FAZER LOGINSaat aku hamil tiga bulan, teman masa kecil suamiku, Nathan Carl yang juga seorang ketua mafia, kembali. Semua orang berkata, kalau saja Yelita Phil tidak tiba-tiba pergi tiga tahun lalu, aku tidak mungkin menjadi istri Nathan. Kini, Yelita telah kembali. Aku harus menyingkir dan memberi tempat untuknya. Jelas, Nathan juga berpikir begitu. Ia membiarkan Yelita berkali-kali menyakitiku, bahkan anakku pun menjadi korban saksi dari cinta mereka. Akhirnya aku benar-benar putus asa. Aku memutuskan untuk pergi dan mengakhiri segalanya dengan Nathan. Namun saat aku benar-benar menghilang dari hadapannya, Nathan justru seperti orang gila, mencariku ke seluruh penjuru dunia.
Ver mais"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui.
Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore.
Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya.
Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah.
Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap.
Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat.
Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… Iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan.
Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika.
Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Setelah itu, Nathan masih beberapa kali meneleponku dengan nomor yang berbeda, tapi semuanya sudah aku blokir.Namun Kaden akan memberi tahuku kabar Nathan.Dia bilang, Nathan sebenarnya berniat datang ke Velona untuk mencariku. Tapi karena identitasnya yang sensitif, urusan bepergian ke luar negeri menjadi cukup rumit.Namun saat dia akhirnya berhasil mengatasi berbagai rintangan dan bersiap datang mencariku, musuh lamanya malah muncul.Ternyata, Nathan dulu menyiksa Yelita sampai hidupnya sengsara. Setelah Yelita berhasil melarikan diri, dengan penuh kebencian terhadap Nathan, dia kemudian bergabung dengan Keluarga Kurt, musuh besar Nathan dan memberikan mereka banyak informasi rahasia milik Keluarga Carl.Begitu pemimpin Keluarga Kurt mendapatkan semua informasi rahasia itu, mereka langsung melancarkan serangan besar terhadap bisnis Keluarga Carl. Akibatnya, Keluarga Carl mengalami kerugian besar dan hampir hancur total."Dalam pertempuran terakhir, Nathan terluka parah, bahkan sat
Saat ini aku sedang berjemur di pantai Velona.Pemandangan di sini sangat indah. Aku belum pernah melihat laut sebelumnya, dan ketika pertama kali melihatnya, aku langsung jatuh cinta.Awalnya, kehilangan anak membuat hatiku sangat hancur. Tapi sejak datang ke sini, semuanya terasa jauh lebih lega.Pelatih bersiap membawaku menyelam, tapi ponselku terus berdering tanpa henti.Begitu kulihat nama di layar, aku langsung tahu, Nathan sudah menemukan nomor baruku.Dia juga pasti sudah melihat surat perceraian itu, dan tahu kalau anak kami telah tiada.Aku tak ingin mengangkatnya, jadi panggilannya kuputus.Tapi Nathan tidak menyerah, telepon terus berdatangan, satu demi satu.Pelatih mendesakku, "Sepertinya teleponnya penting, kamu angkat dulu saja. Kami tunggu kamu sebelum turun ke air."Aku menarik napas dalam-dalam.Kupikir, mungkin ada beberapa hal yang memang harus diucapkan untuk mengakhirinya sepenuhnya, jadi aku menjawab panggilannya."Halo?""Sania! Akhirnya kamu mau angkat telepo
"Kenapa kau tidak melakukan operasi padanya? Kenapa kau membiarkan dia keguguran!"Nathan tiba-tiba mencekik leher Dokter Axel. Matanya merah, wajahnya penuh amarah seperti orang gila.Dokter Axel yang dicekik lehernya langsung memerah, napas tersengal-sengal. Dengan susah payah ia berusaha menjelaskan, "Kamu yang bilang padaku kalau dia penipu, suruh aku tidak mengurusnya! Kalau aku tahu itu istrimu, biar nyawaku melayang pun aku takkan membiarkannya begitu saja!""Siapa yang suruh kau mengabaikannya?! Dia itu istriku!"Nathan berteriak hingga suaranya serak, wajahnya mengerikan."Itu… itu asistenmu yang bilang begitu! Aku meneleponmu saat itu, dia yang angkat!"Dokter Axel buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan riwayat panggilan.Melihat itu, Nathan langsung paham segalanya. Ia menoleh dengan tatapan tajam yang menusuk ke arah Yelita. Aura tekanan yang mengerikan memancar dari tubuhnya.Yelita sudah ketakutan setengah mati. Saat kedua pria itu berdebat, ia diam-diam mengamb
Begitu melihat Nathan, Yelita segera meloncat turun dari ranjang dan berlari ke arahnya."Kak Nathan, kamu datang!"Nathan menatapnya dari atas sampai bawah, matanya menyipit."Bukankah kamu katanya kecelakaan?""Iya!" Yelita manyun sambil menunjuk plester kecil di dahinya."Lihat nih, nggak kelihatan ya? Kepalaku kebentur, sakit sekali loh."Nathan melirik plester kecil di keningnya, lalu menoleh ke arah dokter yang berdiri di samping dengan ekspresi serba salah.Saat itu barulah dia sadar, dirinya dipermainkan."Kenapa membohongiku?""Apa bohong? Aku beneran kecelakaan kok! Nih, aku sampai luka!"Yelita baru sadar ada yang aneh dari sikap Nathan hari ini.Kalau dulu, begitu tahu dia terluka, pria itu pasti langsung panik dan berlari mencarinya.Hari ini, bahkan sampai harus menyuruh dokter berbohong agar bisa memancingnya datang."Katanya kau pingsan dan tak sadar diri? Katanya luka parah? Ternyata cuma lecet sedikit, dan kau suruh aku datang hanya karena itu?Nada suara Nathan dingi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações