MasukPerjanjian antar keluarga memaksa tunangan aku, Marvin Kurniawan, untuk menikah dengan aku. Orang tuaku telah meninggal. Sementara dia tergila-gila dengan Irma Fasnitan, putri dari musuh keluarga kami. Pada akhirnya, Marvin menelan seluruh kekaisaran keluargaku dan membuang aku ke dalam bahaya. Ia memamerkan Irma di sisinya, seolah wanita itu adalah trofi atas kemenangan yang berhasil diraihnya. Dua puluh tahun kemudian, aku berada di ambang kematian. Putra kami sendiri, anak aku dan Marvin yang menggenggam racun itu. Dia berkata aku tidak berguna, dan ayahnya butuh kekuatan keluarganya Irma. Lalu saat membuka mata lagi, aku sudah hidup kembali. Kembali ke hari sumpah pernikahan aku. Kali ini, untuk menyelamatkan keluargaku, aku tidak akan menandatangani namaku di perjanjian itu. Aku menandatangani namanya, Irma Fasnitan. Sedangkan aku? Aku membawa lari seluruh harta warisan yang ditinggalkan orang tuaku dan menghilang. Kali ini, aku tidak akan menjadi orang bodoh yang sekarat demi pria yang tak pernah menjadi milikku.
Lihat lebih banyak「おめでとう、妊娠してる!……双子だよ!一条くん、きっと驚くね!」
専属医の三上先生の言葉が何度も頭の中で復唱されている。
「信じられない!嘘?本当に私のお腹に子どもが?しかも二人も!?」
嬉しいというよりも頭の中が真っ白だ。結婚して三年。妊活に励み子どもを授かることを待ちわびていた。ずっと、ずっと待ち望んでいた瞬間が今日、いきなり二倍になってやってきた。
病院からの帰り道、窓の景色を眺めながら私は夫の瑛斗に報告する場面を何度も想像した。彼のくしゃっと笑った顔。少し照れたような心の底から嬉しそうな顔。早くその顔が見たかった。
長年仕えている運転手が私の変化に気づき話しかけてきた。
「華お嬢様、何か良いことでもあったのですか?さきほどからとても幸せそうなお顔で微笑んでいらっしゃいますね。」
「ええ、とっても素敵で幸せなことがあったの。」
夫の一条瑛斗は、一条グループの若きCEO。切れ長の瞳、通った鼻筋、そしていつも自信に満ちた佇まい。初めて見た時、私はその完璧なまでのルックスに息を呑んだ。瑛斗のことを高校の時からずっと好きで初恋の人だった。
神宮寺家の令嬢である私は、父や祖父が決めた相手と結婚をしなくてはいけなかった。いわゆる「政略結婚」だ。家のために自分の気持ちとは関係なく結婚することは絶望的な未来に思えた。しかし、運命は残酷なだけではなかった。
お見合いの席で、一条家の御曹司として瑛斗が現れた時は信じられなくて言葉を失った。まさか初恋の相手が夫になるなんて想像もしていなかった。その夜、喜びと幸せで胸がいっぱいになり興奮して眠れなかった。こうして私たちは夫婦になった。
あれから三年。瑛斗は社長に就任して多忙な毎日を送っているが、私は初恋の相手瑛斗の妻になれたことに幸せを感じながら毎日を過ごしている。
(念願の妊娠だもん。こんな嬉しいニュースは直接伝えて瑛斗の喜ぶ顔が見たい)
病院を出てすぐに電話で報告しようと思ったが直接伝えることにした。
病院から帰ってきてすぐに瑛斗が好きなラザニアを作って帰りを待つことにした。もちろんソースは一から手作りだ。料理長の作るご飯も美味しいが、こんな特別な日は自分で作って瑛斗を喜ばせたかった。
(どんな顔をするだろう。どんな言葉をくれるだろう。)
ソースを煮込みながら、彼の喜ぶ姿とこれから始まる家族4人の生活を想像しながら彼の帰りを待っていた。出来立てを食べて欲しくて帰りが何時になるか連絡したが返事は来ない。ソファで待っているうちにうたた寝をしてしまい、車のエンジン音で目を覚ました時には既に22時を過ぎていた。
瑛斗を出迎えるため慌てて玄関へ向かう。
「おかえりなさい」
「ただいま。」
「なんだか疲れているみたいだけど大丈夫?」
「ああ。……話があるんだ。少しいいかな」
いつもより冷たく沈んだ声で瑛斗が静かに言った。疲れ切った様子の瑛斗だが、大人の男の色香をまとい、疲れた顔さえも魅力的だった。3年たった今でも瑛斗と目が合うとドキドキして胸が高鳴る。
表情がどこか硬い瑛斗の後ろを歩きリビングへ入った。
(仕事で疲れているのかもしれない。でも妊娠のことが分かったら気持ちも変わるかも!)
「先にご飯にする?今日ね、話をしたいことがあって瑛斗の好きなラザニアを作って待っていたんだ。」
「……そうやって機嫌でも取っているつもりなのか。」
「え……?」
瑛斗の言葉に耳を疑った。普段はそんなことを言う人ではない。頭の回転が早く、いつも冷静で落ち着いて、人が不快に思うような台詞は今まで一度も言ったことがないので信じられなかった。
「瑛斗、仕事で何か嫌なことや問題でもあったの?何か疲れている?私に出来ることがあるなら……」
ソファに座る瑛斗に近寄り、膝をついて手を重ねると怪訝そうな顔をしてすぐさま振り払った。
「触るな。もう放っておいてくれ。それよりここにサインをしてくれないか?」
彼は深くため息をついた後、鞄から一枚の白い封筒を取り出した。
何の書類か分からず受け取ったがタイトルを見た瞬間、頭の中が真っ白になった。
(なにこれ……)
【離婚協議書】 彼から渡された書類にはこう記されてあった。
Pagi hari Natal, aku bangun dengan suara ombak yang lembut.Cahaya matahari menembus jendela besar, menyebar hangat dan menenangkan.Ini adalah hari Natal paling tenang yang aku miliki selama bertahun-tahun.Tidak ada politik keluarga, tidak ada sapaan palsu. Hanya kedamaian yang murni.Aku melangkah ke teras dan menemukan sarapan cantik yang sudah tersaji di meja.Stroberi yang segar, roti yang hangat, dan seteko kopi yang harum.“Selamat pagi, Nona Sara.”Pelayan rumah, Ani, wanita yang berasal dari Negara Isni yang anggun berusia lima puluhan, menghampiri aku.“Pak Daniel minta kami menyiapkan sarapan untuk Anda.”“Di mana dia?” tanya aku.“Sedang menangani urusan mendesak,” jawab Ani dengan tersenyum. “Dia bilang tidak ingin mengganggu Anda. Katanya, biarkan Anda tidur lebih lama.”Kehangatan merambat di dada aku.Marvin di kehidupan sebelumnya tidak pernah mempertimbangkan perasaan aku. Dia akan membangunkan aku di tengah malam yang katanya demi “bisnis keluarga.”Daniel sebalikny
Setelah Marvin pergi, aku bersandar pada pintu, lelah yang kurasakan tidak seperti sebelumnya.Sesaat, ketika dia berlutut, hati aku hampir luluh.Namun seketika aku teringat rasa sakit di kehidupan sebelumnya, tatapan dinginnya saat dia menyerahkan racun kepada aku, dan semua rasa iba itu lenyap.Beberapa luka… memang tidak akan pernah bisa dimaafkan.Keesokan harinya, aku membuat keputusan.“Kelen, pesan tiket pesawat ke Kota Perni untuk aku,” kataku kepada asisten aku. “Aku butuh liburan.”“Segera, Bos. Kapan Anda ingin berangkat?”“Sesegera mungkin.”Aku harus meninggalkan Kota Lesalos untuk sementara.Kehadiran Marvin telah meracuni udara di sekitar aku.Aku ingin melupakannya dengan keliling di lorong-lorong Museum Lesanan. Berdiri di depan karya seni yang dulu pernah menyelamatkan aku. Menghirup udara yang tidak lagi tercemar oleh ingatannya.Dua jam kemudian, Kelen kembali dengan berita buruk.“Bos, ini aneh,” katanya sambil mengerutkan alis. “Semua penerbangan jet pribadi ke B
“Nona Sara, majalah Seni Mingguan ingin membuat konten cerita tentang Anda.”Minggu itu menjelang Natal, dan galeri aku menjadi pusat perhatian dunia seni Kota Lesalos.Dalam waktu empat bulan saja, Galeri Rebian telah mencatat penjualan senilai tiga ratus miliar rupiah.Aku akhirnya dapat membuktikan diriku. Aku bisa lebih dari sekadar bertahan tanpa Marvin Kurniawan. Aku bisa hidup lebih baik.“Katakan pada mereka aku ada waktu minggu depan,” kataku pada Kelen.Saat aku sedang menata dekorasi untuk pameran Natal, Kelen berlari menghampiri aku. Wajahnya pucat.“Bos, kabar buruk,” katanya dengan terburu-buru. “Marvin Kurniawan tiba di Kota Lesalos kemarin.”Ornamen kristal di tangan aku hampir terjatuh.“Apa?”“Dia dan istrinya yang sedang hamil sudah memasuki di Hotel Kota Bahana,” lanjut Kelen. “Kabarnya, keluarganya Marvin sedang menghadapi masalah besar di Kota Cessana.”Jantung aku berdetak kencang.Marvin ada di Kota Lesalos? Bersama Irma?“Masalah apa?” tanya aku dengan pelan.K
“Para tamu yang terhormat, lelang malam ini akan segera dimulai.”Aku berada di lelang seni bergaya formal yang diadakan di ruang aula megah, ruangan yang terbesar di Kota Lesalos.Sambil menyesap sedikit sampanye, aku berbaur dengan para tamu.Sebagai pemilik galeri baru, membangun jaringan adalah hal yang wajib aku lakukan.“Nona Sara, apa pendapat Anda tentang lukisan Pikaso malam ini?” tanya Wiardi Megan, seorang kolektor besar.“Karya master, tentunya,” jawab aku sambil mengamati lukisan itu. “Tapi aku lebih tertarik pada yang di sebelah…”“Astaga, itu Sara Rusadi?”Suara tajam memotong percakapan kami.Aku menoleh. Irma Fasnitan berjalan ke arah aku dengan mengenakan gaun sutra berwarna emas tanpa punggung.Perutnya yang mulai membesar terlihat jelas di balik kain halus itu. Setidaknya sudah empat bulan hamil.Beberapa sosialita dari Kota Cessana mengikutinya, mata mereka berkilat haus akan drama.“Irma.” Aku mengangguk kepala dengan dingin. “Selamat atas kehamilan kamu.”Irma de






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan