Share

Bab 4

Penulis: KarenW
Sudut Pandang Arumi.

Sudah dua hari aku dirawat di rumah sakit.

Untungnya, peluru itu nggak kena organ vital.

Nggak masuk terlalu dalam juga.

Setelah beberapa jahitan, obat pereda nyeri, aku pun diizinkan pulang untuk istirahat.

Aku tunda panggil perusahaan yang bantu aku pindahan dan putuskan untuk tinggal beberapa hari lagi.

Pagi ini, aku meringkuk di sofa, baca buku di ruang tamu, ketika sebuah ketukan keras mengguncang pintu depan.

Aku buka pintu dan di teras ada Nathan dan Rudi berdiri di sana.

“Arumi!” bentak Nathan. “Apa kamu tahu betapa malunya aku waktu di pesta ibuku?! Aku bilang ke semua orang, terutama ibuku kalau kamu akan datang, lalu kamu hilang begitu saja. Apa itu caramu hukum aku karena biarkan Ayu ikut dengan aku?”

Rudi ikut bicara, suaranya penuh cemoohan.

“Khas Arumi. Putri Danastri kita. Begitu terobsesi pada diri sendiri sampai sakit hati kalau lihat orang lain dapat perhatian. Berita terbaru, aku juga nggak suka orang egois.”

Nggak satu pun dari mereka perhatikan perban di bahuku.

Tapi aku capek untuk tetap diam.

“Aku ditembak, Nathan. Kalau kamu benar-benar peduli ke aku, mungkin kamu akan sadar kalau mobil kedua sedang diikuti. Dan Rudi, komentarmu sudah basi. Buta dan sombong nggak lebih baik daripada egois,” kataku datar.

Mereka berdua membeku.

Wajah Nathan memucat.

“Apa? Kamu … kamu ditembak? Kenapa kamu nggak telepon aku?”

Ia melangkah mendekat, tangannya terulur ke arah perbanku seolah ia masih punya hak sentuh aku.

Wajah Rudi memerah malu.

“Sial … aku minta maaf. Aku nggak tahu. Kamu seharusnya bilang ke kami. Aku benar-benar nggak tahu .…”

Aku berbalik dan kembali ke sofa, nggak berkata apa pun.

Mereka nggak pergi.

Sepanjang hari itu, Nathan dan Rudi ikuti aku seperti bayangan.

Nathan terus bawakan air dan buah yang sudah dikupas, tanya apa aku kedinginan, kepanasan, atau kesakitan.

Rudi mondar-mandir di dapur, telepon koki dan atur makan malam.

“Arumi, airnya terlalu dingin nggak? Aku bisa hangatkan,” kata Nathan.

“Arumi, kokinya sedang dalam perjalanan. Mau masakan Indo atau Barat?” tambah Rudi.

Aku nggak jawab mereka berdua.

Karena kenyataannya, mereka bahkan nggak sadar aku hilang selama dua hari penuh.

Dan sekarang mereka di sini, tebus rasa bersalah dengan makanan dan perhatian, bertingkah seolah nggak pernah terjadi apa-apa?

Padahal sesuatu memang terjadi, aku hampir terbunuh dua kali.

Dan sekarang, apa pun yang mereka lakukan nggak akan pernah buat aku pandang mereka dengan cara yang sama lagi.

Sejujurnya, semua yang mereka lakukan sekarang rasanya lebih mirip kebisingan, beban berat yang nggak ingin kupikul lagi.

“Kalian berdua bisa pergi sekarang. Aku bukan Ayu, aku nggak butuh dua pria berputar di sekitarku, seolah aku akan hancur kalau nggak ada kalian,” kataku tenang.

“Arumi, jangan kayak gini .…” Nathan berlutut.

Aku bahkan nggak lirik dia.

Rudi maju, mengernyit.

“Aku tahu akhir-akhir ini aku bukan sahabat terbaik. Tapi kamu harus akui, kamu terlalu keras ke Ayu. Aku cuma belain dia.”

Aku tertawa.

“Keras ke dia? Mata yang mana yang lihat aku sentuh dia, Rudi? Semua yang kamu ‘tahu’ selalu datang dari mulut orang lain. Kalau kita bicara soal penyerangan, biarkan aku diseret oleh geng musuh keluargaku dan cuma nonton dalam diam? Itu baru namanya penyerangan.”

Ruangan itu jadi sunyi.

Nathan palingkan wajahnya.

Rudi katupkan rahang, tapi nggak balas sepatah kata pun.

Namun mereka tetap nggak mau pergi.

Mereka berdiri lama seperti hantu, taruh teh di meja, rapikan bantal, ikuti aku dengan mata mereka setiap kali aku sekadar berdiri dari sofa.

Gimanapun, Rudi telah panggil koki dari restoran berbintang Michelin.

Makanannya lezat.

Dan aku nggak berniat hukum diri sendiri dengan lewatkan makan enak, jadi aku nikmati saja.

Aku baru saja selesaikan hidangan penutup ketika bel pintu berbunyi lagi.

Aku nggak perlu nebak.

Hanya ada satu kemungkinan.

“Hai, Arumi.” Suara Ayu terdengar saat pintu terbuka, terlalu manis, terlalu tepat waktu.

“Aku harap aku nggak ganggu. Nathan kabarin aku katanya kamu terluka. Jadi aku mampir untuk jenguk kamu. Arumi, gimana kondisimu?” katanya sambil duduk.

“Tadinya baik, tapi begitu lihat kamu, jadi nggak baik.”

Ia tertawa kecil canggung.

“Aku sebenarnya nggak berniat datang. Aku tahu kamu mungkin nggak ingin ketemu aku ….”

“Jangan bilang gitu.” Nathan menyela lembut, sudah berdiri di sisinya.

“Nggak ada dari kami yang akan nolak kamu. Arumi cuma bercanda.”

“Iya, nggak usah konyol,” tambah Rudi.

Aku nggak berkata apa-apa, hanya menatap Ayu.

Ia menatap balik.

Aku angkat alis.

Ayu nggak menghindar.

Dia pasti tahu aku sudah bisa lihat jelas sekarang, setiap air mata buaya, setiap kepolosan pura-pura.

Namun dia tetap kedipkan mata bonekanya dan berkata lembut, “Rasanya aku cuma sedang sedikit emosional. Besok adalah hari peringatan kematian orang tuaku. Aku nggak ingin sendirian.”

Rudi langsung bereaksi, tepuk punggungnya seolah dia terbuat dari kaca.

Nathan berdiri dan mendekat.

“Kamu nggak sendirian, Ayu. Malam ini tinggal di sini saja, biar kita berempat sama-sama,” katanya lembut.

Ayu menatapnya. “Beneran boleh?”

Nathan tersenyum. “Tentu saja.”

Lalu Nathan menoleh padaku, alisnya berkerut, isyarat diam agar aku setuju.

Aku tetap diam, abaikan dia.

Ketegangan meninggi. Dan tepat sebelum pecah, bel pintu berbunyi lagi.

Ini nggak biasa.

Aku jarang dapat tamu sebanyak ini dalam seminggu, apalagi dalam satu malam.

Rudi yang buka pintunya. Sesaat kemudian ia kembali bawa sebuah kotak yang besar dan elegan.

“Baru saja dikirim. Untuk kamu, Arumi,” katanya.

Ia letakkan itu di meja.

Aku buka itu tanpa pikir panjang.

Di dalamnya ada gaun pengantin renda perak.

Lembut. Indah. Di bawahnya terbaring sebuah kalung berlian yang berkilau.

Di atas semuanya, ada sebuah kartu kecil dengan tulisan tangan rapi dan maskulin:

[Kamu kelihatan cantik dalam warna perak.

Simon Marzuki]

Napasku tertahan.

Perak.

Gaun yang aku pakai waktu malam aku diselamatkan.

Pria itu yang tarik aku dari mobil hancur, yang berkata aku aman sekarang.

Mungkinkah ....

Mungkinkah dia tunangan yang belum pernah aku temui?

Kebetulan banget?

Nathan membungkuk, suaranya waspada.

“Ini gaun pengantin?”

Rudi mendekat.

“Kenapa seseorang kirimin kamu gaun pengantin?”

Aku angkat gaun itu dan menempelkannya ke tubuhku, lalu tersenyum samar.

“Yah pasti untuk sebuah pernikahan.”

Mereka berdua menatapku.

“Pernikahan?” ulang mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, Nathan kehilangan kendali.

Ia cengkeram pergelangan tanganku, paksa aku menatapnya.

“Pernikahan apa? Kamu ngomong apa, Arumi?” desaknya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 10

    Sudut Pandang Arumi.Hidup di Rowana rasanya begitu nikmat.Ayah mulai serahkan sebagian bisnis ke aku, terutama divisi kasino. Lebih dari sekali ia ingatkan aku, “Aku nikahkan kamu dengan Simon bukan karena anggap kamu sebagai alat tukar bisnis. Aku nikahkan kamu dengan dia karena aku tahu dia orang yang tepat. Dan kalau kamu akan hidup bersama pria seperti Simon, kamu juga harus sama kuatnya.”Aku setuju banget dengan ucapan ayah.Jadi aku ambil kendali. Di bawah kepemimpinanku kasino-kasino berkembang pesat. Simon nggak pernah sekalipun suruh aku melambat atau pilih jalan yang lebih mudah. Ia percaya ke aku.Sama seperti aku percaya ke diriku sendiri.Pagi ini, saat aku bangun dari tempat tidur, aku baru sadar sesuatu, aku belum buka hadiah pernikahan.Aku dan Simon langsung pergi bulan madu setelah upacara pernikahan selesai. Setelah itu aku tenggelam dalam pekerjaan. Kotak-kotak hadiah itu hanya tertumpuk begitu saja.Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan tempat para staf

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 9

    Sudut Pandang Nathan.Setelah kami diusir oleh Arumi dan keluarganya, aku dan Rudi tetap nggak tinggalkan Rowana.Kami putuskan untuk tinggal, setidaknya sampai hari pernikahannya.Pada hari kesepuluh di sini, kami ketemu dengan Simon. Tunangan Arumi.Aku ragu itu kebetulan.Desas-desus bilang kalau setengah dari Itahera itu punya Simon.“Jadi kamu Nathan Mulin,” katanya dengan tatapannya tenang namun menilai.Rudi yang berdiri di sampingku melangkah maju.“Rudi Safwan. Sahabat Arumi sejak kecil.”Simon jabat tangannya dengan sopan, lalu kembali pusatkan perhatian penuh ke aku.“Aku sudah baca sedikit tentang kalian berdua.”Senyumnya ramah, tapi nggak tulus sampai ke matanya.“Dan aku akan sangat hargain kalau kalian menjauh dari Arumi. Dia mungkin kelihatannya kuat, tapi aku perhatikan … setiap kali ketemu kalian, dia selalu kelihatan gelisah.”“Kamu ….” Rudi mulai bicara, tapi aku angkat tangan hentikan dia.“Simon, hubunganku dengan Arumi bukan urusanmu. Kami sudah saling kenal sel

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 8

    Sudut Pandang Arumi.Sejak tiba di Rowana, aku belum ketemu lagi dengan Simon.Sebenarnya bagus juga, karena aku sendiri belum yakin gimana perasaanku kalau harus lihat dia lagi.Yang aku tahu cuma satu: sebagian dari diriku merasa sangat berutang budi ke dia.Kalau nggak karena dia, aku nggak akan berada di sini, hidup dan masih bisa bernapas.“Arumi! Ada tamu penting buat kamu!” Suara Ibu terdengar dari ujung lorong.Pikiranku langsung kembali ke masa kini.Langkah kaki bergema di lantai marmer.Kurang dari sepuluh detik kemudian, pria dari malam itu melangkah masuk.Simon Marzuki.Setelan rapi yang sama. Langkah percaya diri yang sama. Dan senyum itu .…“Nona Danastri,” sapanya sambil hampiri dan kasih aku buket bunga yang ada di lengannya.Mawar merah muda. Favoritku.“Panggil aku Arumi saja,” kataku sambil tersenyum.Ia balas senyum itu dengan manis.“Oke, Arumi.”“Simon, sini duduk dulu.” Ibu berkata sambil masuk ke ruangan, ramah dan hangat.Aku menangkap gimana tatapannya berla

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 7

    Sudut Pandang Nathan.Pintu tiba-tiba terbuka.“Kenapa? Apa yang terjadi?” Rudi menerobos masuk, matanya berpindah dari Ayu yang tergeletak di lantai ke arahku.Ia bergerak hendak tolong Ayu untuk bangkit berdiri, tapi Ayu tepis tangannya.“Oh, nggak perlu.”Rudi menegang. Ia menatapku, keraguan berkilat di matanya.“Nathan?”Ayu berdiri, rapikan gaunnya seolah nggak terjadi apa pun.“Kami cuma sedang ngobrol senang banget akhirnya Arumi pergi. Yah nggak, Rudi?” katanya ringan.“Apa? Ayu, jangan bicara kayak gitu tentang Arumi. Aku tahu dia kejam ke kamu, tapi itu nggak berarti dia nggak ….” kata Rudi sambil kerutkan kening.“Dua orang munafik,” potong Ayu dengan seringai sinis.Sesuatu di dadaku mengencang.“Ayu, apa benar yang Arumi bilang kapan lalu? Kalau kamu jatuh sendiri lalu nyalahkan dia?” kataku perlahan.Untuk pertama kalinya, Ayu menatapku tanpa kelembutan atau topeng apa pun.“Menurutmu gimana?” tanyanya.Aku berdiri, melangkah ke arahnya, dan berhenti hanya beberapa inci

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 6

    Sudut Pandang Nathan.Sudah tiga hari sejak Arumi tinggalkan kota ini.Awalnya, aku dan Rudi tetap tinggal di vila-nya dan nggak mau pergi. Sebagian dari diriku masih berharap Arumi bohong, dia nggak benar-benar akan pindah ke belahan dunia lain dan nikahi seseorang yang belum pernah ia temui.Namun kemarin, pemilik baru vila itu datang, pastikan kecurigaan kami. Arumi nggak melebih-lebihkan saat bilang kalau ia mau jual vila itu.Keluarganya telah miliki vila itu hampir satu abad. Aku hanya bisa bayangkan ia jual Vila itu karena ia memang nggak punya niatan untuk kembali, setidaknya nggak untuk menetap.Setiap detik, kecemasan di dadaku semakin besar. Rudi juga rasakan itu. Nggak satu pun dari kami pernah benar-benar bayangkan hidup tanpa Arumi.Kami telah bersama begitu lama, sejak kecil selalu bertiga. Bahkan sebelum aku sadar aku cinta dia. Kami seperti sebuah keluarga.“Hey, Nathan, gimana kabarmu?” Rudi masuk saat aku tuangkan segelas wiski lagi.Itu botol keempatku.Semakin bany

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 5

    Sudut Pandang Arumi.Aku menunduk menatap tangan Nathan yang cengkeram pergelangan tanganku.Lalu aku menatap wajahnya.“Lepaskan, Nathan.”Dia nggak mau lepaskan tanganku.“Pernikahan apa? Jangan-jangan kamu beneran mau nikah dengan orang lain?” tanyanya lagi, rahangnya mengeras.Aku tarik tanganku.“Iya, emang.”“Kamu bohong. Ini pasti cuma salah satu permainanmu, Arumi. Aku nggak tahu kenapa kamu selalu buat Nathan dan aku merasa bersalah,” kata Rudi di belakangnya.Lalu ia menoleh ke Nathan.“Tenang saja. Dia nggak akan benar-benar lakukan itu.”Aku menatapnya.“Aku sudah lakukan itu. Dokumen pertunangannya sudah ditandatangani. Pernikahannya di Itahera. Beberapa minggu lagi.”Nathan menatapku seolah nggak ngerti kata-kataku.“Emang siapa dia?”Aku nggak jawab.“Siapa dia, Arumi?!” bentaknya.Pria yang biasanya selalu tenang kini tampak hancur.Aku raih kartu di dalam kotak dan sentuh itu dengan ujung jariku.“Namanya Simon Marzuki.”Rudi berkedip.“Tunggu, Simon dari Itahera? Gima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status