登入“Aku tidak bisa terus bersembunyi.”
Braelyn berdiri di tengah ruang apartemen Eryx sambil menatap jendela besar yang memperlihatkan hujan deras di luar. Cahaya kota memantul samar di kaca, membuat bayangannya sendiri terlihat asing. Ia masih mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.
Penembak.
Dokumen rahasia.
Keterlibatan keluarga Caspian dan fakta bahwa di kehidupan sebelumnya, ia mati di pelukan Eryx.
Semua itu terasa terlalu berat untuk d
Wussss!Sensasi hantaman yang seharusnya menghancurkan tulang mereka menjadi serpihan tidak pernah terdengar. Kegelapan di dasar poros lift itu ternyata bukan lantai beton, melainkan sebuah ruang vakum transisi yang terasa kenyal saat tubuh Braelyn dan Eryx menerobos permukaannya. Kecepatan jatuh mereka diredam paksa oleh densitas udara yang mendadak menebal, seperti melompat ke dalam kolam gelatin tak kasatmata yang dingin."Uhuk!" Braelyn terbatuk, dadanya terasa sesak saat punggungnya akhirnya mendarat di atas permukaan yang keras namun halus—bukan lantai lobi Gedung Wilson, melainkan hamparan ubin kaca patri yang retak-retak.Aroma lili yang pekat bercampur bau bensin langsung lenyap, berganti dengan bau debu kertas tua dan sisa pembakaran sirkuit elektronik. Cahaya putih murni yang tadi ditembakkan dari atas perlahan memudar, menyisakan pencahayaan temaram dari sisa-sisa piksel merah yang mengambang di udara bagai kunang-kunang digital yang s
"Braelyn!!!"Raungan Eryx mengguncang dinding-dinding lobi yang runtuh. Tanpa berpikir, pria itu melompat maju, menjatuhkan dirinya ke bibir poros lift yang menganga. Tangan kirinya yang bersimbah darah mencengkeram besi siku penyangga pintu dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kanannya terjulur bebas ke dalam kegelapan yang pekat, mencoba menyambar apapun yang bisa diraih.Sret!Ujung jemari Eryx sempat bergesekan dengan kain gaun pengantin satin milik Braelyn, namun momentum jatuh yang terlalu besar akibat tarikan paksa Adrian membuat kain itu lolos begitu saja.Pikiran Braelyn membeku di tengah sensasi hampa udara yang merenggut napasnya. Ini akhir dari labirinnya. Aku tidak jatuh ke lantai bawah tanah Wilson Group... aku jatuh kembali ke dalam ketakutan terdalamku yang telah bermutasi menjadi monster.Hembusan angin dingin yang berbau besi berkarat dan belerang menghantam wajah Braelyn saat tu
"Jangan gerak, bajingan!" Eryx melesat bagai kilat, raungannya menggelegar memenuhi ruang lobi yang bising oleh deru distorsi. Gerakannya tidak lagi seperti pemilik kedai kopi yang ramah, insting membunuh yang selama satu tahun ini ia jinakkan mendadak meledak keluar dengan intensitas yang jauh lebih pekat. Belati taktis di tangan kanannya terarah lurus ke leher Adrian atau apapun makhluk yang kini sedang memakai tubuh mertuanya itu.Namun, Adrian bahkan tidak berkedip. Dengan gerakan kaku yang anehnya secepat kedipan mata, ia mengayunkan kaki kanannya, menghantam dada Eryx hingga pria Caspian itu terlempar mundur, menghantam pilar marmer hingga retak dan terkapar di atas lantai debu."Eryx!" Jeritan Braelyn tertahan di tenggorokan.Pikiran Braelyn berputar gila di tengah kepungan bau anyir darah dan aroma lili yang pekat. Ini bukan Ibu! Ini juga
"Eryx, kamu mau ke mana pagi-pagi begini bawa linggis?!" Braelyn setengah berteriak dari ambang pintu dapur, tangannya yang masih memegang lap kain mendadak kaku melihat suaminya sudah rapi dengan jaket denim belel dan memegang sebatang besi tebal di tangan kanan. Sisa-sisa kantuk yang menggelayuti matanya langsung menguap begitu melihat rahang Eryx yang mengeras, persis seperti ekspresi pria itu saat mereka masih terjebak di laboratorium isolasi Eleanor setahun lalu. Eryx tidak langsung menjawab, dia hanya menoleh sekilas dengan tatapan mata yang rumit—campuran antara proteksi gila-gilaan dan kecemasan yang coba ditutupi dengan senyuman santai yang gagal total. "Cuma mau cek kotak surat di depan, Sayang. Semalam kayaknya ada tupai tanah yang coba merusak engselnya," jawab Eryx, suaranya terdengar terlalu tenang, jenis ketenangan palsu yang justru membuat bulu kuduk Braelyn meremang karena dia tahu betul bagaimana setiap jengkal perubahan nada suara suaminya. Braelyn melempar lap kain
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Langit di atas bukit lavender begitu bersih, menyajikan warna biru muda yang bergradasi indah dengan semburat emas matahari pagi. Angin sepoi-sepoi berembus rendah, membuat hamparan bunga ungu di sekeliling kapel kecil itu bergerak bergelombang, menyebarkan aroma menenangkan yang memenuhi udara.Tidak ada karpet merah beludru yang megah, tidak ada jepretan kamera jurnalis dari berbagai distrik, dan tidak ada pengamanan ketat dari robot faksi luar. Pernikahan ini sangat sunyi, hanya dihadiri oleh segelintir orang yang benar-benar berarti dalam hidup mereka.Di dalam ruang tunggu kapel, Braelyn berdiri di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun pengantin satin putih sederhana tanpa lengan. Potongannya minimalis, namun tampak sangat anggun di tubuhnya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh membingka
Tiga bulan kemudian, sebuah surat dengan kertas bertekstur tebal dan beraroma lavender segar mendarat di atas meja bar The Anchor. Di bagian depannya, tertulis sebaris nama dengan tinta emas yang elegan Kael & Teman-Teman."Gue dipanggil 'Teman-Teman'? Serius, Eryx?" Kael memprotes sambil mengangkat surat undangan itu dengan dua jari, wajahnya menunjukkan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat. "Gue ini makelar informasi paling berbakat di dua dunia, peretas yang menyelamatkan bokap lu, dan sekarang status gue cuma disamakan dengan 'et cetera'?"Eryx yang sedang mengelap gelas bir langsung tertawa lepas. "Lu mau ditulis apa? 'Kepada Kael sang Hacker Jomlo Abadi'? Lagian itu Braelyn yang nulis, protes aja ke dia."Braelyn keluar da
"Jangan lepaskan dia, Braelyn! Tarik!" sebuah suara asing, serak dan berwibawa, menggema di antara deru gesekan jutaan butir pasir yang berputar liar di sekeliling mereka.Braelyn tersedak, paru-parunya serasa dihantam udara kering yang pekat dengan aroma kuno—campuran kertas usang dan deb
"Braelyn, cepat!" suara Eryx melengking di antara kepungan alarm yang memekakkan telinga, nadanya parau, terdistorsi gila-gilaan seperti kaset rusak yang dipaksa berputar cepat. Tubuh pria itu bergetar hebat; separuh lengannya mendadak buram, menyisakan piksel-piksel digital berwarna merah darah
"Braelyn, jangan dengarkan dia! Kita pasti punya cara lain!" suara Eryx meninggi, bersaing dengan suara gemuruh masif yang mulai meremukkan fondasi menara di bawah kaki mereka. Tangan kanan Eryx yang sehat mencengkeram jemari Braelyn begitu erat, menyalurkan kehangatan terakhir di tengah udara ya
"Lepaskan dia, bajingan!" teriakan Eryx bergema parau, menembus dinding cahaya putih yang menyelimuti seluruh puncak menara utara.Cahaya itu tidak hangat, melainkan dingin dan menyengat kulit bagai ribuan jarum es. Braelyn merasa cengkeraman besi di lehernya mendadak mengendur saat sosok







