Ku Jual Mahar, Ku Dapat Pacar

Ku Jual Mahar, Ku Dapat Pacar

last updateLast Updated : 2026-10-09
By:  Ibun3GUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
10views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Reno tidak sengaja mendapati tunangannya tengah asik memadu cinta dengan laki-laki lain. Padahal saat itu dia ingin memberikan satu set perhiasan sebagai mahar. Karena sakit hati dan kecewa dia pun menjual mahar yang sudah ia siapkan. Tapi siapa sangka di toko emas itu dia justru menemukan wanita yang bersedia menjadi istrinya. Akan kah kisah mereka berjalan dengan sempurna?

View More

Chapter 1

Mahar Yang ku jual

BAB 1: Mahar yang Terjual

"Sayang, kamu na-kal banget deh. Lihat nih, leher aku jadi merah-merah gini."

"Kenapa? Takut ketahuan sama Reno?"

"Ih... Apa sih kamu, Sayang? Kamu kan tahu, aku pacarin dia tuh cuma buat ngeruk hartanya aja. Cinta aku cuma buat kamu seorang!"

Kedua tangan Prily melingkar mesra di leher kekar milik Tommy.

Cup!

Bibir mereka kembali berpaut mesra. Entah untuk keberapa kalinya pengkhianatan itu terjadi di kamar apartemen yang dibeli dari jerih payah pria lain.

Tanpa mereka sadari, seorang pria berdiri kaku di ambang pintu. Dada Reno kempas-kempis, menahan gemuruh emosi yang mencabik dadanya. Telinganya menangkap setiap kata, setiap desahan, dan pengakuan jujur dari bibir Prily—wanita yang statusnya adalah tunangannya.

BRAKKK!

Pintu kamar ditendang keras hingga menghantam dinding. Mata Reno menghujat tajam pada dua insan di hadapannya, bagai seekor buaya yang siap menerkam mangsa.

"R-Reno?" bisik Prily tergagap. Wajahnya pucat pasi melihat kehadiran pria yang sangat ia kenal itu.

Dengan panik, Prily menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Adegan haram yang seharusnya tidak pernah disaksikan oleh mata kepala Reno sendiri.

BUG! BUG!

Dua pukulan mentah mendarat telak di pipi Tommy. Pria itu tersungkur ke lantai, memegang rahangnya yang berdarah.

"Nggak usah ditutupi gitu, Pril. Nggak usah sok suci!" celetuk Reno dengan suara dingin yang menghujat.

"S-sayang, ini... ini nggak seperti yang kamu lihat. Biar aku jelasin dulu!" Prily mencoba meraih tangan Reno dengan tubuh gemetar.

"Jelasin apa lagi, Pril?!" bentak Reno. Suaranya bergema di seluruh ruangan. "Di depan mata kepalaku sendiri kamu lakuin hal hina itu sama cowok lain! Sedangkan aku? Aku sebegitunya menjaga kamu karena aku ingin kita melakukan itu setelah halal!"

Reno menatap Tommy yang meringis di lantai dengan pandangan jijik.

"Dan buat kamu... kalau kamu beneran laki-laki, tanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat ke dia!"

Tanpa menunggu balasan, Reno berbalik dan melangkah lebar meninggalkan apartemen mewah yang dulu ia belikan khusus atas nama Prily.

Reno mencengkeram kemudi mobilnya kuat-kuat. Ia membelah jalanan ibu kota tanpa tujuan.

Awalnya, ia berniat memberikan kejutan manis. Reno sengaja datang tiba-tiba setelah menyelesaikan dinas luar kota selama seminggu. Di dalam saku jasnya, tersimpan sebuah kotak perudang berwarna biru velvet berisi satu set perhiasan emas murni. Perhiasan yang sudah lama ia persiapkan sebagai mahar tambahan untuk pernikahan mereka minggu depan.

Pikiran Reno serasa mau pecah. Semua bayangan masa depan mendadak hancur berkeping-keping.

Bagaimana cara memberi tahu keluarga besar? Bagaimana menanggung malu saat membatalkan acara pernikahan ini?

Semuanya sudah siap. Persiapan sudah 80 persen. Surat undangan bahkan sudah selesai dicetak dan tinggal disebar. Namun dalam sekejap, wanita yang paling ia percayai justru bermain api di belakangnya.

Di tengah kemacetan yang mengular, seorang petugas promosi menyodorkan selembar brosur melalui celah kaca mobil. Karena bosan dan muak, Reno membacanya sekilas. Itu adalah brosur grand opening sebuah toko emas baru tak jauh dari posisinya.

Tanpa pikir panjang, Reno membanting kemudi, memarkirkan mobilnya di pelataran toko emas tersebut. Ia melangkah masuk dengan niat bulat: menjual seluruh emas yang tadinya disiapkan untuk memuliakan wanita yang salah.

"Selamat siang menjelang sore, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang karyawan wanita dengan senyum ramah dan hangat.

"Selamat siang. Saya mau jual satu set perhiasan," jawab Reno singkat, meletakkan kotak biru velvet itu di atas konter.

"Baik, Bapak. Bisa diletakkan di dalam wadah ini, ya."

Karyawan bernama Humaira itu memindahkan perhiasan tersebut satu per satu dengan hati-hati.

"Ada sepasang cincin, kalung, anting, dan gelang ya, Pak. Saya cek kadar karatnya terlebih dahulu. Kalau dilihat dari suratnya, ini emas murni 24 karat," jelas Humaira profesional.

Reno hanya mengangguk bisu. Di dalam saku celananya, ponsel tak henti-hentinya bergetar. Nama "Prily" terpampang di layar bersama belasan panggilan dan puluhan pesan singkat yang tak berniat ia buka.

Tak lama kemudian, Humaira kembali membawa nampan perhiasan tersebut.

"Permisi, Pak. Setelah dicek, kadarnya memang sesuai surat, 24 karat. Sekarang kita timbang ya, Pak. Sebagai catatan, untuk batu permata pada cincin, nanti harganya akan dikurangi sedikit dari berat total karena permata tidak dihitung sebagai emas."

"Iya, tidak apa-apa," sahut Reno datar.

"Setelah ditimbang, total bersihnya 50 gram, Pak. Wah, kalau dilihat dari harga beli di surat ini, keuntungan Bapak sudah banyak sekali!" ujar Humaira terkagum-kagum.

"Oh, ya?"

"Bisa tebak, hari ini toko kami berani beli di harga berapa?" goda Humaira mencoba mencairkan suasana.

Reno hanya menggeleng perlahan dengan ulas senyum getir di bibirnya.

"Hari ini emas Bapak kami hargai total 137 juta rupiah. Dari harga beli Bapak dulu yang 53 juta, untungnya sudah lebih dari dua kali lipat! Kalau boleh tahu, kenapa dijual, Pak? Mau diputar untuk investasi lain?" tanya Humaira santai.

"Tadinya emas itu mau saya pakai untuk mahar pernikahan," jawab Reno jujur dan polos, matanya menatap kosong ke arah perhiasan itu. "Tapi wanitanya selingkuh. Jadi, ya... saya jual saja."

Humaira mendadak tertahan. Matanya berkedip pelan, merasa bersalah atas pertanyaan asalnya.

"Waduh... sayang banget ya, Pak. Padahal maharnya besar sekali. Kalau saya jadi wanitanya, saya nggak bakal tega nolak apalagi sia-siain laki-laki yang menyiapkan mahar sebesar ini," gumam Humaira tulus.

Reno menatap wajah polos karyawan toko emas di hadapannya itu. Sebuah pemikiran nekat mendadak melintas di kepalanya.

"Kalau gitu... kamu mau nikah sama saya?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status