Mag-log inPada malam ketika geng musuh keluargaku menyerbu pesta dansa, aku dijadikan sandera. Pacarku, Nathan, dan sahabat terdekatku, Rudi, berdiri cuma beberapa langkah dari aku. Namun mereka malah pilih lindungi sepupuku, Ayu. Beberapa jam kemudian aku diselamatkan oleh seorang pria misterius dalam keadaan memar, gemetar, dan seolah telah dilupakan. Nggak ada seorang pun yang tanya ke aku apa yang telah terjadi. Nathan cuma bilang, “Ayu ketakutan. Dia lebih butuh kami.” Beberapa hari kemudian, Ayu undang aku ke pesta ulang tahunnya. Aku datang demi sopan santun, cuma untuk saksikan dia jadikan aku penjahat dalam kisah versinya sendiri. Nathan dan Rudi berdiri di sisinya lindungi dia lagi. Malam itu, aku pun ucapkan “Oke” pada perjodohan yang telah disiapkan keluargaku sejak bertahun-tahun lalu. Saat aku tinggalkan kota, Nathan akhirnya kirim pesan, marah, terluka, tersinggung. [Kamu beneran pergi?] Aku balas hanya dengan satu kalimat: [Silakan datang ke acara pernikahanku.]
view more東都総合病院、救命救急センター。
ロビーの蛍光灯が、目に痛いほど白かった。額には乾いた血がこびりつき、袖口からのぞく腕には青黒いあざが広がっている。
高速道路のトンネル崩落事故に巻き込まれ、閉じ込められてから丸3日。ようやく救助され、応急処置を受けたところだった。
視界はかすみ、耳鳴りがやまない。それでも、頭に浮かぶのはたった1人の顔だけだった。
コンクリートの下敷きになりながら、ひび割れたスマートフォンで夫にかけた、最後の電話。
『紗希、救助隊が行くから。バッテリー、無駄にするなよ。切るぞ』
佐伯直人。
夫と交わした会話は、それきりだった。何度かけ直しても、もうつながらなかった。
地中30メートル。暗闇と粉じんに埋もれた、コンクリートの墓場。
冷たい地下水と泥水をすすって、72時間をしのいだ。血まみれの指で石をかき、息を1つつなぐことだけに必死だった。
あの地獄で生きることを諦めなかった理由は、ただ1つ。
青春も、稼いだお金も、何もかも捧げてきた夫のもとへ帰りたかった。
ただ、それだけだった。
「佐伯さん! まだ検査も治療も終わっていません。まずはベッドに戻ってください!」
顔色を変えた看護師が、私の腕をつかんだ。
私は震える指で、ロビーの案内カウンターを指した。
「夫に……夫に連絡させてください。佐伯直人です。きっと外で、私を待っているはずだから……」
かすれた声を聞いた看護師の表情が、妙にこわばった。
その視線が、壁に設置された大型モニターへ流れる。
事故関係者向けの案内画面だった。隣接する葬祭会館の案内に切り替わった、その赤い文字に、私の目は吸い寄せられた。
【第1特別式場 故・佐伯紗希様】
【出棺 明朝8時】 【喪主 夫・佐伯直人】心臓が、すとんと落ちた。
白い菊に縁取られた、見覚えのある証明写真。
モノクロに加工された私の顔が、画面の真ん中にあった。
「ねえ、あれ……あの患者さんと同じ名前じゃない?」
「トンネル事故で行方不明になった人でしょ? 遺体も見つかっていないのに、ご主人がお通夜を始めたって……」 「じゃあ、生きて帰ってきたの? もう葬式までしてるのに?」患者の付き添いや病院職員のざわめきが、一斉に耳へ押し寄せた。
私の名前が掲げられた、葬儀の案内。
私が地中30メートルの暗闇で、息を切らしながら救助を待っていたとき。
夫は、私の葬式を出していた。
捜索が終わる前に、私を死人にしていたのだ。
夫に電話をかけようと差し出した手が、そのまま固まった。
冷たい地面を離れ、病院までたどり着いたというのに、背筋を悪寒が這い上がる。涙は、1滴も出なかった。
6年付き合って、結婚して2年。
結婚前に3,000万円で買った、私名義のマンション。昼も夜も働いて資金をつくり、立ち上げてやった夫の貿易会社。
私が差し出してきたものへの答えが、目の前にあった。
「佐伯さん、どこへ行くんですか! 今は動いちゃ駄目です。待ってください!」
看護師の声を背に、私は手の甲の点滴針を引き抜いた。
血が大理石の床に落ちる。それでも、痛みは遠かった。
案内係が差し出してくれた黒いロングコートを、血のついた病衣の上から羽織る。手の甲はティッシュで押さえた。
「事故の被害者と家族を支援している弁護士さん、いらっしゃいますよね。その方に連絡してください」
看護師が私を見つめる。
「生きて帰ってきた人間の葬式を、夫が挙げているって」
背後で名前を確認する声を聞きながら、エレベーターに乗り込んだ。
鏡に映った顔は、幽霊のように白い。
なのに、目だけは妙に冴えていた。
葬祭会館へ続く、地下連絡通路の階。
そのボタンを強く押す。
扉が閉まる瞬間、乾いた唇から笑いが漏れた。
ねえ、直人。
そんなに急いで私の葬式を出してくれたのなら。
私が、じきじきに弔問してあげる。
Sudut Pandang Arumi.Hidup di Rowana rasanya begitu nikmat.Ayah mulai serahkan sebagian bisnis ke aku, terutama divisi kasino. Lebih dari sekali ia ingatkan aku, “Aku nikahkan kamu dengan Simon bukan karena anggap kamu sebagai alat tukar bisnis. Aku nikahkan kamu dengan dia karena aku tahu dia orang yang tepat. Dan kalau kamu akan hidup bersama pria seperti Simon, kamu juga harus sama kuatnya.”Aku setuju banget dengan ucapan ayah.Jadi aku ambil kendali. Di bawah kepemimpinanku kasino-kasino berkembang pesat. Simon nggak pernah sekalipun suruh aku melambat atau pilih jalan yang lebih mudah. Ia percaya ke aku.Sama seperti aku percaya ke diriku sendiri.Pagi ini, saat aku bangun dari tempat tidur, aku baru sadar sesuatu, aku belum buka hadiah pernikahan.Aku dan Simon langsung pergi bulan madu setelah upacara pernikahan selesai. Setelah itu aku tenggelam dalam pekerjaan. Kotak-kotak hadiah itu hanya tertumpuk begitu saja.Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan tempat para staf
Sudut Pandang Nathan.Setelah kami diusir oleh Arumi dan keluarganya, aku dan Rudi tetap nggak tinggalkan Rowana.Kami putuskan untuk tinggal, setidaknya sampai hari pernikahannya.Pada hari kesepuluh di sini, kami ketemu dengan Simon. Tunangan Arumi.Aku ragu itu kebetulan.Desas-desus bilang kalau setengah dari Itahera itu punya Simon.“Jadi kamu Nathan Mulin,” katanya dengan tatapannya tenang namun menilai.Rudi yang berdiri di sampingku melangkah maju.“Rudi Safwan. Sahabat Arumi sejak kecil.”Simon jabat tangannya dengan sopan, lalu kembali pusatkan perhatian penuh ke aku.“Aku sudah baca sedikit tentang kalian berdua.”Senyumnya ramah, tapi nggak tulus sampai ke matanya.“Dan aku akan sangat hargain kalau kalian menjauh dari Arumi. Dia mungkin kelihatannya kuat, tapi aku perhatikan … setiap kali ketemu kalian, dia selalu kelihatan gelisah.”“Kamu ….” Rudi mulai bicara, tapi aku angkat tangan hentikan dia.“Simon, hubunganku dengan Arumi bukan urusanmu. Kami sudah saling kenal sel
Sudut Pandang Arumi.Sejak tiba di Rowana, aku belum ketemu lagi dengan Simon.Sebenarnya bagus juga, karena aku sendiri belum yakin gimana perasaanku kalau harus lihat dia lagi.Yang aku tahu cuma satu: sebagian dari diriku merasa sangat berutang budi ke dia.Kalau nggak karena dia, aku nggak akan berada di sini, hidup dan masih bisa bernapas.“Arumi! Ada tamu penting buat kamu!” Suara Ibu terdengar dari ujung lorong.Pikiranku langsung kembali ke masa kini.Langkah kaki bergema di lantai marmer.Kurang dari sepuluh detik kemudian, pria dari malam itu melangkah masuk.Simon Marzuki.Setelan rapi yang sama. Langkah percaya diri yang sama. Dan senyum itu .…“Nona Danastri,” sapanya sambil hampiri dan kasih aku buket bunga yang ada di lengannya.Mawar merah muda. Favoritku.“Panggil aku Arumi saja,” kataku sambil tersenyum.Ia balas senyum itu dengan manis.“Oke, Arumi.”“Simon, sini duduk dulu.” Ibu berkata sambil masuk ke ruangan, ramah dan hangat.Aku menangkap gimana tatapannya berla
Sudut Pandang Nathan.Pintu tiba-tiba terbuka.“Kenapa? Apa yang terjadi?” Rudi menerobos masuk, matanya berpindah dari Ayu yang tergeletak di lantai ke arahku.Ia bergerak hendak tolong Ayu untuk bangkit berdiri, tapi Ayu tepis tangannya.“Oh, nggak perlu.”Rudi menegang. Ia menatapku, keraguan berkilat di matanya.“Nathan?”Ayu berdiri, rapikan gaunnya seolah nggak terjadi apa pun.“Kami cuma sedang ngobrol senang banget akhirnya Arumi pergi. Yah nggak, Rudi?” katanya ringan.“Apa? Ayu, jangan bicara kayak gitu tentang Arumi. Aku tahu dia kejam ke kamu, tapi itu nggak berarti dia nggak ….” kata Rudi sambil kerutkan kening.“Dua orang munafik,” potong Ayu dengan seringai sinis.Sesuatu di dadaku mengencang.“Ayu, apa benar yang Arumi bilang kapan lalu? Kalau kamu jatuh sendiri lalu nyalahkan dia?” kataku perlahan.Untuk pertama kalinya, Ayu menatapku tanpa kelembutan atau topeng apa pun.“Menurutmu gimana?” tanyanya.Aku berdiri, melangkah ke arahnya, dan berhenti hanya beberapa inci
Sudut Pandang Arumi.Sudah dua hari aku dirawat di rumah sakit.Untungnya, peluru itu nggak kena organ vital.Nggak masuk terlalu dalam juga.Setelah beberapa jahitan, obat pereda nyeri, aku pun diizinkan pulang untuk istirahat.Aku tunda panggil perusahaan yang bantu aku pindahan dan putuskan untuk
Sudut Pandang Arumi.Aku nggak jawab.Nathan menghela napas keras, nadanya melunak.“Kalau ini tentang Ayu dan penyergapan itu aku ngerti. Aku dan Rudi memang salah. Kami seharusnya ada di sisimu. Tapi, Arumi …. coba pikir. Kamu punya orang tuamu, kan? Kamu juga punya kami. Tapi Ayu nggak punya siap
Sudut Pandang Arumi.Rasanya hatiku nggak hancur lagi, tapi langsung berubah jadi abu di dalam dadaku.Aku menatap mata Nathan.“Kukira kamu paham diriku. Aku akan minta maaf kalau aku memang salah. Tapi Ayu?”Aku meliriknya, masih terkulai dalam pelukan Rudi, tampak terkejut dan rapuh.“Aku nggak a
Sudut Pandang Arumi.Aku disergap oleh geng musuh keluargaku saat sebuah pesta berlangsung.Di tengah kekacauan itu, aku lihat Nathan Mulin pacarku selama lima tahun dan Rudi Safwan, sahabatku sejak kecil, lari menuju sepupuku, Ayu Zahira.Aku lihat mereka lindungi dia, tutupin dia dengan tubuh mere












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu