Share

Bab 3

Penulis: KarenW
Sudut Pandang Arumi.

Aku nggak jawab.

Nathan menghela napas keras, nadanya melunak.

“Kalau ini tentang Ayu dan penyergapan itu aku ngerti. Aku dan Rudi memang salah. Kami seharusnya ada di sisimu. Tapi, Arumi …. coba pikir. Kamu punya orang tuamu, kan? Kamu juga punya kami. Tapi Ayu nggak punya siapa-siapa. Kami harus lindungi dia.”

Ia melangkah lebih dekat.

“Dan tentang ulang tahunnya, coba pikir berapa banyak orang yang lihat. Kalau aku nggak paksa kamu minta maaf, menurutmu apa yang akan mereka pikirkan? Kamu tahu sendiri kan betapa pentingnya reputasi di dunia kita.”

Tetap saja, aku diam.

Suara Nathan kembali merendah, nyaris membujuk.

“Ayo, Arumi. Kamu yang paling aku cinta. Kamu juga yang aku mau nikahi. Sementara Ayu? Dia akan selalu jadi orang luar. Kita yang akan jadi keluarga.”

Hening sejenak.

“Gimana kalau gini, besok malam ikut aku ke pesta ibuku? Aku punya kejutan untuk kamu.”

Aku ragu.

Iya, ibu Nathan selalu baik ke aku, perlakukan aku seperti putrinya bahkan sebelum Nathan dan aku resmi pacaran. Dan sekarang aku akan tinggalkan kota ini selamanya, setidaknya aku harus pamitan dengan layak dan kasih penjelasan.

“Oke,” kataku pelan.

Wajah Nathan langsung berbinar.

Mungkin ia kira jawabanku sebagai tanda maaf.

Ia bahkan nggak lagi terlihat marah soal foto-foto yang hancur di tempat sampah.

“Aku sendiri yang akan jemput kamu,” katanya sambil tersenyum, lalu condongkan tubuh untuk cium aku, seolah nggak ada yang berubah.

Aku palingkan wajah tepat waktu, dan bibirnya hanya sentuh udara.

...

Aku nggak berniat mengesankan siapa pun malam ini, jadi aku pakai gaun perak sederhana dan sedikit riasan.

[Aku sudah sampai. Keluar kalau sudah siap.] bunyi pesan Nathan.

Aku pun melangkah keluar, menuju kursi penumpang mobil pertama yang ada di bagian depan.

Namun Nathan hentikan aku, ekspresinya kaku, canggung.

Aku mengernyit.

Lalu suara Ayu terdengar dari dalam mobil.

“Arumi!”

Aku membeku.

Ayu sudah duduk di mobil bagian depan.

Aku menatap Nathan, suaraku tertahan di antara nggak percaya dan lelah.

“Kenapa lagi ini?”

Kalau dia sudah sama Ayu, ngapain dia jemput aku?

Apa aku harus kembali jadi badut?

Nathan mendekat, suaranya rendah.

“Kamu tahu belakangan ini Ayu tinggal di vila-ku. Sebenarnya malam ini aku nggak berniat bawa dia. Tapi dia lihat aku siap-siap, jadi .…”

Tentu saja Nathan yang berhati lembut nggak bisa nolak Ayu yang lemah dan menyedihkan.

Dan sekarang Ayu duduk di mobil depan, seolah dialah tamu yang sengaja Nathan pilih.

Rudi sembulkan kepala dari jendela.

“Aku nggak mau duduk dengan ratu jahat. Taruh dia di mobil kedua saja, Nathan.”

Nathan ragu sejenak, lalu nunjuk ke mobil di belakang.

“Cuma dua puluh menit. Tenang aja, nggak akan kenapa-napa.”

Ia menatapku.

“Tolonglah.”

Mobil kedua lebih tua, sedikit kusam.

Tapi aku nggak ragu. Aku langsung jalan masuk ke sana.

Sudah terlambat panggil sopirku sendiri, dan Nathan benar, cuma dua puluh menit.

Emang apa yang bisa terjadi?

Sepuluh menit kemudian, aku tahu betapa salahnya aku.

Sebuah mobil hitam telah cukup lama ikuti kami.

Awalnya aku kira itu cuma perasaanku.

Namun di setiap lampu merah, setiap belokan, mobil itu tetap melekat di belakang mobil kedua seperti bayangan.

Sopir kami hendak melintasi persimpangan ketika lampu berubah merah, jadi ia berhenti.

Mobil Nathan sudah lebih dulu lewati zebra cross.

Aku raih HP-ku, ingin minta dia tungguin, tetap dekat, untuk jaga-jaga.

Namun Nathan nggak jawab.

Saat itulah mobil hitam itu menepi di samping kami.

Seorang pria turunkan kaca jendela belakang.

Aku lihat topeng, lalu kilatan senjata.

Sebelum aku sempat gerak, tembakan meledak.

Sopirku terkulai ke depan, darah merekah di kemejanya.

Dan mobil Nathan? Terus melaju.

Nggak nge-rem. Nggak putar balik. Nggak ragu-ragu. Langsung pergi.

Aku ambil HP-ku dengan tangan gemetar, napasku tercekat.

Aku belum sempat tekan nomor saat tembakan lain memecah udara.

Aku refleks nunduk, tapi peluru tetap tembus bahuku, menyayat tepat di bawah tulang selangka.

Seketika rasanya membutakan, panas membara langsung buat aku nggak bisa napas.

Saat aku pikir inilah akhirnya, aku dengar suara teriakan, benturan, suara perkelahian.

Lalu … sunyi.

Sesaat kemudian, gagang pintu mobilku ditarik terbuka.

Cahaya menyelinap masuk.

“Tolong, jangan sakiti aku!”

“Sekarang sudah aman.”

Seorang pria berdiri di sana, siluetnya diterangi lampu jalan.

Ia ulurkan tangan.

“Kamu terluka nggak? Penyerangnya sudah dibereskan. Kamu aman.”

Aku ragu, masih meringkuk di bawah kursi.

Namun saat aku raih tangannya, sentuhannya hangat dan kuat.

Ia pun tarik aku keluar dengan lembut.

Aku kedipkan mata lawan cahaya, dan saat itulah aku lihat dia dengan jelas, rahang tegas, rambut disisir ke belakang, setelan hitam yang pas sempurna.

Mata itu coklat dan tajam, tapi entah kenapa terasa akrab.

“Makasih .…” gumamku sambil lirik tubuh nggak bernyawa di tanah.

Pistol masih tergenggam di tangan yang lemas.

Jika pria ini nggak muncul, hari ini aku akan mati di dalam mobil itu.

“Apa kita pernah ketemu?” tanyaku ragu.

Ada sesuatu tentang dirinya, sesuatu yang rasanya familiar.

Aku pernah lihat dia. Aku yakin.

Namun setiap kali aku coba ingat, rasa sakit menusuk kepalaku, tajam dan menyilaukan.

“Makasih sudah selamatkan aku. Aku Arumi Danastri. Kamu siapa?” tanyaku lagi.

Ia tersenyum samar dan menggeleng.

“Sekarang nggak penting. Ayo kita ke rumah sakit dulu.”

Dengar itu, semua rasa kembali sekaligus.

Adrenalin menguap dari tubuhku, dan rasa sakit menyerbu, panas dan bau amis muncul dari bahuku seperti api.

Aku pun terhuyung. Ia menangkapku.

“Aku sudah pegangin kamu,” katanya pelan.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 10

    Sudut Pandang Arumi.Hidup di Rowana rasanya begitu nikmat.Ayah mulai serahkan sebagian bisnis ke aku, terutama divisi kasino. Lebih dari sekali ia ingatkan aku, “Aku nikahkan kamu dengan Simon bukan karena anggap kamu sebagai alat tukar bisnis. Aku nikahkan kamu dengan dia karena aku tahu dia orang yang tepat. Dan kalau kamu akan hidup bersama pria seperti Simon, kamu juga harus sama kuatnya.”Aku setuju banget dengan ucapan ayah.Jadi aku ambil kendali. Di bawah kepemimpinanku kasino-kasino berkembang pesat. Simon nggak pernah sekalipun suruh aku melambat atau pilih jalan yang lebih mudah. Ia percaya ke aku.Sama seperti aku percaya ke diriku sendiri.Pagi ini, saat aku bangun dari tempat tidur, aku baru sadar sesuatu, aku belum buka hadiah pernikahan.Aku dan Simon langsung pergi bulan madu setelah upacara pernikahan selesai. Setelah itu aku tenggelam dalam pekerjaan. Kotak-kotak hadiah itu hanya tertumpuk begitu saja.Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan tempat para staf

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 9

    Sudut Pandang Nathan.Setelah kami diusir oleh Arumi dan keluarganya, aku dan Rudi tetap nggak tinggalkan Rowana.Kami putuskan untuk tinggal, setidaknya sampai hari pernikahannya.Pada hari kesepuluh di sini, kami ketemu dengan Simon. Tunangan Arumi.Aku ragu itu kebetulan.Desas-desus bilang kalau setengah dari Itahera itu punya Simon.“Jadi kamu Nathan Mulin,” katanya dengan tatapannya tenang namun menilai.Rudi yang berdiri di sampingku melangkah maju.“Rudi Safwan. Sahabat Arumi sejak kecil.”Simon jabat tangannya dengan sopan, lalu kembali pusatkan perhatian penuh ke aku.“Aku sudah baca sedikit tentang kalian berdua.”Senyumnya ramah, tapi nggak tulus sampai ke matanya.“Dan aku akan sangat hargain kalau kalian menjauh dari Arumi. Dia mungkin kelihatannya kuat, tapi aku perhatikan … setiap kali ketemu kalian, dia selalu kelihatan gelisah.”“Kamu ….” Rudi mulai bicara, tapi aku angkat tangan hentikan dia.“Simon, hubunganku dengan Arumi bukan urusanmu. Kami sudah saling kenal sel

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 8

    Sudut Pandang Arumi.Sejak tiba di Rowana, aku belum ketemu lagi dengan Simon.Sebenarnya bagus juga, karena aku sendiri belum yakin gimana perasaanku kalau harus lihat dia lagi.Yang aku tahu cuma satu: sebagian dari diriku merasa sangat berutang budi ke dia.Kalau nggak karena dia, aku nggak akan berada di sini, hidup dan masih bisa bernapas.“Arumi! Ada tamu penting buat kamu!” Suara Ibu terdengar dari ujung lorong.Pikiranku langsung kembali ke masa kini.Langkah kaki bergema di lantai marmer.Kurang dari sepuluh detik kemudian, pria dari malam itu melangkah masuk.Simon Marzuki.Setelan rapi yang sama. Langkah percaya diri yang sama. Dan senyum itu .…“Nona Danastri,” sapanya sambil hampiri dan kasih aku buket bunga yang ada di lengannya.Mawar merah muda. Favoritku.“Panggil aku Arumi saja,” kataku sambil tersenyum.Ia balas senyum itu dengan manis.“Oke, Arumi.”“Simon, sini duduk dulu.” Ibu berkata sambil masuk ke ruangan, ramah dan hangat.Aku menangkap gimana tatapannya berla

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 7

    Sudut Pandang Nathan.Pintu tiba-tiba terbuka.“Kenapa? Apa yang terjadi?” Rudi menerobos masuk, matanya berpindah dari Ayu yang tergeletak di lantai ke arahku.Ia bergerak hendak tolong Ayu untuk bangkit berdiri, tapi Ayu tepis tangannya.“Oh, nggak perlu.”Rudi menegang. Ia menatapku, keraguan berkilat di matanya.“Nathan?”Ayu berdiri, rapikan gaunnya seolah nggak terjadi apa pun.“Kami cuma sedang ngobrol senang banget akhirnya Arumi pergi. Yah nggak, Rudi?” katanya ringan.“Apa? Ayu, jangan bicara kayak gitu tentang Arumi. Aku tahu dia kejam ke kamu, tapi itu nggak berarti dia nggak ….” kata Rudi sambil kerutkan kening.“Dua orang munafik,” potong Ayu dengan seringai sinis.Sesuatu di dadaku mengencang.“Ayu, apa benar yang Arumi bilang kapan lalu? Kalau kamu jatuh sendiri lalu nyalahkan dia?” kataku perlahan.Untuk pertama kalinya, Ayu menatapku tanpa kelembutan atau topeng apa pun.“Menurutmu gimana?” tanyanya.Aku berdiri, melangkah ke arahnya, dan berhenti hanya beberapa inci

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 6

    Sudut Pandang Nathan.Sudah tiga hari sejak Arumi tinggalkan kota ini.Awalnya, aku dan Rudi tetap tinggal di vila-nya dan nggak mau pergi. Sebagian dari diriku masih berharap Arumi bohong, dia nggak benar-benar akan pindah ke belahan dunia lain dan nikahi seseorang yang belum pernah ia temui.Namun kemarin, pemilik baru vila itu datang, pastikan kecurigaan kami. Arumi nggak melebih-lebihkan saat bilang kalau ia mau jual vila itu.Keluarganya telah miliki vila itu hampir satu abad. Aku hanya bisa bayangkan ia jual Vila itu karena ia memang nggak punya niatan untuk kembali, setidaknya nggak untuk menetap.Setiap detik, kecemasan di dadaku semakin besar. Rudi juga rasakan itu. Nggak satu pun dari kami pernah benar-benar bayangkan hidup tanpa Arumi.Kami telah bersama begitu lama, sejak kecil selalu bertiga. Bahkan sebelum aku sadar aku cinta dia. Kami seperti sebuah keluarga.“Hey, Nathan, gimana kabarmu?” Rudi masuk saat aku tuangkan segelas wiski lagi.Itu botol keempatku.Semakin bany

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 5

    Sudut Pandang Arumi.Aku menunduk menatap tangan Nathan yang cengkeram pergelangan tanganku.Lalu aku menatap wajahnya.“Lepaskan, Nathan.”Dia nggak mau lepaskan tanganku.“Pernikahan apa? Jangan-jangan kamu beneran mau nikah dengan orang lain?” tanyanya lagi, rahangnya mengeras.Aku tarik tanganku.“Iya, emang.”“Kamu bohong. Ini pasti cuma salah satu permainanmu, Arumi. Aku nggak tahu kenapa kamu selalu buat Nathan dan aku merasa bersalah,” kata Rudi di belakangnya.Lalu ia menoleh ke Nathan.“Tenang saja. Dia nggak akan benar-benar lakukan itu.”Aku menatapnya.“Aku sudah lakukan itu. Dokumen pertunangannya sudah ditandatangani. Pernikahannya di Itahera. Beberapa minggu lagi.”Nathan menatapku seolah nggak ngerti kata-kataku.“Emang siapa dia?”Aku nggak jawab.“Siapa dia, Arumi?!” bentaknya.Pria yang biasanya selalu tenang kini tampak hancur.Aku raih kartu di dalam kotak dan sentuh itu dengan ujung jariku.“Namanya Simon Marzuki.”Rudi berkedip.“Tunggu, Simon dari Itahera? Gima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status