MasukDemi menyelamatkan nyawa seseorang, Alya—dokter desa yang hidupnya sedang hancur karena utang dan pengkhianatan tunangannya—nekat menyembunyikan pria misterius yang terluka parah di rumahnya. Namun, pria itu ternyata bukan orang biasa, melainkan seorang Tentara elite yang sedang diburu musuh berbahaya. Saat fitnah, ancaman, dan pernikahan terpaksa menyeret mereka bersama, Alya perlahan sadar … pria yang paling berbahaya itu justru menjadi satu-satunya orang yang mati-matian melindunginya.
Lihat lebih banyak“Aku nggak peduli kamu mau jual tubuhmu atau peras semua pasienmu. Yang jelas, minggu depan, utang ayahmu itu harus lunas!”
Kalimat juragan Surya masih terngiang di kepala Alya saat dia menatap laci klinik yang terbuka di depannya. Tidak cukup. Uang yang Alya miliki bahkan tidak mendekati setengah dari lima puluh juta yang harus ia bayarkan pada pria itu. Padahal, waktu yang tersisa hanya tiga hari. Alya memijit pelipisnya, frustrasi. Pasalnya, dari awal sudah hampir tidak mungkin dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu. Dirinya hanya seorang dokter desa dengan klinik kecil. Penghasilannya pun sering habis untuk menutup biaya operasional. Merasa buntu, Alya menutup laci perlahan. Enam bulan lalu, ayahnya meninggal mendadak karena serangan jantung dan meninggalkan klinik ini bersama utang yang selama ini dia tanggung diam-diam. Sejak itu, semua beban jatuh ke pundak Alya. Masalahnya, sertifikat bangunan sudah lama berada di tangan juragan Surya sebagai jaminan. Artinya, jika Alya gagal melunasi utang itu, klinik ini akan disita. Dan dia bukan hanya akan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga sumber penghasilannya. Belum sempat Alya menarik napas lagi, suara dari ruang depan memecah keheningan. “Mbak Alya! Ada pasien kecelakaan tunggal!” Mendengar suara Dina, adiknya sekaligus asisten di klinik, Alya langsung berdiri. Semua pikiran tentang utang dipaksa mundur ke belakang. “Bawa ke ruang tindakan,” jawabnya cepat sambil meraih sarung tangan. Begitu tirai disibakkan, seorang anak laki-laki usia belasan sudah duduk meringis di kursi periksa. Lutut dan telapak tangannya penuh luka, darah mengering bercampur debu jalanan. “Kenapa bisa begini?” tanya Alya dengan tenang dan lembut. Menahan air mata karena rasa sakit, bocah itu menjawab pelan, “Jatuh dari motor, Dok…” Alya mengangguk singkat dan dengan cepat mulai bekerja. Dengan ahli dia membersihkan luka dan menghentikan pendarahan. Gerakannya cepat, rapi, dan terlatih, seolah semua itu sudah menjadi refleks. Namun, baru saja Alya selesai dan ingin mulai membalut luka, pintu depan tiba-tiba dibuka dengan keras. “Alya!” Suara itu tajam. Tinggi. Sengaja dikeraskan agar sejumlah pasien lain yang baru saja datang mengantre bisa mendengar. Alya bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Dia mengembuskan napas pendek, lalu dengan hati-hati meletakkan kasa di atas luka bocah itu. “Tunggu sebentar, ya,” ucapnya sebelum akhirnya berdiri setelah sang bocah mengangguk. Saat menoleh, dugaan Alya terbukti benar. Bu Dianti, kerabat lama sang ayah sekaligus ibu dari pria yang dijodohkan dengannya, masuk dengan dagu terangkat. Kebaya mahal membalut tubuhnya rapi, dan tas bermerek yang menggantung di lengannya diayun pelan, seolah ingin semua orang tahu tentang kekayaannya sekarang. Di belakang wanita itu, Hendra, pria yang menyandang status sebagai tunangan Alya, berdiri dengan seragam PDH yang licin dan rapi. Tampan, tegap, tapi seperti biasa, terlalu pengecut untuk menatap Alya langsung ketika ibunya berada di sana. “Ada apa, Bu?” tanya Alya datar. Bu Dianti mendengus. Tatapannya menyapu ruang tindakan yang sempit itu dengan jijik terselubung. “Kita perlu bicara. Sekarang.” Alya melirik bocah yang masih duduk menahan nyeri di kursi periksa. “Saya sedang menangani pasien, Bu. Bisa tunggu sebentar?” “Pasien?” Bu Dianti mengulang dengan nada meremehkan. “Alya, urusan masa depan anak saya jauh lebih penting daripada pasien remeh seperti itu!” Dina yang berdiri di samping lemari obat langsung merengut melihat sikap tidak sopan Bu Dianti. “Bu, ini ruang tindakan, bukan pasar. Tolong jangan ribut di sini!” Bu Dianti menoleh tajam. “Aku tidak bicara denganmu!” Wajah Dina memerah, tetapi Alya lebih dulu memberi isyarat agar adiknya diam. Alya menatap Bu Dianti tanpa ekspresi. “Kalau memang penting, mari kita bicara di luar saja, Bu. Jangan di depan pasien.” “Nggak usah.” Bu Dianti malah melangkah masuk lebih jauh, suara hak sepatunya berdetak keras di lantai keramik. “Biar sekalian semua dengar dan jadi saksi tentang urusan kita!” Menarik tangan putranya yang sedari tadi diam, Bu Dianti langsung berkata, “Hari ini, kami datang untuk memutuskan pertunangan kamu dan Hendra!” Mendengar itu, seketika sejumlah ibu-ibu yang menunggu antrean tindakan mulai berbisik, membuat suasana makin keruh. Sementara itu, jari Alya mengepal di balik sarung tangan. Semenjak ayahnya meninggal, dia tahu hari ini akan datang. Akan tetapi, tidak dia duga Bu Dianti akan melakukannya tanpa memedulikan posisi maupun reputasinya sedikit pun. Melihat Alya terdiam, Bu Dianti melanjutkan dengan senyum penuh kemenangan, “Jangan kamu salahkan saya, Alya. Anak saya beberapa waktu lagi akan resmi lulus Akmil. Pangkatnya Letnan Dua. Masa depannya jelas. Kariernya bagus. Nanti dia dinas di kota, bergaul dengan orang-orang berkelas, dan tentu akan bertemu perempuan yang pantas bersanding dengannya.” Tatapannya turun naik mengamati Alya dari kepala sampai kaki. “Bukan dokter desa yang kliniknya saja sebentar lagi disita!” Di saat itu, ekspresi Alya berubah keruh, dan Hendra yang menyadari hal tersebut menahan lengan ibunya. “Bu, jangan begini….” Dia melirik Alya sesaat. “Kasihan Alya….” Tapi, Bu Dianti malah menepis tangan anaknya. “Loh, emang Ibu salah? Benar ‘kan kalau dia sudah nggak layak buat kamu? Kalau kalian masih melanjutkan pernikahan, dia akan jadi beban dan menahan perkembangan karir kamu! Muka keluarga kita mau ditaruh di mana kalau istrimu hanya dokter desa?!” bersambung"Jangan halangi aku, Suster! Aku hanya ingin melihat keponakanku sebentar saja!" Suara parau Fatan terdengar dari luar pintu, napasnya tersengal-sengal menahan nyeri pada lengannya.Pintu ruang VIP itu terbuka makin lebar. Sosok Fatan berdiri gemetar di ambang pintu, bersandar payah pada sisi pintu.Wajahnya pucat, dengan kemeja pasien rumah sakit yang kedodoran dan perban tebal membungkus lengan atasnya. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, cengkeraman jarum infus di punggung tangannya tampak memerah, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa. Dina membeku di samping boks bayi. Matanya membelalak menatap pria yang beberapa jam lalu terkulai tak berdaya bersimbah darah di depannya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk berlari mendekat dan memeluk pria itu, namun gengsi dan luka kesalahpahaman yang belum sepenuhnya sembuh kembali menahan langkah kakinya. Arga melangkah maju dengan wajah datar, berdiri tepat di depan Fatan sebelum pria itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan
"Selamat, Tuan Arga! Bayinya laki-laki, sangat sehat dan tampan!" seru dokter spesialis kandungan dengan senyuman lebar, membawa tubuh mungil yang basah itu ke atas dada hangat Alya. Tangisan kencang bayi laki-laki itu terdengar di seluruh sudut ruang bersalin Rumah Sakit Sentosa. Hingga ketegangan yang sejak tadi menyelimuti ruangan seketika lenyap. Oekk ...! Oekk ...! Oekk ...! Alya terkulai lemas di atas ranjang bersalin dengan napas tersengal-sengal. Pelipis dan rambutnya basah oleh keringat, namun bibirnya yang pucat menyunggingkan senyuman paling bahagia saat merasakan kehangatan tubuh mungil sang buah hati menempel di dadanya. "Anak kita, Putra ... anak kita sudah lahir ..." bisik Alya parau, air mata haru menetes pelan dari sudut matanya. Arga yang masih berdiri di samping kepala Alya membeku seketika. Pria yang terkenal dingin, tegas, dan tak pernah gentar menghadapi bahaya apa pun di dunia militer maupun bisnis itu kini merasakan tubuhnya gemetar. Dadanya bergemuru
"Pendarahan berhasil dihentikan. Beruntung luka tusuk di lengannya tidak mengenai pembuluh darah utama, namun ia kehilangan cukup banyak darah," ujar dokter residen bedah yang menangani Fatan. Dokter itu baru saja keluar dari pintu ruang penanganan UGD Rumah Sakit Sentosa.Dina yang berdiri menyandar di dinding lorong langsung menegakkan tubuhnya, sementara Alya mengembuskan napas lega. Arga merangkul bahu Alya pelan, lalu menatap dokter muda itu. "Bagaimana dengan kondisi kesadarannya sekarang?" "Pasien sudah sadar, Tuan. Hanya saja kondisinya masih sangat lemah dan perlu istirahat total. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan," jawab sang dokter sebelum berlalu kembali ke dalam. Arga menoleh ke arah istrinya yang tampak sangat pucat. "Alya, kamu tunggu di ruang tunggu saja bersama perawat. Jangan berdiri terus, kamu bisa kelelahan." "Aku tidak apa-apa, Putra. Aku hanya ingin memastikan Dina bisa menemani Fatan," balas Alya lembut, tersenyum kecil menenangkan suaminya.
Fatan tidak memberikan jawaban sepatah kata pun. Matanya menatap nyalang bagaikan singa kelaparan. Tanpa memberi kesempatan lawan untuk bersiap, Fatan melompat menerjang maju dengan kecepatan kilat! Bugh! Sebuah tendangan memutar yang sangat keras menghantam dada pria berpisau itu hingga terpental menabrak meja kaca sampai hancur berkeping-keping. Dua pria lainnya berusaha mengeroyok dari sisi kiri dan kanan, namun Fatan dengan lincah menepis pukulan mereka, mengunci lengan salah satu pengeroyok, lalu membantingnya keras-keras ke lantai semen. Baku hantam sengit terjadi di ruang tamu yang sempit itu. Meski Fatan berhasil menumbangkan dua pengeroyok hingga pingsan tak berdaya, pimpinan preman yang terluka mendadak bangkit kembali dan menyambar sebuah pecahan kaca tajam di lantai.Dengan sisa tenaganya, pria itu menerjang beringas ke arah Karina yang terikat di sudut ruangan. "Karina, awas!" teriak Fatan refleks melompat pasang badan melindungi Karina. Sret--! Ujung pecaha
“Kakak punya utang ke Juragan Surya? Sejak kapan?” Rudi lanjut bertanya. “Kenapa nggak bilang?“Rud, nanti dulu,” balas Dina. “Kak Alya berdarah. Kita obati dulu dia.”Alya diajak ke ruang keluarga, tempat kotak obat disimpan. Sempat ia menoleh ke arah Putra dan menyuruh pria itu agar berbaring dan
“Geledah rumahnya! Bawa semua barang yang berharga!”Tangan kanan Juragan Surya memberikan instruksi, yang langsung diikuti seruan dari para anak buahnya, tampak girang karena bisa mengacak-acak kediaman Alya.Sementara itu, Putra diam di tempat persembunyiannya. Sesuai janji, ia tidak boleh membia
“Udah berapa hari ini, Hen? Apa masih belum ada kabar dari perempuan sial itu!?”Di kediamannya, Bu Dianti sedang mengomel tepat ketika beliau melihat Hendra keluar kamar untuk makan. Sudah lebih dari tiga hari berlalu sejak keributan di klinik, tapi Bu Dianti tidak mendapatkan kabar apa-apa soal p
Hendra mencoba melangkah masuk, tapi Alya langsung menghadang tubuh pria itu. “Kamu mau apa?” tanya Alya dingin. “Siapa di dalam?” “Nggak ada siapa-siapa. Tolong pergi.” “Nggak! Aku yakin aku dengar sesuatu dari dalam. Kamu ada tamu sepagi ini?” “Ya, mantan tunanganku yang sekarang sedang mem












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak