap, sesak, seolah seluruh udara menghilang.

Setelah emosinya sedikit mereda, ibu Citra kembali menatap Livia. Tatapannya kosong, namun di balik kekosongan itu tampak kepiluan yang menunggu untuk meledak.

“Livia…” suaranya bergetar pelan, seperti pecahan kaca. “Jawab ibumu. Kenapa kau bisa membenci Senia sampai sejauh ini?”

Livia menunduk. Hening itu mengekang tenggorokannya, tapi kebencian yang sudah lama membusuk akhirnya keluar.

“Itu salah Senia,” ucapnya dengan suara serak. “Dia selalu mengambil semua yang terbaik dariku. Setiap kali kalian memberi perhatian padanya, aku merasa dihapus… seolah aku tidak pernah ada. Aku ingin dia mati. Aku ingin dia berhenti menghalangi kebahagiaanku. Semua kebencian itu tumbuh… setelah kalian membuangku ke rumah nenek.”

Kata-kata itu jatuh seperti racun ke lantai. Ibu Citra terpaku. Bukan marah, melainkan hancur, seakan baru menyadari bahwa anak yang ia besarkan telah tumbuh menjadi sesuatu yang gelap dan asing.

“Livia…” bisiknya pelan tapi menusuk. “Apa kau tahu kenapa kami selalu memberi perhatian lebih pada Senia? Apa kau tahu alasan sebenarnya kenapa kami mengirimmu ke rumah nenek?”

Livia tertawa pendek, sinis, getir. “Karena tubuh Senia lebih lemah dariku, kan? Dan karena itu, kalian mengorbankanku. Kalian menelantarkanku di rumah nenek selama tiga tahun penuh.”

Perkataan itu menghantam dada ibu Citra keras sekali. Ia memegangi dadanya, napasnya tidak teratur, wajahnya memucat. Ayah Citra mencoba menopangnya, namun ia menyingkirkan tangan suaminya karena ia tahu… ia harus menyelesaikan ini, bahkan jika kata-katanya akan membunuhnya.

Dengan suara yang patah, ia mulai mengungkapkan kebenaran kelam yang disimpannya selama bertahun-tahun.

“Livia… kami memperlakukan Senia dengan lebih lembut karena kami merasa bersalah. Semua ini… dimulai sejak kalian lahir.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas lirih.

“Kalian lahir prematur. Tubuh kalian kecil, rapuh… dan tubuh Senia lebih kecil lagi. Kami pikir dia tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari. Tapi Senia… dia bertahan. Dia melawan dengan seluruh tenaga kecilnya.”

Air mata ibu Citra jatuh, namun ia memaksa diri untuk melanjutkan.

“Saat kalian berumur tiga tahun, kalian berdua jatuh sakit parah. Menangis sepanjang hari… seolah jantung kalian sendiri sedang mencoba berhenti. Kami membawa kalian untuk diperiksa, dan saat itulah… kami tahu kalian berdua mengidap kelainan jantung.”

Suasana ruangan semakin menegangkan, seolah jantung semua orang ikut menahan detak.

“Tubuh kalian terlalu kecil untuk menanggung penyakit itu,” lanjutnya. “Dan dokter menawarkan obat eksperimental dari Universitas Leushie. Obat itu unik. Satu-satunya di dunia. Dan hanya cukup untuk menyelamatkan satu anak.”

Livia mematung. Napasnya tercekat.

Ibu Citra menatapnya dengan pandangan yang penuh luka.

“Kami harus memilih salah satu dari kalian,” bisiknya getir. “Dan kami memilihmu, Livia.”

Hening mendadak begitu mematikan.

“Kau terus menangis… meregang kesakitan. Sementara Senia, meski merasakan sakit yang sama, hanya diam dan menatapmu. Diam… seolah ia sudah tahu bahwa kau yang harus hidup.”

Nafas ibu Citra tersengal, suaranya retak.

“Senia tidak mengeluh ketika kami memberimu obat itu. Dia tidak menangis. Dia hanya menerima keputusan itu dengan mata yang… terlalu dewasa untuk anak sekecil itu.”

Ia mulai meronta dalam pelukan suaminya, tangisnya menjadi histeris.

“Dan kau… kau membalasnya dengan membenci, menyakiti, dan akhirnya mendorongnya ke kematiannya selangkah demi selangkah.”

Tangannya gemetar, menunjuk Livia dengan ketidakpercayaan yang nyaris gila.

“Livia… apakah kau masih putriku? Bagaimana kau bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu gelap… begitu kejam… terhadap saudara yang bahkan memberimu kesempatan hidup yang seharusnya juga miliknya?”

Setelah kata-kata itu keluar, tubuh ibu Citra goyah. Napasnya pecah seperti lilin yang padam tertiup angin. Dalam hitungan detik, ia kehilangan kesadaran dan terjatuh.

Ayah Citra menjerit kecil, langsung mengangkat istrinya dan berlari menuju mobil. Semua orang panik mengikuti, pintu rumah ditutup terburu-buru, meninggalkan Livia sendirian di ruang yang kini terasa seperti ruang mayat, dingin, sunyi, dan penuh bayangan.

Livia menatap kepergian mereka.

Tanpa air mata.

Tanpa suara..

Keesokan paginya, Ayah Citra kembali ke kediaman dengan langkah yang tidak lagi memiliki kekuatan seorang kepala keluarga. Tubuhnya tegap, namun sorot matanya kosong, seperti seseorang yang pulang membawa kutukan, bukan kabar.

Livia duduk di sofa, wajah pucat dengan mata sembap. Ayahnya berdiri di hadapannya, lama… terlalu lama, sampai Livia merasa seakan dirinya sedang ditimbang di meja penghakiman.

Akhirnya, Ayah Citra membuka suara.

“Livia,” katanya datar, “kau ingin tahu kebenaran? Maka dengarlah baik-baik.”

Ia tidak duduk.

Tidak mencoba menenangkan.

Ia hanya menatap anaknya seperti menatap sumber kehancuran rumah ini.

“Sejak kecil… Senia selalu mengalah padamu. Dalam segala hal. Kau ambil hadiah miliknya, dia diam. Kau rebut perhatian kami, dia tetap diam. Kau salahkan dia atas segala hal yang tidak kau mengerti, dia tetap memilih untuk melindungimu.”

Livia menggigit bibirnya, tubuh gemetar. Tapi ayahnya tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan.

“Padahal kau lahir lebih dulu. Tapi Senia selalu bersikap seperti kakak, meski tubuhnya lebih lemah, meski jantungnya rusak, meski hidupnya jauh lebih pendek daripada yang ia sadari.”

Ia menarik napas berat, wajahnya tegang.

“Dan alasan kami mengirimmu ke rumah nenekmu… bukan karena kami lebih memilih Senia. Tapi karena Senia harus menjalani perawatan intensif selama tiga tahun. Kami berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, keluar negeri, dengan risiko yang tidak bisa kami bebankan padamu. Itu bukan penolakan. Itu perlindungan.”

Livia memejamkan mata.

Setiap kalimat terasa seperti pukulan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 46

    Toni berjalan mendekat ke arah Nando. Berbeda dengan sikapnya di depan kedua orang tuanya, kali ini ia jauh lebih berani menghadapi putra sulungnya sendiri.“Nando,” ucapnya sambil menatap dingin. “Apa kau tidak mau menyapa ayah dan ibumu ini?”Nando menatap lurus ke arah Toni. “Maaf, tapi ibuku sudah lama mati. Dan ayahku? Dia tidak layak mendapatkan sapaanku.”Suasana aula itu langsung sunyi, wajah Toni berubah gelap.“Kamu!”“Aku apa?” potong Nando, “Kau ingin aku memanggil wanita simpananmu sebagai ibu?”Wajah Angelin memucat, “Nando, jaga bicaramu!”“Bicaraku? Kenapa? Apa ada yang salah?” Nando tersenyum tipis. “Sepertinya aku masih cukup sopan karena belum mengusirmu keluar dari acara keluarga ini.”“Nando!” bentak Toni.Beberapa anggota keluarga mulai mendekat diam-diam untuk mendengarkan pertengkaran itu.Nando menatap ayahnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.“Kau mendekatiku hanya untuk memintaku menyapamu sebagai orang tua? Kalau benar kau peduli soal itu, kau seharusny

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 45

    Begitu pakaian mereka selesai disesuaikan, Nando tidak langsung meninggalkan butik itu. Ia meminta pelayan mengambil katalog koleksi musim ini dan duduk kembali di sofa ruang tunggu yang menghadap rak pajangan gaun. Senia duduk di sampingnya dengan tongkat di tangan. Punggungnya tegak, lututnya rapat, wajahnya menghadap lurus ke depan seperti seseorang yang sedang mendengarkan keadaan di sekitarnya dengan hati-hati.Nando membalik halaman katalog tanpa benar-benar memperhatikannya. Pandangannya sesekali beralih ke arah Senia sebelum akhirnya ia bertanya pelan, “Kamu mau buah?”Senia menoleh ke arah suaranya. “Buah apa?”“Kamu mau anggur?”Senia mengerutkan bibir kecilnya beberapa detik sebelum mengangguk. “Boleh.”Nando mengambil mangkuk kecil berisi anggur dari meja kaca di depan mereka lalu menyerahkannya ke tangan Senia.“Makanlah.”“Terima kasih.”Nando kembali membuka katalog pakaian wanita di pangkuannya. Ia sedang memilih beberapa pakaian rumah untuk Senia ketika gerakan kecil

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 44

    “Rekam yang tadi sekali lagi, Mari. Aku ingin dengar ulang bagian tengahnya.”Senia berdiri di samping piano dengan tangan masih menempel di permukaan tuts yang sudah mulai ia hafal bentuknya. Mari segera menyiapkan ponsel dan mengangguk kecil. “Baik, Nona. Anda sudah bisa memulainya.”Nada kembali mengalun di ruang itu, dan kali ini terasa lebih rapi dan terarah dari sebelumnya. Senia tidak pernah menghitung waktu juga tidak berniat untuk menghentikan dirinya di tengah jalan. Ia memainkan bagian yang sama berulang kali sampai merasa cukup, lalu perlahan menarik tangannya menjauh.“Sudah, Mari, aku ingin beristirahat dulu sebentar dan untuk hasilnya, kita dengar nanti saja.”Mari mematikan rekaman, lalu mendekat untuk membantu. “Nona ingin ke mana sekarang?”“Ke ruang tengah, sharusnya nenek masih ada di sana kan.?”Mari mengangguk dan langsung meraih lengan Senia, membimbingnya keluar dari ruang musik. Langkah mereka pelan, teratur, melewati lorong yang sudah mulai terasa akrab bagi

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 43

    Kakek Nando menghela napas panjang, “Kalau sejak awal kakek tahu dia mengkhianati ibumu, saham keluarga tidak akan pernah kakek serahkan untuk dia kelola sendiri. Kakek tidak pernah menyangka, bahwa putra kakek ternyata seorang bajingan.”Nando berdiri tegak di hadapan pria tua itu, menahan semua reaksi yang ingin muncul. “Yang sudah terjadi tidak akan pernah bisa diubah, Kek. Sekarang yang penting adalah apa yang akan kita lakukan setelah ini. Ayah sudah terlalu jauh masuk ke dalam struktur perusahaan, dia pandai membangun pengaruh, dan dewan direksi berpihak padanya. Aku tidak bisa menarik semuanya sekaligus. Aku harus mengambilnya perlahan, satu per satu.”Kakek Nando menatapnya tajam. “Lalu? Kamu pikir cara termudahnya lewat Rendra?”“Iya,” jawab Nando tanpa ragu. “Dia celah yang paling jelas.”“Nando, jangan pernah remehkan anak itu. Walaupun aku tidak akan mau mengakuinya sebagai keturunan keluarga ini, ayahmu hampir menjadikannya tuan muda keluarga ini dan menggantikanmu seteng

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 42

    Siang itu berjalan tanpa gangguan, tenang dengan cara yang membuat semuanya tampak wajar sejak awal, seolah tidak ada hal penting yang akan muncul dari percakapan sederhana di dalam ruangan itu, padahal setiap kalimat yang diucapkan perlahan membuka sesuatu yang selama ini tersembunyi tanpa pernah benar-benar dibicarakan secara langsung. Senia duduk bersama nenek Nando, menjaga posisinya tetap di tempat yang sama sejak percakapan dimulai, sementara di bagian lain rumah itu Nando duduk berhadapan dengan kakeknya, membicarakan bisnis yang terus menuntut perhatian tanpa jeda.“Senia… bagaimana kamu bisa bertemu dengan Nando? Ceritakan pada nenek.”“Kami bertemu di jalan, Nek. Waktu itu Nando menyelamatkanku saat aku mengalami kecelakaan lalu lintas.”Nenek Nando sedikit terkejut mendengar penjelasan Senia, sebab ia tahu dengan pasti bahwa Nando bukanlah orang yang mau berbuat baik pada orang asing, terlebih pada seorang wanita. “Keluargamu di mana?”“Nek… orang tuaku sudah meninggal. Sa

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 41

    Langkah Senia terdengar pelan dan teratur ketika ia berjalan dengan tongkatnya menuju meja di ruang tengah kamar mereka. Ia sudah mulai menghafal jarak dan arah di dalam ruangan itu, meskipun setiap langkahnya masih menyimpan kehati-hatian yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tongkat di tangannya menyentuh permukaan lantai lebih dulu sebelum kakinya bergerak, memastikan tidak ada benda yang menghalangi jalannya.“Nando… kau sudah keluar?” tanyanya dengan suara yang tidak terlalu keras.“Belum,” jawab Nando dari arah yang tidak terlalu jauh. “Aku menunggumu. Bukankah sangat tidak mungkin jika aku membiarkanmu keluar sendiri dari kamar ini?.”Jawaban itu datang tanpa emosi yang berlebihan, terdengar seperti sesuatu yang memang wajar.Senia hanya mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju arah suara tersebut.Ketika ia sudah cukup dekat, langkahnya melambat, menunggu isyarat atau arahan berikutnya.“Duduklah lebih dulu, Aku akan menata rambutmu.” ucap Nando dengan suara dat

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 7

    Senia membuka mata ketika mendengar suara orang lain di sekitarnya. Namun tetap gelap yang ia lihat. Tidak ada cahaya, barang sedikitpun.Hanya hitam yang sama seperti sebelumnya. Napasnya sedikit memburu. Tangan kanannya bergerak perlahan, meraba lengan kirinya. Ada sesuatu yang menempel di sana.

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 6

    Tidak ada suara dari rumah kayu tua di ujung desa itu. Pintu depannya tertutup rapat. Engselnya berkarat. Tidak pernah terdengar terbuka. Di dalam, seorang gadis terbaring di lantai kayu yang dingin. Napasnya berat, pendek, tersendat. Bibirnya pecah-pecah. Kering hingga hampir berdarah. Perutnya

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 5

    Ayah Citra melanjutkan, suaranya kini lebih berat, namun jauh lebih dingin.“Kami tidak pernah membedakan kalian karena cinta. Kami membedakannya karena rasa bersalah. Karena sejak kalian lahir, kami yakin Senia tidak akan hidup lama. Tapi dia bertahan… bertahun-tahun… dengan tubuh yang seharusnya

  • Aku Mati Kenapa Kalian Menangis?   Bab 3

    Video itu berisi file lagu, email, rekaman suara, notasi asli, semua menunjukkan bahwa Senia adalah otak kreatif dari sebagian karya Axel. Tidak ada dramatisasi. Semua data menunjukkan fakta yang sama, Axel bukan satu-satunya pencipta.Setelah video dirilis, komentar kebencian yang sebelumnya mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status