LOGINReno tidak sengaja mendapati tunangannya tengah asik memadu cinta dengan laki-laki lain. Padahal saat itu dia ingin memberikan satu set perhiasan sebagai mahar. Karena sakit hati dan kecewa dia pun menjual mahar yang sudah ia siapkan. Tapi siapa sangka di toko emas itu dia justru menemukan wanita yang bersedia menjadi istrinya. Akan kah kisah mereka berjalan dengan sempurna?
View MoreBAB 6: Ujian dari Calon Ibu MertuaHumaira membaca pesan singkat yang baru saja dikirimkan oleh Reno dengan perasaan yang tidak menentu. Jemarinya gemetar meremas ponsel di genggamannya. Di dalam hati kecilnya, sebuah keraguan besar berbisik lirih: Apakah aku benar-benar sanggup memainkan sandiwara sebesar ini?Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur melangkah terlalu jauh. Reno sudah melunasi utang ratusan juta milik keluarga tirinya, dan ia sudah menandatangani lembar kesepakatan itu.Usai membersihkan diri di kamar mandi, Humaira bersiap agar bisa tampil sempurna di hadapan calon ibu mertuanya. Ia melangkah ragu mendekati lemari pakaian besar berukir elegan yang disediakan oleh Reno. Saat pintunya dibuka, mata Humaira membelalak pelan. Deretan pakaian wanita berkualitas tinggi menggantung rapi di sana.Jemarinya menyusuri kain-kain lembut itu, hingga pilihannya jatuh pada sebuah kemeja berwarna soft yellow yang dipadukan dengan rok panjang berwarna mahogany serta hij
Mobil sedan hitam milik Reno melaju membelah malam yang makin larut. Setelah insiden panas di tengah jalan bersama Prily sore tadi, tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir Reno. Pria itu fokus menatap jalanan dengan rahang mengeras, sementara Humaira memilih bungkam, meremas jemarinya yang masih terasa hangat bekas genggaman erat Reno.Hingga akhirnya, mobil berhenti di depan sebuah pagar besi hitam menjulang tinggi. Pagar otomatis itu terbuka lambat, menyambut kedatangan mereka ke dalam sebuah pekarangan rumah megah berarsitektur modern minimalis."Turunlah. Kita sudah sampai," ucap Reno singkat seraya mematikan mesin mobil.Humaira melangkah keluar dengan canggung. Matanya menatap takjub pada bangunan dua lantai yang berdiri megah di hadapannya. Halamannya asri dengan pendar lampu warm white yang memberikan kesan hangat sekaligus elegan.Reno berjalan lebih dulu, membukakan pintu utama yang terbuat dari kayu jati tebal, lalu membawakan koper tua milik Humaira masuk ke dalam
Ujung sepatu Reno menginjak pedal rem dengan begitu dalam. Derit gesekan ban tebal dengan permukaan aspal jalanan memekakkan telinga, menyisakan jejak hitam dan asap tipis yang membubung pendek di udara. Tubuh Humaira terdorong kuat ke depan, terbentur lembut oleh sabuk pengaman yang menahannya tepat waktu.Napas Humaira memburu, dadanya kempas-kempis oleh kejutan luar biasa. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat pegangan pintu mobil."M-Mas Reno... dia... perempuan itu..." cicit Humaira dengan suara hampir habis, menunjuk ke arah depan kap mobil dengan mata membelalak ketakutan.Reno mengenali wajah itu. Wajah yang selama tiga tahun terakhir mengisi ruang hatinya, wajah yang dulu amat ia agungkan, namun juga wajah yang secara kejam menghancurkan seluruh rasa percaya dan harga dirinya sebagai seorang pria.Prily.Reno mematikan mesin mobil dengan satu sentakan kasar. Pintu mobil dibuka dan dihempaskannya dengan bunyi dentuman keras yang bergema di jalanan yang lengang. Langkah
Setelah saling bertukar nomor telepon di toko emas tempatnya bekerja, pria asing bernama Reno itu melangkah pergi begitu saja. Punggung tegapnya menghilang di balik pintu kaca, meninggalkan denting halus bel toko yang menyisakan keheningan memekakkan dada.Humaira berdiri membeku di balik etalase kaca. Jemarinya yang memegang secarik kertas berisi nomor ponsel pria itu bergetar pelan. Pandangannya kosong menatap deretan perhiasan emas yang berkilauan di bawah pendar lampu toko.Apakah keputusan yang kuambil ini sudah tepat? bisik Humaira dalam hati, merasa kecemasan merayapi tiap relung jiwanya. Menjual diri demi melunasi utang keluarga... apakah ini takdir yang harus kutempuh?Gadis itu menghembuskan napas berat, mencoba menetralkan dada yang sesak. Tidak ada pilihan lain. Esok adalah batas akhir ancaman pak Broto, si lintah darat berhati iblis itu. Jika ia tidak membayar utang ibu tirinya, ia akan dipaksa menjadi istri simpanan pria yang pantas menjadi kakeknya tersebut.Sore ha












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.