ログインSenia dibesarkan oleh keluarga yang memanggilnya anak, namun memperlakukannya seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar diinginkan. Pada malam pesta pernikahan, acara yang sengaja dirancang oleh keluarganya dan Hanan, calon suaminya, untuk mempermalukannya, Senia jatuh dari lantai teratas hotel. Ia mati di hadapan mereka dalam kondisi mengenaskan. Senia tidak pernah menyangka bahwa keluarga dan kekasih yang dulu menjaganya dengan penuh kehati-hatian, meski hanya sesaat, dapat berubah begitu kejam… hanya demi membuat saudara kembarnya, Livia, merasa bahagia.
もっと見るTidak ada satu pun yang menyadari bahwa kematian sedang berjalan perlahan menuju Senia.
Tubuhnya melemah, penglihatannya mengabur, dan setiap helaan napas terdengar seperti perjuangan terakhir hidupnya. Ratusan wajah di sekelilingnya memudar menjadi bayang-bayang tak berbentuk… hingga yang tersisa hanyalah satu sosok, Hanan. Tatapan mereka akhirnya bertemu. Hanya sepersekian detik, namun cukup untuk meremukkan dunia Hanan tanpa belas kasihan. Karena dalam pandangan terakhir itu, ia melihat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan, Senia tergeletak di bawah, remuk, sekarat setelah jatuh dari lantai paling atas hotel tempat pernikahan ini berlangsung. Darah mengalir pelan, membentuk garis merah yang menuntun mata Hanan turun, memaksanya menghadapi kenyataan yang lebih kejam dari mimpi buruk mana pun. Hanan membeku. Napasnya tercekat, tenggorokannya menyempit. Tiada suara yang keluar dari mulutnya, seakan dunia terdiam hanya agar ia bisa menyaksikan kematian perempuan yang ia cintai dengan jelas… tanpa mampu berbuat apa pun. Wajahnya memucat seperti kain kafan. Senia membuka mulut, entah hendak memanggilnya, entah meminta maaf, entah mengucap sesuatu untuk terakhir kalinya. Namun yang keluar hanya darah kental yang mengalir dari bibirnya, menodai gaun pengantin putih yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan. Perlahan, mata Senia menutup, lebih cepat dari kata apa pun yang ingin keluar dari mulutnya. Di ruang pesta, suara-suara kacau mulai pecah. Para tamu undangan mundur sambil menutup mulut masing-masing. Ada yang menangis tertahan, ada yang merekam dengan tangan gemetar, ada pula yang terpaku dengan pandangan kosong seolah tubuh mereka dibekukan rasa takut. Tidak ada yang berani mendekat. Kematian datang begitu saja, menjadi tamu tak diundang di tengah pesta pernikahan palsu ini. Pesta pernikahan yang tidak pernah ditujukan untuk merayakan cinta, melainkan untuk mempermalukan Senia. Sebuah pesta rekayasa bagi Livia, saudara kembar Senia, yang seharusnya berdiri anggun di sisi Hanan sebagai pengantin wanita. Sementara Senia? Ia hanya “boneka” dalam pertunjukan mereka, dipaksa hadir agar menjadi bahan hinaan di depan ratusan mata. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa malam penghinaan itu akan berubah menjadi malam kematian. Hanan akhirnya berlari dan merengkuh tubuh Senia. Pelukannya bukan lagi pelukan seorang pria kepada kekasihnya, melainkan pelukan seseorang yang sadar bahwa seluruh hidupnya baru saja diambil darinya dalam satu kedipan mata. Tubuh Senia perlahan mendingin. Ibunya berlari histeris, kehilangan kewarasan dan kecantikan yang selama ini ia banggakan. Ayah dan kakaknya berhamburan mendekat, berteriak seakan baru menyadari betapa kejamnya hidup. Namun tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Di rumah sakit milik keluarga Haykal, tubuh Senia dibaringkan di ruang VIP. Para dokter terbaik berdatangan, tetapi hasilnya sama, Senia telah mati bahkan sebelum mereka tiba di gedung itu. Ibunya memukul dokter sambil menangis putus asa. Ayahnya mencoba menahan, namun air mata yang selalu ia sembunyikan menetes diam-diam, seperti rasa sesal yang terlambat lahir. Jonathan, kakak laki-laki Senia, tidak sanggup menatap Senia lebih lama. Ia berjalan keluar dan menatap kedua tangannya sendiri, seolah yakin bahwa tangan-tangan itu ikut mendorong adiknya menuju kematian. Malam itu, ia naik ke atap rumah sakit dan tinggal di sana tanpa bicara, tanpa menangis, hanya diam seperti mayat yang lupa mati. Hanan tidak pernah meninggalkan sisi Senia. Ia duduk di samping jasad yang perlahan kehilangan warna, memeluknya sepanjang malam. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia membisikkan rencana yang tak pernah ia ucapkan pada siapa pun, rencana untuk menceraikan Livia, rencana untuk memberi seluruh keluarga Haykal pada anak Livia di masa depan dan rencana untuk membawa Senia pergi dari semua ini ketika semuanya sudah selesai. Tapi semua rencana itu mati bersama kepergian Senia. --- Hari-hari setelah kematian Senia tidak lagi menyerupai suasana duka. Ini lebih mirip ritual kesurupan. Keluarganya dan Hanan menolak melepaskan tubuh Senia, bahkan ketika kulitnya mulai membiru dan tubuhnya mulai menebarkan bau kematian. Mereka membersihkan tubuh itu dengan tangan mereka sendiri, seolah bisa menebus dosa melalui sentuhan mereka. Di hari keempat, seluruh keluarga Citra dan Hanan bermimpi hal yang sama. Senia berdiri di hadapan mereka, dengan tubuh yang masih terluka dan wajah masih berlumur darah. Dia memohon agar jasadnya dimakamkan segera. Namun mereka tetap menolak. Di hari ketujuh, mereka akhirnya menyerah dan membawa jasad Senia untuk dikremasi. Sayangnya, mereka terlambat lagi. Setelah kremasi selesai, api mendadak meledak. Kebakaran mengamuk seperti makhluk hidup, melahap gedung krematorium, memaksa semua orang berlarian dalam kepanikan. Tapi tidak satu pun dari Keluarga Citra maupun Hanan benar-benar ingin meninggalkan tempat itu. Mereka berteriak memaksa petugas menyelamatkan abu Senia. Hanan hampir menerobos masuk ke dalam. Ia rela dihantam api demi mengambil satu-satunya sisa yang ia punya dari Senia. Namun ledakan kedua membuat para pengawal menyeret mereka menjauh. Di tengah kekosongan itu, seseorang bergerak tanpa suara. Nando Fredrik. Ia menyelinap masuk ke ruang krematorium yang terbakar, mengumpulkan abu Senia, dan membawanya pergi. Ia melaksanakan permintaan terakhir Senia, permintaan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya. “Jangan biarkan mereka menyentuh sisa tubuhku. Biarkan aku pergi… untuk pertama kalinya tanpa mereka.” Ketika api akhirnya padam dan mereka memasuki kembali ruangan itu, mereka mendapati sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kebakaran. Ruang krematorium itu kosong. Tidak ada abu. Tidak ada sisa-sisa pembakaran. Tidak ada apa pun. Seolah Senia menghilang. Seolah ia menolak meninggalkan sisa tubuhnya untuk mereka. Dan untuk pertama kalinya, keluarga itu merasakan ketakutan yang lebih gelap daripada kematian itu sendiri, "ketidakberdayaan". Hanan bangkit dengan wajah yang tidak lagi mengenali cahaya. Ia memerintahkan seluruh bawahannya menyisir kota, negara, bahkan dunia jika perlu. Dengan suara dingin yang membuat semua orang menggigil, ia mengumumkan. “Seratus miliar dolar untuk siapa pun yang menemukan abu Senia.” Bukan cinta yang membuatnya begitu… melainkan rasa bersalah yang berubah menjadi obsesi. Dan dari malam itu, dunia menyaksikan dimulainya perburuan paling gelap yang pernah terjadi, bukan untuk menemukan seseorang yang hidup… tapi untuk menemukan sisa-sisa dari seseorang yang sudah lama ingin pergi. Seminggu pencarian itu berubah menjadi mimpi buruk yang tak pernah berhenti. Bukan hanya tidak ada tanda-tanda abu Senia, bahkan petunjuk sekecil debu pun tidak ada. Seolah dunia menutup rapat seluruh jejaknya, menyembunyikan sisa-sisa seorang gadis yang seluruh hidupnya hanya berisi luka yang diberikan oleh orang-orang yang seharusnya menjaganya. Rumah keluarga Citra berubah menjadi tempat berkabung yang sunyi. Tidak ada doa. Tidak ada air mata. Hanya penantian yang panjang dan menyakitkan, penantian yang menggerogoti kewarasan mereka pelan-pelan.Akhirnya, setelah waktu yang terasa sangat lama, ia berhasil mencapai pintu. Tangannya menyentuh permukaan dingin itu, dan saat ia hendak melangkah keluar, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah depan.“Senia?”Suara itu rendah, dalam, dan membawa tekanan yang langsung membuat tubuhnya membeku di tempat.Dalam sekejap, seluruh tubuhnya bergetar.Langkah kaki itu terdengar lagi, teratur, mantap, tidak ragu dan berjalan mendekat.Tidak ada jeda, tidak ada ragu. Langkah itu langsung menuju ke arahnya.Setiap bunyi sepatu yang menyentuh lantai terdengar begitu jelas di telinga Senia, mengiris ketenangan yang sejak tadi berusaha ia pertahankan. Kesadaran itu membuat napasnya tercekat.Tanpa berpikir panjang, Senia langsung berbalik, mencoba kembali ke dalam ruangannya dengan langkah yang terburu-buru dan tidak teratur. Kakinya beberapa kali tersandung karena gerakannya yang dipaksakan, sementara tangannya meraba-raba udara di sekitarnya, mencari arah yang benar dengan putus asa. Ia
Setelah semua lembar perjanjian itu dibubuhi sidik jari Senia, ruangan itu jatuh dalam hening yang canggung. Satu per satu orang pergi dengan sikap formal, meninggalkan hanya gema langkah di lantai marmer dan bau tipis tinta yang belum mengering.Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang perlu.Nando bangkit dari duduknya dengan gerakan tenang, nyaris tanpa suara, seperti seseorang yang telah terbiasa mengendalikan setiap situasi tanpa perlu menunjukkan emosi berlebihan. Pandangannya jatuh pada Senia yang masih duduk kaku, dan meskipun wajahnya tidak menunjukkan perubahan berarti, ada tekanan halus dalam suaranya ketika ia akhirnya berbicara, “Beristirahatlah sehari lagi di sini. Aku akan mengirim perawat pribadi untuk menjagamu.”Ia berhenti sejenak, seolah memberi jeda yang sengaja diciptakan untuk memastikan setiap kata yang keluar tidak disalahartikan, sebelum melanjutkan dengan nada yang sama datarnya.“Istirahat satu hari lagi. Besok pagi, jam sembilan. Kita urus akta nikah.”S
“Tanda tangani kontraknya. Sekretarisku akan datang membawa berkasnya. Tapi buang jauh-jauh harapanmu… kau tidak akan mendapat apa pun dari perjanjian ini.”Suara Nando terdengar tenang, hampir tanpa tekanan, dan justru karena itulah kalimat itu terasa lebih berat. Tangannya bersandar santai di sandaran sofa, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Senia dengan penuh perhitungan, seolah ia sedang menilai sesuatu yang belum sepenuhnya ia putuskan.Senia mengangguk pelan. Ia tidak mencoba membantah, tidak juga meminta penjelasan lebih jauh. Perlahan ia berusaha duduk, menahan rasa tidak nyaman di tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya.Nando tidak menghentikannya. Ia juga tidak bergerak untuk membantu.Ia hanya menatap.Dua puluh menit kemudian, pintu ruangan kembali terbuka. Langkah beberapa orang masuk memecah kesunyian yang sejak tadi menggantung. Suasana langsung berubah, tidak lagi hanya diisi oleh ketegangan di antara dua orang, tetapi kini bercampur dengan formalitas yang kaku.
Senia menggeleng pelan, gerakannya lemah namun penuh penolakan. Ia tahu ke arah mana pikiran Nando berjalan. Kecurigaan itu tidak datang tanpa alasan, terlebih jika melihat posisinya sekarang yang muncul secara tiba-tiba dengan wajah yang terlalu mirip dengan seseorang dari masa lalu pria itu.Dalam kehidupan sebelumnya, ia sendiri yang secara tidak langsung membantu Nando merebut kembali posisinya di keluarga. Kematian dirinya saat itu memang bukan sepenuhnya tanpa tujuan. Ia ingin membuat keluarganya menyesal, membuat Hanan merasakan kehilangan, dan dalam proses itu, tanpa disadari, ia juga membuka jalan bagi Nando untuk menghancurkan orang-orang yang telah menyakitinya.Karena itu, wajar jika sekarang Nando mencurigainya sebagai bagian dari permainan yang sama. Namun kenyataannya sudah berbeda.“Aku tidak dikirim siapa pun… tolong percaya…”Suaranya terdengar lirih, hampir seperti seseorang yang sudah kehabisan kekuatan untuk membela diri.“keluargaku telah mati dan meninggalkank






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.