Compartir

Bab 19. Notifikasi

Autor: Any Anthika
last update Fecha de publicación: 2026-09-26 16:30:41
"Maka dari itu," lanjut Pak Handoko sambil tersenyum tipis, "hari ini, di hadapan para tamu terhormat, aku menantang para pewaris Baskoro."

"Maaf, Pak Handoko. Pewaris sah keluarga Baskoro itu hanya satu orang," potong Pak Robert cepat. Dia melirik Jeremy agar anak sulungnya itu maju ke depan. Namun, ucapan Pak Handoko menghentikan langkah kaki Jeremy.

"Aku nggak peduli siapa saja pewaris sah, tapi jaringan bisnis besar kota ini akan mengadakan kompetisi secara terbuka."

Jeremy berdiri teg
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 85. Terbuka

    Setelah Gavin meminta timnya untuk mencari tahu tentang nomor tak dikenal itu, tak lama kemudian, ponsel Erika kembali bergetar. Satu pesan baru masuk dari nomor yang sama. Ya, si peneror itu lagi. 'Hati-hati, Gavin. Kadang-kadang orang yang paling kamu lindungi justru orang yang paling banyak nyimpan rahasia darimu.' Gavin menatap layar tanpa berkedip. "Dasar pengecut," gumamnya. Dia mengunci ponsel, lalu berbalik menghadap Erika. "Erika, aku mau kamu cerita semuanya." Gadis itu menunduk. Kedua tangannya saling meremas. "Semua tentang apa, Gavin?" "Jangan buat aku menebak-nebak. Apa yang sebenarnya terjadi sampai orang ini terus menerormu? Kalau kamu ingin aku membantumu, maka kita harus saling terbuka." Erika terdiam. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa semakin sesak. Dia tahu, cepat atau lambat, rahasia itu harus keluar. Namun, membayangkan Gavin mengetahui semuanya membuatnya ketakutan. Bukan karena dia tidak ingin suaminya tahu. Melainkan karena dia takut kehilan

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 84. Mencari Celah

    Pling! Sebuah pesan masuk ke inbox Erika. Dengan wajah tegang, gadis itu meraih ponselnya. Gavin masih berdiri di pinggir balcony sambil tetap menatap ke arah pintu gerbang dan pos satpam. Pikirannya melayang entah ke mana. Dengan tangan gemetar, Erika menggenggam ponselnya di tangannya. Sebuah pesan baru muncul dari nomor tak dikenal. Nomor yang sudah menerornya selama beberapa hari ini. 'Kamu sudah bicara dengan Papamu kan? Sekarang, tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.' Erika membeku. Dia perlahan mengangkat wajah dan menatap Gavin yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Lalu dia kembali melihat layar do depannya. Jari-jarinya yang gemetar mengetik satu kalimat yang ada di benaknya. 'Berhenti kirim pesan ke aku kalau kamu hanya ancam aku. Dasar pengecut.' Pesan itu terkirim, lalu balasannya datang secepat kilat. 'Siapa bilang aku ancam? Aku hanya nunjukin bukti yang ada kok. Dan kamu sendiri tahu kalau utu benar adanya.' Erika menatap punggung Gavin. Me

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 83. Lawan yang Salah

    Gavin menghela napas pelan. "Aku enggak akan maksa kamu cerita. Tapi kalau ada sesuatu yang terjadi, kamu bisa bilang sama aku." Erika mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, dia hampir membuka mulutnya dan menceritakan semuanya pada Gavin. Namun, keraguan kembali menyelimutinya. 'Tidak! Ini belum saatnya' pikir Erika galau. Namun, ada satu hal yang Erika belum ketahui yaitu Gavin sudah membaca semua pesan dan melihat foto-foto senonoh dari si peneror itu kemarinmalam. Sebagai seorang suami, dia tetap ingin menjaga nama baik istrinya. Ya, wanita yang baru dia nikahi beberapa hari yang lalu. "Apa si peneror masih ngirim SMS dan foto ke kamu?" tanya Gavin hati-hati.Walaupun dia sudah melihat beberapa foto bugil Erika. Namun, dia yakin, bahwa masih banyak foto-foto lainnya yang dipegang oleh si peneror. Erika hampir menyodorkan ponselnya kepada Gavin. Dia ingin menunjukkan foto itu, pesan-pesan ancaman, dan semua hal yang membuatnya takut. Sayangnya, ka

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 82. Selera atau Tidak Selera

    "Periksa semuanya. Aku ingin tahu siapa yang merekomendasikannya.""Siap, Tuan.""Periksa juga siapa yang setujui perekrutannya, dan apa dia pernah bekerja di tempat lain sebelum datang ke sini." "Baik, Tuan. Akan saya periksa saat ini juga." "Jangan hubungi orang itu terlebih dahulu. Anggap aja kita nggak tahu apa-apa." Kepala keamanan tampak terkejut. "Tuan ingin kami awasi gerak geriknya?" "Ya. Aku ingin tahu apa yang dia lakukan sebelum dia sadar bahwa kita sedang awasi dia." "Dimengerti, Tuan. Akan saya sampaikan pada penjaga yang lain. "Jangan! Jangan semuanya. Pilih beberapa orang saja biar infonya nggak menyebar ke mana-mana." Gavin menyerahkan kembali daftar staf tersebut pada Kepala Keamanan "Dan ingat, jangan mengambil tindakan apa pun tanpa persetujuan dariku" Kepala keamanan mengangguk, lalu berjalan menuju pintu. Namun, sebelum dia keluar, Gavin memanggilnya kembali. "Satu hal lagi." "Ya, Tuan?" "Apakah ada staf yang pernah bekerja untuk kelua

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 81. Daftar Staf

    Mobil Gavin perlahan mulai bergerak meninggalkan halaman toko peralatan lukis. Di dalam mobil, Erika menyandarkan tubuhnya pada jok mobil yang nyaman sambil melirik ke arah suaminya. "Gavin?" "Hm?" "Kamu tadi benar-benar percaya sama ucapan mereka?" Gavin tidak langsung menjawab. Dia hanya melirik Erika sekilas, kemudian kembali memperhatikan jalan. "Menurutmu?" Erika menyipitkan mata. "Aku sedang bertanya." Gavin tersenyum tipis. "Kalau aku percaya begitu saja pada omongan orang lain tentang istriku, untuk apa aku nikahi kamu?" Erika terdiam sesaat, lalu tersenyum. Namun, Gavin belum tahu bahwa ada sesuatu yang sedang menunggu mereka. Sesuatu yang sengaja disiapkan untuk menghancurkan kepercayaan di antara mereka. Dan kali ini, permainan Jeremy mungkin jauh lebih berbahaya daripada sekadar adu mulut di sebuah toko perlengkapan melukis. "Sampai rumah, aku harus kerja sebentar di ruang kerjaku." Erika duduk gelisah, dia paham kalau Gavin harus bekerja untuk m

  • Aku Menikahi Pewaris yang Mereka Buang   Bab 80. Mesin Cuci

    Jeremy tersenyum kaku mendengar sindiran tajam dari Gavin. "Kami hanya ingin menjaga nama baik keluarga. Biar bagaimanapun, kamu itu adikku satu-satunya, dan Erika sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga besar Baskoro." Gavin mengangguk pelan. "Menjaga nama baik keluarga katamu?" "Ya. Itu tujuan kami dari tadi. Kamu aja yang nggak mau dengar, keras kepala dan percaya Erika seratus persen." "Hmm, menarik." Gavin terdiam sesaat seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. "Lalu, menurut kalian, apakah cara terbaik menjaga nama baik keluarga adalah dengan berdiri di depan umum dan menghina seorang perempuan yang kebetulan sedang berbelanja?" Jeremy terdiam, merasa terjebak dalam perangkapnya sendiri. Namun, Sofia buru-buru menyela. "Kami nggak menghina dia! Kami hanya sampaikan apa yang kami lihat. Kalau Erika memang nggak lakuin kesalahan, kenapa dia harus tersinggung coba?" Gavin terkekeh pendek. 'Sungguh lucu manusia-manusia zaman sekarang,' pikirnya. "Jadi, kalau seseorang

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status