LOGIN"'Kau masih bisa membatalkan pernikahan ini,' bisik Erika. Gavin hanya menggenggam tangannya. Saat seluruh ruangan menertawakan pasangan itu, tak seorang pun tahu siapa yang akan menjadi pihak pertama yang menyesal.
View More"Mama benar-benar bahagia kita bisa berkumpul seperti ini," ujar Leona Fernando, Ibu angkat Erika, sembari melangkah anggun menuju meja saji, tempat nampan hotel diletakkan.
"Rasanya baru kemarin Mama membawamu ke rumah, Erika. Sekarang, kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik." Erika tersenyum tulus, sepasang netranya berbinar haru. "Terima kasih, Ma. Aku juga nggak pernah menyangka Mama akan merencanakan liburan seindah ini untuk kita bertiga." Suasana di kamar presidential suite salah satu hotel bintang lima di pinggir kota terasa begitu hangat. Setidaknya, itulah yang dirasakan Erika. Leona tiba-tiba mengajak Erika untuk berlibur, sebuah gestur langka yang meluluhkan hati Erika dan membuat kewaspadaannya goyah. Di dalam kamar yang mewah itu, tawa manis Sofia, anak kandung keluarga Fernando dan pelukan hangat Leona terasa begitu nyata, membasuh bertahun-tahun rasa asing yang dipendam Erika di sudut hatinya. "Tentu saja, Kak," sahut Sofia dengan nada riang yang dibuat-buat, menghampiri Erika lalu menggelayut manja di lengannya. "Tidak lama lagi, aku akan segera menikah dan membina rumah tangga sendiri. Sebelum hari itu tiba, Mama ingin kita menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga. Iya kan, Ma?" Leona mengangguk pelan sambil mengusap rambut Sofia dengan penuh kasih sayang, lalu menoleh ke arah Erika dengan binar mata yang tulus. "Benar, Sayang. Mama ingin menciptakan kenangan manis yang nggak akan pernah kalian lupakan seumur hidup." Wanita itu membalikkan tubuhnya, mengambil dua gelas tinggi dari atas nampan. "Nah, minumlah, Erika. Mama sengaja memesan jus alpukat ini langsung dari kafe bawah sesuai kesukaanmu. Masih segar lho." "Wah, Mama repot-repot sekali," ujar Erika sambil menerima gelas itu dengan kedua tangannya. Rasa hangat menjalar di dadanya, mengira bahwa dinding es di antara dirinya dan ibu angkatnya telah runtuh sepenuhnya. "Bagaimana dengan jus milik Sofia?" "Oh, ngggk usah khawatir, Mama sudah pesan jus stroberi kesukaanku, Kak! Ayo, kita bersulang untuk kebahagiaan keluarga kita!" Sofia mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dengan tawa renyah. Erika tersenyum tulus. Dia selalu tahu posisinya di dalam keluarga Fernando tidak pernah benar-benar setara. Statusnya sebagai anak angkat adalah sekat tak kasat mata yang memisahkannya dari Sofia, putri kandung mereka. Namun, hubungan asmaranya dengan Jeremy, sang pewaris utama keluarga Baskoro, membuat Erika merasa memiliki dunia—sesuatu yang menyulut api cemburu di dada Sofia. Sofia mendambakan Jeremy, dan Leona tidak akan membiarkan anak angkatnya melangkah lebih tinggi dari putri kesayangannya. "Untuk masa depan kita yang cerah," tambah Leona, tersenyum begitu manis hingga kerutan di sudut matanya tampak seperti guratan kasih seorang ibu sejati. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Erika mengangkat gelasnya, menyentuhkannya pelan ke gelas Sofia, lalu meminum jus alpukat kental itu. Rasa manis buah memenuhi indra pengecapnya, menutup rapat semua pegalaman pahit dan perlakukan kasar Ibu Leona dan Sofia selama ini. Hanya butuh waktu lima belas menit sampai dunia Erika mulai berputar. "Erika, kamu kenapa? Wajahmu merah sekali," tanya Sofia. Nadanya pura-pura cemas, tapi binar di matanya terlihat bersemangat. Erika mencoba menjawab, tapi entah kenapa, lidahnya mendadak kelu dan kaku. "M-Ma ... kepalaku mendadak ..." "Oh, benarkah? Mungkin kamu hanya kelelahan, Sayang," ujar Leona. Kali ini tidak ada lagi kehangatan dalam suaranya. Nada bicaranya terdengar datar dan dingin, membuat bulu kuduk Erika meremang seketika. Tubuh Erika mendadak diserang rasa panas yang membakar dari dalam, seolah ada sesuatu yang menjalar di setiap pembuluh darahnya, menuntut pelepasan yang tak dia pahami. Jantungnya berdetak cepat, menghantam rongga dada dengan liar hingga Erika kesulitan meraup oksigen. Pandangannya mengabur dengan cepat, memecah bayangan Leona dan Sofia menjadi berputar-putar. "Kamu nggak apa-apa kan, Kak?" Suara Sofia semakin samar. Erika mencengkeram pinggiran meja kayu, mencoba menahan tubuhnya agar tidak tumbang. Melalui pandangannya yang kian menggelap, dia melihat pemandangan yang mengerikan. Leona dan Sofia berdiri berdampingan, menyilangkan dada, sambil menatapnya dengan senyum cemooh yang mengerikan. Tidak ada lagi ibu yang penyayang, tidak ada lagi adik yang manja. Yang ada hanyalah dua manusia licik dan kejam yang baru saja berhasil menjebaknya. "Ma ... Sofia ... apa yang terjadi denganku?" Erika merintih, suaranya parau tak bertenaga. Dia tidak pernah tahu bahwa beberapa menit lalu, saat staf hotel mengantarkan nampan berisi minuman ke depan pintu, Leona sendiri yang menerimanya dengan dalih tidak ingin diganggu. Kemudian, di saat Erika sedang lengah di balik bilik kamar mandi untuk mencuci muka, tangan terampil Leona telah merobek sebuah bungkusan kertas kecil dari balik saku gaun beludrunya, lalu mencampurkan sesuatu ke dalam jus milik anak angkatnya itu. Cairan hijau segar itu menyamarkan serbuk terlarang itu dengan sempurna. "T-tolong aku, Ma, Sofia …" "Tolong?" Sofia terkekeh, sebuah tawa dingin yang tak lagi menyembunyikan kebusukan hatinya. "Kasihan sekali kamu, Erika. Kamu benar-benar bodoh dan naif. Kamu pikir Mama benar-benar sudi menghabiskan uang untuk mengajak anak pungut sepertimu berlibur di tempat mewah ini?" Leona melangkah maju, menatap Erika dengan pandangan menjijikkan, seolah-olah gadis yang sedang sekarat di hadapannya itu hanyalah seonggok barang tak berguna. "Kamu sudah terlalu lama bermimpi tinggi, Erika. Menjadi kekasih Jeremy? Menjadi nyonya besar di keluarga Baskoro? Langkahmu sudah terlalu jauh melangkahi putriku. Sudah saatnya kamu dikembalikan ke tempat asalmu, di lumpur yang hina dan berbau busuk." "Kenapa ..." Erika merosot ke lantai kamar yang dingin, air mata keputusasaan meleleh di pipinya yang memerah panas. Rasa sakit akibat pengkhianatan itu jauh lebih menyiksa daripada serbuk jahanam yang membakar tubuhnya. Orang yang selama ini dia hormati, keluarga yang dia kira akhirnya menerimanya, ternyata hanyalah dalang dari sebuah kepalsuan yang sempurna. "Kenapa katamu? Karena Jeremy hanya pantas bersanding denganku, bukan dengan wanita pembawa sial sepertimu!" desis Sofia kejam, wajah cantiknya kini dipenhui oleh dengki. "Setelah malam ini, Jeremy bahkan tidak akan sudi melihat selembar rambutmu lagi." Rasa pusing yang teramat sangat akhirnya menghantam pertahanan terakhir Erika. Kegelapan pekat bergulung-gulung merenggut paksa sisa kesadaran yang dimilikinya. Erika ambruk sepenuhnya di atas sofa, tidak lagi berdaya, membiarkan dirinya jatuh ke dalam jebakan takdir di tangan-tangan culas keluarga Fernando. Leona berdiri tegak. Senyum manis palsunya telah lenyap total, digantikan rahang dingin seorang predator yang puas melihat mangsanya tak lagi berkutik. Dia merogoh saku pakaiannya, mengeluarkan gawai tipis miliknya, lalu jemarinya dengan cepat mengetik satu pesan singkat kepada seseorang yang sudah bersiap di kamar yang tidak jauh dari kamar tempat mereka menginap. "Umpan sudah siap. Naik sekarang. Lakukan tugasmu dengan rapi," bisik Leona dingin ke ujung sambungan telepon, sebelum menutupnya tanpa perasaan.Hari pernikahan itu pun tiba. Walaupun Erika sudah menyetujui pernihakan itu, sampai sekarang dia belum pernah bertemu dengan calon suaminya. Semua serba mendadak. Hari ini, dia berdiri sendiri di tengah altar, menunggu calon suami yang belum muncul juga. "Apa yang aku lakukan kalau dia nggak datang?" bisik Erika cemas. Lantai pualam kapel katedral yang dingin seolah menembus sol sepatu putihnya, merayap naik dan membekukan sendi-sendi lututnya Di bawah tudung brokat tipis yang membungkus kepalanya, sepasang netra Erika terpaku pada satu titik, pintu kapel itu. Sudah lima puluh menit berlalu sejak lonceng berdentang. Namun, sang mempelai pria, Gavin Baskoro, belum juga menampakkan batang hidungnya. Pak Danny Fernando, ayah angkatnya, berdiri gelisah di sampingnya. Di barisan kursi terdepan, riuh rendah bisikan para tamu undangan mulai terdengar. Mereka saling bertukar pandang. Beberapa bahkan tidak lagi repot-repot menutupi rasa penasaran. Di tengah tatapan mencemooh itu, suara
"Ya! Gavin Baskoro! Kamu tuli ya?" Sofia tertawa renyah, sebuah tawa ejekan yang memekakkan telinga. "Kamu akan menikah dengan Gavin," ucap Sofia menekankan sekali lagi sambil melangkah mendekat, menatap Erika dengan pandangan meremehkan. Tangis Erika hampir meledak. Dia tidak pernah menyangka kalau keluarga angkatnya membawa rencana baru yang jauh lebih kejam. Mereka memanfaatkan kejadian yang menimpanya untuk membujuk keluarga Baskoro agar menikahkanmya dengan Gavin. "Adil, kan? Aku dapat Jeremy yang sempurna dan kaya raya, dan kamu ambil Gavin si pria gagal yang dibuang dari silsilah Baskoro. Hmm, nggak sabar rasanya lihat kamu menderita seumur hidup dengan laki-laki dingin, kejam, dan tak berguna itu, Erika." "Nggak, nggak mungkin ..." bisik Erika pelan. Beban di bahunya seakan bertambah berat dan menekannya dengan kejam. "Dengar. Erika! Semua harta Baskoro akan jatuh ke tangan Jeremy-ku, dan kamu akan hidup melarat di tempat sampah bersama suamimu." "Tapi, Jeremy itu kekas
Pria itu meletakkan Erika dengan hati-hati di atas ranjang. "Bertahanlah, aku akan memanggil dokter pribadiku untuk menanganimu." Erika hanya memejamkan mata menahan sakit kepala yang datang bertubi-tubi. Beberapa saat kemudian, seorang dokter paruh baya tiba dan memberikan suntikan penawar di lengan Erika. Efek obat perangsang itu perlahan netral, digantikan oleh rasa relaksasi yang luar biasa. Erika yang kelelahan akhirnya tertidur lelap di atas ranjang king-size milik pria asing itu, terbungkus selimut tebal yang nyaman. Rambutnya yang berantakan dan lepek, menutupi wajahnya. Pria itu ingin sekali menyingkirkan rambut itu dari wajah Erika, tapi dia tidak ingin mengganggu tidur lelapnya. Akhirnya dia memilih duduk di sofa, di bawah lampu temaram. Matanya terus mengawasi Erika yang mendengkur halus. Beberapa saat kemudian, ponsel di saku celana pria itu bergetar. Pria itu melangkah ke balkon, menerima panggilan darurat yang memaksanya pergi malam itu juga karena urusan bisnis
Saat Erika perlahan membuka matanya kembali, hawa dingin langsung menusuk kulitnya. Instingnya menjerit waspada. Dia tersadar dalam kondisi tanpa busana di atas ranjang kamar yang asing. Bukankah seharusnya dia berada di kamar presidential suite bersama Leona dan Sofia? Belum sempat dia mencerna apa yang terjadi, kilatan lampu kilat dari kamera ponsel menyilaukan matanya. Erika memijat pelipisnya pelan, berusaha mengingat apa yang telah terjadi. "Eh, sudah sadar! Senyum yang manis, Cantik. Biar ini menjadi kenangan kita berdua sebelum aku menikmati tubuh indahmu," ucap pria mesum itu cengengesan sambil mengambil foto selfie berulang kali. Erika menggerakkan tubuhnya perlahan, tapi pria asing bertato naga di lehernya merangkak naik ke atas ranjang, memegang ponsel dengan seringai menjijikkan. "Sedikit lagi, Sayang. Jangan bergerak. Posemu yang ini bagus sekali," bisik pria itu, suaranya serak menembus batas kesadaran Erika. Tangan satunya memegang dada Erika yang terekspos, lalu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.